p-Index From 2021 - 2026
6.723
P-Index
This Author published in this journals
All Journal HAYATI Journal of Biosciences Humaniora Majalah Kedokteran Bandung Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah LITE: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Paramita: Historical Studies Journal Language Circle : Journal of Language and Literature Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Althea Medical Journal Majalah Geografi Indonesia Medical Journal of Indonesia Jurnal Kedokteran Indonesia Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Mozaik Humaniora Jurnal NERS Biomedika Jurnal Sejarah Citra Lekha Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik The Indonesian Biomedical Journal JURNAL ILMU BUDAYA Jurnal Sistem Kesehatan Jurnal Gizi dan Kesehatan Briliant: Jurnal Riset dan Konseptual Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Health Notions Journal of Medicine and Health Qanun Medika - Medical Journal Faculty of Medicine Muhammadiyah Surabaya Jurnal Bina Praja Jurnal SOLMA Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat SASDAYA: Gadjah Mada Journal of Humanities Jurnal Keperawatan Muhammadiyah IHiS (Indonesian Historical Studies) Indonesian Journal of Medicine Journal of Maternal and Child Health English Language and Literature International Conference (ELLiC) Proceedings Jurnal SPORTIF : Jurnal Penelitian Pembelajaran Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Rainbow : Journal of Literature, Linguistics and Cultural Studies YARSI Medical Journal JURNAL ILMIAH MIMBAR DEMOKRASI Jurnal Kesehatan Budi Luhur: Jurnal Ilmu-Ilmu Kesehatan Masyarakat, Keperawatan, dan Kebidanan Jurnal Ners JOSSAE (Journal of Sport Science and Education) Jurnal Riset Akuntansi dan Manajemen Malahayati (JRAMM) JOURNAL OF COMMUNITY MEDICINE AND PUBLIC HEALTH RESEARCH CURRENT INTERNAL MEDICINE RESEARCH AND PRACTICE SURABAYA JOURNAL Varia Humanika MAHESA : Malahayati Health Student Journal Narra J Jurnal Telkommil Education and Social Sciences Review Journal of Education Research Indonesian Andrology and Biomedical Journal Proceeding ISETH (International Summit on Science, Technology, and Humanity) The Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology and Digestive Endoscopy Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Physical Therapy Journal of Indonesia Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan Indonesia Jurnal Bakti Masyarakat Manajemen Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai Journal of Communication and Public Relations (JCPR) Language Circle : Journal of Language and Literature Midwifery Journal Folia Medica Indonesiana
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search
Journal : Biomedika

PENGARUH EKSTRAK ETHANOL PROPOLIS TERHADAP EKSPRESI PROTEIN Bcl2, CYCLIN D1 DAN INDUKSI APOPTOSIS PADA KULTUR SEL KANKER KOLON Yuniarto, Haryono; Maryono, Sumardi; Purwanto, Bambang
Biomedika Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v9i1.4343

Abstract

Kanker kolorektal menempati urutan kejadian kanker ketiga di seluruh dunia, dengan lebih dari 1 juta angka kejadian tiap tahunnya. Berbagai strategi terapi pengobatan kanker kolorektal tetapi relatif belum optimal. Oleh karena itu, terdapat kebutuhan mengembangkan terapi alternatif sebagai pendamping. Propolis menunjukkan aktivitas proapoptosis pada berbagai jenis sel kanker. Mengetahui pengaruh pemberian propolis yang berasal dari Kerjo, Karanganyar, Indonesia terhadap induksi proses apoptosis dan aktivitas antiproliferasi, terutama terkait dengan penekanan ekspresi protein Bcl 2 dan cyclin D1 pada kultur sel WiDr (cell line kanker kolon). Penelitian eksperimental laboratorik menggunakan post test with control group design. Penelitian dilakukan pada kultur sel WiDr (sel kanker kolon) dengan pemberian propolis. Pengamatan ekspresi protein Cyclin D1 dan Bcl2 dilakukan dengan metode imunositokimia, sedangkan pengamatan induksi apoptosis dilakukan dengan flowcytometry. Analisis statistik dengan uji Kruskal-Wallis, signifikan bila p <0,05. Rata-rata ekspresi Bcl2 pada kelima kelompok yaitu kontrol 83.40 ± 0.69 μg/ml, EEP 1/2 IC50 60.63 ± 0.40, EEP IC50 33.77 ± 1.08 μg/ml, EEP 2 IC50 24.28 ± 1.91 μg/ml, 5fluorouracil 12.74 ± 2.19 μg/ml. Terdapat perbedaan bermakna ekspresi Bcl2 antara kelompok uji dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,001). Rata-rata ekspresi cyclin D1 pada kelima kelompok yaitu kontrol 83.77 ± 0.39 μg/ml, EEP 1/2 IC50 61.44 ± 0.41, EEP IC50 36.67 ± 1.18 μg/ml, EEP 2 IC50 24.50 ± 0.38 μg/ml, 5fluorouracil 13.42 ± 1.04μg/ml. Terdapat perbedaan bermakna ekspresi cyclin D1 antara kelompok uji dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,001). Pemberian ekstrak etanol propolis mempunyai pengaruh menekan ekspresi Bcl2, cyclin D1, dan menginduksi apoptosis pada kultur sel kanker kolon (WiDr Cell Line). Kata Kunci: Ekstrak Ethanol Propolis, Bcl2, cyclin D1, Sel WiDr
PENGARUH PEMBERIAN 1,25 DIHYDROXYVITAMIN D (CALCITRIOL) TERHADAP KADAR FIBROBLAST GROWTH FACTOR-23 DAN ALBUMINURIA PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK STADIUM V YANG MENJALANI HEMODIALISIS Herlina, Intan; Purwanto, Bambang; Sugiarto, Sugiarto
Biomedika Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v9i1.4344

