Articles
Perilaku Asertif pada Mahasiswa Psikologi : Apakah ada Peranan Konsep Diri ?
Purnomo, Rafliansyah Ikhwan Muharram;
Suroso, Suroso;
Rista, Karolin
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 1 (2023): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v1i1.9804
Assertive behavior is the ability possessed by individuals to communicate what other people want, feel, think while respecting personal rights and the rights of others. One of the factors that influence assertive behavior is self-concept, when individuals believe and evaluate themselves positively the self-confidence will arise to carry out a behavior, one of which is assertive behavior. This study aims to analyze the relationship between self-concept and the assertive behavior of psychology students at the University of 17 August 1945 Surabaya. The hypothesis put forward is that there is a positive relationship between self-concept and assertive behavior in psychology students at the University of 17 August 1945 Surabaya. The research design uses a correlational quantitative research method. The study was conducted on 191 participants with an age range of 18-25 years who were psychology students at the University of August 17 1945 Surabaya class of 2019 and 2020. The instrument used in this study was the Assertive Behavior scale according to the theory of Alberti and Emmons (2002) and the self-concept scale according to with the theory of Calhoun and Acocella (1995). The data obtained were analyzed using the Spearman rho correlation technique with the help of SPSS 25 for Windows. Based on the results of the data analysis that has been done, it is found that there is a positive and very significant relationship between self-concept and assertive behavior. Perilaku asertif adalah kemampuan seseorang untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkannya kepada orang lain dengan tetap menghormati hak-hak pribadi dan orang lain. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku asertif adalah konsep diri yang dimana semakin individu yakin dan mampu menilai dirinya dengan positif maka akan menimbulkan keterbukaan dan kepercayaan diri untuk melakukan sebuah perilaku salah satunya perilaku asertif. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis hubungan antara konsep diri dengan perilaku asertif mahasiswa psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Hipotesis penelitian ini yaitu ada hubungan positif antara konsep diri dengan perilaku asertif pada mahasiswa psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Desain penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif korelasional. Penelitian dilakukan terhadap 191 partisipan dengan usia 18-25 tahun yang merupakan mahasiswa psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya angkatan 2019 dan 2020. Instrumen dalam penelitian ini adalah skala Perilaku Asertif dengan menggunakan teori Alberti dan Emmons (2002) dan skala Konsep diri dengan menggunakan teori Calhoun dan Acocella (1995). Data yang didapatkan dianalisis dengan teknik korelasi Spearman rho dengan SPSS 25 for Windows. Berdasarkan analisis data penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan positif dan sangat signifikan antara Konsep diri dengan Perilaku Asertif.
Keterkaitan Efikasi Diri dan Penyesuaian Diri: Kunci Sukses Menghadapi Tantangan Baru
Agmeilia, Irene Friska;
Suroso, Suroso;
Rista, Karolin
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9907
Self-adjustment is a process of behavior and ability possessed by individuals to interact or deal with situations and demands from their surrounding environment, enabling individuals to accept and display positive attitudes towards themselves and others. This research aims to analyze the relationship between self-efficacy and self-adjustment in learning among new students of the Faculty of Psychology at Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. The research was conducted using a quantitative correlational research method, employing accidental sampling techniques with a sample size of 210 students. The measurement instruments used were the self-efficacy scale and the self-adjustment scale. The data were analyzed using the Pearson product-moment correlation technique with the assistance of IBM SPSS Statistics software version 25 for Windows. The analysis results revealed a highly significant positive relationship between self-efficacy and self-adjustment among new students of the Faculty of Psychology. Penyesuaian diri merupakan suatu proses tingkah laku dan kemampuan yang dimiliki oleh individu untuk mampu berinteraksi atau menghadapi situasi dan tuntutan dari lingkungan sekitarnya, sehingga individu mampu menerima dan menunjukkan sikap baik kepada diri sendiri dan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara efikasi diri dengan penyesuaian diri dalam belajar pada mahasiswa baru fakultas psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kuantitatif korelasional, menggunakan teknik accidental sampling dengan sampel 210 mahasiswa. Alat ukurnya menggunakan dua skala yaitu skala efikasi diri dan skala penyesuaian diri menggunakan teknik korelasi pearson product moment dengan bantuan program SPSS Seri 25 IBM For Windows. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara efikasi diri dengan penyesuaian diri pada mahasiswa baru fakultas psikologi.
Prokrastinasi pada mahasiswa penyusun skripsi: Adakah peranan Kematangan Emosi?
