p-Index From 2021 - 2026
23.612
P-Index
This Author published in this journals
All Journal International Journal of Electrical and Computer Engineering JURNAL PROMOSI KESEHATAN INDONESIA Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK) Jurnal Mentari AKSIOMA Jurnal Pendidikan Matematika Bulletin of Electrical Engineering and Informatics Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Ilmu Keperawatan Jurnal Riset Kesehatan Dharmakarya : Jurnal Aplikasi Ipteks Untuk Masyarakat Brawijaya Law Journal : Journal of Legal Studies Global Medical and Health Communication Jurnal Edukasi Matematika dan Sains JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE Jurnal Riset Industri Hasil Hutan Jurnal Kebidanan Jurnal Riset Gizi Jurnal Pendidikan Usia Dini Jurnal Akuatika Indonesia Jurnal Manajemen Pendidikan QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama JPKMI (Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia) Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) JNKI (Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia) (Indonesian Journal of Nursing and Midwifery) Jurnal Kesehatan Komunitas JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Pendekar : Jurnal Pendidikan Berkarakter Jurnal Chemurgy Jurnal Skala Kesehatan EMBRIO : Jurnal Kebidanan ABDIMAS SILIWANGI JURNAL PENDIDIKAN TAMBUSAI Jurnal Ilmiah Ecosystem Media Bahasa, Sastra, dan Budaya Wahana Referensi : Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Seminar Nasional Lahan Suboptimal Jurnal Kesehatan Ibu dan Anak PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat MEDIA INFORMASI Jurnal Kesehatan Unnes Journal of Public Health JURNAL MEDIA KESEHATAN Jurnal Caksana: Pendidikan Anak Usia Dini Psikostudia : Jurnal Psikologi JURNAL BIOEDUCATION JE (Journal of Empowerment) Al-Idaroh : Jurnal Studi Manajemen Pendidikan Islam Pena Kreatif : Jurnal Pendidikan MUKADIMAH: Jurnal Pendidikan, Sejarah, dan Ilmu-ilmu Sosial Majamecha Jurnal Teknologi Elekterika Bisman (Bisnis dan Manajemen): The Journal of Business and Management Jurnal Kebidanan Harapan Ibu Pekalongan Abdimas: Jurnal Pengabdian Masyarakat Universitas Merdeka Malang Edukasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini Abdimasku : Jurnal Pengabdian Masyarakat Reswara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Journal of Nursing and Public Health (JNPH) Getsempena English Education Journal Jurnal Kajian Anak (J-Sanak) Jurnal Kebidanan Indonesia Pedagogy : Journal of English Language Teaching Distilat: Jurnal Teknologi Separasi Pena Medika : Jurnal Kesehatan Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Jurnal Ilmu Administrasi dan Studi Kebijakan (JIASK) Jurnal Pengabdian UNDIKMA Jurnal Promotif Preventif Jurnal Kesehatan Tambusai PrimEarly : Jurnal Kajian Pendidikan Dasar dan Anak Usia Dini (Journal of Primary and Early Childhood Education Studies Jurnal Teknologi Pendidikan : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pembelajaran International Journal of Global Operations Research Journal of English Education Program (JEEP) JES (Jurnal Ekonomi STIEP) APPLICATION: Applied science in Learning Research Journal of Instructional and Development Researches Indonesian Journal of International Law JURNAL PENDIDIKAN IPS Journal of Research in Social Science and Humanities TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Jurnal Sylva Scienteae MALANG JOURNAL OF MIDWIFERY (MAJORY) Nuances of Indonesian Language Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA) IJCR (Indonesian Journal of Chemical Research) ACCENTIA: Journal of English Language and Education Nusantara Journal of Behavioral and Social Science Indonesian Journal of Research and Educational Review (IJRER) Journal Of Human And Education (JAHE) Jurnal Ilmiah Mahasiswa Manajemen, Bisnis dan Akuntansi Yuridika Jurnal Riset Kedokteran SIGEH ELT : Journal of Literature and Linguistics Jurnal Riset Kebidanan Indonesia Interdependence Journal of International Studies JURNAL HUTAN TROPIS Abdimas Polsaka: Jurnal Pengabdian Masyarakat YASIN: Jurnal Pendidikan dan Sosial Budaya Journal of Artificial Intelligence and Digital Business jpki Journal of Public Health Concerns IDARAH : Jurnal Pendidikan dan Kependidikan Indonesian Research Journal on Education Al-Miskawaih: Journal of Science Education (MIJOSE) IPTEK: Jurnal Hasil Pengabdian kepada Masyarakat Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Jurnal Gizi dan Kesehatan Jurnal Rakat Sehat : Pengabdian Kepada Masyarakat Petrogas : Journal of Energy and Technology Ekodestinasi : Jurnal Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Journal of Economics, Management, and Entrepreneurship Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bangun Cipta, Rasa, & Karsa (Jurnal PKM BATASA) Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Jurnal Riset Gizi Jurnal Kepengawasan, Supervisi dan Manajerial (JKSM) Interval: Indonesian Journal of Mathematical Education Jurnal Kebidanan Bestari Jurnal Besurek Jidan Economic and Finance in Indonesia Jurnal Hidrografi Indonesia Kepompong Children Centre Journal Kreasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Jurnal Hukum Mimbar Justitia Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat Journal of Social Work and Science Education Jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa Bakoba: Journal of Social Science Education Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurnal Siti Rufaidah Journal of Administration, Governance, and Political Issues Proceeding Of International Conference On Education, Society And Humanity Jurnal Perikanan Journal of Business Management Indonesian Journal of Jamu Jurnal Riset Gizi Jurnal Wicara Desa World Health Digital Journal (wolgitj) Jurnal Info Kesehatan Journal of Creativity Student Journal of Economics, Management, and Entrepreneurship Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal)