Abstract

Penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada pasien Penyakit Ginjal Kronik adalah insiden kardiovaskuler yang didasari oleh proses aterosklerosis yang menyebabkan meningkatnya morbiditas dan mortalitas. Ginjal merupakan tempat utama sintesa 1,25 Dihydroxyvitamin D (Calcitriol), sehingga dengan adanya kerusakan ginjal menyebabkan defisiensi 1,25 Dihydroxyvitamin D (Calcitriol). Pada pasien Penyakit Ginjal Kronik terjadi peningkatan Fibroblast Growth Factor-23 dan Albuminuria akibat dari aktifitas Renin Angiotensin Aldosteron Sistem. Aktifitas RAAS mempengaruhi 1,25 Dihydroxy vitamin D (Calcitriol), Fibroblast Growth Factor-23 melalui Angiotensin 2 dengan cara menghambat reseptor Angiotensin I (AT1) melalui Nicotinmide Adenine Dinucleotide Phosphate Oxidase (NADPH Oksidase) dan Stress Oxidativ. Beberapa penelitian menyimpulkan pemberian 1,25 Dihydroxyvitamin D (Calcitriol) mempunyai efek renoprotektif, anti inflamasi dan antiproteinuric dengan cara menghambat reseptor Angoitensin I (AT1) sehingga mengakibatkan menurunnya albuminuria. Tujuan Penelitian ini adalah untuk membuktikan pemberian 1,25 Dihydroxyvitamin D (Calcitriol) dapat menurunkan kadar Fibroblas Growth Factor-23 dan albuminuria pada pasien Penyakit Ginjal Kronik stadium V yang menjalani hemodialisis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan randomisasi, subyek penelitian 30 orang, dibagi dalam dua kelompok sampel, kelompok plasebo 15 orang dan kelompok perlakuan 15 orang. Dalam perjalanan, kelompok placebo drop out 4 pasien karena keluarga pasien tidak menyetujui untuk melanjutkan penelitian dan satu lagi mengalami perburukan, sehingga jumlah sampel menjadi 26 orang, terbagi menjadi kelompok placebo sebanyak 11 orang yang diberi placebo dan kelompok perlakuan 15 orang diberi calcitriol 1x0,5 μg peroral selama 4 minggu. Karakteristik penelitian yang berupa variabel kualitatif, uji homogenitas dilakukan menggunakan uji Chi Square. Uji beda dua Rerata menggunakan uji t pada p<0.005. Pada kelompok plasebo (n=11) ; Kadar Fibroblast Growth Factor-23 sebelum dan sesudah perlakuan (876,24±795,93 RU/mL vs 1235,69±791,71 RU/mL; p=0,059) dan Albuminuria (72,30±195,06 μg/ mg vs 320,14±208,90 μg/mg; p=0,001). Pada kelompok perlakuan (n=15); Kadar Fibroblast Growth Factor-23 sebelum dan sesudah perlakuan (1210,96±845,97 RU/mL vs 612,33±487,32 RU/mL; p=0,002) dan Albuminuria (206,63±327,25 μg/mg vs 192,89±316,00 μg/mg; p=0,001). Terdapat perbedaan yang bermakna pada selisih ratarata kadar Fibroblast Growth Factor-23 (Delta-FGF-23) sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok placebo vs kelompok perlakuan (-359,45±560,23 RU/mL vs 598,63±608,27 RU/mL; p=0,001) dan selisih rata-rata Albuminuria (Delta-albuminuria) sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok placebo vs kelompok perlakuan (-247,84±189,48 μg/mg vs 13,73±23,15μg/mg;p=0,001. Pemberian suplementasi 1,25 Dihydroxyvitamin D (calcitriol) menurunkan kadar FGF-23 albuminuria secara bermakna pada pasien penyakit ginjal kronik stadium V yang menjalani hemodialisisKata Kunci: Penyakit Ginjal Kronis Stadium V, 1,25 Dihydroxyvitamin D (Calcitriol), Fibroblast Growth Factor-23, Albuminuria
PENGARUH EKSTRAK PROPOLIS TERHADAP EKSPRESI PROTEIN Bcl2, p21, DAN INDUKSI APOPTOSIS PADA SEL HELA Susanto, Tri Hardi; Maryono, Suradi; Purwanto, Bambang
Biomedika Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v9i2.5837

