p-Index From 2021 - 2026
19.059
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Bahana Manajemen Pendidikan Pedagogi: Jurnal Ilmu Pendidikan El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam Shaut Al-'Arabiyah Profetika Unnes Science Education Journal AL-IDARAH: JURNAL KEPENDIDIKAN ISLAM At-Turats Journal of Child Development Studies Risâlah, Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Tadarus: Jurnal Pendidikan Islam MODELING: Jurnal Program Studi PGMI al-Afkar, Journal For Islamic Studies Pendas : Jurnah Ilmiah Pendidikan Dasar Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam Tadbir Muwahhid Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Alignment: Journal of Administration and Educational Management Tribakti: jurnal pemikiran keIslaman JURNAL PENDIDIKAN TAMBUSAI Nazhruna: Jurnal Pendidikan Islam Jurnal Basicedu Ta'dibuna: Jurnal Pendidikan Islam Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam Jurnal Sosial Humaniora AT-TURAS: Jurnal Studi Keislaman Journal of Humanities and Social Studies TSAQAFAH Generasi Emas: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN Idaarah: Jurnal Manajemen Pendidikan COLLASE (Creative of Learning Students Elementary Education) Jurnal Penelitian Tarbawi: Pendidikan Islam dan Isu-Isu Sosial Mudir : Jurnal Manajemen Pendidikan Ulumuna: Jurnal Studi Keislaman KOLOKIUM: Jurnal Pendidikan Luar Sekolah Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat EDUKA : Jurnal Pendidikan, Hukum, Dan Bisnis Rayah Al Islam : Jurnal Ilmu Islam Jurnal Pendidikan Luar Sekolah Cendekia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran RESLAJ: RELIGION EDUCATION SOCIAL LAA ROIBA JOURNAL Jurnal Abdidas Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Al-Mubin: Islamic Scientific Journal Jurnal Pendidikan Guru (JPG) Berajah Journal EduInovasi: Journal of Basic Educational Studies Ar-Rasyid: Jurnal Pendidikan Agama Islam Prophetic Guidance and Counseling Journal Proceedings of The International Conference on Social and Islamic Studies Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Jurnal Impresi Indonesia JURNAL PENDIDIKAN INDONESIA: Teori, Penelitian, dan Inovasi Journal of Social Research Idarah Tarbawiyah: Journal of Management in Islamic Education Tadbiruna: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam English Didactic Jurnal Basicedu Bandung Conference Series: Economics Studies Aurelia: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Penamas International Journal of Education and Digital Learning (IJEDL) International Journal of Science Education and Cultural Studies IJOEM: Indonesian Journal of Elearning and Multimedia Journal of Research and Publication Innovation Civilization Research: Journal of Islamic Studies Jurnal Pendidikan Islam Jurnal Global Ilmiah Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal EduInovasi: Journal of Basic Educational Studies Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman International Journal of Education, Vocational and Social Science TARBIYAH: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Al Hikmah: Indonesian Journal of Early Childhood Islamic Education Al-Risalah Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Profetika

CIVIC EDUCATION AT MUHAMMADIYAH HIGHER EDUCATION: DEVELOPMENT STUDY OF HAND BOOK OF MENUJU KEHIDUPAN YANG DEMOKRATIS DAN BERKEADABAN Suidat, Suidat; Husaini, Adian; Saefuddin, Didin; Mujahidin, Endin
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i1.6295

Abstract

Civic education is one of the basic courses that must be taken by every student at the College. The regulation of the course is based on the mandate contained in the law on the National Education System. Through Civic Education courses, the students can be directed national personality, that is how they love their homeland Indonesia, being a democratic, civilized, tolerant and so on. Muhammadiyah through the Council of Higher Education, Research and Development of Muhammadiyah head quarter published a textbook on Civic Education with the title Civic Education toward a Democratic and Civilized Life. The book became a staple in reference Civic Education Course in Universities of Muhammadiyah (PTM). However when elaborate on the Indonesian ideology or, in the book does not contain the formulation history of state basic ideology which was done by the founding fathers. Also how the role and Islamic thought figures who participated in formulating the state basic ideology be part of the material that was duly presented in the book. It is important that students who study in PTM to know and understand the history and struggle of Islamic figures in formulating the basis of