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : Jurnal Mentari

URGENSITAS KOMPETENSI TENAGA PENDIDIK BAHASA INGGRIS DALAM KONTEKS PERSAINGAN GLOBAL Yuniarti, Yuniarti
Jurnal Mentari Vol 15, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang Seperti kita ketahui, pendidikan adalah proses membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik.  Suatu negara yang tidak melihat pendidikan akan mengalami ketertinggalan dari negara lain dan masyarakatnya sendiri tidak mampu bersaing dengan dunia luar.  Menilik dari pengalaman Negara lain, Jepang dan Korea menjadi negara maju dan mereka dihargai di dunia karena kekreatifitasan, keinofatifan dan kemajuan di bidang pengetahuan.  Kedua negara tersebut ternyata berkomitmen terhadap penguasaan ilmu dan bahasa Inggris sebagai suatu keharusan. Hingga saat ini, kedua negara tersebut dapat bersaing di berbagai sektor. Penguasaan ilmu dan bahasa Inggris adalah kunci utama.   Mengapa bahasa Inggris? Berbicara tentang bahasa Inggris, sejarah telah membuktikan bahasa Inggris lebih dominan sebagai bahasa yang didalamnya terdapat banyak ilmu dan peradaban.  Dominasi bahasa Inggris terjadi ketika kolonialisme barat berhasil melakukan perluasaan politik, ekonomi, ilmu & teknologi, dan budaya. Itulah sebabnya mengapa bahasa Inggris diakui dan digunakan sebagai alat dalam mengembangkan pengetahuan, bernegosiasi bisnis, dan berkomunikasi dengan dunia luar.  Seperti yang diungkapkan oleh Naisbitt berikut ini: “There are, in the world today, more than one billion English speakers-people who speak English as a mother tongue, as a second language, or as a foreign language.  60 per cent of the radio broadcasts are in English. 70 per cent of the world’s mail is addressed in English.  80 per cent of all international telephone conversations are in English. 80 per cent of all data in the several 100 million computers in the world is in English”.[1] Saat ini, di dunia ada lebih dari satu milyar orang yang berbicara dalam bahasa Inggris sebagai bahasa ibu, sebagai bahasa kedua atau sebagai bahasa asing.  60% penyiaran radio menggunakan Bahasa Inggris. 70% surat-menyurat di dunia menggunakan Bahasa Inggris.  80% percakapan telepon internasional menggunakan Bahasa Inggris.  80% semua data dalam 100 juta computer di dunia menggunakan Bahasa Inggris. Hal serupa diungkapkan Ferguson berdasarkan penelitian ilmiah bahwa sumber ilmu pengetahuan dan korporasi multinasional, terkenal dan ikonik menggunakan bahasa Inggris[2]. Singkatnya, tingkat penguasaan bahasa Inggris begitu penting karena era globalisasi tidak dapat dihindari dan dunia mengalami perubahan cepat dalam dimensi hubungan internasional tanpa sekat melalui web, internet, perjanjian, transaksi, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, dan kesempatan. Menurut Indrawati, sebuah penelitian indeks pengembangan  sumber daya manusia (HDI) yang dilakukan UNDP telah mengeluarkan hasil bahwa dari 174 negara yang disurvei, sumberdaya manusia Indonesia berada di level 102.  Sumber daya manusia Indonesia tertinggal 50 tahun dari Singapore dan Malaysia. Kita masih tertinggal jauh khususnya dalam penguasaan bahasa Inggris.[3] Hasballah mengungkapkan hanya beberapa orang Aceh yang memiliki posisi strategis dalam pekerjaan pada saat sesudah tsunami di Rehabilitasi-Rekonsialiasi Aceh-BRR dan internationals organizations (NGOs).  Itupun lebih dikarenakan faktor politik dan sosial-ekonomi bukan karena keahliannya atau kompeten dalam bekerja.  Posisi yang strategis tersebut banyak diduduki orang luar yang lebih kompeten dalam pengetahuan dan penguasaan bahasa Inggris.[4] Berdasarkan fakta tersebut yang diungkap Hasballah, maka perlu kiranya para lulusan pada masa mendatang dipersiapkan untuk dapat bersaing dan mendapatkan pekerjaan yang ‘oriented-overseas job’ seperti di Timur Tengah, di negara-negara asia yang maju seperti Malaysia, Singapore, Japan, Korea atau Australia. Kesempatan kerja harus lebih mengarah pada pekerjaan yang bersifat keahlian atau ‘expert’ seperti ahli telekomunikasi, pedagang berbasis teknologi, dan di badan-badan internasional.[5] Lemahnya sumber daya Indonesia sangat bergantung dari para pendidik yang berkompeten dalam menghasilkan lulusan yang unggul. Yang ingin penulis diskusikan di sini adalah sejauh mana kompetensi pendidik bahasa Inggris secara profesi dan akademik? Tujuan artikel ini adalah untuk mengupas indikator ketidakunggulan kompetensi pendidik Bahasa Inggris dan mencari solusi meningkatkan kompetensi para pendidik Bahasa Inggris. Dalam kamus Webster New Collegiate (1981), profesi (profession) adalah panggilan dalam memperoleh spesialisasi pengetahuan melalui persiapan panjang dan intensif pada institusi.  Ketika seseorang sudah memiliki spesialisasi pengetahuan dan bekerja dengan ilmu tersebut maka seseorang tersebut di sebut ‘profesional’.[6]   Ketidakunggulan Pendidik Bahasa Inggris secara Profesi Dalam dunia pendidikan, profesi pendidik yaitu memiliki spesialisasi berbagai macam pengetahuan metode pembelajaran, memiliki kompetensi literasi jurnal, makalah, buku, linguistik terapan dan sebagainya. Untuk mengukur kompetensi para pendidik, pemerintah menetapkan kebijakan melalui sertifikasi sehingga para pendidik yang sudah mendapatkan sertifikasi secara formal mendapatkan ‘izin mengajar’ dan sudah dapat dikatakan ‘profesional’. Namun, kenyataannya, masih banyak kendala yang terjadi pada saat sertifikasi.  