Abstract

Kanker serviks merupakan penyebab kematian ketiga akibat kanker pada wanita di dunia. Di Indonesia, kanker serviks merupakan penyebab kematian utama perempuan dalam tiga dasa warsa terakhir. Berbagai strategi terapi pengobatan kanker serviks dengan menggunakan terapi bedah, radioterapi, dan kemoterapi maupun kombinasi ketiganya relatif belum optimal. Setiap abnormalitas pada jalur apoptosis dapat sebagai target terapi kanker. Pendekatan yang menarik untuk dikembangkan adalah penggunaan kombinasi kemoterapi atau ko-kemoterapi. Propolis yang menunjukkan aktivitas proapoptosis pada berbagai jenis sel kanker, meliputi : kanker laring, kanker paru, kanker pankreas, kanker tiroid, kanker kolorektal, kanker payudara, kanker prostat dan glioma. Propolis merupakan salah satu produk natural yang potensial untuk dikembangkan sebagai agen ko-kemoterapi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian propolis yang berasal dari Kerjo, Karanganyar, Indonesia terhadap induksi proses apoptosis dan aktivitas antiproliferasi, terutama terkait dengan penekanan ekspresi protein Bcl2 dan peningkatan aktivasi p21 pada kultur sel HeLa (cell line kanker servik). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan menggunakan post test with control group design. Penelitian dilakukan pada kultur sel HeLa (sel kanker servik) dengan pemberian propolis. Pengamatan ekspresi p21 dan ekspresi protein Bcl2 dilakukan dengan metode imunositokimia, sedangkan pengamatan induksi apoptosis dilakukan dengan flowcytometry. Hasil penelitian menunjukkan ekspresi rata-rata Bcl2 pada kelima kelompok yaitu kontrol 84,60 ± 1,34 µg/ml, EEP 1/2 IC50  62,33 ±4,58, EEP IC50  33,98 ± 2,11 µg/ml, EEP 2 IC50 22,16 ± 3,41 µg/ml, Cisplatin 13,09±4,38 µg/ml. Terdapat perbedaan bermakna ekspresi Bcl2  antara kelompok uji dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,001). Rata-rata ekspresi p21 pada kelima kelompok yaitu pada grup kontrol 1,70 ± 0,67 µg/ml, EEP 1/2 IC50  65,92 ± 0,40, EEP IC50  82,76 ± 3,03 µg/ml, EEP 2 IC50  86,86 ± 3,33 µg/ ml, Cisplatin 93,19 ± 3,02 µg/ml. Terdapat perbedaan bermakna ekspresi p21  antara kelompok uji dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian ekstrak etanol propolis mempunyai pengaruh terhadap penekanan ekspresi Bcl2, peningkatan ekspresi p21, dan induksi apoptosis pada kultur sel kanker servik (HeLa cell line).Kata Kunci: EEP, p21, protein Bcl2, HeLa cell line
PENGARUH TERAPI N-ASETIL SISTEIN TERHADAP EKSPRESI INTERLEUKIN 17 DAN FIBROSIS INTERSTISIAL PADA MENCIT NEFRITIS LUPUS Atmoko, Warigit Dri; Purwanto, Bambang; Sugiarto, Sugiarto
Biomedika Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v9i2.5838

Abstract

Lupus nefritis (LN) terkait dengan penebalan membran basal glomerulus. Pengendapan kompleks imun  memicu kaskade respon inflamasi disertai aktivasi reactive oxygen species (ROS), kemudian menyebabkan fibrosis yang mendorong terjadinya kerusakan ginjal. Interleukin 17 merupakan sitokin yang sangat berperan pada reaksi inflamasi tipe-lambat. Produksinya dipicu oleh peningkatan produksi kemokin oleh sejumlah jaringan untuk merekrut monosit dan netrofil ke sisi inflamasi. IL-17 diproduksi sel Th17 dan diinduksi oleh IL-23. IL-17 berespon terhadap invasi patogen ekstraseluler dan menginduksi perusakan matriks seluler patogen. IL-17 akan merangsang sel B untuk memproduksi dan mensekresikan autoantibodi, selanjutnya akan terbentuk kompleks atigen-autoantibodi. Kompleks antigen-autoantibodi yang berada di sirkulasi akhirnya akan terdisposisi pada sel target, termasuk sel fibroblas, sel mesangial, podosit, sel tubulus dan sel endotel di glomerulus. Kompleks ini akan menyebabkan terjadinya glomerulosklerosis dan fibrosis interstisial pada ginjal, kemudian selanjutnya menyebabkan kerusakan pada ginjal dan terjadilah mikroalbuminuria. Disamping itu, akan terjadi disfungsi endotel kapiler glomerulus yang akan menyebabkan albuminuria. Suplemen N-asetil sistein (NAS) pada lupus nefritis dapat mengurangi efek nefrotoksik pada ginjal, melalui penurunan ekspresi IL-17 dan derajat fibrosis interstisial. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris, dengan sampel 24 ekor mencit Balb/C betina yang dibagi menjadi kelompok kontrol, LN, dan LN+NAS. Untuk membuat model LN, hewan coba diberikan injeksi 0,5 ml pristan intraperitoneal dosis tunggal. NAS diberikan secara peroral dengan dosis 4,7 mg/hari (setara dengan dosis manusia 1.800 mg) selama delapan minggu. Ekspresi IL-17 diperiksa secara imunohistokimia dengan antibodi monoklonal terhadap IL-17. Cara ukur dinilai secara kuantitatif, dihitung jumlah sel positif IL17 terhadap 100 sel, secara visual dengan mikroskop cahaya pembesaran 400 x. Penilaian fibrosis interstisial ditentukan secara kuantitatif dengan cara mengukur tebal jaringan interstisial dengan menggunakan micrometer yang telah dikalibrasi pada pembesaran 400 x. Analisis data menggunakan analysis of variance (Anova) dan untuk menentukan perbedaan kemaknaan digunakan p<0,05. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pemberian NAS menurunkan ekspresi IL-17 (23,8±14,1 vs 10,6±6,8 per 100 sel netrofil imunoreaktif; p =0,042)  dan menurunkan fibrosis interstisial (22,3±5,7 vs 15,5±5,4; p =0,030) dibandingkan kelompok LN. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpilkan bahwa NAS secara bermakna menurunkan ekspresi IL-17 dan fibrosis interstisial ginjal pada mencit model LN.Kata Kunci: fibrosis interstisial, lupus nefritis, interleukin 17, pristan
PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN D3 (CALCITRIOL) TERHADAP KADAR TGF β1 DAN IL-6 PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK STADIUM V Anindita, Rahma; Purwanto, Bambang; Sugiarto, Sugiarto
Biomedika Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v9i1.4341