Pertiwi, Devi Widya;
Suroso, Suroso;
Rista, Karolin
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9936
Undergraduate thesis drafting students who delay work on thesis include ineffective use of time. This can have negative impacts, one of which is the neglect of the final assignment or thesis and if it is completed in a hurry the results will not be optimal, besides that students who postpone the completion of the thesis will take longer to complete their study period. This study aims to determine whether there is a relationship between emotional maturity and procrastination in the preparation of thesis. Sampling used a non-probability technique, namely incidental sampling involving as many as 178 final thesis drafting students who had a study period of more than 4 years. The results of the research using the Spearman-Rho correlation test show that the correlation coefficient has a significant negative relationship between emotional maturity and procrastination in thesis preparation. This means that the higher the emotional maturity, the lower the procrastination in preparing the thesis, conversely, if the lower the emotional maturity, the higher the procrastination in the preparation of the thesis, the hypothesis is declared proven and acceptable. Mahasiswa penyusun skripsi yang melakukan penundaan pengerjaan pada skripsi termasuk pemanfaatan waktu yang tidak efektif. Hal tersebut dapat mengakibatkan dampak buruk salah satunya adalah terbengkalainya tugas akhir atau skripsi dan apabila diselesaikan saat buru-buru hasilnya menjadi tidak maksimal, selain itu mahasiswa yang melakukan penundaan pengerjaan skripsi menyebabkan lebih lama menyelesaikan masa studinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kematangan emosi dengan prokrastinasi dalam penyusunan skripsi. Pengambilan sampel menggunakan teknik non-probability yaitu incidental sampling melibatkan sebanyak 178 mahasiswa akhir penyusun skripsi yang memiliki masa studi lebih dari 4 tahun. Hasil penelitian melalui uji korelasi Spearman-Rho menunjukkan bahwa koefisien korelasi terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kematangan emosi dan prokrastinasi dalam penyusunan skripsi. Artinya semakin tinggi kematangan emosi maka semakin rendah prokrastinasi dalam penyusunan skripsi, sebaliknya jika semakin rendah kematangan emosi maka semakin tinggi prokrastinasi dalam penyusunan skripsi maka hipotesis dinyatakan terbukti dan dapat diterima.
Perilaku Prososial Santri : Bagaimana Peran Kecerdasan Spiritual dan Dukungan Sosial Teman Sebaya?
Putri, Intan Maulidha Alifia;
Suroso, Suroso;
Arifiana, Isrida Yul
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9938
Prosocial behavior is behavior that includes good actions such as sharing, cooperating, helping each other, and telling the truth. Humans as social beings need the role of other people in living their daily lives so that they are expected to be able to interact with other people. One of the factors that influence the emergence of prosocial behavior is peer social support and spiritual intelligence. This study aims to determine the relationship between Spiritual Intelligence and Peer Social Support with Santri's Prosocial Behavior. This research design uses quantitative methods. This research was conducted with 177 students in Islamic boarding schools. The instrument used in this study uses a Likert scale. The data analysis technique used was Spearman Rho with the help of SPSS 25 for Windows. Based on the results of data analysis that has been done. Based on the results of the data analysis conducted, it was found that there is a positive and significant relationship between spiritual intelligence and prosocial behavior, and there is a positive and significant relationship between peer social support and prosocial behavior. Perilaku prososial merupakan perilaku yang mencakup tindakan yang baik seperti suka berbagi, bekerjasama, saling tolong menolong, dan berkata jujur. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan peran orang lain dalam menjalani kehidupan sehari-hari sehingga mereka diharapkan mampu berinteraksi dengan orang lain. Salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku prososial adalah dukungan sosial teman sebaya dan kecerdasan spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Kecerdasan Spiritual dan Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Perilaku Prososial Santri. Desain penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Penelitian ini dilakukan dengan 177 santri di pondok pesantren. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala likert. Teknik analisis data yang digunakan menggunakan spearman rho dengan bantuan SPSS 25 for windows. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kecerdasan spiritual dengan perilaku prososial, serta terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dengan perilaku prososial.
Perilaku Bullying Remaja: Bagaimana Peran Regulasi Emosi?