the state and the dynamics that occurred at that time. So that their knowledge is complete and in understanding the Pancasila as the state basic ideology of Indonesia. Ki Bagus had very important role in the Committee for Indonesian Independence (PPKI) experienced of dead lock about the change of first principle of Pancasila, and there was serious debate and dynamic. Likewise, the role and thought of Kasman Singodimedjo was also important on the basis state in both the trial PPKI, as well as in the Constituent Assembly. Perpsektif Kasman about Pancasila based on Islam became important after the implementation of 1945 Constitution and Presidential Decree July 5th 1959. The role of Abdul Kahar Mudzakkir as a witness to the history of the struggle of Muslims cannot be neglected; especially Mudzakkir included in the Committee of Nine which develops the basic state eventually became the Jakarta Charter and accepted unanimously by BPUPKI. Furthermore, in the Constituent Assembly Mudzakkir remain committed to make Islam as the basis of the state, where the Constituent Assembly is the foundation of the momentum of the second volume formulation. The core of the Civics book is how the problem of state ideology especially Pancasila can be described in a comprehensive, complete and not partial. Including the relationship between the Jakarta Charter and the Constitution 1945. Other matters concerning aspects of citizenship is derived and the meaning of ideology or basic state. Therefore, this paper presents the role and thought of Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, and Abdul Kahar Mudzakkir become material development of Civic Education in the book of Civic Education toward a Democratic and Civilized Life.Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata kuliah dasar yang mesti ditempuh oleh setiap mahasiswa dalam studinya di Perguruan Tinggi. Ketentuan adanya mata kuliah ini berdasarkan amanat yang tertuang dalam undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional. Melalui mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan ini mahasiswa diarahkan dapat berkepribadian nasional, yaitu bagaimana mereka cinta tanah air Indonesia, bersikap demokratis, beradab, toleran dan lain sebagainya. Muhammadiyah melalui Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah) menerbitkan satu buku teks tentang Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) dengan judul Pendidikan Kewarganegaraan Menuju Kehidupan yang Demokratis dan Berkeadaban. Buku ini menjadi referensi pokok dalam Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Akan tetapi ketika menguraikan tentang ideologi atau dasar negara Indonesia pada bagian yang membahas tentang “Membangun  Identitas Nasional”, tidak memuat bagaimana sejarah perumusan dasar negara yang dilakukan para founding fathers. Bagaimana pemikiran tokoh-tokoh Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Abdul Kahar Mudzakkir tidak menjadi bagian dalam materi yang sepatutnya disajikan dalam buku tersebut. Hal ini penting agar mahasiswa mengetahui dan memahami sejarah dan perjuangan tokoh-tokoh Islam dalam merumuskan dasar negara serta dinamika yang terjadi saat itu. Sehingga pengetahuan mereka menjadi utuh dan tidak parsial dalam memahami Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Peran Ki Bagus sangat penting ketika Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengalami deadlock soal perubahan sila pertama dasar negara Indonesia. Demikian juga pemikiran Kasman Singodimedjo tentang dasar negara baik dalam sidang PPKI, maupun dalam sidang Konstituante. Perpsektif Kasman tentang Pancasila yang berbasis pada Islam menjadi penting setelah diberlakukan kembali UUD 1945 dengan lahirnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Demikian juga pemikiran Abdul Kahar Mudzakkir sebagai saksi sejarah perjuangan umat Islam tidak bisa dilupakan begitu saja, Abdul Kahar Mudzakkir termasuk dalam Panitia Sembilan yang bertugas menyusun dasar negara yang pada akhirnya menjadi Piagam Jakarta. Dalam Sidang Konstituante Mudzakkir tetap komitmen menjadikan Islam sebagai dasar negara, di mana Sidang Konstituante adalah momentum perumusan dasar negara jilid kedua. Inti dari buku PKn adalah bagaimana masalah ideologi negara khususnya Pancasila dapat dijelaskan secara komprehensif, utuh dan tidak parsial. Termasuk hubungan antara Piagam Jakarta dan UUD 1945. Oleh karena itu disertasi ini membahas pemikiran Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Abdul Kahar Mudzakkir menjadi bahan pengembangan materi Pendidikan Kewarganegaraan dalam buku ajar Pendidikan Kewarganegaraan Menuju Kehidupan yang Demokratis dan Berkeadaban.  
