Articles
Perjalanan Sejarah Masa Kekhalifahan dalam Membangun Dunia Islam
M. Bimo Putra Pratama;
M. Rizki Hidayatullah;
Hudaidah Hudaidah;
Risa Marta Yati
Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan Vol 1 No 2 (2025): November: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan: Scripta Humanika
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.65310/bsryzw74
This study examines the historical trajectory of the caliphate period and its role in shaping the Islamic world through leadership, governance, social development, and territorial expansion. Using a qualitative literature-based approach, the research analyzes the era of the Khulafaur Rasyidin as a foundational phase that integrated theological principles with practical state administration. The findings reveal that the caliphate functioned not only as a political institution but also as a moral framework that emphasized justice, accountability, education, and social welfare. Internal conflicts and external challenges during the caliphate period are interpreted as historical realities that contributed to institutional maturity and ethical reflection in Islamic leadership. Territorial expansion facilitated cultural interaction and the dissemination of Islamic values, strengthening the formation of a cosmopolitan Islamic civilization. The study argues that the legacy of the caliphate remains relevant for contemporary Islamic societies, particularly in addressing leadership ethics, social cohesion, and governance challenges. Understanding this historical experience provides critical insights for contextualizing Islamic civilization as a dynamic and adaptive process rather than a static historical ideal.
Rivalitas Politik dan Ideologi antara Dinasti Turki Utsmani dengan Dinasti Safawiyah
Ragil Pangestu;
Shabrina Fillah;
Ronadia Ronadia;
Hudaidah Hudaidah;
Risa Marta Yati
Journal of Legal, Political, and Humanistic Inquiry Vol 1 No 2 (2025): December: Custodia: Journal of Legal, Political, and Humanistic Inquiry
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.65310/f9va3b28
This research explores the political and ideological contestation between the Ottoman and Safavid empires during the 16th and 17th centuries, a period marked as one of the most influential rivalries in the history of the Islamic world. The study’s significance lies in its ability to reveal how theological distinctions between Sunni and Shia doctrines evolved into a struggle for political legitimacy and geopolitical supremacy across the Middle East. Employing the historical research method combined with a descriptive-analytical approach, this study follows the stages of heuristics, source evaluation, interpretation, and historiography to reconstruct objectively the political interactions of both powers based on primary historical evidence. The result demonstrate that events from the battle of chaldiran 1514 to the Treaty of Zuhab 1639 not only represented an ideological confrontation but also reflected strategic maneuvers to preserve power equilibrium. Ultimately, the Ottoman-Safavid confrontation delineated a political and religious boundary that continued to shape the region into the modern era, while the post-Zuhab reconciliation exemplified how diplomacy and rational negotiation could ease tensions between rival Islamic states.
Pemberian Adok/Gelaran: Akulturasi Budaya Islam pada Tradisi Suku Komering Sumatera Selatan
Indah Ratu Sehati;
Hudaidah Hudaidah
Forum for Social and Humanities Studies Vol. 1 No. 1 (2025): Forum for Social and Humanities Studies
Publisher : PT Inovasi Penelitian Terpadu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.65741/fshs.v1i1.4
The purpose of this study was to determine the Komering Tribe community in South Sumatra in giving adok or title as a form of Islamic cultural acculturation. The honorary title system known as the adok tradition is attached to a person's social identity based on descent, status, and role in the traditional community. After that, Islamic teachings entered the structure and symbols of this tradition, creating a blend of values between Islamic teachings and local customs. This study uses ethnographic methodology and a qualitative approach with in-depth interviews, participatory observation, and documentation research in the South OKU area. The results of the study indicate that the acculturation of Islamic culture is seen in the embedding of titles containing Arabic elements, the use of Islamic prayers in customary processes, and changes in values that emphasize morality and honor based on Islamic teachings. The tradition of giving adok is a way to maintain local cultural identity and harmonize customs and religion in the Komering community.