Sertifikasi para pendidik didasarkan asesmen portofolio yang dibuktikan dengan dokumen atas reprensentasi pendidik dalam melaksanakan tugasnya. Seorang pendidik yang sudah bersertifikat pendidik profesional berhak memperoleh tunjangan profesi. Namun,  permasalahan yang kerap muncul adalah pada saat proses melengkapi portofolio itu sendiri. Selain motivasi utama para pendidik untuk mendapatkan tunjangan profesi tetapi keterbatasan kemampuan atau ‘skill’ dan waktu yang singkat dalam menyelesaikan portofolio menjadi kecemasan tersendiri bagi mereka sehingga faktor kejujuran dan objektifitas patut dipertanyakan! Penjelasan tersebut didukung oleh Kartadinata bahwa sulit untuk menilai apakah ada korelasi antara portofolio dengan tingkat penguasaan pengetahuan (metode mengajar dan aplikasi mengajar) atau tidak karena asesmen portofolio tidak disertai pengamatan lapangan sehingga objektifitasdan kejujuran dari para pendidik dalam menyiapkan portofolio merupakan kunci validasi asesmen. Jika terjadi ketidakjujuran dalam menyajikan portofolio, portofolio tidak akan merepresentasikan kompetensi dan kinerja para pendidik dan keputusan yang diambil menjadi tidak valid. Perlu kecermatan tinggi dalam asesmen portofolio dan (mungkin) perlu dilakukan review menyeluruh atas sistem portofolio.[7] Tidak mengherankan sebanyak 1.082 pendidik menggunakan dokumen palsu di Riau dan seorang profesor dari perguruan tinggi ternama di Bandung mempertaruhkan martabatnya dengan memanipulasi jurnal Carl Ungerer[8].  Oleh karena itu, profesional tidak dapat diukur dengan proses yang instan, maka bagi pendidik yang tidak terbiasa menulis akan mengalami hambatan dan kekhawatiran sehingga melakukan plagiat atau mengkopi hasil karya tulisan orang lain.  Jika demikian adanya, secara profesi para pendidik kita tidak profesional. Dampaknya akan mempengaruhi pada terdidik yang menuntut ilmu ketika lulus menjadi tidak terampil ‘unskilled’ untuk bersaing di dunia kerja karena tidak memiliki pengetahuan yang memadai.   Ketidakunggulan Pendidik Bahasa Inggris secara Akademik Saad menekankan bahwa paradigma pengajaran seharusnya diubah atau diganti agar menghasilkan lulusan unggul, bukan lulusan yang ‘penghafal teori’ atau ‘Rote Learner’. [9] Siswa harus bertanggung jawab untuk dapat mengembangkan diri mereka melalui interaksi sosial menjadi ‘Independent Thinker’ sebagai constructivist learning. Alwasilah, dalam buku ‘Bahasa Inggris dalam Konteks Persaingan Global’, ada beberapa indikator atas ketidakunggulan penguasaan pengetahuan bahasa Inggris secara akademik di perguruan tinggi.[10] Pertama, banyak pengajar mengajar bahasa Inggris hanya sekedar mentransfer pengetahuan dan menganalisa kalimat.  Detailnya, pernyataan ini; “…menguasai bahasa Inggris seyogyanya menyajikan kesempatan dan pajanan (exposure) bagi pembelajar dalam isu-isu nyata sehingga menumbuhkan keberanian untuk berinteraksi, berdialog dan berfikir kritis. Berkontribusi terhadap perkembangan daya nalar dan pembaruan kebudayaan (cultural renewal)“. Kewajiban para dosen EFL tidak hanya mengajar bahasa sekedar pada penggunaan ‘tobe’ (am, is, are) dan ‘to have’ atau memperbaiki bahasa secara gramatikal tetapi juga harus mengajarkan fungsi bahasa itu sendiri dalam konteks komunikasi sosial, interaksi, budaya dan berfikir kritis dalam kehidupan nyata. Kedua, para pengajar masih kurang mereproduksi literasi dan pengetahuan.  Rudy  menjelaskan bahwa tahun 2004 The times Higher Education Supplement memilih 200 universitas terbaik di dunia.  10 universitas terbaik adalah Harvard University, University of Barkeley, Masschusetts Institute of Technology, California Institute of Technology, Oxford University, Cambridge University, Stanford University, Yale University, Princeton University dan ETH Zurich Swiss. National University of Singapore (ke-18), Nanyang University (ke-50), Malaya University (ke-89) dan Sains Malaya Univeristy (ke-111).[11] Ironisnya, tidak satu pun universitas dari Indonesia termasuk didalamnya.  Mengapa? Para pengajar tidak dapat menghasilkan produk tertulis yang dipublikasikan di forum dunia. Satu dari lima kriteria untuk menilai untuk menilai 200 universitas terbaik adalah melalui karya tulis dosen yang aktif. Dalam hal ini, universitas berkualitas bukan berdasarkan dari fasilitas yang baik, tetapi produk tertulis yang sering dikutip di forum internasional. Bagaimana pengajar kita bisa berpatisipasi secara internasional berdasarkan sumber Replubika bahwa  tingkat terendah penyerahan proposal penelitian ke Ditjen Dikti Diknas berasal dari universitas? [12]. Kebiasaan literasi kita belum optimal dalam atmosfir akademik. Kurangnya kebiasaan literasi disebabkan karena masih banyak manajemen universitas yang mengabaikan dan kurang memberi apresiasi karya tulis pengajar dan kurang memfasilitasi dalam ‘writing workshop.’  Universitas memerlukan perencanaan terstruktur dan baik untuk membangkitkan dan mendorong pengajar menghasilkan pengetahuan melalui jurnal, buku, atau makalah. Kurangnya kompetensi pengajar dalam literasi akan berdampak besar dalam mengembangkan kemampuan mahasiswa menulis khususnya membuat skripsi seperti dalam menuangkan ide, grammar, ejaan kata bahasa Inggris, penguasaan kosa kata sehingga mahasiswa hanya meng-copy paste karya skripsi orang lain. Makna yang tersirat dari uraian tersebut mengindikasikan tumpulnya kreativitas literasi kalangan intelektual menjadi tantangan terbesar yang dihadapi kita saat ini. Apa daya negara tetangga seperti Malaysia, Nigeria dan Thailand sudah lebih dahulu Go International?  