Perilaku sehat merupakan pilar utama dalam mewujudkan Indonesia Sehat 2030, di mana perilaku tersebut perlu di internalisasi baik secara individu maupun kolektif. Upaya ini didukung oleh berbagai fasilitas kesehatan, dari layanan primer hingga tersier, guna memfasilitasi pencegahan, pengobatan, dan deteksi dini penyakit. Penelitian ini bertujuan mengkaji dan menelaah aspek keyakinan kesehatan dalam membentuk perilaku sehat pada masyarakat Jatinangor, menggunakan lensa Teori Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead. Perspektif ini menyoroti bagaimana makna perilaku sehat dibangun melalui interaksi sosial, bagaimana individu menginterpretasikan peran 'The Generalized Other' (masyarakat) dalam membentuk perilaku sehat kolektif, dan bagaimana proses simbolik (seperti komunikasi dan interpretasi isyarat) memengaruhi keyakinan kesehatan individu. Penelitian kualitatif ini menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan Focus Group Discussion (FGD) untuk mengumpulkan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas informan memiliki keyakinan perilaku sehat yang kuat, tercermin dari persepsi kerentanan terhadap penyakit (perceived susceptibility) yang tinggi dan keyakinan manfaat tindakan pencegahan (perceived benefits) yang kuat. Temuan kunci lainnya adalah peran signifikan komunitas yang saling mendukung, promosi gaya hidup sehat, dan rasa hormat terhadap orang lain dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis, yang semuanya merupakan manifestasi dari proses interaksi simbolik. Kesimpulannya, kepercayaan, pengaturan diri, motivasi, dukungan sosial, dan pola pikir individu yang terbentuk dan diperkuat melalui interaksi simbolik berperan krusial dalam mencapai kesejahteraan fisik dan emosional. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar program kesehatan di Kabupaten Kecamatan Jatinangor lebih difokuskan pada penguatan peran komunitas dan kelompok dukungan sebaya, mengingat pengaruh signifikan dukungan sosial dalam mengkonstruksi makna dan perilaku sehat kolektif.