Sistem Pendidikan Umum Pada Masa Orde Baru (1968-1998)
Safei Safei;
Hudaidah Hudaidah
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 7 No 1 (2020): Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan
Publisher : Universitas Hamzanwadi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29408/jhm.v7i1.3253
Pendidikan menjadi hal yang paling penting untuk memajukan sebuah bangsa baik dari segi pembangunannya maupun secara pemerintahannya. Orde baru sering disebut sebagai orde pembangunan atau masa pembangunan dikarenakan pada saat itu pembangunan yang merata di daerah - daerah indonesia baik itu dipelosok wilayah indonesia tidak hanya itu pertumbuhan ekonomi juga pada saat itu cukup tinggi dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. Pendidikan pada masa orde baru terdiri dari pendidikan pancasila, pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan. Kurikulum pada masa orde baru terdiri dari kurikulum 1968 berisi kelompok pembinaan pancasila, pengetahuan dasar dan kecakapan khusus, penekananya hanya dalam segi intelektual lalu ada kurikulum 1975 ditekankan agar lebih efektif dan efisien berdasarkan MBO (Management by objective) selanjutnya kurikulum 1984 berisi proccess skill approach model CBSA (cara belajar siswa aktif) atau SAL (Student Active Learning), kurikulum 1994 berisi muatan nasional dan muatan lokal. Jenis pendidikan pada masa orde baru terdiri atas pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal. Jalur pendidikan pada masa orde baru terdapat jalur sekolah dan jalur luar sekolah. Jenjang pendidikan pada masa orde baru terdiri dari jenjang pra sekolah, jejang pendidikan dasar, jenjang pendidikan menengah dan jenjang pendidikan tinggi. Sistem pendidikan pada masa orde baru terdapat perubahan dari orde lama pada pelaksanaannya kegiatan kependidikan pada era ini difungsikan sebagai instrumen pembangunan ekonomi nasional, kebijakan pendidikan semuanya terpusat, pendidikan di selenggarakan dengan otorita kekuasaan administratif birokratis dan penyeragaman kurikulum juga diikuti dengan penyeragaman metode mengajar dan sistem evaluasi, yaitu Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).
Pemikiran Pendidikan dan Perjuangan Raden Ajeng Kartini Untuk Perempuan Indonesia
Karlina Karlina;
Hudaidah Hudaidah
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 7 No 1 (2020): Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan
Publisher : Universitas Hamzanwadi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29408/jhm.v7i1.3281
Raden Ajeng Kartini atau biasa disebut Raden Ayu (R.A.) Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia dan beliau juga dikenal sebagai Pelopor Kebangkitan Perempuan Pribumi. Beliau lahir di Jepara, Jawa Tengah 21 April 1879 dan meninggal di Rembang, Jawa tengah 17 September 1904. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui Pemikiran dan perjuangan R.A. Kartini tentang pendidikan perempuan pribumi, karena untuk menjadi perempuan yang berpendidikan sebelum tahun 1900-an adalah hal yang sangat sulit dicapai oleh kaum perempuan. Perempuan tidak diperbolehkan untuk mendapatkan pendidikan, berawal dari masalah tersebut timbulah pemikiran-pemikiran R.A. Kartini. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa R.A. Kartini memandang bahwa Pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting, dengan pendidikan mampu mengangkat derajat dan mampu mengangkat martabat bangsa Indonesia baik itu pendidikan untuk laki-laki maupun untuk perempuan dan cita-cita yang diinginkan R.A. Kartini adalah membangun sekolah wanita.
Degradasi Sistem Pendidikan Kontemporer di Indonesia
Riky Fernando;
Hudaidah Hudaidah
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan
Publisher : Universitas Hamzanwadi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29408/jhm.v6i2.3287
Berbicara mengenai masalah pendidikan di Indonesia adalah membahas hal yang sangat luas, fluktuatif, relatif, dan dinamis. Pendidikan adalah sebuah aset atau rangkaian proses pendewasaan manusia melalui pemberdayaan, baik secara akal, mental, maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusian yang diamanahkan sebagai seorang hamba dihadapan Khaliq-Nya dan sebagai “pemelihara (khalifah) di muka bumi iniâ€. Pendidikan bukanlah sekedar proses nilai moral untuk menjadi benteng pada diri dari akses negatif arus globalisasi ataupun modernisasi. Melainkan, bagaimana nilai moral yang telah ditanamkan didalam pendidikan mampu menjubahi sebagai pembebas dari parameter kebodohan dan keterbelakangan. Kondisi kotemporer ditengah-tengah gairah reformasi pendidikan nasional, tentunya perlu melihat arti dari sebuah makna pendidikan dalam kehidupan berbangsa ini. Degradasi sistem pendidikan ini dijadikan tolak ukur bagaimana situasi pendidikan di Indonesia. Kemorosotan moral dan nilai akan menentukan kualitas pendidikan kotemporer disaat ini. Degradasi pendidikan ini di awali dari eksistensi pendidikan dalam sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan yang mempunyai mutu disaat ini mengalami kemunduran dalam pelaksanaan maupun timbal balik dari hasil yang telah dilaksanakan, perlu memperhatikan. Pertama, degradasi pendidikan harus diiringi dengan penanaman moral dalam sistem pendidikan di Indonesia, sebagaimana telah dilaksanakan pendidikan karakter. Kedua, pendidikan harus ditingkatkan kualitasnya dari segi sumberdaya manusia (output of education) serta komponen yang ada di dunia pendidikan.
