Articles
KEPEMIMPINAN PADA LEMBAGA PENDIDIKAN DALAM PEMBINAAN PROFESIONALISME GURU
Ahmad Zain Sarnoto;
Nanang Gunadi
Madani Institute : Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan dan Sosial-Budaya Vol. 2 No. 1 (2013): Madani Institute | Jurnal Politik, Hukum, Pendidikan, sosial dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Studi kebijakan MADANI Instutute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (68.745 KB)
|
DOI: 10.53976/jmi.v2i1.105
Kepemimpinan pendidikan adalah kemampuan menggerakkan semua personil satuan pendidikan dalam melaksanakan tugas pembelajaran sesuai dengan prinsip-prinsip pedagogik atau tindakan (tingkah laku) di antara individu-individu dan kelompok-kelompok yang menyebabkan mereka bergerak ke arah tercapainya tujuan-tujuan pendidikan Tanggung jawab guru tersebut pada gilirannya menuntut manajemen sekolah untuk secara sinambung mengembangkan profesionalitas guru, lantaran bukan saja pada satu sisi subject matter jadi bertambah luas, namun mengajar itu sendiri jadi lebih kompleks dan lebih menantang. Siswa sebagai mitra guru dalam mengembangkan ilmu, yang pada dirinya memiliki rasa tanggung jawab untuk lebih berhasil dan lebih baik dari generasi sebelumnya, merupakan sisi lain yang menantang guru untuk lebih berhasil dan lebih baik dari generasi sebelumnya, merupakan sisi lain yang menantang guru untuk selalu memberi materi yang relevan dan up-to-date
IMPLIKASI TEOLOGIS PROFESI GURU DALAM PENDIDIKAN
Ahmad Zain Sarnoto
Madani Institute : Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan dan Sosial-Budaya Vol. 2 No. 2 (2013): Madani Institute | Jurnal Politik, Hukum, Pendidikan, sosial dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Studi kebijakan MADANI Instutute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (68.736 KB)
|
DOI: 10.53976/jmi.v2i2.106
Profesi guru bisa jadi akan menempati surga yang sangat tinggi disamping para Nabi, jika ia mampu memberikan pelayananan pendidikan yang baik dan benar. Karena dari hasil didikannya itu, murid akan mengamalkan dengan baik dan benar atas ilmu yang diterimanya. Nabi pernah bersabda, ” Barang siapa yang menunjukan kebaikan, maka ia akan mendapatkan ganjaran dari orang yang melaksanakan kebaikan tersebut ”. Namun, profesi guru bisa jadi akan menempati keraknya neraka yang paling dasar, karena ia telah mendidik dan mengajarkan suatu ilmu yang salah, sehingga muridnya tersebut melaksanakan suatu ilmu dengan tidak baik dan tidak benar. Maka penting untuk mengupas ”makna-makna guru” yang ada dalam khazanah Islam, sebagai landasan dan ikatan etis teologis bagi guru-guru dalam menjalankan profesinya dibelantara dunia pendidikan. Makna lain sebutan guru yaitu ”mua’allim” yang diambil dari kata dasar ’ilm yang berarti menangkap hakikat sesuatu. Guru dalam khazanah Islam memiliki beberapa kompetensi dasar yaitu, sebagai ustad (profesor ) yang memegang teguh komitmen profesi, sebagai guru yang bermakna optimal dalam transfer ilmu teoritis dan hikmah ilmu, sebagai murrabi yang mampu menciptakan dan mengatur pendidikan ke arah lebih baik, sebagai mudarris yang berarti memberantas kebodohan mereka, dan sebagai muaddib yang berarti guru sebagai orang yang beradab untuk membangun peradaban masa depan.
PESANTREN DAN KURIKULUM PEMBELAJARAN DALAM DINAMIKA POLITIK PENDIDIKAN DI INDONESIA
Ahmad Zain Sarnoto
Madani Institute : Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan dan Sosial-Budaya Vol. 3 No. 1 (2014): Madani Institute | Jurnal Politik, Hukum, Pendidikan, sosial dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Studi kebijakan MADANI Instutute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (68.712 KB)
|
DOI: 10.53976/jmi.v3i1.119
Talking about pesantren in the growth, pesantren is devided by two criterias such as salafi (tradisional) and kholafi (modern) pesantren. Those condition is also influential for curriculum of each pesantren , manufacture system of pesantren, educational system and type of the leadership. It is becoming the treasury of all pesantren in Indonesia to maintain pesantren existence in educational world and social religion
TANTANGAN PENGELOLAAN PESANTREN DALAM ERA GLOBAL
Ahmad Zain Sarnoto
Madani Institute : Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan dan Sosial-Budaya Vol. 4 No. 1 (2015): Madani Institute | Jurnal Politik, Hukum, Pendidikan, sosial dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Studi kebijakan MADANI Instutute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (68.711 KB)
|
DOI: 10.53976/jmi.v4i1.126
Tata kekola pondok pesantren dalam era global mendapat tantangan berat dan paling urgent yang harus dibenahi oleh pesantren sebagai langkah antisipatif tersebut adalah pembenahan pola manajemen, sebab pola manajemen pesantren cenderung dilakukan secara insidental dan kurang memperhatikan tujuan-tujuannya yang telah disistematisasikan secara hirarkis. Sistem manajemen pendidikan pesantren biasanya dilakukan secara alami dengan pola manajerial yang tetap (sama) dalam tiap tahunnya. Masih banyak pesantrenyan belum melakukan Perubahan-perubahan mendasar dalam pengelolaan pesantren.