Abstract

Penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada pasien PGK adalah insiden kardiovaskuler yang didasari oleh proses aterosklerosis. Penurunan kadar TGF-β1 dan IL-6 dengan kalsifikasi vaskuler yang selanjutnya berkembang menjadi plak arteriosklerotik. Vitamin D menekan pada jalur aktivasi NF-ĸB sehingga mempunyai sifat anti inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi vitamin D terhadap kadar TGF-β1 dan IL-6 pada pasien penyakit ginjal kronik stadium v yang menjalani hemodialisis. Penelitian ini merupakan penelitianeksperimen dengan randomisasi, sampel 30 orang, dibagi menjadi kelompok kontrol diberikan plasebo dan perlakuan diberikan calcitriol 1x0,5 μg peroral selama 4 minggu. Analisis statistik menggunakan SPSS 22for windows. Karakteristik penelitian yang berupa variabel kualitatif, uji homogenitas dilakukan menggunakan uji Chi Square. Uji beda dua rerata menggunakan uji t dengan signifikansi p <0,05. Hasil penelitian menunjukkan pemberian calcitriol 1x0,5 μg peroral jika dibandingkan placebo secara bermakna menurunkan kadarTGF-β1 (-1672,64±4217,61vs 7539,95±6435,86; p = 0,001), dan menurunkan kadar IL-6(- 1,45±3,14vs 4,20±2,83; p = 0,001). Pemberian suplementasi vitamin D dapat menurunkan kadar TGF-β1 dan menurunkan kadar IL-6 pada pasien penyakit ginjal kronik stadium V yang menjalani hemodialisis Kata kunci: Vitamin D, TGF-β1, IL-6, Penyakit Ginjal Kronis
PENGARUH EKSTRAK PROPOLIS TERHADAP EKSPRESI CASPASE 3, PROLIFERASI DAN INDUKSI APOPTOSIS PADA SEL KANKER KOLON (CELL LINE WiDr) Anandani, Esti Tantri; Kusnanto, Paulus; Purwanto, Bambang
Biomedika Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v9i2.5839

Abstract

Kanker kolorektal mencapai sepuluh persen dari total tipe tumor di seluruh dunia dan merupakan kanker dengan mortalitas tertinggi di seluruh dunia. Kejadian kanker kolon terus meningkat seiring dengan pertambahan penduduk baik di negara berkembang maupun negara maju. Kemoterapi belum memberikan hasil yang optimal dan sering menimbulkan efek samping yang serius karena pada umumnya tidak bekerja spesifik pada sel kanker tetapi juga pada sel normal. Banyak bahan alam yang berpotensial untuk dikembangkan sebagai agen kombinasi seperti propolis, jinten, tapak dara, mengkudu, dan daun dewa. Propolis merupakan suplemen nutrisi yang dihasilkan oleh lebah dan telah digunakan sebagai pengobatan tradisional di dunia. Propolis sudah banyak dijadikan bahan penelitian karena aktivitas antibakteri, antijamur, antivirus dan hepatoprotektifnya. Propolis dan senyawa lainnya telah digunakan untuk mengobati inflamasi, untuk meningkatkan kekebalan tubuh, dan agen anti kanker. Penelitian bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian propolis dari daerah Kerjo, Karanganyar, Indonesia terhadap ekspresi caspase 3, proliferasi dan induksi apoptosis pada kultur sel kanker kolon (cell line WiDr).  Penelitian menggunakan desain eksperimental laboratorik dengan post test with control group design. Penelitian menggunakan kultur sel WiDr (sel kanker kolon) dengan pemberian ekstrak ethanol propolis (EEP). Pengamatan ekspresi caspase 3 dengan metode imunositokimia, sedangkan pengamatan proliferasi dengan metode doubling time dan induksi apoptosis dengan metode double staining. Hasil Penelitian didapatkan EEP dengan IC50 sebesar 140 µg/mL meningkatkan ekspresi caspase 3 sebesar 42,1% dibandingkan kelompok kontrol 6,89%. EEP meningkatkan ekspresi caspase 3 sebanding dengan peningkatan konsentrasi EEP. EEP dengan dosis konsentrasi 70, 140, 280 µg/mL mampu menekan proliferasi baik pada proliferasi jam ke-24, 48 , maupun 72. EEP dengan IC50 sebesar 140 µg/mL meningkatkan induksi apoptosis sebesar 53,16% dibandingkan kelompokkontrol 0,64%. Pemberian EEP meningkatkan induksi apoptosis sebanding dengan peningkatan konsentrasi EEP. Penelitian ini menunjukkan bahwa EEP mempunyai sifat antiproliferasi dan mampu menginduksi apoptosis pada sel WiDr.  Kata kunci: EEP, caspase 3, proliferasi, apoptosis, WiDr
PENGARUH EKSTRAK PROPOLIS TERHADAP PENINGKATAN EKSPRESI p21, EKSPRESI PROTEIN Bax DAN INDUKSI APOPTOSIS PADA KULTUR SEL KANKER KOLON (CELL LINE WiDr) Prasetyo, Didik; Maryono, Suradi; Purwanto, Bambang
Biomedika Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v9i1.4342

