p-Index From 2021 - 2026
12.003
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Nalar Pendidikan ILMU USHULUDDIN Jurnal KALAM Ar-Raniry, International Journal of Islamic Studies Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam PALASTREN JURNAL TADRIS STAIN PAMEKASAN Jurnal Ushuluddin Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Islam Futura Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam Nurani: Jurnal Kajian Syariah dan Masyarakat Religio : Jurnal Studi Agama-agama JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman JURNAL PENDIDIKAN FISIKA AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Jurnal Ilmiah Peuradeun Aksara Hasanuddin Economics and Business Review Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah CaLLs : Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Al-Albab SAMARAH: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam JOURNAL OF APPLIED INFORMATICS AND COMPUTING Jurnal al-Ulum : Jurnal Pemikiran dan penelitian ke-Islaman Journal Analytica Islamica Ta`Limuna : Jurnal Pendidikan Islam Journal on Education Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Aqlania Jurnal TAMBORA Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Indonesian Journal of Halal Research El-Usrah: Jurnal Hukum Keluarga Diagnosis: Jurnal Ilmiah Kesehatan PREPOTIF : Jurnal Kesehatan Masyarakat Jurnal Sasindo Unpam IJOLTL (Indonesian Journal of Language Teaching and Linguistics) Community Development Journal: Jurnal Pengabdian Masyarakat Edunesia : jurnal Ilmiah Pendidikan Sustainable: Jurnal Kajian Mutu Pendidikan Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Fitrah: International Islamic Education Journal Economics and Digital Business Review Ulumuna Jurnal Studi Jurnalistik Academic Journal of Islamic Principles and Philosophy An-Nawa : Jurnal Studi Islam Bisnis Net : Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesian Journal of Business and Management Al-Rabwah : Jurnal Ilmu Pendidikan Jurnal Ahsana Media : Jurnal Pemikiran, Pendidikan dan Penelitian ke-Islaman Journal Peqguruang: Conference Series Jurnal Pemikiran Islam (JPI) Global Abdimas: Jurnal Pengabdian Masyarakat Ikhtisar: Jurnal Pengetahuan Islam Jurnal Al-Fikrah eScience Humanity Journal Pedagogy : Jurnal Pendidikan Matematika TRILOGI: Jurnal Ilmu Teknologi, Kesehatan, dan Humaniora Islamic Economic and Business Journal Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Jurnal Sosiologi Dialektika Sosial YASIN: Jurnal Pendidikan dan Sosial Budaya Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies Jurnal Ilmiah MEA (Manajemen, Ekonomi, dan Akuntansi) Tadris: Jurnal Pendidikan Islam Islamic Studies Review Jurnal Yustitia Innovative: Journal Of Social Science Research Shoutika: Jurnal Komunikasi dan Dakwah Journal of Literature and Education ISTIFHAM Jurnal Studi Islam Academic Journal of Islamic Principles and Philosophy Ameena Journal IJELaSS: International Journal of Education, Language and Social Scince Journal of Marketing Management and Innovative Business Review Jurnal Ilmiah Bongaya (JIB) Studia Islamika Tapis : Jurnal Penelitian Ilmiah Indonesian Journal of Sport Physical Therapy (IJSPT)
Claim Missing Document
Check
Articles

KEUNIVERSALAN BUDAYA NUSANTARA DALAM PEMALI DILARANG DUDUK DI ATAS BANTAL: SEMIOTIKA ROLAND BARTHES Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 4, No 3 (2020): Juli 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v4i3.4129