Konsepsi Media Pembelajaran Perspektif Al-Qur’an
Ahmad Zain Sarnoto
Madani Institute : Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan dan Sosial-Budaya Vol. 4 No. 2 (2015): Madani Institute | Jurnal Politik, Hukum, Pendidikan, sosial dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Studi kebijakan MADANI Instutute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53976/jmi.v4i2.133
Peneltian ini untuk mengungkap konsepsi dasar media pembelajaran dalam Al-Qura'an, media sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran, dengan media seorang guru dapat menyampaikan semua pesan dalam materi pembelajarannya, dengan media pula interaksi pembelajaran dapat berlangsung efektif. Al-Qur'an bagi umat Islam tidak saja berfungsi sebagai kitab suci, melainkan sumber ajaran yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan, demikian juga dalam berlangsungnya proses pendidikan. dalam penelitian ini objek kajiannya adalah penafsiran para mufasir dalam mengterprestasikan ayat-ayat Al-Qur'an yang dapat dijadikan landasan membangun konsepsi adanya media pembelajaran. metode yang digunakan adalah studi kepustkaan, dimana sumber datanya didapatkan dari litaratur baik buku, jurnal maupun sumber lainnya.
Konsepsi Kurikulum Pendidikan Perspektif Al-Qur'an
Ahmad Zain Sarnoto
Madani Institute : Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan dan Sosial-Budaya Vol. 5 No. 1 (2016): Madani Institute | Jurnal Politik, Hukum, Pendidikan, sosial dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Studi kebijakan MADANI Instutute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulisan ini akan mengungkap konsepsi dasar tentang kurikulum pendidikan perspektif Al-Qur'an. dimana banyak ayat-ayat Al-Qur'an yang memberikan isyarat adalah konsep tentang kurikulum. Kurikulum sendiri dalam proses pendidikan sangat menentukan hasil dari adanya kegiatan pembelajaran, kurikulum yang dipahami adalah susunan atau muatan materi pembelajaran, menjadi penting dikaji karena berkaitan dengan tujuan dari pendidikan itu sendiri. metode yang digunakan adalah studi pustaka, dimana sumber data yang dicari berasal dari bahan-bahan pustaka seperti buku, jurnal dan sumber pustaka lainnya.
Belajar dalam Perspektif Psikologi dan Islam
Ahmad Zain Sarnoto
Madani Institute : Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan dan Sosial-Budaya Vol. 1 No. 2 (2012): Madani Institute | Jurnal Politik, Hukum, Pendidikan, sosial dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Studi kebijakan MADANI Instutute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (68.752 KB)
|
DOI: 10.53976/jmi.v1i2.191
Penelitian ini untuk mengungkap konsepsi Belajar dalam perspektif psikkologi dan Islam, belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap kegiatan penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat tergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun dilingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Teori belajar adalah teori yang pragmatik dan eklektik. Teori dengan sifat demikian ini hampir dipastikan tidak pernah mempunyai sifat ekstrim. Tidak ada teori belajar yang secara ekstrim memperhatikan siswa saja, guru saja, kurikulum saja, dan sebagainya. Penelitian ini pendekatannya melalui metode kualitatif dengan menggunakan data kepustakaan tanpa data statistik seperti pada metode kuantitatif, sehingga kegiataannya sering disebut sebagai library research. Secara umum hasil penelitian ini membuktikan bahwa pandangan kognitif melihat belajar sebagai sesuatu yang aktif. Mereka berinisiatif mencari pengalaman untuk belajar, mencari informasi untuk menyelesaikan masalah, mengatur kembali, dan mengorganisasi apa yang telah ada, sedangkan dalam perspektif Islam, belajar merupakan kewajiban bagi setiap muslim dalam rangka memperoleh ilmu dan pengetahuan sehingga dejarat kehidupannya meningkat. Hal ini dinyatakan dalam al-Qur’an surat al-Mujadilah ayat 11 “….Allah akan menginggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat ..”. Ilmu dalam hal ini tentu saja berupa pengetahuan yang relevan dengan tuntutan zaman dan bermanfaat bagi kehidupan manusia
KECERDASAN SPIRITUAL PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Ahmad Zain Sarnoto;
Sri Tuti Rahmawati
