Articles
Pandangan trait and factor theory terhadap kegagalan dan keberhasilan pemilihan karir
Sectio Putri Larasati;
Daharnis Daharnis;
Ifdil Ifdil
Journal of Counseling, Education and Society Vol. 6 No. 1 (2025): Journal of Counseling, Education and Society
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29210/08jces517000
Karir yang bagus seharusnya dilandasi dengan kompetensi dan kemampuan yang relevan dengan pekerjaan yang dikerjakan. Namun fenomena yang ditemukan di lapangan sering kali individu mendapatkan kesuksesan dalam berkarir dan ada juga yang mengalami kendala dalam perkembangan karirnya yang berdampak pada kegagalan dalam berkarir. Sehingga perlu dianalis mendalam terkait menurut teori karir tentang keberhasilan dan kegagalan individu dalam perkembangan karirnya, salah satunya teori trait and factor. Metode penelitian yang dilakukan adalah studi literature yaitu serangkaian kegiatan dengan pengumpulan data dari berbagai sumber bacaan seperti catatan, buku, makalah, artikel/jurnal, dan hasil kajian ilmiah lainnya yang relevan dengan teori trait and factor. Teknik analisis data yang digunakan yaitu metode analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua aspek yang mempengaruhi kegagalan ataupun keberhasilan individu dalam perkembangarn karirnya menurut hasil analisis teori trait and factor, yaitu aspek tempat bekerja atau lingkungan pekerjaan (seperti tuntutan pekerjaan, rekan kerja, kepemimpinan pimpinan tempat kerja) dan aspek pribadi yang bekerja (motivasi kerja, kualitas kompetensi yang dimiliki sesuai dengan bidang yang digeluti, kemampuan manajemen waktu kerja dan perspektif terhadap pekerjaan). Hasil ini tentunya menjadi perhatian khusus bagi praktisi konseling untuk membekali pemahaman kepada klien agar mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan pekerjaannya dan mengembangkan karir dengan baik.
Keterbukaan Diri Pria yang Telah Menikah
Anggia Wahyu Agustin;
Berru Amalianita;
Ifdil Ifdil
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 3 No. 3 (2018): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23916/08400011
This study describing the self disclosure husband in young married couple. Type of the research is quantitative descriptive. Research subjects are young age couples who totaled 42 men. Instruments used for data collection is a likert model scale. Dana analyzed is using percentage and interval. The results of this reseach is self disclosure husband in the open category.Based on finding of research, hopefully the counselor can provide professional assistance with information services and personal counseling to help young couple to enhancing self dislcosure.
Peran Konselor dalam Meningkatkan Daya Ingat Belajar Siswa
Dini Fitriani;
Ifdil Ifdil
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 3 No. 1 (2018): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23916/08401011
Pendidikan merupakan salah satu upaya mengaktualisasika potensi diri yang dimiliki oleh individu. Baik itu potensi yang mendasar yang ada pada dirinya ataupun potensi-potensi yang ia terima saat ia mengalami proses belajar. Pada saat proses belajar individu menerima rangsangan dari stimulus-stimulus yang ada , dalam proses belajar belum ada faktor yang mendukung dan tidak mendukung berjalannya dengan lancar suatu proses belajar tersebut.Pada kenyataanya siswa tidak mampu dalam menjalankan dan mengembangkan potensi potensi yang ada pada dirinya , terkadang siswa tidak mampu mengimbangi faktor-faktor yang ada , salah satu nya adalah faktor yang sangat berpengaruh terhadap proses belajar sisswa adalah faktor daya ingta siswa tersebut. lemah atau kuatnya ssiswa dalam menginta pelajaran yanga da di tingkat pendidikannya.Bertolak dari permasalahn diatas, maka penulis akan membahas makalah ini dengan judul ‘Peran Koselor dalam Meningkatkan Daya Ingat Belajar Siswa’’ yang bertujuan untuk membantu dan mengarahkan siswa agar mampu meningkatkan dan mengingat pelajaran-pelajaran dengan baik.