Abstract

Keanekaragaman budaya di Nusantara harus dikelola menjadi penguat budaya nasional. Salah satunya dengan intensitas penelitian budaya dan nilai-nilainya. Tulisan ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang mengumpulkan dan menganalisis salah satu kekayaan budaya di Indonesia, yakni budaya pemali. Pemali memang bertebaran pada setiap etnik di Indonesia. Olehnya itu, tulisan ini memilih satu pemali yang berlaku secara universal pada 21 etnik di Nusantara. Pemali tersebut adalah dilarang duduk di atas bantal, karena nanti bisulan. Pemali ini dianalisis dengan menggunakan kajian semiotika Roland Barthes, yakni pemaknaan dua lapis pada sebuah tanda. Pemaknaan tersebut adalah pemaknaan denotasi dan konotasi yang membentuk penanda dan petanda. Hasil analisisnya menunjukkan bahwa pada tahap pertama, bisul bermakna sebagai satu penyakit jorok dan menjijikkan. Selanjutnya, pada tahap kedua, penyakit jorok menjadi penanda yang menghasilkan petanda bahwa orang yang mengalami penyakit bisulan adalah orang sering melanggar adat kepantasan, yakni sering menduduki bantal yang fungsinya hanya sebagai alas kepala. Konotasi ini menjadi mitos dalam masyarakat sehingga akhirnya diterima dan dipraktikkan lalu menjadi ideologi. Ideologi dalam hal ini adalah nilai-nilai kultural dan historis tentang bantal, bisul, dan kepala yang telah memasuki sistem budaya masyarakat di Nusantara.
MAKNA SIMBOLIK MAPPASIKARAWA DALAM PERNIKAHAN SUKU BUGIS DI SEBATIK NUNUKAN Seliana, Seliana; Arifin, Syaiful; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 2, No 3 (2018): Edisi Juli 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.72 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v2i3.1145

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan simbol-simbol dan makna dalam tradisi mappasikarawa pernikahan suku Bugis di Sebatik Nunukan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan dan pendekatan kualitatif. Data dan sumber data dalam penelitian ini adalah informan sebagai sumber memperoleh data. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara, dan rekaman. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis secara makna denotatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tradisi mappasikarawa terdapat beberapa makna simbolik, pertama simbol-simbol yang terdapat dalam tradisi mappasikarawa yaitu, jempol/ibu jari, jabat tangan, pangkal lengan, hidung, leher, dada, telinga, perut, dan ubun-ubun. Kedua, makna melalui teori makna yaitu makna denotatif. Semua simbol tersebut memiliki makna yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan dan aktivitas sehari-hari masyarakat Bugis. Masyarakt Bugis yakin bahwa simbol dalam tradisi mappasikarawa tersebut merupakan makna yang sakral.Kata kunci: tradisi, mappasikarawa, makna  ABSTRACT This study aims to describe the symbols and meaning in the tradition of marriage mappasikarawa Bugis tribe in Sebatik Nunukan. The type of research used is field research and qualitative approach. Data and data sources in this study are informants as a source of data. Data collection techniques used were observation, interview, and recording techniques. Data analysis technique using analysis technique with denotative mean. The results showed that in mappasikarawa tradition there are some symbolic meanings, first the symbols contained in mappasikarawa tradition that is, thum, handshake, arm base, nose, neck, chest, ear, stomach, and crown. Second, meaning through the theory of meaning is denotative meaning. All of these symbols have meaning that is very closely related to the life and daily activities of Bugis society. The Bugis community is convinced that the symbol in the mappasikarawa tradition is a sacred meaning.Keywords: tradition, mappasikarawa, meaning
PEMALI DALAM MASYARAKAT ETNIK BANJAR DI KOTA SAMARINDA: SUATU TINJAUAN SEMIOTIKA Akhlak, Annisa; Arifin, M. Bahri; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 3, No 2 (2019): April 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.448 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v3i2.1780