CIVIC EDUCATION AT MUHAMMADIYAH HIGHER EDUCATION: DEVELOPMENT STUDY OF HAND BOOK OF MENUJU KEHIDUPAN YANG DEMOKRATIS DAN BERKEADABAN Suidat, Suidat; Husaini, Adian; Saefuddin, Didin; Mujahidin, Endin
Profetika Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i1.6296

Abstract

Civic education is one of the basic courses that must be taken by every student at the College. The regulation of the course is based on the mandate contained in the law on the National Education System. Through Civic Education courses, the students can be directed national personality, that is how they love their homeland Indonesia, being a democratic, civilized, tolerant and so on. Muhammadiyah through the Council of Higher Education, Research and Development of Muhammadiyah head quarter published a textbook on Civic Education with the title Civic Education toward a Democratic and Civilized Life. The book became a staple in reference Civic Education Course in Universities of Muhammadiyah (PTM). However when elaborate on the Indonesian ideology or, in the book does not contain the formulation history of state basic ideology which was done by the founding fathers. Also how the role and Islamic thought figures who participated in formulating the state basic ideology be part of the material that was duly presented in the book. It is important that students who study in PTM to know and understand the history and struggle of Islamic figures in formulating the basis of the state and the dynamics that occurred at that time. So that their knowledge is complete and in understanding the Pancasila as the state basic ideology of Indonesia. Ki Bagus had very important role in the Committee for Indonesian Independence (PPKI) experienced of dead lock about the change of first principle of Pancasila, and there was serious debate and dynamic. Likewise, the role and thought of Kasman Singodimedjo was also important on the basis state in both the trial PPKI, as well as in the Constituent Assembly. Perpsektif Kasman about Pancasila based on Islam became important after the implementation of 1945 Constitution and Presidential Decree July 5th 1959. The role of Abdul Kahar Mudzakkir as a witness to the history of the struggle of Muslims cannot be neglected; especially Mudzakkir included in the Committee of Nine which develops the basic state eventually became the Jakarta Charter and accepted unanimously by BPUPKI. Furthermore, in the Constituent Assembly Mudzakkir remain committed to make Islam as the basis of the state, where the Constituent Assembly is the foundation of the momentum of the second volume formulation. The core of the Civics book is how the problem of state ideology especially Pancasila can be described in a comprehensive, complete and not partial. Including the relationship between the Jakarta Charter and the Constitution 1945. Other matters concerning aspects of citizenship is derived and the meaning of ideology or basic state. Therefore, this paper presents the role and thought of Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, and Abdul Kahar Mudzakkir become material development of Civic Education in the book of Civic Education toward a Democratic and Civilized Life.Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata kuliah dasar yang mesti ditempuh oleh setiap mahasiswa dalam studinya di Perguruan Tinggi. Ketentuan adanya mata kuliah ini berdasarkan amanat yang tertuang dalam undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional. Melalui mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan ini mahasiswa diarahkan dapat berkepribadian nasional, yaitu bagaimana mereka cinta tanah air Indonesia, bersikap demokratis, beradab, toleran dan lain sebagainya. Muhammadiyah melalui Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah) menerbitkan satu buku teks tentang Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) dengan judul Pendidikan Kewarganegaraan Menuju Kehidupan yang Demokratis dan Berkeadaban. Buku ini menjadi referensi pokok dalam Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Akan tetapi ketika menguraikan