Articles
PERBAIKAN SISTEM PEMANASAN DENGAN MEMODIFIKASI TUNGKU PEMANAS YANG DILENGKAPI DENGAN CEROBONG ASAP
Kusumayanti, Heny;
Astuti, Widi;
Broto, R.TD Wisnu
METANA Edisi Khusus Februari 2011
Publisher : Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1975.103 KB)
|
DOI: 10.14710/metana.v0i0.1650
Abtract  The empowerment of micro industries, in emping‘s chip micro industry to the member of group which is enterprise Batang speciallized is give suitable solution to consument for giving natural culinary with high nutrition value independently and cheap. The development of micro industries is a circular activity that consist of briefing about the usage of furnace completely by stack gas as pilot plan, assitancy when the producer makes sweet emping’s chip system more delicious and better performance than product’s previous  Key word: micro industries emping’s chip.
PEMBUATAN PUPUK FERMENTASI CAIR BERBASIS LIMBAH VINASSE
Astuti, Widi;
Mahatmanti, Widhi
Rekayasa : Jurnal Penerapan Teknologi dan Pembelajaran Vol 15, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/rekayasa.v15i1.12579
Vinasse waste, which is a by-product of the alcohol industry, has polluted the rice field en- vironment in the Bekonang, Sukoharjo and surrounding villages. This problem arises into the realm of law with the publication of a law on alcohol which prohibits low-level alcohol producers to sell to the public. This regulation increasingly discourages alcoholic craftsmen who are mostly used as raw materials in herbal and medicinal industries. In addition to the narrower marketing, they are also confronted by farmers who are angered by the environmental pollution of vinasse waste that for decades has only been dumped into irrigation flows without treatment. Field observations and preliminary studies on vinasse waste content found no harmful ingredients to the environment ex- cept high acidity (4.5). The rest is the content of organic materials that can be utilized to fertilize the soil. Therefore waste alcohol should be processed with the addition of complementary organic materials to be used as a medium to grow probiotic bacteria that are very good for soil and plants. This activity is intended to provide education on how to process waste vinasse into liquid fermen- tation  fertilizer  that  can  be  utilized  by  local  residents  and  society  in  general. Activity  method that will be done is socialization about potential waste vinasse, making waste processing equip- ment, giving skill to make liquid  fermentation  fertilizer  and applying it to cassava plant land. These  activities  are  expected  to  generate  positive  perception  changes  and  increase  knowl- edge of craftsmen and farmers in addressing vinasse waste issues. In addition, both parties are able to treat the harmful waste into probiotic bacteria and fertilizer products with high qual- ity. With this activity, the source of conflict of Bekonang village community will decrease slow- ly along with the socialization of the results of the activity to the wider community and the as- sistance  of  the  village  government  as  the  administrative  responsibility  of  Bekonang  village
PESTISIDA ORGANIK RAMAH LINGKUNGAN PEMBASMI HAMA TANAMAN SAYUR
Astuti, Widi;
Widyastuti, Catur Rini
Rekayasa : Jurnal Penerapan Teknologi dan Pembelajaran Vol 14, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/rekayasa.v14i2.8970
Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh para petani, terutama petani sayuran adalah serangan hama yang dapat menggagalkan panen. Petani pada umumnya menggunakan pestisida kimia untuk membasmi hama tersebut karena pestisida kimia banyak dijual di pasaran dan sangat efektif dalam membasmi hama. Namun, penggunaan pestisida kimia, apalagi pada jangka waktu yang lama dan terus-menerus sangat berbahaya. Alternatif penggunaan pestisida organik yang jauh lebih ramah lingkungan dan tidak beracun merupakan solusi yang lebih baik untuk menggantikan peran pestisida kimia. Tujuan spesifik kegiatan pengabdian ini adalah memberikan pengetahuan yang memadai kepada petani sayur mengenai bahaya pestisida kimia dan kelebihan pestisida organik serta untuk mengembangkan potensi bahan-bahan alam sebagai bahan baku pembuatan pestisida organik sehingga dapat meningkatkan hasil panen dan nilai ekonomi sayuran. Hasil dari kegiatan pengabdian ini menunjukkan masyarakat sangat antusias untuk menggunakan pestisida organik sebagai pengganti pestisida kimia.