Abstract

Penelitian ini membahas tentang makna pemali dalam masyarakat etnik Banjar yang berada di Kota Samarinda. Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui pemali apa saja yang dilaksanakan dan tidak dilaksanakan oleh masyarakat etnik Banjar dan menentukan makna terkandung di dalam budaya pemali masyarakat etnik Banjar.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan termasuk dalam jenis penelitian lapangan. Data penelitian ini berupa budaya pemali yang diperoleh dari observasi dengan informan yang mengetahui dan masih melaksanakan budaya pemali yang berada di kota Samarinda. Data dikumpulkan dengan metode wawancara, rekam dan catat. Data dianalisis dengan teknik reduksi data, transkrip data, dan penyajian data.Hasil dari penelitian ini berupa temuan makna pemali dengan menggunakan teori semiotika yang dilihat dari makna denotatif atau pemaknaan tingkat satu yaitu makna sebenarnya atau sesuai dengan kamus, konotatif atau pemaknaan tingkat dua yaitu merupakan bentuk akibat yang menjadi tanda, serta akan menjadi mitos yang sekaligus menjadi simbol budaya Banjar. Penelitian ini mengumpulkan lima puluh pemali yang terbagi menjadi dua yaitu, pemali yang tidak dilaksanakan dan pemali yang dilaksanakan. This study discussed the meanings of pamali in Banjar ethnic living in Samarinda City. It aimed to find out the types of pamali performed and not performed by the Banjar ethnic community and to determine the meanings contained in the pamali according to the culture of Banjar ethnic society. This study applied a qualitative approach with the descriptive method and it was categorized as a field study. The data of this research were in the forms of pamali culture obtained from the informants who understood and still performed the pamali culture existing in Samarinda City. The data were collected through interview, recording, and note-taking. The data were analyzed by using data reduction, data transcription, and data display. The findings of this study were in the forms of pamali with their meanings by using a semiotic theory which was seen from their denotative meanings or the first level of meaning analysis, namely the real meaning or the meaning according to the dictionary. Their connotative meaning of the second level of meaning analysis was the effects which were in the forms of signs, and they would become myths and symbols of Banjar culture. This study collected 50 pamali which were divided into two types, the pamali which were not performed and those which were performed.
ASAL-USUL NAMA PULAU DERAWAN, MARATUA, KAKABAN, DAN SANGALAKI DI KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR Afrianto, Afrianto; Mursalim, Mursalim; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.73 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v2i2.977

Abstract

ABSTRAKAsal-usul Nama Pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki di Kabupaten Berau Kalimantan Timur,  adalah salah satu Sastra daerah yang semakin lama semakin jarang dijumpai dan mulai banyak ditinggalkan, maka seharusnya sastra daerah tetap dilestarikan agar generasi penerus masih mengenal sastra daerah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang mendeskripsikan terjadinya legenda asal-usul nama pulau Derawan Maratua, Kakaban, dan Sangalaki. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik observasi, teknik wawancara, teknik  dokumentasi dan penyajian data tersebut menggunakan teknik catat untuk mengklarifikasi data. Penelitian asal-usul nama pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki dapat dianalisis secara morfologi dan semantik sehingga ditemukan bentuk kata dan makna nama pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki di Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Nama pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki yang terdiri atas satu kata dibahas menurut proses pembentukan kata, makna nama pulau, dan latar belakang pembentukan nama pulau. Kata Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki merupakan kata yang berasal dari bahasa Bajau, yang memiliki kemiripan dari segi makna dalam bahasa Indonesia dengan proses morfologis. Derawan perubahan terjadi pada fonem pe menjadi de, sehingga Derawan (Bajau) menjadi perawan (Indonesia), Maratua perubahan terjadi pada fonem mara menjadi mer, sehingga Maratua (Bajau) menjadi Mertua (Indonesia), Kakaban kemiripan terjadi dari segi bunyi, kata kaka (dalam bahasa Indonesia) mendapat akhiran ban menjadi Kakaban (dalam bahasa Bajau), Sangalaki kemiripan terdapat dari segi bunyi dengan proses pembubuhan, fonem sanga pada laki menjadi Sangalaki (dalam bahasa Bajau), mendapat proses reduplikasi menjadi laki-laki (dalam bahasa Indonesia).Kata Kunci: Asal-Usul, Derawan, Maratua, Kakaban, SangalakiABSTRACTThe origin of the names Derawan Island, Maratua Island, Kakaban Island and Sangalaki Island in Berau East Borneo, are one of the regional literature thats getting rarely encountered and began to abandoned, so as the regional literature need to be preserved so as the next generations still know the regional literature. The used of methods in this research is descriptive methods which describe the origins legend of the name Derawan Island, Maratua, Kakaban and Sangalaki. The technique of data collection is observation technique, interview technique, documentation technique, and presentation of the data using the note technique to clarified the data. Research of origin names Derawan Island, Maratua, Kakaban and Sangalaki can be analyzed by using Morphology and Semantic until founded the words formation and the meaning of the origins names of Derawan Island, Maratua, Kakaban, and Sangalaki in Berau of East Borneo. Names of Derawan Island, Maratua, Kakaban, and Sangalaki that consist of one word explained based on formation words process, the meaning of Island, and background formation of island. The words of Derawan, Maratua, Kakaban, and Sangalaki are one of the words that came from Bajau language, it has similarity from meaning in Indonesia by using Morphology process. Derawan change to the phoneme pe into de, so Derawan (Bajau) became perawan (Indonesia), Maratua change to the phoneme “Mara” into “Mer”, so Maratua (Bajau) became Mertua (Indonesia). Kakaban’s similarity happen from the sound “Kaka” words (in Indonesia) got the suffix “ban” became “Kakaban” (in Bajau), Sangalaki’s similarity can  be found from the sound by affixing process, the “sanga’s” phoneme in laki became Sangalaki (in Bajau), having the reduplication process to be laki-laki (in Indonesia). Keywords: Origins, Derawan, Maratua, Kakaban, Sangalaki.
BUDAYA PEMALI DALAM MASYARAKAT ETNIK TORAJA DI KOTA SAMARINDA: SUATU TINJAUAN SEMIOTIKA Astuti, Risna Dwi; Arifin, M. Bahri; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 4, No 4 (2020): Oktober 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v4i4.2850