tentang ideologi atau dasar negara Indonesia pada bagian yang membahas tentang “Membangun  Identitas Nasional”, tidak memuat bagaimana sejarah perumusan dasar negara yang dilakukan para founding fathers. Bagaimana pemikiran tokoh-tokoh Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Abdul Kahar Mudzakkir tidak menjadi bagian dalam materi yang sepatutnya disajikan dalam buku tersebut. Hal ini penting agar mahasiswa mengetahui dan memahami sejarah dan perjuangan tokoh-tokoh Islam dalam merumuskan dasar negara serta dinamika yang terjadi saat itu. Sehingga pengetahuan mereka menjadi utuh dan tidak parsial dalam memahami Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Peran Ki Bagus sangat penting ketika Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengalami deadlock soal perubahan sila pertama dasar negara Indonesia. Demikian juga pemikiran Kasman Singodimedjo tentang dasar negara baik dalam sidang PPKI, maupun dalam sidang Konstituante. Perpsektif Kasman tentang Pancasila yang berbasis pada Islam menjadi penting setelah diberlakukan kembali UUD 1945 dengan lahirnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Demikian juga pemikiran Abdul Kahar Mudzakkir sebagai saksi sejarah perjuangan umat Islam tidak bisa dilupakan begitu saja, Abdul Kahar Mudzakkir termasuk dalam Panitia Sembilan yang bertugas menyusun dasar negara yang pada akhirnya menjadi Piagam Jakarta. Dalam Sidang Konstituante Mudzakkir tetap komitmen menjadikan Islam sebagai dasar negara, di mana Sidang Konstituante adalah momentum perumusan dasar negara jilid kedua. Inti dari buku PKn adalah bagaimana masalah ideologi negara khususnya Pancasila dapat dijelaskan secara komprehensif, utuh dan tidak parsial. Termasuk hubungan antara Piagam Jakarta dan UUD 1945. Oleh karena itu disertasi ini membahas pemikiran Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Abdul Kahar Mudzakkir menjadi bahan pengembangan materi Pendidikan Kewarganegaraan dalam buku ajar Pendidikan Kewarganegaraan Menuju Kehidupan yang Demokratis dan Berkeadaban.  
CIVIC EDUCATION AT MUHAMMADIYAH HIGHER EDUCATION: DEVELOPMENT STUDY OF HAND BOOK OF MENUJU KEHIDUPAN YANG DEMOKRATIS DAN BERKEADABAN Suidat Suidat; Adian Husaini; Didin Saefuddin; Endin Mujahidin
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i1.6296

Abstract

Civic education is one of the basic courses that must be taken by every student at the College. The regulation of the course is based on the mandate contained in the law on the National Education System. Through Civic Education courses, the students can be directed national personality, that is how they love their homeland Indonesia, being a democratic, civilized, tolerant and so on. Muhammadiyah through the Council of Higher Education, Research and Development of Muhammadiyah head quarter published a textbook on Civic Education with the title Civic Education toward a Democratic and Civilized Life. The book became a staple in reference Civic Education Course in Universities of Muhammadiyah (PTM). However when elaborate on the Indonesian ideology or, in the book does not contain the formulation history of state basic ideology which was done by the founding fathers. Also how the role and Islamic thought figures who participated in formulating the state basic ideology be part of the material that was duly presented in the book. It is important that students who study in PTM to know and understand the history and struggle of Islamic figures in formulating the basis of the state and the dynamics that occurred at that time. So that their knowledge is complete and in understanding the Pancasila as the state basic ideology of Indonesia. Ki Bagus had very important role in the Committee for Indonesian Independence (PPKI) experienced of dead lock about the change of first principle of Pancasila, and there was serious debate and dynamic. Likewise, the role and thought of Kasman Singodimedjo was also important on the basis state in both the trial PPKI, as well as in the Constituent Assembly. Perpsektif Kasman about Pancasila based on Islam became important