Pembuatan Glukosa dan Sukrosa dari Rumput Laut dengan Metode Hidrolisa Menggunakan Katalis SiO2
Devi, Fatma Putrinta;
Riyadi, Delfimelinda Nurul;
Kurniawansyah, Firman;
Petrus, Himawan TBM;
Astuti, Widi;
Roesyadi, Achmad
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan 2020: Memberdayakan Riset dan Inovasi untuk Teknologi yang Berkelanjutan
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Indonesia berada pada posisi pertama eksportir rumput laut, Namun pada posisi ke-7 dari sisi harga. Karbohidrat pada rumput laut dihidrolisis dengan katalis asam akan menghasilkan sejumlah monosakarida. Dalam hal ini, katalis berperan penting untuk menghasilkan produk. Memproses dengan katalis asam homogen memiliki beberapa kekurangan, salah satunya ialah sulit dalam proses pemisahan antara katalis dan produk akhir. Oleh karena itu dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan bantuan katalis heterogen yaitu silika (SiO2). Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari proses pembuatan sukrosa dan glukosa yang terbentuk dari rumput laut dan mempelajari reaksi proses hidrolisa rumput laut dengan katalis heterogen. Metodologi yang digunakan yaitu hidrolisa untuk pembuatan sukrosa dan glukosa dengan variabel katalis SiO2 komersil sulfonat dan SiO2 geothermal sludge sulfonat. Hasil analisa XRD mendapatkan sudut difraksi pada katalis SiO2 komersil sulfonat bersifat amorf dan katalis SiO2 geothermal sludge (GS) sulfonat bersifat kristal. Glukosa yang dihasilkan pada reaksi hidrolisis katalitik dengan katalis SiO2 komersil sulfonat lebih besar yaitu sebesar 0,0143(b/b) dari variabel katalis yang lain. Dan memiliki kadar sukrosa lebih tinggi sebesar 1,5 %. Sehingga dapat disimpulkan bahwa katalis SiO2 komersil sulfonat merupakan katalis yang menghasilkan glukosa dan kadar sukrosa lebih banyak dibandingkan dengan katalis lainnya.
Fenologi dan Penampilan Tanaman Bit Merah (Beta vulgaris L.) di Dataran Rendah
Astuti, Widi;
Fajriani, Sisca Nur;
Ardiarini, Noer Rahmi
Jurnal Produksi Tanaman Vol 9, No 5 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/1552
Bit merah adalah tanaman umbi-umbian yang memiliki banyak manfaat dalam bidang pangan, kesehatan dan kosmetik. Tanaman bit merah adalah tanaman subtropis, sehingga umumnya budidaya bit merah di Indonesia dilakukan didataran tinggi. Keterbatasan luasan dataran tinggi sebagai tempat budidaya bit merah menjadikan permasalahan dalam upaya memenuhi permintaan tinggi pada bit merah. Pengembangan budidaya bit merah didataran rendah menjadi solusi dalam permasalahan ini. Mengetahui informasi terkait fenologi dan penampilan tanaman bit merah didataran rendah berguna untuk menunjang produktivitas bit merah didataran rendah. Informasi fenologi tanaman adalah dasar yang digunakan pemulia tanaman dalam melakukan perbaikan varietas. Informasi penampilan tanaman berguna untuk membantu memilih varietas dengan stabilitas baik yang digunakan dalam program pemuliaan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fenologi dan penampilan tanaman bit merah didataran rendah. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Agro Techno Park Universitas Brawijaya, pada bulan Januari-Maret 2020. Penelitian menggunakan varietas boro dan varietas vikima yang ditanam di rumah kaca sebanyak 225 tanaman setiap varietas. Pengamatan dilakukan pada keseluruhan individu tanaman di setiap. Pengamatan tediri dari pengamatan agroklimat, karakter kuantitatif dan karakter kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan fenologi pada setiap varietas bit merah berdasarkan pengamatan panjang tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter umbi dan berat umbi. Pengamatan karakter kuantitatif dianalisis menggunakan uji-t yang menunjukkan perbedaan nyata pada karakter panjang tanaman, panjang umbi, diameter umbi dan berat umbi. Hasil pengamatan karakter kualitatif hanya menunjukkan adanya perbedaaan pada karakter warna daun.