Penggunaan Play Therapy dalam Mengurangi Rasa Trauma Anak yang Mengalami Kekerasan Seksual
Lia Mita Syahri;
Ifdil Ifdil
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 4 No. 2 (2019): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23916/08402011
Permasalahan ini dilatarbelakangi oleh banyak terjadi kasus kekerasan seksual yang bukan hanya terjadi kepada orang dewasa, akan tetapi saat sekarang ini kasus kekerasa seksual juga terjadi pada anak-anak yang masih dibawah umur, dimana pelaku kejahatan dari kekerasan seksual tersebut adalah orang dewasa bahkan bisa jadi orang terdekat mereka yang mereka anggap sebagai pelindung bagi mereka. Kekerasa seksual yang mereka dapatkan dilakukan oleh pelaku dari kekerasan seksual dengan cara memberikan iming-iming kepada anak tersebut dengan membelikannya permen atau es cream sehingga anak tersebut mengikuti kemauan dari pelaku kekerasan seksual, pelaku kekeresan seksual pada anak-anak lebih dikenal dengan tindakan atau penyakit yang disebut ‘’Pedofil’’ dimana pelaku pedofilia ini lebih menyukai anak-anak dalam meluapkan hawa nafsu seksual nya ketimbang kepada orang dewasa. Anak-anak yang mengalami kekerasa seksual mereka akan mengalami rasa takut atau trauma yang amat mendalam baik luka atau trauma yang ditinggalkan melalui fisik atau berupa luka pada bagian tubuh mereka yang menjadi obsek kepuasaan seksual atau trauma (luka) pada bagian psikologis mereka berupa rasa takut dan tidak percaya kepada siapapun atau pun rasa yang mereka sendiri sebagai anak-anak tidak mengerti apa yang telah terjadi pada diri mereka, sehingga kejadian yang mereka alami yaitu kekerasan seksual yang mereka dapatkan akan menganggu fikiran mereka, anak-anak akan rentan lebih lama mengingat kejadian tersebut, sehingga dalam hal ini teknik play therapy (Terapi bermain) dalam play therapy kegiatan utama yang dilakukan adalah bermain, maka dari itu diharapkan dalam penggunaan play therapy anak-anak yang mengalami kejadian kekerasan seksual dapat kembali ke dunianya yaitu bermain dan dapat melupakan kejadian kekerasan seksual yang mereka rasakan, anak-anak kembali dalam kegiatannya bermain dan kembali lagi percaya kepada lingkungan mereka yang dapat menjaga mereka dari kejadian yang menyakitkan.
Kemandirian Anak Panti Asuhan
Ervina Rianti;
Ifdil Ifdil
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 3 No. 2 (2018): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23916/08406011
Kemandirian merupakan aspek penting yang harus dimiliki oleh seorang anak, apalagi untuk anak yang tidak lagi tinggal bersama orangtua. Kemandirian secara sederhana artinya tidak terlaliu bergantung kepada orang lain. Dalam beberapa hal tertentu anak memang sebaiknya dilatih untuk hidup mandiri agar ketika dewasa, mereka tidak merasa kesulitan jika harus tinggal jauh dari orang tua, dan sedini mungkin kemandirian itu harus dilatihkan kepada anak, terutama untuk anak yang tidak tinggal dengan orangtua, seperti anak panti asuhan. Panti Asuhan merupakan salah satu lembaga sosial yang sengaja didirikan oleh pemerintah ataupun kalangan swasta dengan tujuan menampung anak – anak terlantar, yang keluarganya tidak ada atau tidak mampu membiayai kehidupannya. Anak – anak yang tinggal di panti asuhan pada umumnya lebih mandiri bila dibandingkan dengan anak – anak yang tinggal dengan orangtua. Hal ini disebabkan salah satunya oleh ketersediaan materi yang dimiliki oleh orangtua dalam pemenuhan kebutuhan anak yang tinggal dengan orangtua, sementara di panti asuhan, anak – anak harus menerima segala keterbatasan baik materi ataupun hal lainnya.
Resiliensi Pada Single Mother Setelah Kematian Pasangan Hidup
Indah Permata Sari;
Ifdil Ifdil;
Frischa Meivilona Yendi
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 4 No. 3 (2019): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23916/08411011
Peristiwa kematian pasangan hidup bisa menjadi hal yang tidak terduga bagi pasangan yang ditinggalkan. Kematian pasangan menjadi pemicu mengalami tekanan kesedihan dan emosional serta harus menerima kenyataan dengan status baru yang dimiliki yakni menjadi seorang single parent. Menjadi single parent menimbulkan banyak permasalahan baru bagi mereka yang menjalaninya, terkait masalah dalam hal ekonomi, sosial, dan urusan rumah tangga yang mana harus dikerjakan sendiri. Selain itu juga seorang single parent khususnya single mother harus mampu menjalani peran ganda sebagai ayah dan juga ibu bagi anak-anaknya. Hal ini menuntut seorang single mother memiliki kemampuan resiliensi untuk menghadapi segala persoalan. Resiliensi merupakan suatu kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam hidup, karena kehidupan yang dijalani senantiasa diwarnai oleh ragam kondisi yang tidak dapat ditolak oleh individu baik kondisi menyenangkan ataupun sebaliknya.