after the implementation of 1945 Constitution and Presidential Decree July 5th 1959. The role of Abdul Kahar Mudzakkir as a witness to the history of the struggle of Muslims cannot be neglected; especially Mudzakkir included in the Committee of Nine which develops the basic state eventually became the Jakarta Charter and accepted unanimously by BPUPKI. Furthermore, in the Constituent Assembly Mudzakkir remain committed to make Islam as the basis of the state, where the Constituent Assembly is the foundation of the momentum of the second volume formulation. The core of the Civics book is how the problem of state ideology especially Pancasila can be described in a comprehensive, complete and not partial. Including the relationship between the Jakarta Charter and the Constitution 1945. Other matters concerning aspects of citizenship is derived and the meaning of ideology or basic state. Therefore, this paper presents the role and thought of Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, and Abdul Kahar Mudzakkir become material development of Civic Education in the book of Civic Education toward a Democratic and Civilized Life.Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata kuliah dasar yang mesti ditempuh oleh setiap mahasiswa dalam studinya di Perguruan Tinggi. Ketentuan adanya mata kuliah ini berdasarkan amanat yang tertuang dalam undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional. Melalui mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan ini mahasiswa diarahkan dapat berkepribadian nasional, yaitu bagaimana mereka cinta tanah air Indonesia, bersikap demokratis, beradab, toleran dan lain sebagainya. Muhammadiyah melalui Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah) menerbitkan satu buku teks tentang Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) dengan judul Pendidikan Kewarganegaraan Menuju Kehidupan yang Demokratis dan Berkeadaban. Buku ini menjadi referensi pokok dalam Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Akan tetapi ketika menguraikan tentang ideologi atau dasar negara Indonesia pada bagian yang membahas tentang “Membangun  Identitas Nasional”, tidak memuat bagaimana sejarah perumusan dasar negara yang dilakukan para founding fathers. Bagaimana pemikiran tokoh-tokoh Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Abdul Kahar Mudzakkir tidak menjadi bagian dalam materi yang sepatutnya disajikan dalam buku tersebut. Hal ini penting agar mahasiswa mengetahui dan memahami sejarah dan perjuangan tokoh-tokoh Islam dalam merumuskan dasar negara serta dinamika yang terjadi saat itu. Sehingga pengetahuan mereka menjadi utuh dan tidak parsial dalam memahami Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Peran Ki Bagus sangat penting ketika Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengalami deadlock soal perubahan sila pertama dasar negara Indonesia. Demikian juga pemikiran Kasman Singodimedjo tentang dasar negara baik dalam sidang PPKI, maupun dalam sidang Konstituante. Perpsektif Kasman tentang Pancasila yang berbasis pada Islam menjadi penting setelah diberlakukan kembali UUD 1945 dengan lahirnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Demikian juga pemikiran Abdul Kahar Mudzakkir sebagai saksi sejarah perjuangan umat Islam tidak bisa dilupakan begitu saja, Abdul Kahar Mudzakkir termasuk dalam Panitia Sembilan yang bertugas menyusun dasar negara yang pada akhirnya menjadi Piagam Jakarta. Dalam Sidang Konstituante Mudzakkir tetap komitmen menjadikan Islam sebagai dasar negara, di mana Sidang Konstituante adalah momentum perumusan dasar negara jilid kedua. Inti dari buku PKn adalah bagaimana masalah ideologi negara khususnya Pancasila dapat dijelaskan secara komprehensif, utuh dan tidak parsial. Termasuk hubungan antara Piagam Jakarta dan UUD 1945. Oleh karena itu disertasi ini membahas pemikiran Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Abdul Kahar Mudzakkir menjadi bahan pengembangan materi Pendidikan Kewarganegaraan dalam buku ajar Pendidikan Kewarganegaraan Menuju Kehidupan yang Demokratis dan Berkeadaban.  