Abstract

Kanker kolorektal merupakan kanker ketiga terbanyak dengan lebih dari 1 juta kasus setiap tahunnya dan salah satu kanker dengan mortalitas tertinggi di seluruh dunia. Radioterapi dan kemoterapi pada kanker relatif terbatas karena toksisitasnya yang tinggi dan efek samping yang bersifat merusak. Pengembangan propolis merupakan strategi baru untuk terapi adjuvan yang diharapkan meminimalkan efek samping terapi standar yang ada. Peran propolis pada keganasan terkait kemampuannya dalam menginduksi apoptosis dan aktivitas antiproliferasi. Penelitian in vitro, menunjukkan propolis memiliki aktivitas proapoptosis pada berbagai jenis sel kanker, meliputi : kanker laring, kanker paru, kanker pankreas, kanker tiroid, kanker payudara, kanker prostat dan glioma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian propolis yang berasal dari Kerjo, Karanganyar, Indonesia terhadap aktivitas antiproliferasi, terkait peningkatan ekspresi p21 dan induksi apoptosis terkait peningkatan ekspresi protein bax pada kultur sel kanker kolon (cell line WiDr). Jenis penelitian ini, eksperimental laboratorik dengan post test with control group design. Penelitian menggunakan kultur sel WiDr (sel kanker kolon) dengan pemberian ekstrak etanol propolis (EEP). Pengamatan ekspresi p21 dan protein Bax dengan metode imunositokimia, sedangkan pengamatan induksi apoptosis dengan flowcytometry. Analisis statistik menggunakan uji Kruskall Wallis dilanjutkan Mann WhutneyU test. EEP cenderung menekan viabilitas sel WiDr dengan IC50 sebesar 140 μg/mL. EEP konsentrasi 70,140, 280 μg/mL mampu meningkatkan ekspresi p21 yang sebanding dengan peningkatan konsentrasi yang diberikan. EEP konsentrasi 70 μg/mL (1/2 IC50) paling efektif dalam menginduksi apoptosis dan meningkatkan ekspresi Bax pada sel WiDr. Peningkatan konsentrasi EEP mengakibatkan kematian sel WiDr ke arah nekrosis. Penelitian ini menunjukkan EEP mampu menekan viabilitas sel WiDr. Aktivitas ini kemungkinan terkait dengan kemampuannya dalam meningkatkan ekspresi p21 sebanding dengan peningkatan konsentrasi yang diberikan. EEP pada konsentrasi 70μg/mL mampu menginduksi apoptosis pada sel WiDr terkait dengan peningkatan ekspresi Bax. Peningkatan konsentrasi EEP konsentrasi 140 dan 280 μg/Ml mengakibatkan nekrosis sel WiDr. Kata kunci: EEP, p21, protein bax, cell line WiDr
PENGARUH EKSTRAK PROPOLIS TERHADAP EKSPRESI CYCLIN D1 DAN BAX PADA SEL HELA Febrina, Irma; Maryono, Suradi; Purwanto, Bambang
Biomedika Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i1.5855