Intimacy Istri dalam Pernikahan
Anggia Wahyu Agustin;
Asmidir Ilyas;
Ifdil Ifdil
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 3 No. 1 (2018): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23916/08417011
Intimacy merupakan suatu hal yang penting dalam pernikahan. Namun, pada kenyataannya intimacy banyak diabaikan oleh pasangan yang telah menikah. Pernikahan yang didasari dengan intimacy akan menciptakan komitmen yang baik dalam pernikahan. Penelitian ini menggunakan subjek penelitian sebanyak 42 orang dengan teknik analisis deskriptif. intimacy merupakan bagian yang mendorong individu untuk lebih akrab, saling menghargai dan percaya serta adanya kedekatan emosional dengan pasangan.
The Role Online Counseling as a Part of Guidance and Counseling Services
Berru Amalianita;
Ifdil Ifdil;
Anggia Wahyu Agustin;
Zikra Zikra
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 2 No. 3 (2017): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23916/08457011
Organizing online counseling is very helpful and possible to be developed in the world of guidance and counseling, especially in Indonesia. Although now specifically in Indonesia, there is no ethic that regulates but the existence of this media can support the implementation of guidance and counseling widely to improve the competence and efficiency of service for alleviating the problems faced by clients. Use and utilize information and communication technology. The availability of formal institutions that will train these skills. And also specifically can be included in a special curriculum with regard to Information and communication Technology in guidance and counseling. And also hopefully in the future there will be the establishment of specialized counseling institutions that deal with specific issues online counseling and e-counseling services in general.
Cyber Aggression pada Siswa
Vinny Maulidya;
ifdil ifdil;
Dina Sukma;
Frischa Meivilona Yendi;
Annisaislami Khairati
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 10 No. 2 (2025): SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23916/086300011
Cyber aggression merupakan perilaku agresif secara online yang bertujuan menyakiti seseorang secara psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku cyber aggression pada siswa berdasarkan faktor penyebabnya. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan metode deskriptif dengan melibatkan 125 orang siswa SMP dengan sampel yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen yag digunakan adalah cyber aggression typology questionnaire (CATQ) dengan nilai realibilitas cronbach alpha sebesar 0,941. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku cyber aggression pada siswa secara keseluruhan berada pada kategori rendah. Cyber aggression berdasarkan faktor (1) Rage (Kemarahan) berada pada kategori sedang, (2) Reward (Penghargaan) berada pada kategori sedang, (3) Recreation (Kesenangan) berada pada kategori sangat rendah dan (4) Revenge (Pembalasan) berada pada kategori sangat rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cyber aggression siswa secara umum berada pada kategori rendah, dengan aspek rage dan reward tergolong sedang. Beradasarkan hasil penelitian ini layanan yang dapat diberikan oleh guru BK untuk mencegah perilaku cyber aggression yaitu dengan memberikan layanan konseling individual, bimbingan kelompok dan konseling kelompok.
Konsep Nomophobia pada Remaja Generasi Z
Indah Permata Sari;
Ifdil Ifdil;
Frischa Meivilona Yendi
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 5 No. 1 (2020): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29210/3003414000
Perkembangan teknologi menghasilkan perangkat teknologi baru yang dapat memfasilitasi aktivitas manusia atau lebih di kenal mobile phone. Dengan kelebihan dari mobile phone atau smartphone membuat penggunanya menjadi cemas atau takut apabila tidak dapat mengakses ponselnya tersebut atau dikenal dengan istilah nomophobia. Nomophobia cenderung terjadi pada remaja generasi Z dikarenakan mereka hidup di era digital dengan perkembangan teknologi yang berkembang pesat. Teknologi sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya, sehingga mereka terlalu asyik dengan perangkat ponsel atau smartphonenya.