Co-Authors ., Bahagia ., Sadan A. Rahmat Rosyadi Abas Mansur Tamam Abbas Manshur Tamam Abbas Mansur Tamam Abd. Rohim Abdul Hayyie Al-Kattani , Abdul Abdul Karim Halim Abdullah Nuruz Zaini Abdurakhman, Omon Adian Husaini Affandi, Erna Rooslyna Ahmad Ahmad Alim Ahmad Daudin Ahmad Mulyadi Kosim Ahmad Tafsir Ahmad Tafsir, Ahmad Ainiyah Hidayanti Yusup Akhmad Alim Akhmad Alim, Akhmad Akmad Alim al Maududi, Abul A’la Al Musayyieb, Said Ali Al-Hamat, Anung Alam, Muhammad Fahrul Alim, Akhmad Alim, Akmad Alya Riani Amir Syarifuddin Mukhtar Amirudin, Arif Amirullah Amirullah Andiana, Nesia Andra Maya Kusuma Paramata Andriana, Neisa Andriani, Nesia ANI SAFITRI, ANI Aprillia Kumala Yuani Ardiansyah, Anas Ardiansyah, M. Nurman Arifin, Hairul Aris Kusnadi, Aris Asep Dawami Azizah, Asma Azwar Anas Badruzaman Badruzaman, Badruzaman Baehaqi Bahagia Bahagia Bahagia Bahagia Baharuddin, Ending Bahrin, Sitirahma Bahruddin, AH. Bahrudin, Ending Bahrum Subagiya Bawazier, Farhad Ali Budi Handrianto Bunyanul - Arifin Candraini, Hesti Damanhuri, Ahmad darwis darwis, darwis Dedi Supriadi Dedi Supriadi Dewi Kartika Dewi, Rifkah Dianing Sapitri Didin Hafidhuddin MS Didin Saefuddin Didin Saefuddin Didin Saefudin Didin Saefudin Dini Puji Astuti Dipa, Laudza Zulfa Nur Djamdjuri, Dewi Suriyani E Bahruddin E Risnawati Eko Riyanto Ela Susilawati Elita, Desi Emmy Hamidiyah Endang Sri Rejeki Endang Surahman Eri Nurul Fahmi Erick Yusuf Evie, Salma Fachruddin Majeri Mangunjaya Fachruddin Majeri Mangunjaya Fachruddin Majeri Mangunjaya Fachrudin Majeri Mangunjaya Faiz Madani Damanhuri Fakhruddin, Udi Fath, Amir Faishol Fatryani, Ariqo Feryani, Elsa Fitrah Satrya Fajar Kusumah Fitriani Fitriani Fuzna Nur 'Aqilah Fuzna Nur Aqilah Gani, Syarif H Gani, Syarif Hidayatullah Gunarti Sukriyatun Hamat, Anung Al Hamat, Anung Al- Hamidah, Astri Hana Tazkiyatunnisak Hardianto, Budi Haris, Abdul Rauf Hartono, Rudi Hartono6, Rudi Hasan Basri Tanjung Hasanah, Amalia Hasbi Indra hati, Livia Haya Najma Husniyyah Hendri Tanjung Herawati, Rina Heriyanto Slamet Huda, Syirojul Ibdalsyah Ibdalsyah Ibrahim Ibrahim Ibrohim Iis Sholiha Imam Ikhsan Nurkholis Imas Kania Rahman Indah Kurniasih Indra Prianto, Sigit Indupurnahayu Irfan Ilahi Dhohir Irfan Maulana, Irfan Irfan Wahyu Syifa Iskandar, Sofwan Ismanti, Kiki Izzuddin Hamas Ja'far Shidiq, Ahmad Jaffar Syiddiq Kamal, Muhamad Royhan Kamil, Imanuddin Kartiwi Siswanty Khairul Umam Khairul Umam Khairul Umam Khoirul Umam Khumayroh, Siti Lailatul Mufarohah Lathiefah, Sayyidah Laila Latip, Reni Susilowati Laudza Zulfa Nur Dipa Lukman Anwar Lukman Nol Hakim Lutfi