Sekedar mengingat kembali sejarah kejayaan beberapa dekade yang lalu, kita pernah mengirimkan para pendidik yang kompeten ke negeri jiran untuk meningkatkan mutu pendidikan. Ketiga, tidak hanya lemah dalam karya tulis, kualifikasi pengajar dalam berkomunikasi secara lisan juga kurang. Apalagi persyaratan umum minimal penguasaan TOEFL 500 belum tercapai sehingga banyak kesempatan untuk beasiswa tidak termanfaatkan secara maksimal.[13].  Status Bahasa Inggris kita sebagai bahasa asing (English Foreign Language) terbatas digunakan hanya dalam pembelajaran dikelas dan tidak berkembang sebagai alat komunikasi pergaulan menjadi hambatan tersendiri. Keempat, Sakri menjelaskan bahwa penyerapan ilmu pengetahuan melalui produk terjemahan buku teks, jurnal dari bahasa sumber ke bahasa sasaran masih kurang maksimal.  Fakta membuktikan Indonesia memiliki judul lebih dari 100.000 dalam bahasa Inggris tetapi hanya 20-25% saja yang produktif menterjemahkan.[14]. Berbagai alasan terungkap dalam penelitian bahwa motivasi pengajar untuk menterjemahkan buku kurang seiring dengan kurangnya pembayaran honor menterjemahkan. Alasan lain adalah kegiatan menterjemahkan memerlukan waktu dan pemikiran lebih bukan sebagai pekerjaan sampingan sementara, pengajar memiliki tugas utama yaitu mengajar.  Selain itu, yang memiliki keterampilan dalam menterjemahkan secara resmi masih sangat sedikit karena kewenangan untuk mendapatkan ‘sworn translator’ atau ‘certified translator’ hanya satu dari Universitas Indonesia. Tentu saja hal ini akan menjadi hambatan bagi mereka yang berada diluar jangkauan dan ingin mengambil kesempatan menjadi penterjemah resmi karena hambatan biaya dan waktu. Aceh adalah miniatur dari kondisi nyata pendidikan saat ini yang mewakili ketidakunggulan penguasaan bahasa Inggris baik para pengajar. Pengalaman penulis melihat masih banyak pengajar yang belum menguasai  Bahasa Inggris nyatanya mereka adalah sarjana S-2.  Sementara untuk melanjutkan program S-2 dan S-3 di dalam negeri saja memerlukan persyaratan minimal TOEFL 450 untuk memudahkan pengajar memahami dan  menterjemahkan buku teks bahasa Inggris sebagai buku wajib. Dalam Interaksi dikelas, pengajar tidak membiasakan merangsang interaksi yang komunikatif dalam bahasa Inggris karena masih adanya stigma apabila berbicara bahasa Inggris merasa malu disebut ‘gaya-gaya’an saja. Metode mengajar yang tidak berfokus pada komunikasi di tambah kurangnya mahasiswa membaca referensi pengetahuan.  Mereka hanya duduk, diam, dengar dan menerima yang pengajar ajarkan tanpa mempertajam kemampuan berfikir kritis.  Efek domino yang lebih besar adalah lulusan tidak unggul yang menjadi guru dan menyebar keseluruh daerah untuk mengajar sehingga menurut Direktur Pembinaan Pendidikan Depdiknas program belajar bahasa Inggris tidak berjalan lancar di sekolah-sekolah karena kemampuan guru dalam penguasaan materi rendah. Apakah masih ada solusi yang dapat memecahkan masalah tersebut? Apakah sudah terlambat? Usaha pemerintah Aceh untuk memberdayakan para dosen melaui program beasiswa layak mendapat apresiasi tetapi usaha tersebut patut memerlukan follow-up! Tujuan penulisan ini, penulis memberikan sajian solusi alternatif untuk meningkatkan kompetensi pendidik Bahasa Inggris yang memerlukan perencanaan dan pengembangan strategi di masing-masing kampus sehingga menghasilkan para pengajar yang betul-betul profesional dan menghasilkan produk akhir para lulusan yang unggul. PEMBAHASAN   Pengajar sebagai ujung tombak meningkatkan daya saing yang mengglobal, perlu melakukan pengembangan dengan strategi yang baik.   Meningkatkan Daya Saing Pendidik Bahasa Inggris Secara Profesi Seperti yang diungkapkan Stigler; “Professionals have longer and more specialized training, greater freedom, to organize their time, greater personal responsibility for directing their own work, and the respect that comes from the uniqueness and quality of their contribution”.[15]   Profesional tidak sekedar mendapatkan sertifikasi dan pengetahuan serta melakukan pelatihan khusus dalam waktu lama tetapi memerlukan kebebasan lebih luas, mengorganisir waktu, memiliki tanggung jawab pribadi yang besar yang mengarah kepada pekerjaan mereka sendiri dan menghargai sesuatu yang berasal dari keunikan dan kualitas atas kontribusi pengajar sendiri! Memberikan pemahaman bahwa sertifikasi adalah langkah baik sebagai bagian upaya pemerintah memberikan tunjangan terhadap profesi pengajar namun akan lebih baik apabila profesi yang mereka sandang dilengkapi dengan membangun tanggung jawab profesionalitas mengajar yang terkait dengan wilayah profesinya, Bahasa Inggris seperti yang diungkapkan Richards, (1) dengan memperbanyak metode pengajaran seperti human interaksi model, active learning model, competence based teaching models, Diharapkan pula, agar para dosen ketika mengajar dalam kelas siap menghadapi masalah yang muncul, (2) teaching skill berarti keterampilan ‘mengajar’ itu sendiri melibatkan kegiatan pembelajaran yang kesemuanya mengarahkan pada kemampuan mahasiswa untuk bereksplorasi dan berkomunikasi, menyiapkan siswa untuk mempelajari hal-hal baru, memberikan kesempatan mempelajari materi baru, mempersiapkan kegiatan interaktif dan komunikatif melalui group work, games, simulasi, presentasi, role play, (3) keterampilan berkomunikasi atau ‘communicative skill’ mengarah pada kelancaran berbahasa Inggris dan kemampuan membangun psikologi kedekatan dengan mahasiswa.  