Madani Institute : Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan dan Sosial-Budaya Vol. 9 No. 2 (2020): Madani Institutte | Jurnal Politik, Hukum, Pendidikan, sosial dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Studi kebijakan MADANI Instutute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (68.727 KB)
|
DOI: 10.53976/jmi.v9i2.209
Kecerdasan spiritual juga merupakan kecerdasan yang timbul ketika kita berada pada puncak masalah yang tidak ada jalan lain untuk keluar dari puncak masalah tersebut. Dalam teori chaos (kekacauan), “ujung” adalah perbatasan antara keteraturan dan kekacauan, antara mengetahui diri kita atau kehilangan diri kita. “ujung” adalah tempat bagi kita untuk menjadi kreatif, sehingga peran kecerdasan spiritual dalam mencari makna dan nilai sangat dibutuhkan. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai yang positif.Kecerdasan spiritual memiliki beberapa karakteristik, diantara-nya; kapasitas transendensi, kemampuan untuk masuk ke dalam kondisi spritual yang tinggi dari hati Nurani, kemampuan untuk menginvestasi-kan kegiatan sehari-hari, acara dan hubungan dengan rasa sacral, kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya spritual untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan
PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS KECERDASAN MAJEMUK
Ahmad Zain Sarnoto;
ahmad Fathoni
Madani Institute : Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan dan Sosial-Budaya Vol. 9 No. 1 (2020): Madani Institute | Jurnal Politik, Hukum, Pendidikan, sosial dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Studi kebijakan MADANI Instutute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (68.791 KB)
|
DOI: 10.53976/jmi.v9i1.215
Many Islamic educational institutions loss of orientation, between following term of present educational model and surviving as it is. This phenomenon causes many Islamic educational institutions tend to bandwagon even willing to forget the Islamic identity as the basis of excellence. Improved quality by finding the right strategy to again raise excellence is a necessity, which is the theory of multiple intelligences initiated by Prof. Howard Gardner, who looked at that all the students are smart and unique, in line with the view to appreciate all the fitrah of creation without focusing to find student disabilities. This opinion against the old opinion about Intelligence Quotients (IQ) theory initiated by Alfred Binet in France, which is still used in Indonesian schools to reject students 'dumb' as the embodiment of the best school term
PENGARUH KEPEMIMPINAN PENGASUH DAN SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN TERHADAP KECERDASAN EMOSIONAL SANTRI PONDOK PESANTREN AS-SA’IDIYYAH 2 BAHRUL ULUM JOMBANG
Ahmad Zain Sarnoto;
Farihah Ulinnuha
Madani Institute : Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan dan Sosial-Budaya Vol. 10 No. 1 (2021): Madani Institutte | Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, sosial dan Bud
Publisher : Lembaga Penelitian dan Studi kebijakan MADANI Instutute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (68.761 KB)
|
DOI: 10.53976/jmi.v10i1.232
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menguji secara empiris melalui data-data yang shahih terkait dengan kepemimpinan pengasuh dan sistem pendidikan pesantren memberikan pengaruh terhadap kecerdasan emosional santri baik secara parsial maupun simultan. Metode yang digunakan peneliti adalah metode survei dengan pendekatan korelasional terhadap santri Pondok Pesantren As-Sa’idiyyah 2 Bahrul Ulum, Jombang. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis statistik yaitu teknik analisis deskriptif dan analisis inferensial. Adapun alat pengumpul data menggunakan angket/kuesioner terhadap responden sebanyak 76 orang santri dari kelas XII Aliyah yang berada di Pondok Pesantren As-Sa’idiyyah 2 Bahrul Ulum, observasi, wawancara dan dokumnetasi. Hasil uji hipotesis penelitian menunjukkan pertama, terdapat pengaruh positif dan signifikan kepemimpinan pengasuh terhadap kecerdasan emosional santri dengan prosentase sebesar 25,6%. Kedua terdapat pengaruh positif dan signifikan sistem pendidikan pesantren terhadap kecerdasan emosional santri dengan prosentase sebesar 23,4%. Ketiga, terdapat pengaruh positif dan signifikan kepemimpinan pengasuh dan sistem pendidikan pesantren secara bersama-sama terhadap kecerdasan emosional santri dengan prosentase sebesar 34,7%.