Zulkarnain Luthfi Fatia M. Dahlan R. Maemunah Maemunah Sadiyah Maemunah Sa’diyah Maemunah Sa’diyah Mahasina, Muhammad Ghoris Arkan Malik Ibrohim Mangunjaya, Fachruddin Majeri Mangunjaya, Fachrudin Majeri Mansur, AH Manti, Biltiser Bachtiar Martanegara, Irfan Habibie Mas'udin Mas'udin Masdalipah, Masdalipah Maulana, Syafiq Ma`sum, Ali Muchtar, Affandi Muhamad Azhar Alwahid Muhammad Ardiansyah Muhammad Frandani Muhammad Hamka Muhammad Irfan Zain Muhammad, Rio Ravi Mukhlisin Mukhlisin Mukri, Rusdiono Muntolib Muntolib Muntolib, Muntolib Musyahadah, Arsyis Mu’tasim Lidinillah Nabhaan, Fadhiil Nana Mardiana Nanang Fattah Nanik Retnowati Nasution, Syamsuddin Ali Nesia Andriana Nesia Andriana Nesia Andriana, Nesia Ningsih, Sri Rahayu Nirwan Syafrin Nirwan Syafrin Manurung Nol Hakim, Lukman Novita Br Ginting Nur Amanah Nur Amanah Nuraeni Nuraeni Nuralim, Nuralim Nurhayati, Immas Nurhikmah, Rani Omon Abdurakhman Pawitasari, Erma Qorni, Agung Wais Al Qutub, Sayid R.,, M. Dahlan Rachmat Rachmat RACHMAT RACHMAT Raden Tamtam Kamaluddin Rafika Waty, Hilda Rahayu, Anissa Maila Rahendra Maya Rahman, Imas Kania Rahmi Alendra Yusiyaka Rambe, Rina Desianti Rasmitadila, Rasmitadila Reni Susilowati Latip Rifa'i, Muhammad Nur Rimun Wibowo Rimun Wibowo Rimun Wibowo Rimun Wibowo, Rimun Risnawati, E Riyanto, Eko Rizky Tri Mardiansyah Rohim, Abd. Rosyadi, A. Rahmat Ruhenda, Ruhenda Rusdiono Mukri Ruswati, Deulis Sa'diyah, Maemunah Sadiah, Sadiah Sadiyah, Maemunah Saefuddin, Didin Saefuddin, Didin Said Ali Al Musayyieb Saiful Falah SAIFUL FALAH Saiful Falah, Saiful Sakinah, Kafa Salamun, Ade Salmon, Yoseph Samsuddin Samsuddin SANTI LISNAWATI Sari, Anggita Sastra, Ahmad Sastra, Ahmad Sholiha, Iis Sigit Indra Prianto Silviani, Meliza Siska Handayani Siswanty, Kartiwi SITI NURJANAH Siti Qomariyah Siti Rosidah Siti Sabilah Salmah Siti Zulfah Jaelillah Soleha Soleha Solehudin, Ahmad Solly Aryza Sri Rezeky Astuti Suhadi, Edi Suhendra, Hilmatun Solihat Suidat Suidat Suidat, Suidat Sukriyatun, Gunarti Supi Amaliah Suprayitno, Sigit Suryana, Bunyamin Susilawati, Ela Sutiono, Sutiono Suyadi, Didik Syafrin, Ulil Amri Syafrudin, Amang Syahadah, Syifa Syamsuddin, Zaenal Abidin Syamsudin Syamsudin Syamsul Rizal Mz Syiddiq, Jaffar Syirojul Huda Tamam, Abas Mansur Tatang Hidayat Teguh Prasetyo Tohir Solehudin Tri Yulianto Ulil Amri Syafri Unang Sodikin Usman, Dia Hidayati Wahyudin Ismail Wahyuni, Selvi Sri Waidi Waidi Waidi Waidi Wasto Wendy Asswan Cahyadi Wido Supraha Yasyakur, Moch Yuhdi, Yuhdi Yusup, Ainiyah Hidayanti Zainal Abidin Arief Ziyad Rais Zulkifli Rangkuti Zulkifli Rangkuti