Melalui pendekatan keterampilan ini, mahasiswa dapat berujar bagaimana cara meminta, bagaimana cara berjanji, bagaimana memberi salam, berterima kasih, mengucapkan belasungkawa dalam bahasa Inggris, (4) mengembangkan keterampilan berfikir kritis dan membuat keputusan, dimana materi dikembangkan dan ditransformasi kedalam bentuk pengajaran yang adaptif sesuai dengan latar belakang, budaya, sosial, (5) dalam kontekstual pengetahun dan (6) pengetahuan di bidang sosiolinguistik yang erat kaitannya dalam fenomena variasi berbahasa dalam atmosfir sosial atau performansi.[16] Meningkatan Daya Saing Pendidik Bahasa Inggris secara Akademik Pertama, pihak kampus dapat mempertimbangkan cara ‘Pembinaan Dosen Muda’ Alwasilah (2004) mengkategorisasikan ke dalam:  (1) Dosen Terbina yaitu dosen yang belum memiliki persyaratan minimal,  (2) Dosen Pembina yaitu yang memiliki gelar dan dapat mengarahkan ‘Dosen Terbina’, (3) ‘Jalur Pembinaan’ yaitu dosen yang memiliki gelar S2 dan S3 untuk mengikuti studi, (4) ‘Materi Pembinaan’ tentang pengetahuan teoritis (Perceived Knowledge), pengetahuan lapangan (Learning Experience) seperti simulasi, micro teaching, studi  kasus, observasi, seminar, diskusi, dan karya tulis. Proses pembinaan memerlukan persyaratan, (1) dari ‘Umum ke Khusus’, dosen terbina dapat menjadi asisten terlebih dahulu dan dapat memilah subjek yang sesuai dari dosen Pembina, (2) dari ‘Terbina ke Mandiri’, dosen yang sudah S2 memiliki kewenangan mengajar program S-1 yang sesuai dengan bidang studi dan dapat menjadi ‘teaching team’. Dengan memenuhi persyaratan diatas melalui program pembinaan maka profesionalitas pengajar diharapkan berkembang dalam supervisi mengajar, mengajar ‘across curriculum’, mengajar subjek favorit, dan mengembangkan materi.  Untuk dua persyaratan mengembangkan kompetensi pengajar dari ‘Sistematik ke Koordinatif’ berkaitan erat dengan penunjukan ‘Dosen Pembina’, penentuan ‘Materi Pembinaan’ dan (2) ‘Dinamis’ dimana kompetensi professional mengarah pada ketepatan (adequacy), kelancaran (proficiency), sampai ahli (expertise). [17] Kedua, kampus hendaknya memiliki ‘Wadah Profesi’ jangka pendek secara rutin untuk kegiatan akademik selain pelatihan peer-writing. Untuk jangka panjang, pihak kampus dapat menjadi keanggotaan organisasi TESOL untuk membangun jaringan. “The association exists to provide opportunities for networking not only among the members of TESOL but also among the members of the several affiliates and with the membership of other local, national, and international professional association with which TESOL shares a common interest” (Asworth 1993:11).   Asosiasi ada untuk menyediakan atau memberikan kesempatan jaringan tidak hanya diantara anggota TESOL tetapi juga diantara beberapa anggota afiliasi dan anggota lokal, nasional dan internasional untuk saling berbagi minat yang sama. Kampus juga dapat membangun minat baca-tulis dosen dengan cara: (1) setiap pengajar bertukar informasi referensi satu sama lain.  Kurangnya referensi menyebabkan kurangnya minat menulis.  Di sini, pengajar satu sama lainnya bisa menjadi fasilitator dalam memfasilitasi referensi, (2) menyediakan ‘writing workshop’ yang berorientasi pada proses mencari ide, menulis draft, merevisi sampai pada menerbitkan tulisan.  Proses merevisi berarti meng-kolaborasikan tulisan untuk saling mengoreksi tatabahasa (grammar), tulisan, ide dengan rekan.  Dengan melakukan ini, diharapakan akan terbiasa menulis dan plagiarisme dapat dihindari.  Proses menulis lebih berharga dan bermakna daripada sekedar hasil tulisan.  Tahapan ini dapat juga diterapkan untuk mahasiswa dan dosen dapat memotivasi mahasiswa itu sendiri untuk menulis, (3) Tulisan pengajar dapat direspon sendiri oleh mahasiswa sebagai pembaca untuk menajamkan dan mengeksplorasi pendapat sebagai bagian dari menumbuhkan keberanian berdialog, berinteraksi, berfikir kritis dalam akademik, Menurut Rudy, respon mahasiswa yang terus-menerus melalui karya tulis dapat pula meningkatkan tulisan mereka sendiri, (4) komitmen dari pihak universitas untuk selalu memajukan dan memfasilitasi dosen mengaktualisasikan diri di lingkungan kampus terlebih dahulu, (5) memberikan apresiasi akan memotivasi pelaku akademik untuk tetap menulis dana akan dapat menghasilkan atau ‘reproduce’ ilmu pengetahuan kedalam jurnal, buku.[18] Ketiga, kampus memfasilitasi para pengajar untuk selalu meng-upgrade atau memperbaharui nilai TOEFL atau IELST  sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan. Keempat, prospektifitas bidang terjemahan masih luas untuk dilakoni.  Agar tepat sasaran untuk meningkatkan keterampilan menterjemahkan ada beberapa saran yang diajukan berdasarkan penelitian Harto bahwa (1) pengajar yang memegang mata kuliah ‘translation’ harus mengetahui tujuan akhir apa yang akan dipersiapkan bagi para lulusan dan menganalisa kebutuhan mahasiswa sebelum memutuskan materi apa yang akan dipelajari.  Koherensi kurikulum dengan kebutuhan pasar menjadi perhatian utama, sehingga produk akhir dari lulusan siap pakai, (2) pengajar harus mempersiapkan proses menterjemahkan dari memahami materi secara utuh sesuai konteksnya, menterjemahkan teks, membaca hasil teks, dan mengedit hasil teks, jika perlu membuat ‘footnote’, (3) pemerintah hendaknya mempertimbangkan institusi lain di Aceh untuk memiliki kewenangan mencetak lulusan menjadi ‘sworn translator’.