Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengkaji simbolisme kematian dan kesunyian dalam naskah Senja dengan Dua Kelelawar karya Kirdjo Muljo dengan menggunakan pendekatan semiotika dan hermeneutika eksistensial. Naskah ini menampilkan konflik batin tokoh-tokohnya; Ismiyati, Suwarto, dan Marsudi yang terjebak dalam ambiguitas moral dan psikologis di ruang senja, yakni batas antara kehidupan dan kematian. Simbol-simbol seperti senja, dua kelelawar, rel kereta api, dan kesunyian diinterpretasikan sebagai representasi kesadaran manusia terhadap kefanaan, rasa bersalah, dan keterasingan eksistensial. Analisis dilakukan melalui pembacaan secara intensif terhadap struktur dramatik, dialog, serta tanda-tanda visual dan atmosferik dalam teks, yang menunjukkan bahwa kematian dalam naskah ini tidak hanya berfungsi sebagai akhir biologis, tetapi juga sebagai metafora kematian spiritual dan terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan. Kesunyian yang melingkupi naskah berperan sebagai medium refleksi diri yang menyingkap kegelisahan dan absurditas hidup manusia modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kirdjo Muljo menghadirkan teater sebagai ruang kontemplatif untuk menafsir ulang makna hidup, cinta, dan penderitaan dalam horizon kesadaran eksistensial.Kata kunci: simbolisme, kematian, kesunyian, eksistensialisme, Kirdjo Muljo