Abstract

Kanker serviks merupakan kanker ginekologi tertinggi di dunia dengan infeksi Human Papilloma Virus sebagai penyebab terseringnya. Di Indonesia, kanker serviks merupakan keganasan yang paling banyak ditemukan dan penyebab kematian utama pada perempuan dalam tiga dasawarsa terakhir. Di Indonesia, setiap tahun terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker serviks dan sekitar 8.000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian. Terdapat beberapa jenis pengobatan yang biasa diberikan pada penderita kanker serviks, namun hasilnya relatif belum optimal. Keadaan ini mendorong usaha penemuan dan pengembangan strategi terapi baru dalam melawan kanker. Pendekatan yang menarik untuk dikembangkan adalah penggunaan kombinasi kemoterapi atau ko-kemoterapi. Ko-kemoterapi merupakan strategi terapi kanker dengan mengombinasikan suatu senyawa kemopreventif yang bersifat tidak toksik dengan agen kemoterapi. Salah satu produk natural yang potensial untuk dikembangkan sebagai agen ko-kemoterapi adalah propolis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian propolis yang berasal dari Kerjo, Karanganyar, Indonesia terhadap induksi proses apoptosis dan aktivitas antiproliferasi, terutama terkait dengan penekanan ekspresi protein Cyclin D1 dan peningkatan ekspresi protein Bax pada kultur sel HeLa (cell line kanker serviks). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan menggunakan post test with control group design. Penelitian dilakukan pada kultur sel HeLa (sel kanker serviks) dengan pemberian propolis. Pengamatan ekspresi protein Cyclin D1 dan ekspresi protein Bax dilakukan dengan metode imunositokimia. Hasil penelitian menemukan bahwa ekspresi rata-rata Cyclin D1 pada kelima kelompok yaitu kontrol 84,13± 1,34µg/ml, EEP 1/2 IC 60,76±4,21, EEP IC 36,56± 3,63µg/ml, EEP 2 IC  24,92± 5,14µg/ml, 5-FU 13,15±3,66µg/ml. Terdapat perbedaan bermakna ekspresi Cyclin D1 antara kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,001). Rata-rata ekspresi Bax pada kelima kelompok yaitu kontrol 1,89± 0,46µg/ml, EEP 1/2 IC 69,44± 1,39, EEP IC 80,07± 3,52µg/ml, EEP 2 IC 83,96± 3,26µg/ml, 5-FU 92,78± 4,68µg/ml. Terdapat perbedaan bermakna ekspresi Bax antara kelompok uji dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian ekstrak etanol propolis mempunyai pengaruh terhadap penekanan ekspresi Cyclin D1 dan peningkatan ekspresi Bax pada kultur sel kanker serviks (HeLa Cell line). Kata kunci: EEP, Protein Cyclin D1, Protein Bax, HeLa cell line
PENGARUH EKSTRAK ETHANOL PROPOLIS TERHADAP KSPRESI PROTEIN CASPASE 8, APOPTOSIS, DAN PROLIFERASI PADA KULTUR SEL ADENOKARSINOMA KOLON (WiDr) Poernomo, Gigih Rahmadanu; Kusnanto, Paulus; Purwanto, Bambang
Biomedika Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i1.5856

Abstract

Kanker kolorektal merupakan kanker terbanyak ketiga pada pria, kedua pada wanita, dan menjadi penyebab kematian keempat, sekitar 8% dari penyebab kematian karena kanker. Sebagian besar pasien kanker kolorektal didiagnosis dalam stadium yang sudah tidak dapat dioperasi. Propolis diketahui memiliki aktivitas anti kanker. Mekanisme anti kanker propolis melalui induksi apoptosis dan juga melalui penghambatan proliferasi dalam siklus sel. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek anti kanker ekstrak ethanol propolis (EEP) yang berasal dari Kerjo, Karanganyar, Indonesia pada kultur sel adenokarsinoma kolorektal (cell line WiDr) melalui pengaruhnya terhadap ekspresi protein Caspase 8, apoptosis dan proliferasi sel. Penelitian ini merupakan penelitian experimental laboratories, post test with control group design. Penelitian dilakukan pada kultur sel WiDr dengan perlakuan pemberian dosis ekstrak ethanol propolis, kontrol positif (5-FU), kombinasi ekstrak ethanol propolis dengan 5-FU, dan kontrol negatif (tanpa obat). Pengamatan ekspresi protein Caspase 8 dilakukan dengan metode imunositokimia, pengamatan apoptosis dilakukan dengan double staining menggunakan pewarnaan akridin oranye–etidium bromide, sedangkan pengamatan proliferasi menggunakan MTT assay dengan doubling time. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa EEP cenderung menekan viabilitas sel WiDr dengan IC sebesar 140 µg/mL. EEP konsentrasi 70,140, 280 µg/mL mampu meningkatkan ekspresi protein Caspase 8 dan menginduksi apoptosis yang sebanding dengan peningkatan konsentrasi yang diberikan. EEP konsentrasi 70 µg/mL dapat menghambat proliferasi sel sebanding dengan EEP konsentrasi 140 dan 280 µg/Ml. Penelitian ini menunjukkan EEP mampu menekan viabilitas sel WiDr. Aktivitas ini kemungkinan terkait dengan kemampuannya dalam meningkatkan ekspresi protein Caspase 8 dan apoptosis sebanding dengan peningkatan konsentrasi yang diberikan. EEP pada konsentrasi terkecil yang diuji (70 µg/mL) mampu menghambat proliferasi pada sel WiDr sebanding dengan dosis yang lebih tinggi. Kata kunci: EEP, Caspase 8, apoptosis, proliferasi, cell line WiDr 
PENGARUH PEMBERIAN N-ASETILSISTEIN TERHADAP EKSPRESI CASPASE-1 GLOMERULUS DAN DERAJAT KERUSAKAN GINJAL PADA MENCIT NEFRITIS LUPUS INDUKSI PRISTAN Rachmawati, Anindita; Purwanto, Bambang; Prasetyo, Diding Heri
Biomedika Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i2.7015

