Articles
Perilaku Bullying Remaja: Bagaimana Peran Regulasi Emosi?
Herlidanara, Aldo Jeremia;
Suroso, Suroso;
Arifiana, Isrida Yul
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9941
Bullying behavior is a negative behavior that many teenagers do. This bullying behavior often occurs in school environments conducted by peers. Individuals' ability to control emotions if they are low will cause behavioral disorders, resulting in bullying behavior. One of the factors influencing the emergence of bullying behavior is emotional regulation. This study aims to understand the relationship between emotional regulation and bullying behavior in adolescents. This research design uses correlational quantitative research methods. This study was conducted with 138 high school students in Pasuruan. The instrument used in this study was the Likert scale. The data analysis technique used is the correlation of Product Moment with the help of SPSS 25 for Windows. Based on the results of the data analysis, the result that there is a negative and significant relationship between emotional regulation and bullying behavior in adolescents was accepted. The higher the emotional regulation possessed by adolescents, the lower the level of bullying behavior that occurs in adolescents. Perilaku bullying merupakan perilaku negatif yang banyak dilakukan oleh remaja. Perilaku bullying ini sering terjadi di lingkungan sekolah yang dilakukan oleh teman sebaya. Kemampuan individu dalam mengontrol emosi jika tergolong rendah akan menyebabkan gangguan perilaku, sehingga akan menimbulkan perilaku bullying. Salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku bullying adalah regulasi emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dengan perilaku bullying pada remaja. Desain penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional. Penelitian ini dilakukan dengan partisipan sebanyak 138 siswa SMA di Pasuruan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert. Teknik analisis data yang digunakan yaitu korelasi Product Moment dengan bantuan SPSS 25 for Windows. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara regulasi emosi dengan perilaku bullying pada remaja, maka hipotesis dalam penelitian ini diterima. Semakin tinggi regulasi emosi yang dimiliki oleh remaja maka semakin rendah tingkat perilaku bullying yang terjadi pada remaja.
Memahami Pentingnya Dukungan Sosial Dalam mencapai Penerimaan Diri Pada Dewasa Melajang
Muthami’mah, Ervia Nur;
Suroso, Suroso;
Rista, Karolin
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.10018
Marriage is still the cornerstone of today's culture because marriage is an aspect of culture that is passed down from generation to generation with the aim of giving birth to future generations. This study aims to determine whether there is a relationship between social support and self-acceptance in single adults. Subject The data analysis technique used in this study was non-parametric using the Spearman-Rho correlation analysis method using the computer program SPSS version 16.00 (Statistical Product and Service Solution) for Windows. In this research, the population that is the focus is the Indorunners Surabaya community, which consists of individuals with the criteria of men and women aged 25 to 40 years who have never or have never had a marriage relationship. The results of the study show that there is a positive and significant relationship between social support and self-acceptance. That is, the higher the social support received, the higher the self-acceptance of single adults. Individuals with low self-acceptance tend to experience stress and feel unaccepted and lack self-confidence. The imbalance between the pressure faced and the inability to deal with it can affect individual self-acceptancePernikahan masih tetap menjadi landasan budaya saat ini karena pernikahan merupakan salah satu aspek budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi dengan tujuan untuk melahirkan generasi di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara dukungan sosial dengan penerimaan diri pada dewasa yang masih melajang. Subjek Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah secara non-parametrik dengan metode analisis korelasi Spearman-Rho menggunakan program komputer SPSS versi 16.00 (Statistical Product and Service Solution) for Windows. Penelitian ini populasi yang menjadi fokus adalah komunitas Indorunners Surabaya yang terdiri dari individu dengan kriteria laki-laki dan perempuan usia 25 sampai 40 tahun belum pernah atau tidak pernah melakukan hubungan pernikahan. Hasil penelitian ada hubungan positif dan signifikan antara dukungan sosial dengan pemerimaan diri. Artinya, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima maka semakin tinggi pemerimaan diri pada dewasa yang masih melajang. Individu dengan penerimaan diri rendah cenderung mengalami stres dan merasa tidak diterima serta kurang percaya diri. Ketidakseimbangan antara tekanan yang dihadapi dan ketidakmampuan menghadapinya dapat memengaruhi penerimaan diri individu.