Abstract

Pemali merupakan salah satu bentuk tradisi lisan yang digunakan sebagai bentuk larangan paling halus dan sopan. Salah satu masyarakat yang masih mengamalkan pemali adalah masyarakat etnik Toraja. Penelitian ini membahas tentang makna tanda semiotika pemali yang ada dalam masyarakat etnik Toraja. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pemali apa saja yang ada pada masyarakat etnik Toraja di Kota Samarinda; (2) mendeskripsikan makna yang terkandung pada pemali masyarakat etnik Toraja di Kota Samarinda. Penelitian ini termasuk penelitian lapangan menggunakan pendekatan kualitatif dengan model pemerian deskriptif. Data penelitian ini berupa teks pemali yang diketahui dan dilaksanakan oleh masyarakat etnik Toraja di Kota Samarinda, sedangkan sumber data dalam penelitian ini, yaitu informan dari masyarakat etnik Toraja yang menetap di Kota Samarinda. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, perekaman dan pencatatan. Kemudian, data dianalisis dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes yang melihat tanda dalam dua tingkat pemaknaan, yaitu pemaknaan tingkat satu (denotasi) dan pemaknaan tingkat dua (konotasi). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makna tanda pada tingkat pemaknaan kedua menjelma menjadi mitos. Dari 47 rumusan pemali yang diketahui dan dilaksanakan oleh masyarakat etnik Toraja di Kota Samarinda terdapat 5 pemali yang berkaitan dengan kesehatan, 6 pemali yang berkaitan dengan dengan keselamatan, 3 pemali berkaitan dengan rezeki dan 1 pemali berkaitan dengan jodoh.
GAYA BAHASA JUAL BELI PEDAGANG DI PULAU BUNYU KALIMANTAN UTARA Jurianto, Jurianto; Mursalim, Mursalim; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 4, No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.346 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v4i1.2614

Abstract

This research aims to determine which language styles are used in buying and selling merchants in Bunyu Island. North Kalimantan and to know what language style function is contained in greeting buying and selling merchants in Bunyu Island, Kalimantan North. This research uses qualitative descriptive methods that describe the use of language styles in buying and selling in Bunyu Island market, North Kalimantan. The object of this research is traders and buyers who are doing buy and sell transactions. Data on the use of the language styles of merchants and buyers is obtained through observation. The techniques used in this research are the recording techniques, the reading techniques and the data analysis techniques. The results of this study are (1) the style of the language used in sale and purchase transactions in Bunyu Island, North Kalimantan, the comparative language style, the style of language opposition, the style of association language, and the repetition language style, (2) The function of language style that Contained in the greeting of buying and selling merchants in Bunyu Island, North Kalimantan, namely the function explaining, function strengthening, function animate the Dead object, the function of stimulating the association, the function raises laughter, and functions to garnish.
PEMEROLEHAN BAHASA KEDUA PADA SISWA KELAS III SDN 011 SEBULU KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA: KAJIAN PSIKOLINGUISTIK Hadi, Sofyan; Rijal, Syamsul; Hanum, Irma Surayya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 3, No 3 (2019): Juli 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.762 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v3i3.2014