Abstract

ABSTRAKLupus nefritis (LN) terkait dengan penebalan membran basal glomerulus. Pengendapan kompleks imun  memicu kaskade respon inflamasi disertai aktivasi reactive oxygen species (ROS), akhirnya terjadi aktivasi caspase-1, dan caspase-1, mengaktifkan IL-1B dan IL-18 yang berlanjut terjadinya apoptosis dan nekrosis dan akhirnya terjadi kerusakan ginjal. Peningkatan ekspresi caspase-1 dapat dicegah oleh N-Asetil Sistein (NAS), yang merupakan suatu senyawa dengan efek antioksidan dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh NAS terhadap ekspresi caspase-1 dan terjadinya apoptosis dan nekrosis ginjal pada mencit model lupus nefritis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris, dengan sampel 24 ekor mencit Balb/C betina yang dibagi menjadi kelompok kontrol, LN, dan LN+NAS. Untuk membuat model LN, hewan coba diberikan injeksi 0,5 ml pristan intraperitoneal dosis tunggal. NAS diberikan secara peroral dengan dosis 4,7 mg/hari) selama delapan minggu. Mencit kontrol tidak diinokulasi selama penelitian. Ekspresi caspase-1 dihitung dari 100 sel makrofag yang immunoreaktif dengan teknik imunohistokimia dan kejadian apoptosis dan nekrosis dihitung dengan dengan teknik histopatologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pemberian NAS menurunkan ekspresi caspase-1 (22,8 ± 6,4 vs 31,4 ± 7,5 per 100 sel makrofag imunoreaktif; p = 0,000)  dan menurunkan kerusakan ginjal (6,75 ± 2,92 vs 9,88 ± 3,56; p =0,010) dibandingkan kelompok LN. NAS secara bermakna menurunkan ekspresi caspase-1 dan derajat kerusakan ginjal pada mencit model LN. Kata Kunci: Caspase-1, Derajat Kerusakan Ginjal, Lupus Nefritis, Pristan  ABSTRACTLupus nephritis (LN) associated with thickening of the basal membrane of the glomerulus. The deposition  of immune complexes trigger a cascade of inflammatory response accompanied the activation of reactive oxygen species (ROS), finally happened activation caspase-1, and enable the IL-1B and IL-18 to be the active form, and to be continued into occurrence of apoptosis and necrosis and eventually the kidney injury. Increased of caspase-1 expression can be prevented by N-Acetyl Cysteine (NAS), which is a compound with antioxidant and anti-inflammatory effects.This study aimed to analyze the effects of NAS on the expression of Caspase-1 and degree of renal injury in mice models of lupus nephritis. This study is an experimental research laboratory, with a sample of 24 females Balb/C mice were divided into a control group, LN and LN+NAS. To create a model LN, experimental animals given intraperitoneal injection of 0.5 ml Pristan single dose. NAS administered orally at a dose of 4.7 mg/day for eight weeks. Control mice not inoculated during the study. Expression of Caspase-1 was calculated from 100 macrophage cells immunoreactive with immunohistochemical and degree of renal injury with histopathological techniques. One way analysis of variance (Anova) for caspase-1 expression and degree  of renal injury, and p<0.05 were used to determine the significant differences. The provision of NAS decreased the expression of caspase-1 (22,8 ± 6,4 vs 31,4 ± 7,5  per 100 macrophage immunoreactive cells; p = 0.042) and degree of renal injury (6,75 ± 2,92 vs 9,88 ± 3,56; p =0,010) compared to LN group respectively. NAS significantly decrease the expression of caspase-1 and degree of renal injury in mice models LN.Keywords: Caspase-1, Degree Of Renal Injury, Lupus Nephritis, Pristane
