Articles
Penyidikan Terhadap Tindak Pidana Memberikan Keterangan Palsu di Bawah Sumpah di Depan Persidangan Pengadilan
Edi Suranta Sinulingga;
Madiasa Ablisar;
Mahmud Mulyadi;
Marlina Marlina
Locus Journal of Academic Literature Review Volume 2 Issue 1- January 2023
Publisher : LOCUS MEDIA PUBLISHING
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56128/ljoalr.v2i1.124
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis tentang penyidikan tindak pidana pemberian keterangan palsu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 242 KUHP; Penyidikan tindak pidana pemberian keterangan palsu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 242 KUHP menurut Penetapan Pengadilan Negeri Nomor 405/Pid.B/2021/PN.Stb. Oleh sebab penyidik Polri bertugas melakukan penyidikan terhadap tindak pidana memberikan keterangan palsu di muka sidang sebagaimana diatur dan diancam dengan sanksi pidana menurut Pasal 242 KUHP. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang bersifat deskriptif analisis. Data berupa putusan pengadilan diperoleh dari Bareskrim Polres Langkat dengan menggunakan penelitian lapangan dengan menggunakan wawancara dengan penyidik Polres Langkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, ada 2 (dua) jenis penyidik tindak pidana yang memberikan keterangan palsu di hadapan pejabat, yaitu: pada saat membuat laporan polisi (Pasal 220 KUHP); dan selama persidangan kasus pidana (Pasal 242 KUHP). Kedua, penyidikan terhadap tindak pidana pemberian keterangan tidak benar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 242 KUHP menurut Penetapan PTM No. 405/Pid.B/2021/PN.Stb, hakim tidak memerintahkan Penuntut Umum menahan saksi “SBS” yang diduga memberikan kesaksian palsu di depan persidangan.
Eksistensi Kewenangan Jaksa dalam Menentukan Unsur Kerugian Keuangan Negara Sebagai Pembuktian pada Perkara Tindak Pidana Korupsi
Edy Suranta Tarigan;
Madiasa Ablisar;
Sunarmi Sunarmi;
Mahmud Mulyadi
Locus Journal of Academic Literature Review Volume 2 Issue 2 - February 2023
Publisher : LOCUS MEDIA PUBLISHING
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56128/ljoalr.v2i2.136
Tujuan penelitian untuk menganalisis dan menjelaskan tentang unsur kerugian keuangan negara perlu dibuktikan dalam perkara tindak pidana korupsi; badan yang berwenang dalam menentukan penghitungan kerugian keuangan negara dalam perkara tindak pidana korupsi; dan eksistensi kewenangan jaksa dalam menentukan unsur kerugian negara sebagai pembuktian pada perkara tindak pidana korupsi berdasarkan Putusan No. 17/Pid.Sus.TPK/2016/PN-Mdn. Jenis penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif. Hasil penelitian disimpulkan bahwa unsur kerugian keuangan Negara dibuktikan karena dalam tindak pidana korupsi sesuai dengan delik materil dalam putusan MK No. 25/PUU/XIV/2016, sesuai unsur dari delik materil ini akibat yang ditimbulkan dari tindak pidana korupsi menjadi dasar membuktikan seseorang melakukan tindak pidana korupsi Dan tidak lepasnya asas kaulitas yaitu sebab dan akibat kerugian negara ini harus dibuktikan, Lembaga yang berwenang menghitung kerugian keuangan negara berdasarkan ketentuan konstitusi yang berlaku berdasarkan UUD 1945 ialah Badan Pemeriksa Keuangan, sedangkan menurut Sema No. 4 tahun 2016 adalah BPK dapat berkordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan (BPKP), Kejaksaan, Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP), Hasil perhitungan dalam putusan ini berdasarkan penyidikan yang dilakukan oleh Jaksa, tanpa menghadirkan saksi ahli, dan Jaksa dan mengkaitkannya dengan SEMA No. 4 tahun 2016, dan Jaksa melakukan penghitungan ini sesuai dengan kewenangan nya yang terdapat dalam Undang-Undang No.16 tahun 2004.