Abstract

The development of a person’s second language is strongly influenced by the way in which the stages of his acquisition, through formal or informal activities. Based on this, problems are formulated to determine lexicon acquisition, phonology, and factors that influence second language acquisition. This research was included in the field research using a qualitative approach which was described descriptively. The data source in this research is Yudika Adya Tama, Wahyu Almira Dika, Ludfia, Anjani, Moh. Farid, and Ikrima Faiz Hafidz. The data source is based third-grade elementary school students 011 Sebulu as Kutai Kartanegara district which only had two languages. The results of the research indicate that data sources have been able to mention several second language lexicons. However, in terms of the acquisition of phonology, several lexicons (Indonesian language or English language) were found whose pronunciation still received transfers from the first language. As for the factors that influence the second language acquisition of third-grade elementary school students 011 Sebulu are (a) motivational factors, (b) age factors, (c) formal presentation factors, (d) first language factors, and (e) environmental factors. Perkembangan bahasa kedua (B2) seseorang sangat dipengaruhi oleh cara pada tahapan pemerolehannya, baik melalui kegiatan formal maupun informal. Berdasarkan hal tersebut, dirumuskan masalah untuk mengetahui pemerolehan leksikon, fonologi, dan faktor-faktor yang memengaruhi pemerolehan bahasa kedua (B2). Penelitian ini termasuk dalam penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang dipaparkan secara deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah Yudika Adya Tama, Wahyu Almira Dika, Ludfia, Anjani, Moh. Farid, dan Ikrima Faiz Hafidz. Sumber data berdasarkan siswa kelas III SDN 011 Sebulu Kabupaten Kutai Kartanegara yang hanya memperoleh dua bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber data telah dapat menyebutkan beberapa leksikon bahasa kedua (B2). Namun, dari segi pemerolehan fonologi ditemukan beberapa leksikon (bahasa Indonesia atau pun bahasa Inggris) yang pengucapannya masih mendapatkan transfer dari bahasa pertama (B1). Adapun faktor-faktor yang memengaruhi pemerolehan bahasa kedua pada siswa kelas III SDN 011 Sebulu adalah (a) faktor motivasi, (b) faktor usia, (c) faktor penyajian formal, (d) faktor bahasa pertama, dan (e) faktor lingkungan.
CAMPUR KODE DALAM ACARA KENDURI DI KELURAHAN RAWA MAKMUR KECAMATAN PALARAN KOTA SAMARINDA: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Purwanda, Hendra; Rijal, Syamsul; Purwanti, Purwanti
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 2, No 4 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.183 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v2i4.1550

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk campur kode dalam acara kenduri di Kelurahan Rawa Makmur, Kecamatan Palaran dan (2) faktor penyebab campur kode dalam acara kenduri di Kelurahan Rawa Makmur, Kecamatan Palaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dipaparkan secara deskriptif. Data penelitian berupa tuturan lisan masyarakat, sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat yang hadir dalam acara kenduri. Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dengan teknik lanjutan berupa simak bebas libat cakap, simak libat cakap, rekam, dan catat. Metode dan teknik analisis data menggunakan metode agih dengan teknik bagi unsur langsung untuk mendeskripsikan bentuk campur kode. Kemudian, metode padan dengan teknik pilah unsur penentu digunakan untuk mendeskripsikan faktor penyebab campur kode dalam acara kenduri di Kelurahan Rawa Makmur, Kecamatan Palaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat bentuk campur kode berupa penyisipan kata, perulangan kata, penyisipan frasa, dan penyisipan klausa. Kemudian faktor penyebab terjadinya peristiwa campur kode dilihat dari faktor ekstralinguistik, yaitu status sosial, sikap penutur, keinginan untuk menjelaskan, dan menyatakan prestise. Faktor intralinguistik, yaitu tidak adanya padanan kata dan kesesuaian maksud. Kata kunci: campur kode, acara kenduri  ABSTRACT The purpose of this research was to describe (1) describe the code-mixing form of kenduri event in Rawa Makmur Village, Palaran Subdistrict and (2) the factor of code-mixing in kenduri event in Rawa Makmur Village, Palaran Subdistrict. The research uses a qualitative approach that is described by descriptively. Research data in the form of oral speech, while the data sources in this study are the people who attended the kenduri event. Methods and techniques of data collection used is a method referred to advanced techniques in the form of free libat ably, the form libat ably, record, and noted. Methods and techniques of data analysis using a distributional method with a technique for direct elements to describe the form of code-mixing. Then, identity method matches the technique of selected the determinant element used to describe the factors caused the code-mixing in kenduri event in Rawa Makmur Village, Palaran Subdistrict. The results showed that there were mixed forms of code in the form of word insertion, word looping, phrase insertion, and clause insertion. Then the factors caused the occurrence of code-mixing events are seen from extralinguistic factors, that is social status, the attitude of the speaker, desire to explain, and express prestige. Intralinguistic factors, namely the absence of the equivalent of words and conformity intent. Keywords: code mixing, Kenduri’s event
TANDA DALAM PEMALI YANG DILAKSANAKAN MASYARAKAT ETNIK MANDAR DI KOTA SAMARINDA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR: TINJAUAN SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PEIRCE Amiruddin, Amiruddin; Arifin, M. Bahri; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.003 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v3i4.2127