Self efficacy terhadap quarter life crisis pada mahasiswa
Wulandari, Amila Suci;
Suroso, Suroso;
Arifiana, Isrida Yul
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 1 (2024): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v2i1.10461
Abstract The aim of this study is to analyze the relationship between self-efficacy and quarter-life crisis among students at the 17 Agustus 1945 University in Surabaya. The sampling method used in this study is purposive sampling, where the researcher sets the criteria that the respondents must be active students from the 2020 cohort who are preparing their theses. Data were obtained from 294 students from the 2020 cohort at the 17 Agustus 1945 University in Surabaya who were in the process of writing their theses. This study obtained a correlation value of -0.265 using the Spearman’s Rho analysis technique with the Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) version 25 for Windows. The hypothesis stating that there is a negative relationship between self-efficacy and quarter-life crisis among students is accepted in this study. This means that the higher the level of self-efficacy a student has, the lower the likelihood of experiencing a quarter-life crisis. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah menganalisis adanya hubungan antara Self efficacy dengan Quarter life crisis pada mahasiswa Universitas 17 Agutus Surabaya. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, dimana peneliti menetapkan kriteria bahwa responden harus merupakan mahasiswa aktif angkatan 2020 yang sedang menyiapkan skripsi. Data diperoleh 294 mahasiswa angkatan 2020 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang sedang memprogram skripsi. Penelitian ini memperoleh nilai korelasi -0,265 menggunakan teknik analisis Spearman’s Rho dengan program Statistic for Social Science for windows (SPSS) versi 25 IBM for Windows. Dalam penelitian ini, hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat hubungan negatif antara tingkat self-efficacy dengan tingkat quarter-life crisis pada mahasiswa dapat diterima. Artinya, semakin tinggi tingkat self-efficacy yang dimiliki mahasiswa, maka kemungkinan mengalami quarter-life crisis akan semakin rendah.
Peran Stres Akademik dalam Membentuk Pyshological Well Being Pada Remaja
Bramasta S, Hanggara Ditto;
Suroso, Suroso;
Rista, Karolin
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 04 (2024): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v2i04.12488
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stress akademik dengan psychological well being pada remaja. Penelitian ini menggunakan 236 subjek siswa dan siswi kelas 10-12 SMA Dharma Wanita Surabaya. Intsrumen pengumpulan data menggunakan skala Stres Akademik dan skala Psychological Well Being yang dikembangkan oleh peneliti berdasarkan indikator..Analisis pada penelitian ini menggunakan Spearman’s Rho menghasilkan koefisien r = -0,710 dengan P = 0,000 yang menunjukan hubungan negatif dan signifikan antara stres akademik dengan Psychological Well Being. Artinya, semakin tinggi stres akademik maka semakin rendah Psychological Well Being yang dimiliki siswa dan siswi SMA Dharma Wanita Surabaya.
Efikasi Diri sebagai Upaya Mengurangi Quarter Life Crisis Mahasiswa Tingkat Akhir
Sandraini, Ika;
Suroso, Suroso;
Arifiana, Isrida Yul
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 04 (2024): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v2i04.12540
Quarter life crisis sering dialami oleh individu pada usia 20 hingga 30 tahun khususnya mahasiswa tingkat akhir yang menghadapi transisi dari pendidikan ke dunia kerja. Perasaan kebingungan, cemas, dan kelelahan terkait masa depan menjadi ciri khas dari kondisi ini. Ketika menghadapi quarter life crisis, efikasi diri memainkan peran penting dalam menangani kondisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat adanya hubungan antara efikasi diri dengan quarter life crisis pada mahasiswa tingkat akhir di Surabaya. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan melibatkan 202 mahasiswa. Data dikumpulkan melalui Skala Likert; skala efikasi diri yang digunakan adalah buatan Bandura (1997) dan skala quarter life crisis dari Robbins dan Wilner (2001). Analisis data dilakukan dengan teknik Korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif signifikan antara efikasi diri dan quarter life crisis. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan efikasi diri dapat mengurangi dampak quarter life crisis pada siswa tingkat akhir. Mahasiswa perlu menyadari pentingnya membangun efikasi diri untuk mengurangi kecemasan dan kebingungan terkait masa depan.
Perilaku Prososial Online pada Generasi Z: Bagaimana Peranan Penalaran Moral?
Amanah, Nur Izzah;
Suroso, Suroso;
Arifiana, Isrida Yul
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 04 (2024): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v2i04.12545
Salah satu bentuk teknologi informasi yang berkembang pesat adalah media sosial. Di mana seiring berjalannya waktu, media sosial selain digunakan untuk berkomunikasi, mencari informasi, hiburan, sarana jual-beli online, personal branding, kini dapat digunakan untuk menolong seseorang secara online, hal ini disebut dengan perilaku prososial online. Prososial online sendiri dapat dipengaruhi salah satunya berhubungan dengan penalaran moral seseorang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah generasi Z yang berusia 18-24 tahun yang ada di Kota Surabaya dan melibatkan 123 responden dengan menggunakan teknik accidental sampling. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode skala Likert, yaitu skala perilaku prososial online (Eisenberg Mussen, 1989), dan skala penalaran moral (Gerwitz, 1992). Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah spearman’s rho. Hasil menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara penalaran moral dengan perilaku prososial online. Artinya di mana semakin tinggi penalaran moral seseorang, maka semakin sering seseorang melakukan prososial online. Kata Kunci: Generasi Z; Penalaran moral; Perilaku prososial online
Academic Burnout pada Mahasiswa yang Aktif Berorganisasi: Bagaimana Peran Resiliensi?