[19] PENUTUP Pada sesi penutup ini, para dosen perlu meningkatkan sumberdaya manusia sehingga dapat menghasilkan lulusan unggul yang mampu dan sesuai dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh agar bisa bersaing di era globalisasi.  Menumbuhkan atmosfir akademik dengan membangun ‘Wadah Profesi’ di kampus untuk melakukan pembinaan dosen muda, membangun ‘peer-teaching’ atau kolaborasi mengajar dan ‘writing workshop’ atau peer-writing yaitu metode kolaborasi menulis untuk saling mengkoreksi ide, grammar, spelling dan bertukar informasi referensi satu dengan yang lain untuk menambah informasi referensi pengetahuan dan sumber untuk menulis. Membangun dan memelihara profesionalisme melalui peningkatan dedikasi, komitmen, kerja keras, efisien, jujur dan selalu mengaktualisasikan diri secara akademik dalam kehidupan nyata dengan membangkitkan minat melakukan penelitian, memperkaya variasi metode mengajar dalam pembelajaran, sehingga profesionalisme tumbuh  seiring dengan kepiawaian mengajar, kepiawaian menulis, serta kepiawaian dalam ranah pendidikan bahasa Inggris lainnya.   DAFTAR PUSTAKA     Alwasilah, Chaedar. 1995.  Profesionalism in Language.  Jakarta: Jakarta Post. Alwadilah, Chaedar. 1997.  Lemahnya Diplomat Indonesia. Jakarta: Republika. Alwasilah, Chaedar. 2003. Revitalisasi Pendidikan Bahasa: Mengungkap Tabir Bahasa demi peningkatan SDM yang kompetitif. Bandung: CV.  Andira. Alwasilah, Chaedar. 2004. Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia: Dalam Konteks Persaingan Global. Bandung: CV. Andira. Adam, Anas. M. 2010. Banyak Guru Belum Tersentuh Pelatihan. Serambi: Direktur Pembinaan Pendidikan Depdiknas. Banda Aceh: Serambi. Buchori, Mochtar. 2010.  Guru Profesional dan Plagiarisme. Jakarta: Kompas. Harto, Sri. 2003. Peluang dan Tantangan Bisnis Terjemahan: Studi Kasus Tujuh Penerjemah Profesional. Bandung: CV.  Andira. Indrawati. 2003. Meningkatkan Daya Saing SDM Indonesia di Era Pasar Bebas. Bandung: CV. Andira. Informasi Pendidikan.  1995.  Kualifikasi Dosen.  Jakarta: Republika. Kartadinata, Sunaryo. 2009.  Sertifikasi Guru: Perlu Manajemen Cerdas di Tingkat Pemerintah Daerah. Makalah Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan. Banda Aceh: Dinas Pendidikan Banda Aceh. Naisbitt, John.  1995.  Global Paradox. New York: Avon Books. Rudy,    Inderawati. 2011. Aktualisasi Literasi Kalangan Intelektual dalam Mereproduksi Ilmu. JPBS FKIP. Malang : Universitas Sriwijaya. Richards, Jack C. 1998.  Beyond Training: Perspective on Language Teacher Education. New York: Cambridge University Press. Stevenson, Harold W. dan James W Stigler. 1992. The Learning Gap: Why our school are failing and what we can learn from Japanese and Chinese Education. New York: Touchstone. Saad, Hasballah. 2009. Kebijakan Meningkatkan Mutu Pendidikan di Aceh: Sebuah Gagasan Alternatif. Makalah Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan Banda Aceh: Dinas Pendidikan Banda Aceh. Sakri, Adjat.  1985.  Ihwal Menterjemahkan, Terbitan 2.  Bandung: Penerbit ITB. Webster’s New Collegiate Dictionary. 1981. Professional Definition. At http://webster.com           [1] Naisbitt, John.  Global Paradox (NY: Avon Books, 1995). [2]. Alwasilah, Chaedar. Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia dalam Konteks Persaingan Global (Bandung: Andira, 2004). [3]. Indrawati, Meningkatkan daya saing SDM Indonesia di era Pasar bebas (Bandung:           Andira, 2003). [4]. Saad, Hasballah. Kebijakan Meningkatkan Mutu Penddidikan di Aceh: sebuah Gagasan Alternatif. Makalah Seminar Peningkatan mutu Pendidikan (Banda Aceh: Dinas Pendidikan Provinsi Banda Aceh, 2009), pp.5   [5]. Saad, Hasballah. Kebijakan Meningkatkan Mutu Penddidikan di Aceh: sebuah Gagasan Alternatif. Makalah Seminar Peningkatan mutu Pendidikan (Banda Aceh: Dinas Pendidikan Provinsi Banda Aceh, 2009), pp.8.   [6]. Websters’ New Collegiate, Dictionary.  Definition of Profession at Http://www.webstercollegiate.org (1981).   [7]. Kartadinata, Sertifikasi Guru: Perlu Manajemen Cerdas di Tingkat Pemerintah Daerah. Makalah Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan (Banda Aceh: Dinas Pendidikan Provinsi Banda Aceh, 2009). [8]. Buchori, Mochtar. Guru profesional dan Plagiarisme (Jakarta: Kompas, 2010). [9]. Saad, Hasballah. 2009. Kebijakan Meningkatkan Mutu Pendidikan di Aceh: Sebuah Gagasan Alternatif. Makalah Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan (Banda Aceh: Dinas Pendidikan, 2009).   [10]. Alwasilah, Chaedar. Revitalisasi Pendidikan Bahasa: Mengungkap Tabir Bahasa demi peningkatan SDM yang kompetitif (Bandung: Andira, 2003). [11]. Rudy, Inderawati. Aktualisasi Literasi Kalangan Intelektual dalam mereproduksi ilmu (JPBS IKIP: Universitas Sriwijaya, 2011). [12]. Alwasilah, Chaedar.  Artikel Lemahnya Diplomat Indonesia (Jakarta: Republika, 1997). [13]. Alwasilah, Chaedar. Artikel tentang Profesionalism in English Language (Jakarta: Jakarta Post, 1995).. [14]. Sakri, Adjat. Ihwal Menterjemahkan, Terbitan 2 (Bandung: ITB, 1985). [15]. Stevenson, Harold W dan James W Stigler. The Learning Gap: Why our school are failing and what we can learn from Japanese and Chinese Education (NY: Touchstone, 1992). [16].  Richards, Jack C.  Beyond Training: Perspective on Language Teacher Education (NY: Cambridge University Press, 1998). [17]. Alwasilah, Chaedar. Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia: Dalam Konteks Persaingan Global (Bandung: Andira, 2004). [18]. Rudy, Inderawati. Aktualisasi Literasi Kalangan Inteletual dalam Mereproduksi Ilmu (JPBS FKIP: Universitas Sriwijaya, 2011). [19]. Harto, Sri. Peluang dan Tantangan Bisnis Terjemahan (Bandung: Andira, 2003).