Abstract

Pemali ialah hal-hal yang dilarang atau sesuatu yang tidak boleh dilakukan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Setiap etnik di Indonesia memiliki pemali yang diterapkan di setiap kegiatan sebagai wujud kearifan dalam memaknai dan menyikapi kehidupan. Ikatan aturan tersebut lama-kelamaan melekat dalam diri setiap masyarakat sehingga meski tidak berada di daerah asal, aturan tersebut tetap diterapkan. Salah satu etnik di Indonesia yang masih menerapkan pemali meski telah melakukan migrasi, yaitu etnik Mandar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemali-pemali yang masih dilaksanakan dan menjelaskan makna tanda dalam pemali masyarakat etnik Mandar. Penelitian ini termasuk penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif yang dipaparkan secara deskriptif. Data penelitian ini, yaitu pemali yang disampaikan dan diterapkan oleh masyarakat etnik Mandar. Adapun sumber data adalah masyarakat etnik Mandar yang telah mendiami dan menjadi penduduk di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. Teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu teknik wawancara yang dikombinasikan dengan teknik rekam dan catat. Teknik analisis data yang digunakan, yaitu teknik analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap pemali terdapat tanda-tanda yang memiliki makna berbeda-beda sesuai dengan keyakinan, tradisi, dan lingkungan masyarakat etnik Mandar. Makna tanda-tanda tersebut memiliki fungsi untuk memberikan pelajaran tentang kesehatan, sopan santun, kebersihan, keselamatan, keagamaan, keberkahan hidup, rasa syukur, hidup sosial, dan kesejahteraan keluarga. Pemali are things that are prohibited or something that should not be done, both in the form of speech and deeds. Every ethnic group in Indonesia has a leader who is applied in every activity as a form of wisdom in interpreting and responding to life. These rules are gradually embedded in every society so that even though they are not in their home areas, the rules are still applied. One of the ethnic groups in Indonesia who still applies pemali despite migrating, namely ethnic Mandar. This study aims to find out the diggers who are still being carried out and explain the meaning of the signs in the Mandali ethnic community pemali. This study included field research with a qualitative approach that was described descriptively. The data of this study, namely the pemali delivered and applied by the ethnic Mandar community. The data sources are ethnic Mandar people who have inhabited and become residents in Samarinda City, East Kalimantan Province. Data collection techniques used, namely interview techniques combined with recording and recording techniques. The data analysis technique used is interactive analysis techniques. The results of the study show that each pemali there are signs that have different meanings according to the beliefs, traditions and environment of the Mandar ethnic community. The meaning of these signs has a function to provide lessons on health, courtesy, cleanliness, safety, religion, life blessings, gratitude, social life, and family welfare.
MAKNA KONSEPTUAL DAN MAKNA ASOSIATIF NARASI IKLAN ROKOK DI TELEVISI Arsyad, Huzaefah; Rijal, Syamsul; Rokhmansyah, Alfian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 4, No 2 (2020): April 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.584 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v4i2.2705