Herlidanara, Aldo Jeremia;
Suroso, Suroso;
Arifiana, Isrida Yul
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9941
Bullying behavior is a negative behavior that many teenagers do. This bullying behavior often occurs in school environments conducted by peers. Individuals' ability to control emotions if they are low will cause behavioral disorders, resulting in bullying behavior. One of the factors influencing the emergence of bullying behavior is emotional regulation. This study aims to understand the relationship between emotional regulation and bullying behavior in adolescents. This research design uses correlational quantitative research methods. This study was conducted with 138 high school students in Pasuruan. The instrument used in this study was the Likert scale. The data analysis technique used is the correlation of Product Moment with the help of SPSS 25 for Windows. Based on the results of the data analysis, the result that there is a negative and significant relationship between emotional regulation and bullying behavior in adolescents was accepted. The higher the emotional regulation possessed by adolescents, the lower the level of bullying behavior that occurs in adolescents. Perilaku bullying merupakan perilaku negatif yang banyak dilakukan oleh remaja. Perilaku bullying ini sering terjadi di lingkungan sekolah yang dilakukan oleh teman sebaya. Kemampuan individu dalam mengontrol emosi jika tergolong rendah akan menyebabkan gangguan perilaku, sehingga akan menimbulkan perilaku bullying. Salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku bullying adalah regulasi emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dengan perilaku bullying pada remaja. Desain penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional. Penelitian ini dilakukan dengan partisipan sebanyak 138 siswa SMA di Pasuruan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert. Teknik analisis data yang digunakan yaitu korelasi Product Moment dengan bantuan SPSS 25 for Windows. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara regulasi emosi dengan perilaku bullying pada remaja, maka hipotesis dalam penelitian ini diterima. Semakin tinggi regulasi emosi yang dimiliki oleh remaja maka semakin rendah tingkat perilaku bullying yang terjadi pada remaja.
Memahami Pentingnya Dukungan Sosial Dalam mencapai Penerimaan Diri Pada Dewasa Melajang
Muthami’mah, Ervia Nur;
Suroso, Suroso;
Rista, Karolin
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.10018
Marriage is still the cornerstone of today's culture because marriage is an aspect of culture that is passed down from generation to generation with the aim of giving birth to future generations. This study aims to determine whether there is a relationship between social support and self-acceptance in single adults. Subject The data analysis technique used in this study was non-parametric using the Spearman-Rho correlation analysis method using the computer program SPSS version 16.00 (Statistical Product and Service Solution) for Windows. In this research, the population that is the focus is the Indorunners Surabaya community, which consists of individuals with the criteria of men and women aged 25 to 40 years who have never or have never had a marriage relationship. The results of the study show that there is a positive and significant relationship between social support and self-acceptance. That is, the higher the social support received, the higher the self-acceptance of single adults. Individuals with low self-acceptance tend to experience stress and feel unaccepted and lack self-confidence. The imbalance between the pressure faced and the inability to deal with it can affect individual self-acceptancePernikahan masih tetap menjadi landasan budaya saat ini karena pernikahan merupakan salah satu aspek budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi dengan tujuan untuk melahirkan generasi di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara dukungan sosial dengan penerimaan diri pada dewasa yang masih melajang. Subjek Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah secara non-parametrik dengan metode analisis korelasi Spearman-Rho menggunakan program komputer SPSS versi 16.00 (Statistical Product and Service Solution) for Windows. Penelitian ini populasi yang menjadi fokus adalah komunitas Indorunners Surabaya yang terdiri dari individu dengan kriteria laki-laki dan perempuan usia 25 sampai 40 tahun belum pernah atau tidak pernah melakukan hubungan pernikahan. Hasil penelitian ada hubungan positif dan signifikan antara dukungan sosial dengan pemerimaan diri. Artinya, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima maka semakin tinggi pemerimaan diri pada dewasa yang masih melajang. Individu dengan penerimaan diri rendah cenderung mengalami stres dan merasa tidak diterima serta kurang percaya diri. Ketidakseimbangan antara tekanan yang dihadapi dan ketidakmampuan menghadapinya dapat memengaruhi penerimaan diri individu.