Co-Authors . Zakiah Abdiyah, Lathifah Abdullah Abdullah Adi Pasah Kahar Adi Rahmadi Adi suwarno Afifah, Yasmin Agria, Siti Agus Nuryatin Agustin Rahmawati Ahmad Arif Ahmad Rizani, Ahmad Ahmad Yani T Ahyar, Muh. Aisyah Aisyah Aisyah, Luthfia Nur Aji, Della Sama Akhriana, Asmah Alexandra, Frisca Alfian, Rika Alya, Zulaiha Zahra Amaliah, Asma Amalya, Vitha Amini, Sri Aisyah Amirul Mukminin Amirul, Amirul Andhika, Andi Anggito Aritonang, Alfredo Grace Anjarwani , Sri Endang Antonius Totok Priyadi Anwar, Muhammad Naufal Aprilyani, Lily Aprini, Nisma Apriyanti Apriyanti Ardiana Priharwanti ardita, sahihsinda kurnia Arief Adhiksana Arief Budi Yulianti Arintina Rahayuni Aris Susetyo Ariyani, Debora Asni Susanti, Reni Sartika Asriyadi Asriyadi Asyifa, Sabrina Silvi Atikah Nurhayati Aulia Azizah Aurelia, Debby Ayudhia, Lingga Azis Azis, Azis Azizah, Syifa Azka, Fina Saeila Bagoes Widjanarko Bahrani Bambang Budi Utomo Bambang Cahyono Bando, Nurjannah Beatrice Anastasya Secillia A. Betria, Ike Br. Perangin-angin, Alemina Budi Sutiya Budie Nugroho, Muhammad Aprianto Caecielia Wagiono Chaira, Uswatul Chasanah, Putri Aulia Daniah, Rahmah Darmawati Darmawati Darwin Darwin Dase, Sulwan Demina Demina Derbika, Rangga Desi Widiyanti Destariani, Elvi Dewi , Vonny Khrena Dewi Kusumaningsih Dewi Nugraheni Restu Mastuti Dewi, Ana Dewi, Vonny Khresna Dian Luthfita Prasetya Muninggar Diana Diana Diana Rozelin Donny Juliandri Prihadi Duyo, Rizal A Dwi Ardiyanti Dzar Faraby, Muhira Ecci Resamala Sari Eddy Afrianto Efendi, Murkan Eka Fitriani Eka Nurhayati Eliana Eliana Elin B. Somantri Elvania, Dewa Ayu Neli Elvi Destariyani Elyn, Tini Endang Mardiyati Enik Sulistyowati Eny Enawaty Erni Agustin Erni Yuliastuti Erwin Oktoma, Erwin Eva Rianti Indrasari F, Ganjar Nurul FADILA, NUR Fahrunisa, Aina Faizah, Alfia Nur Faizal Kurniawan Farhat, Yasir Faridza, Muhammad Fathonah, Nazmi Fauziah Fauziah Febriana Kurniasari Firdaus Sulaiman, Firdaus Fitri Oktafiani Fitria Jannatul Laili Fitriani Fitriani Fitriani, Yessi Fransiska Sesilia Maranatha fuziarti, eka Gentio Harsono Gulo, Moralman Gultom, Esther Rosida Gunawan R, Riyan Gunawan, Lidya Natalia Habibah, Dhia Fauzia Hajrah Hajrah, Hajrah Halide, Lidemar Hapisah, Hapisah Hapsari, Bela Amalia Hapsari, Bella Amalia HARDIANTO - Hardiyanti, Desi Hayati, Weni Rahmah Hermansyah Hermansyah Hermansyah Hermansyah Hermanto Hermanto Hidayah, Putri Hilda Yunita Sabrie Ica Ichsan Mahjud Idris, Andi Puspa Sari Ihsan, Muhammaad Taufik Iin Maulina Indah Galuh Mulyadi Indah, Vera Finindia Indradewa, Rhian Indriana, Indita Indriati, Try Intan Zainafree, Intan Irfa'i, Muhammad Irma Irma Ismawanti, Zuhria Isminarti, Isminarti Isnaniah, Isnaniah Iwan Ramadhan Jaeng, Maxinus Jafar, Fiqih Abdul Januar, Jodi Jati, Sri Nugroho Johanes Supadi, Johanes Junaidi Junaidi Juntika, Lisa Puda Karim, Abdul Gafar Kartini, Harlen Kaswari Kaswari Kato, Franklin Aditama Khaerunnisa, Nurul Khofifah, Noor Khoirunsyah, Atha Rico Kirana, Rita Kristiana, Efi Kun Aristiati Susiloretni Kurdiansyah, Kurdiansyah Kurmasela, Apriliono Alfa Kurniasari, Erris Setiyo Kusumawardhani, Febry Laili, Rusdi Lailid, Fitria Jannatul Larasati, Meirina Dwi Lela Hartini Lestiarini, Erina lia, Norlia Lidya, Nurul Lintang Permata Sari Yuliadi, Lintang Permata Sari Listyaning Eko Martanti Litha, Arni Luh Putu Ratna Sundari LUKMAN, LUKMAN Lusyiani, Lusyiani Mahdalena Mahdalena Mahpolah Mahpolah, Mahpolah Manik, Nijusiho Maradona, Maradona Marampa, Gresia Eunike Mardani Mardani Mardiani, Wiwin Marlina Marlina Martalena Br Purba, Martalena Br Martina Pineng Marwah, Hana Shafa maslani, noorhayati Maulani, Choirul Megawati - Megawati Megawati Megawati, Eka Meike Rachmawati Meta Maulida Damayanti Mia Kusmiati Miftachul Jannah, Miftachul Mimsyad, Muhammad Mochyadin, Mochammad Faisal Afif Moh. Askiyanto Moh. Khotibul Umam Mohamad Jaelani, Mohamad Mohammad Lutfi Monde, Junety Muh. Wahyu Syabani Muhammad Fatih, Muhammad Muhammad Firdaus