Abstract

The purpose of this study is to describe the conceptual and associative meanings of cigarette advertising narratives on television. Research conducted in this research is descriptive qualitative research and includes library research. The data collection technique used is the listening technique which discusses the skill of engaging in engaging, recording techniques, and note taking techniques. The data analysis technique used is the basic PUP technique used to understand associative and conceptual meanings in each clause in the narrative of cigarette advertisements on television. From the results of the study found seven advertisements. From the seven narratives, it has been divided into several parts to form clauses, phrases and sentences so that 35 data are obtained which are then described based on conceptual and associative meanings. The embodiment of conceptual meaning in cigarette advertisement narratives on television consists of seven narratives that contain conceptual meanings, namely (1) A Mild Version of the Cigarette Ad Function takes 14 words; (2) Define Your Style (Make Possible) Version of the advertisement of the Dunhil Cigarette is 22 words; (3) Surya Pro Mild (We are Stonger) cigarette ad captures 10 words; (4) Sampoerna U Bold Filter (five-rain rain) ad protector; (5) Lightweight Cigarette Ads (Pure Taste) arrested 12 words; (6) White & Black version of the Malboro Mild Black Cigarette Ad in 15 words; and (7) the successful version of Wismilak Diplomat Cigarette Ad won 22 words. The embodiment of associative meaning in cigarette advertisement narratives on television consists of seven narratives that contain associative meanings, namely (1) A Mild Version of Advertisements A Function of Cigarettes takes 12 words; (2) Dunhil Cigarette Advertisement Version Define Your Style (Make Possible) A combination of 8 words; (3) Surya Pro Mild (Kami Stonger) Cigarette Ad catches three words; (4) Sampoerna U Bold Filter (Rain Water Only) Cigarette Advertising; (5) Lightweight Cigarette Ads (Pure Taste) like five words; (6) White & Black version of the Malboro Black and Black Cigarette Advertisement four-word donation; and (7) the successful version of the Wismilak Diplomat Cigarette Ad seizes freedom of words.
Co-Authors A., Sainal Abd Haris, Abd Abd. Rahim Arsyad Abdul Mugni Abubakar Iskandar Adrianus, Nopli Adung, Narsela Afif Alfiyanto Afif Muamar Afrianto, Afrianto Afrizal, Yogi Hadi Akbar, Andi Makkulai Al Faqih, Shofwan Al Walid, Kholid Alfian Rokhmansyah Alfira, Jihan Alhabsyi, Musa Alkadzim Ali Abdurahman Simangunsong Alim, Arham Nur Amiruddin Amiruddin Amrah, Rosita Anas Anas, Anas Anhar Januar Malik Annisa Akhlak, Annisa Annur, Ash shifa AR, Muh. Sabri Aras, Rezty Amalia Ardhana, Muhammad Reza Ardhiansyah, Hanif Arifin Sahaka, Arifin Arifin, M Bahri Arifin, Syaiful Arimbi Armiah Armiah Arsyad, Abd. Rahim Arsyad, Huzaefah Aryzona, Chandika Aspikal, Aspikal Asriati Asriati, Asriati Astuti, Risna Dwi Aulia Rahmawati AYU LESTARI Ayu Purnamasari Bachtiar, Fauziah Badaru, Benny Bahrullah, Bahrullah Bako, Arpaini Basir @ Ahmad, Aminudin Bayu, Gede Krisna Beverly Thaver Cipta Bakti Gama Darwis, Analta Daud Yusuf Dawati, Sri Dedi Wahyudi Diana Safitri DINAR PRATAMA Dinar Pratama