Self efficacy terhadap quarter life crisis pada mahasiswa
Wulandari, Amila Suci;
Suroso, Suroso;
Arifiana, Isrida Yul
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 1 (2024): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v2i1.10461
Abstract The aim of this study is to analyze the relationship between self-efficacy and quarter-life crisis among students at the 17 Agustus 1945 University in Surabaya. The sampling method used in this study is purposive sampling, where the researcher sets the criteria that the respondents must be active students from the 2020 cohort who are preparing their theses. Data were obtained from 294 students from the 2020 cohort at the 17 Agustus 1945 University in Surabaya who were in the process of writing their theses. This study obtained a correlation value of -0.265 using the Spearman’s Rho analysis technique with the Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) version 25 for Windows. The hypothesis stating that there is a negative relationship between self-efficacy and quarter-life crisis among students is accepted in this study. This means that the higher the level of self-efficacy a student has, the lower the likelihood of experiencing a quarter-life crisis. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah menganalisis adanya hubungan antara Self efficacy dengan Quarter life crisis pada mahasiswa Universitas 17 Agutus Surabaya. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, dimana peneliti menetapkan kriteria bahwa responden harus merupakan mahasiswa aktif angkatan 2020 yang sedang menyiapkan skripsi. Data diperoleh 294 mahasiswa angkatan 2020 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang sedang memprogram skripsi. Penelitian ini memperoleh nilai korelasi -0,265 menggunakan teknik analisis Spearman’s Rho dengan program Statistic for Social Science for windows (SPSS) versi 25 IBM for Windows. Dalam penelitian ini, hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat hubungan negatif antara tingkat self-efficacy dengan tingkat quarter-life crisis pada mahasiswa dapat diterima. Artinya, semakin tinggi tingkat self-efficacy yang dimiliki mahasiswa, maka kemungkinan mengalami quarter-life crisis akan semakin rendah.
Peran Stres Akademik dalam Membentuk Pyshological Well Being Pada Remaja
Bramasta S, Hanggara Ditto;
Suroso, Suroso;
Rista, Karolin
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 04 (2024): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v2i04.12488
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stress akademik dengan psychological well being pada remaja. Penelitian ini menggunakan 236 subjek siswa dan siswi kelas 10-12 SMA Dharma Wanita Surabaya. Intsrumen pengumpulan data menggunakan skala Stres Akademik dan skala Psychological Well Being yang dikembangkan oleh peneliti berdasarkan indikator..Analisis pada penelitian ini menggunakan Spearman’s Rho menghasilkan koefisien r = -0,710 dengan P = 0,000 yang menunjukan hubungan negatif dan signifikan antara stres akademik dengan Psychological Well Being. Artinya, semakin tinggi stres akademik maka semakin rendah Psychological Well Being yang dimiliki siswa dan siswi SMA Dharma Wanita Surabaya.
Efikasi Diri sebagai Upaya Mengurangi Quarter Life Crisis Mahasiswa Tingkat Akhir
Sandraini, Ika;
Suroso, Suroso;
Arifiana, Isrida Yul
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 04 (2024): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v2i04.12540
Quarter life crisis sering dialami oleh individu pada usia 20 hingga 30 tahun khususnya mahasiswa tingkat akhir yang menghadapi transisi dari pendidikan ke dunia kerja. Perasaan kebingungan, cemas, dan kelelahan terkait masa depan menjadi ciri khas dari kondisi ini. Ketika menghadapi quarter life crisis, efikasi diri memainkan peran penting dalam menangani kondisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat adanya hubungan antara efikasi diri dengan quarter life crisis pada mahasiswa tingkat akhir di Surabaya. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan melibatkan 202 mahasiswa. Data dikumpulkan melalui Skala Likert; skala efikasi diri yang digunakan adalah buatan Bandura (1997) dan skala quarter life crisis dari Robbins dan Wilner (2001). Analisis data dilakukan dengan teknik Korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif signifikan antara efikasi diri dan quarter life crisis. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan efikasi diri dapat mengurangi dampak quarter life crisis pada siswa tingkat akhir. Mahasiswa perlu menyadari pentingnya membangun efikasi diri untuk mengurangi kecemasan dan kebingungan terkait masa depan.
Perilaku Prososial Online pada Generasi Z: Bagaimana Peranan Penalaran Moral?
Amanah, Nur Izzah;
Suroso, Suroso;
Arifiana, Isrida Yul
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 04 (2024): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v2i04.12545
Salah satu bentuk teknologi informasi yang berkembang pesat adalah media sosial. Di mana seiring berjalannya waktu, media sosial selain digunakan untuk berkomunikasi, mencari informasi, hiburan, sarana jual-beli online, personal branding, kini dapat digunakan untuk menolong seseorang secara online, hal ini disebut dengan perilaku prososial online. Prososial online sendiri dapat dipengaruhi salah satunya berhubungan dengan penalaran moral seseorang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah generasi Z yang berusia 18-24 tahun yang ada di Kota Surabaya dan melibatkan 123 responden dengan menggunakan teknik accidental sampling. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode skala Likert, yaitu skala perilaku prososial online (Eisenberg Mussen, 1989), dan skala penalaran moral (Gerwitz, 1992). Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah spearman’s rho. Hasil menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara penalaran moral dengan perilaku prososial online. Artinya di mana semakin tinggi penalaran moral seseorang, maka semakin sering seseorang melakukan prososial online. Kata Kunci: Generasi Z; Penalaran moral; Perilaku prososial online