MUHAMMAD ILHAM Muhammad Iqbal Muhammad Yamin Muhira Dzar Faraby, Muhira Dzar Mukh. Doyin Mukhlis Mukhlis Mukhlisin Mukhlisin Muslimah, Ikhwatun Musrimah, Musrimah Mustika Mustika N. Nurjanah Nadiyah, Laila Dinda Nafian, Nastaina Awim Namira, Namira Natalia Ariela Hartanti Nguyen, Minh Tuan Niken Pratiwi, Niken Nirwa, Nira na Nirwana, Hafsah Nispi Yulyana Noor Adha Aprilea Noor Pramono Noprianti, Noprianti Novikasari, Linawati Noviska, Della Wilza Novrianti, Silpia Nugraheni, Dewi Nugraheni, Diah Eka Nur Hidayah Nurhayati Nurhayati Nurhidayanti, Nova Nurul F, Ganjar Nurul Huda Octaviansyah, Noval Okiana, Okiana Oktavia, Nadya Oktavianti, Ella Padila, Risa Palinggi, Sandryones Pangerang, Fitriaty Paramartha, Dede Yoga Pardeanto, Gentar Partriani, Desi Patang Patang, Patang Pertiwi, Zahwa Hana Pradana, Silmi Asyan Pradini, Resa Nur Pratama, Syahroni Pratiwi, Anita Prawitra Thalib Prihatanti, Nur Rohmah Prihatiningtyas, Nindy Citroresmi Puspita, Erlin Putri, Putri Andriani Rachmawati Rachmawati Rafidah Rafidah Rafii, Akhmad Rahajeng Win Martani Rahayu, Else Sri Rahma, Sarah Aulia Rahmadani, Siti Rahman, Nanang Rahmat Rasmawan Rasidin rasidin Rastina, Rastina Regina, Loise Regita, Anggi Retno Pangastuti Ria Ambarwati Riandini S, Istanty Riani, Puput Rifa, Muhammad Rizqi Rika Wahyuni Risna Risna, Risna Ristiawati Rita, Desi Risna Rizaldy, Rizaldy Rizky Amalia Rizky Amelia Rizky Sitorus, Victoria Junyta Rizky Suganda Prawiradilaga Rizwan, Al Khairul Rosiana, Heny Roslinawati, Selvia Roslinda, Roslinda Rozanah, Fatharani Rr. Vita Nurlatif Rubiati Hipni, Rubiati Rusmilawaty Rutmauli Hutagaol Ryani Yulian Ryka, Hamriani S. Seling, Miliana Sahara, Ain Sakir, Riesa Krisna Astuti Saleh, Hatta. M. Sani, Syukri Santoso, Shenny Dianathasari Santun Bhekti Rahimah Sanutra, Sabran Saphira, Aprilia Saputra, Chairil Amin Saputra, Muhammad Reza Saputra, Riza Hadi Saputro, Dwi Sari, Eka Fidya Sari, Kadek Yunita Sari, Nuni Puspita Sari, Nurmaya Sari, Yashinta Karina Saryono, Udin Satriawan, Ratu Balqist Priesty Higina Sera, Agnescia Clarissa Sesilia Seli Setiawan, Endri Setiawati Setiawati Setiyani, Sri Setyo Prihatin, Setyo Sholehah, Nur Sijabat, Puja Maharani Sinta Wulandari Siregar, Septi Lastri Siska Nia Irasanti Siti Aisyah Siti Harnina Bintari Siti Kamilah, Siti Siti Nurjanah Siti Zubaidah Sofia, Norlaila Solihat, Suci Sri Mumpuni Yuniarsih Sri Noor Mintarsih SRI RAHAYU Sri Rahayu, Maya Sri Sulistyowati Sripatmi Sripatmi, Sripatmi Subekti, Atika Diah Subuhqi, Arryf Rahmad Sudarman Sudarman Sudarti Sudarti Sugiyono Sugiyono suhrawardi, suhrawardi Sukma Febrianti Sukmawati, Taryati Sulaiman Hamzani Sulasmi Sulasmi Sulbahri Madjir Sulistiowati, Nining Sulistyarini, Sulistyarini Sumariati, Sumariati Sunarto Sunarto Supadi, j. Supian, Sudradjat Supitasari, Evi Suri, Murnia Suroto Suroto Susanti Faipri Selegi, Susanti Faipri Susi Tursilowati Sutrisno, Sutrisno Syabani, Muhammad Rafi Syafrizal Syafrizal Syahrul Azmi Syamsuri Syarwani Ahmad Tafonao, Talizaro Tanjung, Widya Verina Teguh Irawan Tendy Thamrin, Gurti A. R. Theresia Theresia Tia Apriani Titin Herawati Totok Sasongko Tri Tunggal, Tri Trijayanti, Selfy Trisadini Prasastinah Usanti TUNNISYA, KARIMA Ulfah Musdalifah, Ulfah Ulfah, Rasuna Umar, Nuraeni Utami, Alia Tri Utami, Dety Rinja Vegatama, Meita Rezki Vina Agustiana Wahidah, Sri Wahyudi, Restu Walajro, Jumadi Waliah, Siti Warsa, I Ketut Wawan Krismanto Wicaksono, Bayu Rhamadani Wiguna, Lalu Habib Satya Wirawan, Rendy Wulan Rahmatunisa Wulandari, Meggy Wulandari, Yunita Tri Yanti Yanti Yazan, Syaiful Yemima Sitompul, Grace Enita Yorita, Epti Yudi Nurul Ihsan Yuktiana Kharisma Yuliana, Nispi Yulianto Yuliati, Irma Yulis Indriyani Yusawinur Barella Yusnita, Andi Erna Yusnita, Feriyanti Yusron Toto Zahidah Zahidah, Zahidah Zahroh Shaluhiyah Zakiah Zakiah Zallesa, Sheila Zamroni Zamroni Zarin, Firdaus Zar’in, Firdaus Zubaidah , Siti Zubay, Irma Damayanti Zulfiana, Desi Zulmuqim Zulmuqim, Zulmuqim