Wardani, Fitriani Pramudya;
Suroso, Suroso;
Arifiana, Isrida Yul
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 04 (2024): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v2i04.12548
Peran resiliensi sangat penting penting bagi mahasiswa yang aktif berorganisasi karena mahasiswa yang aktif berorganisasi menghadapi tuntutan ganda, yakni tuntutan akademik dan tanggung jawab organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara resiliensi dengan academic burnout pada mahasiswa yang aktif berorganisasi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan penelitian kuantitatif korelasional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode proportionate stratified sampling dengan sampel sebanyak 294 mahasiswa. Teknik analisis menggunakan pearson product moment dan menunjukkan korelasi sangat signifikan antara kedua variabel resiliensi dengan academic burnout. Hasil yang didapat bahwa adanya hubungan negatif antara resiliensi dengan academic burnout pada mahasiswa yang aktif berorganisasi. Maka, hipotesis pada penelitian ini dapat diterima. artinya semakin tinggi resiliensi maka semakin rendah academic burnout, begitupun sebaliknya semakin rendah resiliensi maka semakin tinggi academic burnout.
Wanita Lajang dan Kesepian: Menggali Hubungan antara Keyakinan Diri dan Dukungan Sosial
Mufarrohah, Mufarrohah;
Suroso, Suroso;
Rista, Karolin
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 3 No 01 (2025): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v3i01.12699
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Self efficacy dan Dukungan sosial dengan Loneliness pada Wanita Lajang di Dewasa Awal.. Desain penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah 150 responden yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian terdapat hubungan negatif antara dukungan sosial dengan loneliness pada wanita lajang diusia dewasa awal. Artinya semakin tinggi dukungan sosial maka loneliness semakin rendah, sebaliknya semakin rendah dukungan sosial pada seseorang maka semakin tinggi loneliness yang dialami seseorang. terdapat hubungan positif antara self efficacy dengan loneliness pada wanita lajang diusia dewasa awal. Artinya semakin tinggi self efficacy seseorang maka semakin tinggi loneliness pada seseorang, sebaliknya semakin rendah self efficacy seseorang maka semakin rendah tingkat loneliness pada seseorang.
Kecenderungan Nomophobia pada Dewasa Awal: Adakah Peranan Loneliness?
Natalia, Anita;
Suroso, Suroso;
Rista, Karolin
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 3 No 01 (2025): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v3i01.12714
Perkembangan teknologi di era digital telah meningkatkan ketergantungan terhadap smartphone, terutaman pada usia dewasa awal. Ketergantungan ini memunculkan fenomena nomophobia, yaitu rasa takut berlebihan ketika tidak dapat mengakses smartphone. Loneliness menjadi salah satu masalah psikologis yang sering dialami oleh dewasa awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara loneliness dengan kecenderungan nomophobia pada dewasa awal. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kuantitatif. Partisipan dalam penelitin ini berjumlah 384 responden yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling dan skala yang digunakan yaitu skala loneliness dan skala nomophobia. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis spearman rho dengan bantuan program computer IBM Statistical for Social Science (SPSS) versi 27 for Windows. Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat hubungan antara loneliness dengan kecenderungan nomophobia pada dewasa awal dengan rentang usia 24 hingga 30 tahun dengan skor r sebesar 0,880 dengan signifikansi 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan dapat diterima.
Peranan Resiliensi pada Penerimaan Diri Orang Tua yang Memiliki Anak ASD
Anggraeni, Nadinda Via;
Suroso, Suroso;
Arifiana, Isrida Yul
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 3 No 01 (2025): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/jiwa.v3i01.12753
Autism Spectrum Disorder merupakan gangguan dalam komunikasi dan tingkah laku yang berulang dan terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara resiliensi dengan penerimaan diri orang tua yang memiliki anak dengan gangguan autis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan jumlah responden 53 orang tua di Sidoarjo yang diambil dengan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan skala penerimaan diri diambil dari aspek Porter (1964) dan skala resiliensi dari aspek Reivich dan Shatte (2002). Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara resiliensi dengan penerimaan diri. Ketika orang tua mampu untuk menerima kondisi anak tanpa adanya rasa malu dan cemas terhadap penilaian orang lain maka orang tua tersebut memiliki kemampuan resiliensi yang baik. Kata kunci: Gangguan; Autis; Resiliensi; Penerimaan Diri; Orang Tua