Peningkatan Nilai Tambah Daun Kersen (Muntingia Calabura L.) Menjadi Permen Jelly dan Teh Seduh
Damayanti, Astrilia;
Astuti, Widi;
Putri, Radenrara Dewi Artanti
Jurnal Abdimas Vol 23, No 2 (2019): December 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/abdimas.v23i2.15110
Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan teknologi pangan kepada ibu-ibu PKK RT03/RW03, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati, Semarang dengan memanfaatkan daun kersen (Muntingia calabura L.) sebagai permen jelly dan teh seduh. Target luaran yang diharapkan antara lain masyarakat dapat berwirausaha sehingga kesejahteraan keluarga dapat ditingkatkan. Hasil dari program pengabdian masyarakat yang telah dilakukan ini adalah sebagai berikut: aspek penerapan iptek produk pangan dipandang sangat efektif untuk membangun kemandirian masyarakat yang berbasis potensi lokal yakni pemanfaatan daun kersen dan aspek manfaat yang dihasilkan dari program ini sangat besar yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan potensi pohon kersen terutama daunnya untuk dibuat menjadi permen jelly dan teh seduh sebagai bahan minuman herbal, meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat bidang pengolahan daun kersen untuk dibuat permen jelly dan teh seduh serta menumbuhkan motivasi berwirausaha khususnya di RT03/RW03, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati, Semarang.
Upaya Peningkatan Nilai Tambah Susu Sapi Menjadi Yogurt Berbasis Daun Krokot di Mangunsari
Astuti, Widi;
Kusumaningtyas, Ratna Dewi;
Wulansarie, Ria
Jurnal Abdimas Vol 23, No 1 (2019): June 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/abdimas.v23i1.16303
Kelurahan Mangunsari merupakan kawasan dengan peternakan sapi yang cukup banyak sehingga hasil susu sapi cukup melimpah. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dalam pengolahan susu sapi menjadi produk yang bernilai lebih ekonomis dan bergizi yaitu dalam bentuk yoghurt. Di sisi lain, keberadaan tanaman krokot sangat melimpah dimana tanaman ini dianggap sebagai hama yang tumbuh secara liar dan belum dibudidayakan. Daun krokot sebenarnya dapat diolah menjadi bahan pangan bergizi tinggi karena memiliki kandungan vitamin dan mineral yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti radang usus buntu, sembelit, diare akut, keputihan, sakit kuning, dan cacingan. Krokot telah diidentifikasi sebagai s umber yang sangat baik dari asam alfa linolenat. Alpha linolenat merupakan asam lemak omega 3. Kegiatan pengabdian masyarakat ini sebagai upaya untuk memberdayakan masyarakat menjadi mandiri ekonomi dan memiliki jiwa kewirausahaan melalui keterampilan inovatif pembuatan minuman kesehatan yoghurt berbasis daun krokot. Proses ini dilakukan menurut tahapan 1) pemberian pengetahuan kepada masyarakat mengenai potensi ekonomis susu sapi murni dan tanaman krokot, 2) pelatihan ketrampilan pada masyarakat mengenai pengolahan susu sapi murni dan tanaman krokot menjadi minuman kesehatan yoghurt, 3) pembekalan wawasan kewirausahaan terkait produksi yoghurt.