Pemikiran Pendidikan Dr. Abdullah Nashih Ulwan Dalam Mewujudkan Pemikiran Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan
Anjelia Septyani;
Hudaidah Hudaidah
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan
Publisher : Universitas Hamzanwadi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29408/jhm.v6i2.3301
Dalam mewujudkan pemikiran salah satu pakar pendidikan di Indonesia yaitu pemikiran KH Ahmad Dahlan., Dibutuhkan cakupan materi pendidikan Islam seperti yang ditulis oleh Dr. Abdullah Nashih Ulwan, dengan tujuh cakupan materi pendidikan Islam yaitu Pendidikan Iman. Pendidikan Moral/Moral, Pendidikan Jasmani, Pendidikan Rasio, Pendidikan Psikiatri/Hati Nurani, Pendidikan Sosial/Komunitas, dan Pendidikan Seksual. Penulis menggunakan metode kualitatif dan studi pustaka (Library Research). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan pemikiran pendidikan KH Ahmad Dahlan dengan ruang lingkup Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam memadukan ilmu agama dan ilmu umum. Hasil pembahasan dalam makalah ini diketahui bahwa ruang lingkup materi Dr. Abdullah Nashih Ulwan relevan dalam mewujudkan pemikiran pendidikan KH Ahmad Dahlan yang merupakan upaya strategis menyelamatkan umat Islam menuju pemikiran yang dinamis, cerdas, kritis dan memiliki daya analisis yang tajam dalam memetakan dinamika kehidupan di masa depan.
Relevansi Persepsi Pendidikan KH. Hasyim Asyari dan Dekadensi Moral
Amrina Rosyada;
Hudaidah Hudaidah
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 7 No 1 (2020): Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan
Publisher : Universitas Hamzanwadi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29408/jhm.v7i1.3320
K.H. Hasyim Asyari merupakan salah satu pahlawan pendidikan Indonesia yang dikenal sebagai pembangun organisasi islam terbesar yaitu Nahdatul Ulama atau NU. Beliau lahir pada tanggal 14 Februari 1871 M bertepatan dengan 24 Dzulqaidah 1287 H di desa Gedang, Jombang, Jawa Timur. Pada 25 juli 1947 atau 7 Ramadan 1366 beliau wafat di Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Penelitian ini memiliki tujuan mengulas bagaimana pendidikan berdasarkan persepsi K.H. Hasyim yang menitikberatkan kepada moral atau etika. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh problematika yang terjadi di Indonesia yaitu penurunan tingkat moralitas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan yang bersumber dari publikasi ilmiah berupa artikel, skripsi, makalah dan hasil penelitian lain yang berkaitan dengan fokus penelitian.
Implementasi Pemikiran RA. Kartini dalam Pendidikan Perempuan Pada Era Globalisasi
Alliyyah Zahra Permata Putri;
Hudaidah Hudaidah
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 7 No 2 (2021): Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan
Publisher : Universitas Hamzanwadi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29408/jhm.v7i2.3342
Artikel ini bertujuan menjelaskan informasi tentang pemikiran RA. Kartini dapat mengubah pendidikan perempuan dari masa penjajahan hingga masa kini. Menjelaskan arah pemikiran, dan berbagai ancaman serta hambatan dalam implementasiannya. Membahas pengaruh yang diberikan untuk kemajuan pendidikan wanita pada masa yang akan datang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi pustaka. Data-data diperoleh dari internet, e-book, laporan penelitian terdahulu, jurnal, makalah, artikel, ensiklopedia, buku panduan atau penunjang dan sumber-sumber dari berbagai dokumen atau referensi tentang topik yang telah diajukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada era globalisasi sekarang ini, konsep pendidikan RA. Kartini masih relevan dan terbukti dapat dirasakan oleh perempuan pada zaman sekarang ini. Perempuan bisa bersekolah dan mencapai pendidikan setinggi-tingginya.
Makna Nilai Budaya Masyarakat Palembang Pada Busana Aesan Gede
Desi Lestari;
Hudaidah Hudaidah
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 7 No 2 (2021): Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan
Publisher : Universitas Hamzanwadi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29408/jhm.v7i2.3350
Budaya merupakan hal mendasar yang terdapat dalam kehidupan, sebab kebudayaan adalah mutlak terlahir dari kehidupan manusia sehari-hari. Pada budaya masyarakat Kota Palembang terdapat pakaian pengantin yaitu Aesan Gede yang merupakan hasil perpaduan budaya Kerajaan Sriwijaya yang masih tetap eksis sampai masa kini. Aesan Gede bukan hanya sebatas pakaian adat biasa namun memiliki nilai didalamnya. Tujuan penelitian ini hendak mengungkap makna nilai budaya seperti apa yang terkandung pakaian adat Palembang Aesan Gede. Adapun metode yang dipergunakan yaitu studi kepustakaan untuk mengupas tentang makna nilai budaya Palembang yang terdapat dalam busana Aesan Gede. Bentuk gaun pengantin Aesan Gede terbagi atas kepala, badan, tangan dan kaki. Fungsi busana Aesan Gede memiliki dua fungsi, yaitu fungsi sebagai fungsi estetika, dan fungsi sebagai fungsi simbolik. Dalam hal ini Aesan Gede bukan hanya sebagai pakaian adat tetapi juga sebagai bentuk ekspresi masyarakat Palembang.