Djaharuddin, Dharmawaty Doahir, Abdul Elyana, Kukuh Endang Dwi Sulistyowati Farhan, Ach Faridzi, Tities Savira Fatroyah Asr Himsyah, Fatroyah Asr Firdaus M. Yunus Fitriana Fitriana Fitriansyah, Fitriansyah Fitriyah, Husnatul Gani, Mustafa Gunawan, Aden Hakim, Lukman Al- Hamzah, M. Nasir Hanafi, Yusuf Maulana Hanum, Irma Surayya Harjoni Harjoni Hasanuddin Remmang, Hasanuddin Hasbi, Hartas Herawati . Ingan, Heroyani Iskandar Arifin Iskandar Iskandar Islamiati, Widya Ismuhul Fadhil Iswary, Ery Jamiliya Susantin Jannah, Sofiatul Jayawarsa, A.A. Ketut Juhri, Juhri Julia, Ade Jurianto Jurianto Juwaini Juwaini Kaharuddin khusnul khotimah Lailatul Qadariyah Langoday, Yohanes Redan Lukman Hakim M Ikhwan M. Agus Wahyudi M. Agus Wahyudi M. Ikhwan M. Rusydi Ahmad, M. Rusydi M. Wahyuddin Abdullah, M. Wahyuddin Macshury, Ajeng Irma Mahdi Mahdi Mahfudin Mahfudin, Mahfudin Majid, Dharmawati Makmun, Armanto Malika, Irhamni Maliki, Imyal Al Mallapiang, A.Indrawati Mallapiang, Andi Indrawati Mappaware, Nasrudin Andi Mardin, Aslam Marzuki, M Fathin Shafly Masyita, Sitti Maulana Maulana Iban Salda Maulana Iban Salda Miri, Mohsen Moh. Mabruri Faozi, Moh. Mabruri Mohd. Nasir Mokhtar, Sulhana Muhammad Habiburrahman, Muhammad Muhammad Hasyim, Muhammad Muhammad Luthfi Muhammad Massyat, Muhammad Muhammad Qadaruddin Muhammad Sarjan Muhammad, Rasyidin Mukhtar Galib Mursalim Mursalim Mursidin, Muthmainnah Murtadlo, Akhmad Murtadlo, Akhmad Musanna, Syarifah Muslimin Kara Mutmainna, A. Indah Naimah Naimah Nasrullah Nasrullah NATALIA KRISTIANI Nina Farliana Norman, Nurul Ain Nur Alim, Arham Nur Arisah Nur Falikhah, Nur Nur Rahman, Wildian Fajrin Nurjannah, Sitti Nuroddin, Handrian Nursyam, Aisyah Nurul Ihksan Purwanda, Hendra PURWANTI PURWANTI Rahmini Hustim, Rahmini Ramadhany, Muhammad Alief Ramdhani Sucipto, Kiki Reski Ramli Ramli Ramli Ramli, Misran Randi Muhammad Gumilang Rasyidin Muhammad Rasyidin Muhammad Ratnah Ratnah Resky Ramdhani, Kiki Ria Wulansarie, Ria Rimakka, Al Isra Denk Rozali, Ermy Azziaty Rujina, Rujina Rurum, Dasrum Safira, Cut Siska Said, Miah Saifuddin Dhuhri Salsabila, Cindy Aulia Sangga Buana, Basudiwa Supraja Sari, Aulia Permata Seliana, Seliana Septiana, Dwiani Septiawan, Faisal Setiadi, Jesicca Ananty Nurul Setiowati, Indah Sharif, Tirta Chiantalia Silahuddin Silahuddin Silahuddin Silahuddin Sirwanti Sirwanti, Sirwanti Siti Helmyati Siti Muthmainah Sofyan Hadi Stevani, Liana Sinta Sucipto, Kiki Resky Ramdhani Suhaimi Suhaimi Sulaiman, Edi Saputra Sunardi Sunardi Suraiya IT Surya, Reni Syahfitri, Novi Syaiful Arifin Syamsiar, Syamsiar Syamsuddin, Muhammad Bachtiar Syamsul, Racmat Faisal Syarli, Syarli Syatria Adymas Pranajaya Syibran Mulasi Tadampali, Andi Caezar To Tafsir, Muhammad Tamaulina Br Sembiring Tamtowi, Moh Taslim H.M. Yasin Taufan Asfar, A. M. Irfan Taufik, Egi Tanadi Thaver, Beverly Tohayudin, Tohayudin Tri Indrahastuti Ulandari, Tri Umiarso Umiarso Wahyono, Sapto Wahyudi, M. Agus Wahyuni, Teti Walid, Kholid Al Wardanengsih, Ery Wati, Usnia Widyatmike Gede Mulawarman Wildan, Raina Wiwik Handayani Yana Fajriah Yani, Siti Nurindah Yansah, Devi Yogi Hady Afrizal Yulianti, Andi Indah Yuni Kartika, Yuni Yusak Hudiyono, Yusak Zacky Khairul Umam, Zacky Khairul Zaenuddin Hudi Prasojo Zain, Hikmah Widya