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W AA Subiyanto, AA Abdul Wahid Abdurachman Abdurachman Achmad Munjid Adam James Fenton Adi Prayitno Agung Dinasti Permana Agung Dwi Nurcahyo Agus Kristiyanto Agustina Indri Hapsari Agustinus Agustinus Ahmad Abdullah Ahmad Fikri Akbar, Idzam Kholid Ali Djamhuri Aliyanto, Warjidin Anandani, Esti Tantri Andri Rezano Andriati Andriati Angguntur, Wayan Anindita, Rahma Ansyori, Ansyori Arif Akhyat, Arif Arsyad, Mehmek Ali Akza Arya H Dharmawan Assegaf, Aswin Rizal Atik Swandari, Atik Atika Atika Atmoko, Warigit Dri Ayu Kusuma Dewi Ayubi, Novadri Azhari Muslim Baehaqi Bambang Wirjatmadi Bogi Soeseno Brian Wasita Budi Susetyo Pikir Budianto, Pepi Budiningsih, Fatichati Budiyanti Wiboworini Damayanti Tinduh Damsir, Damsir Deden Kamaludin Dedi Irwanto Dewi Purwaningsih Dewi, Dinda Luciana Diah Kurnia Mirawati Didik Prasetyo Didik T Subekti Diding Heri Prasetyo Dindy Samiadi Djaja Hendra Djoko Suryo Djoko Suryo DODY KURNIAWAN Dono Indarto Dwi Purwanti Dwi Putra, Kartika Wahyu Dwilda, Euvanggelia Edy Mintarto, Edy Elyana Asnar Eman Sulaiman, Eman Endriatmo Soetarto Endyka Erye Frety Erna Listyaningsih Erwanda, Setrian Eti Poncorini Pamungkasari Fachrudin, Irfan Farabi Fakih Faruk Fatma Hetami Febrina, Irma Ferizal Masra Giani, Maia Thalia Gusliana, Ali Hadi Sabari Yunus Hambarsari, Yetty Hamidi, Baarid Luqman Handini, Haspita Rizki Syurya Hari Setijono, Hari Hariyanto, Budhi Hariyanto, Olivia Ramadhanty HARJANTO HARJANTO Hartono Hartono Hendy Hendarto HERAWATI, LILIK herdianty kusuma, herdianty Heri Dwi Santoso, Heri Dwi Herinanto, Dwi Herlina, Intan Hutabarat, Ervina Arta Jayanti I Gde Raka Widiana Ida Liana Tanjung Ida Nurwati Iing Lukman Indriani, Wiewiek Irwadi, Irfiansyah Isa Mahfudi Issy Yuliasri Istikomah, I I’tishom, Reny Jatmiko Susilo Jayawarsa, A.A. Ketut Jongky Hendro Prajitno Karbito Karbito, Karbito Ketut Suega Kumara, Kusuma Arum Diana Kusnanto Kusnanto Kusumawati, Made Dian La Ode Rabani Laqif, Abdurrahman Larasati, Amilia Putri Lina Lasminingrum Linda Barus Mangesti, Rini Dwi Maria Johana Ari Widayanti Maryono, Sumardi Maryono, Suradi Ma’sumah, Fithriyatul Melati Sudiro Mentari Merryana Adriani Mesah, Winny Misbakhul Munir Miswan Gumanti Muchsin Doewes Muhammad Rifqi Muhammad Zainal Arifin, Muhammad Zainal Muhammad Zaki Pahrul Hadi Muhammad, Faizal Muhammad, Muaz Muhimatul Ifadah Mutiah Amini Nanda Fadhilah Witris Salamy Ni Wayan Winarti Novita Damayanti Nugroho, Ardi Setyo Nuha, Putri Ulin Nur Aini Setiawati Nur Aini Setyawati Nur Inayah Nur Shani Meida Nur, Nahdia Nurinasari, Hafi Olivia Cindowarni Padhil Hudaya Pamungkasari, Eti P. Pandu Putra Harsarapama, Pandu Putra Pangesti, Devia Regita Paramasari Dirgahayu pasa, chusairil Paulus Kusnanto Paulus Liben, Paulus Poernomo, Gigih Rahmadanu Poncorini, Eti Prabaningtyas, Hanindia Riani Pradana, E Pramesti, MPBD Pranadyan, Rizki Pratama, Yuan Guruh Pratiwi, Wahyu Nur Prayuda, Prayuda Priaminda, M Dodi F Priatmojo, Arif Suryo Pryla Rochmahwati Pudji Lestari Purnama, Siswanta Jaka Purwani, Deni Purwoto, Septyaningrum Putri Putranto, Wachid Putri, Arum Cahyaning Rachmat Setiawibawa Rachmawati, Anindita Rachmi Fauziah Rahayu Raden Mohammad Budiarto Rahmi Syarifatun Abidah, Rahmi Syarifatun Ratih Tri Kusuma Dewi, Ratih Tri Kusuma Rejeki, Purwo Sri Reviono Reviono RINA YUDIWATI BM, RINA Ristinawati, Ira Risya Cilmiaty, Risya Rivan Danuaji Rohaeni, Rohaeni Rosida, Silvi Dina Rosita, Hanna Eka Rosyidi, Mohamad Ikhwan Rudi Hartono Ruliyandari, Rochana S, Gadis Meinar S.Pd. M Kes I Ketut Sudiana . Sa'adi, Ashon Sajidan Salimah, Kun Sally Mahdiani Sandhi Cahyani, Maria Benedictin Saputro, Yosia Puri Sari, Gadis Meinar Seful Bahri Senyum Indrakila Septian, Muhammad Raditia Setiabudi, Narendra Arya Setiadi, Hafid Setyawan, Ravinda Dharma Shinta Nurmasari Siahaan, Paulus Parholong Siam, Rambu Nurul Simanjuntak, Nela Soetrisno Soetrisno Soetrisno Soewondo, Widiastuti Sri Margana Sugiarto S Sukiman, Djoko Sulistiawati Sulistiawati SUROTO Susanto, Agung Susanto, Tri Hardi Suseno, Aryo Susiana, Okta Margarita Syafardan, R.M. Doni Syetiawinanda, Amriansyah Tedjo, Raden Andi Ario Tejomukti, Teddy Teti HS Madiadipoera Thaufiq S. Boesoirie Tonang Dwi Ardiyanto, Tonang Dwi Uji Nugroho Winardi Utami, Bernadhita Herindri Samodera Utami, Tri Setyo Vitri Widyaningsih Wahyuni, Ardianti Wasngadiredja, Pupu Fujriani Wibi, Bagas Ardytyan Wibowo, Diki Prayugo Widjiati Widjiati, Widjiati Wildan Sena Utama Woro Setia Ningtyas Wulandari, Eka T. Wuryanti, Lestari YANTO YANTO Yenny Kandarini Yoda, Vincensius Arga Yuliawati, Tri Hartini Yuniarto, Haryono Yussy Afriani Dewi Zaidah, Lailatuz