PENINGKATAN KUALITAS GULA AREN TRADISIONAL PRODUKSI DESA JAWISARI KABUPATEN KENDAL
Astuti, Widi;
Sulistyaningsih, Triastuti;
Prastiyanto, Dhidik
Jurnal Puruhita Vol 1 No 1 (2019): February 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/puruhita.v1i1.28647
Desa Jawisari, yang merupakan salah satu desa diantara 16 desa yang berada di wilayah Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal, merupakan sentra penghasil gula aren tradisional. Namun, jumlah pengrajin yang cukup banyak ini ternyata belum mampu membawa gula aren menjadi salah satu komoditas utama Kabupaten Kendal karena sistem pengelolannya yang masih sangat tradisional. Kesalahan dalam proses pemanasan menyebabkan rendahnya kualitas gula aren yang dihasilkan, dimana intensitas warna yang tidak konsisten dan seringkali bahkan terlalu gelap. Selain itu, bentuk gula juga tidak rapi dengan ukuran yang tidak seragam. Oleh karena itu, dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat masyarakat ini akan dilakukan perbaikan proses pemanasan. Namun demikian, kegiatan pengabdian ini tidak hanya fokus pada perbaikan proses pemanasan nira saja, tetapi juga dilengkapi dengan penyuluhan dan pelatihan teknik penyadapan serta penyimpanan nira serta teknik pengemasan dan pemasaran. Kegiatan ini akan dilakukan secara sinergi antara mitra, Universitas Negeri Semarang selaku lembaga akademisi serta Pemerintah Daerah Kabupaten Kendal melalui Dinas Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah. Hal ini mengingat peran Pemerintah Daerah sebagai fasilitator terhadap keberlangsungan program ini sangat diperlukan, terutama untuk pemasaran gula aren. Harapannya, gula aren dapat menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Kendal, jika kualitasnya dapat ditingkatkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini.
PEMBUATAN PUPUK FERMENTASI CAIR BERBASIS LIMBAH VINASSE
Astuti, Widi;
Mahatmanti, Widhi
Rekayasa : Jurnal Penerapan Teknologi dan Pembelajaran Vol 15, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/rekayasa.v15i1.12579
Vinasse waste, which is a by-product of the alcohol industry, has polluted the rice field en- vironment in the Bekonang, Sukoharjo and surrounding villages. This problem arises into the realm of law with the publication of a law on alcohol which prohibits low-level alcohol producers to sell to the public. This regulation increasingly discourages alcoholic craftsmen who are mostly used as raw materials in herbal and medicinal industries. In addition to the narrower marketing, they are also confronted by farmers who are angered by the environmental pollution of vinasse waste that for decades has only been dumped into irrigation flows without treatment. Field observations and preliminary studies on vinasse waste content found no harmful ingredients to the environment ex- cept high acidity (4.5). The rest is the content of organic materials that can be utilized to fertilize the soil. Therefore waste alcohol should be processed with the addition of complementary organic materials to be used as a medium to grow probiotic bacteria that are very good for soil and plants. This activity is intended to provide education on how to process waste vinasse into liquid fermen- tation fertilizer that can be utilized by local residents and society in general. Activity method that will be done is socialization about potential waste vinasse, making waste processing equip- ment, giving skill to make liquid fermentation fertilizer and applying it to cassava plant land. These activities are expected to generate positive perception changes and increase knowl- edge of craftsmen and farmers in addressing vinasse waste issues. In addition, both parties are able to treat the harmful waste into probiotic bacteria and fertilizer products with high qual- ity. With this activity, the source of conflict of Bekonang village community will decrease slow- ly along with the socialization of the results of the activity to the wider community and the as- sistance of the village government as the administrative responsibility of Bekonang village
PESTISIDA ORGANIK RAMAH LINGKUNGAN PEMBASMI HAMA TANAMAN SAYUR
Astuti, Widi;
Widyastuti, Catur Rini
Rekayasa : Jurnal Penerapan Teknologi dan Pembelajaran Vol 14, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/rekayasa.v14i2.8970
Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh para petani, terutama petani sayuran adalah serangan hama yang dapat menggagalkan panen. Petani pada umumnya menggunakan pestisida kimia untuk membasmi hama tersebut karena pestisida kimia banyak dijual di pasaran dan sangat efektif dalam membasmi hama. Namun, penggunaan pestisida kimia, apalagi pada jangka waktu yang lama dan terus-menerus sangat berbahaya. Alternatif penggunaan pestisida organik yang jauh lebih ramah lingkungan dan tidak beracun merupakan solusi yang lebih baik untuk menggantikan peran pestisida kimia. Tujuan spesifik kegiatan pengabdian ini adalah memberikan pengetahuan yang memadai kepada petani sayur mengenai bahaya pestisida kimia dan kelebihan pestisida organik serta untuk mengembangkan potensi bahan-bahan alam sebagai bahan baku pembuatan pestisida organik sehingga dapat meningkatkan hasil panen dan nilai ekonomi sayuran. Hasil dari kegiatan pengabdian ini menunjukkan masyarakat sangat antusias untuk menggunakan pestisida organik sebagai pengganti pestisida kimia.