Penghentian Penuntutan Tindak Pidana Penganiayaan Berdasarkan Pendekatan Keadilan Restoratif
Soritua Agung Tampubolon;
Ediwarman Ediwarman;
Marlina Marlina;
Mahmud Mulyadi
Locus Journal of Academic Literature Review Volume 2 Issue 3 - March 2023
Publisher : LOCUS MEDIA PUBLISHING
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56128/ljoalr.v2i3.137
Tujuan penelitian untuk menganalisis dan mengetahui tentang sistem hukum terhadap penanganan tindak pidana penganiayaan melalui keadilan restoratif, mekanisme penegakan hukum oleh kejaksaan dalam penghentian penuntutan melalui Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan Kejaksaan Negeri Poso Nomor: B-912/P.2.13/Eoh.2/11/2021, dan kebijakan kriminal sebagai landasan pemahaman kebijakan restorative justice di Kejaksaan. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan undang-undang dan pendekatan kasus. Hasil penelitian disimpulkan bahwa sistem hukum terhadap penanganan tindak pidana penganiayaan melalui keadilan restoratif terdiri dari Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan. Mekanisme penghentian penuntutan dalam Surat Ketetapan Nomor: B-912/P.2.13/Eoh.2/11/2021 dimulai dari upaya perdamaian, proses perdamaian, dan pelaksanaan perdamaian. Kebijakan kriminal sebagai landasan pemahaman kebijakan restorative justice di Kejaksaan dibagi dalam tiga bagian yang pertama, arti sempit ialah asas kebijaksanaan menuntut serta asas dominus litis yang menjadi dasar kebijakan restorative justice, arti luas yaitu fungsi penegak hukum ketika kemanfaatan dan kepastian hukum dilandasi dengan hati Nurani maka keadilan akan terwujud secara paripurna, arti paling luas ialah keseluruhan kebijakan atau peraturan untuk mewujudkan keadilan restoratif.
Dasar Pertimbangan Hakim Pada Upaya Peninjauan Kembali dalam Kasus Gratifikasi
Almunawar Sembiring;
Madiasa Ablisar;
Mahmud Mulyadi;
Edi Yunara
Locus Journal of Academic Literature Review Volume 2 Issue 3 - March 2023
Publisher : LOCUS MEDIA PUBLISHING
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56128/ljoalr.v2i3.138
Tujuan penelitian untuk menganalisis dan mengetahui tentang pengaturan tentang Upaya Peninjauan Kembali pada Hukum Acara Pidana dan analisis putusan Peninjauan Kembali dalam Putusan Pengadilan Nomor 156 PK/Pid.Sus/2019, Nomor 237 PK/Pid.Sus/2020, dan Nomor 318 PK/ Pid.Sus/2018. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Hasil penelitian disimpulkan bahwa Peninjauan Kembali di atur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana No 8 tahun 1981, dan juga ada diatur di diluar daripada Kitab Undang-Undang Hukum acara Pidana, yakni juga telah diatur di dalam Undang-Undang No 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman dan juga terdapat di dalam Undang-Undang No 3 Tahun 2009 Tentang Mahkamah Agung. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 34/PUU-XI/2013 atas uji materil terhadap pasal 368 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, yang menyebutkan bahwa Upaya Peninjauan kembali hanya boleh dilakukan satu kali tidak memiliki kekuatan mengikat, dan yang terbaru tentang Peninjauan Kembali, Mahkamah Agung Mengeluarkan Surat Edaran No 7 tahun 2014. Berbeda dengan 2 (dua) keputusan Peninjauan Kembali sebelumnya bahwa Putusan Nomor 318PK/ Pid.Sus/2018 sebagai satu-satunya Putusan Peninjauan Kembali yang berjalan secara normal dalam penelitian ini, serta juga dasar dan alasan permohonan peninjauan kembali di kabulkan telah bersesuaian dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Pokok Kekuasan Kehakiman tentang Upaya Hukum Peninjauan Kembali.
Penegakan Hukum Cybercrime di Wilayah Hukum Kepolisian Daerah Sumatera Utara
Ruth Gladys Sembiring;
Madiasa Ablisar;
Mahmud Mulyadi;
Jelly Leviza
Locus Journal of Academic Literature Review Volume 2 Issue 3 - March 2023
Publisher : LOCUS MEDIA PUBLISHING
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56128/ljoalr.v2i3.145
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dan mengetahui tentang undang-undang No. 19 tahun 2016 tentang perubahan atas undang-undang No. 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik telah secara akomodatif atau belum mengatur perbuatan-perbuatan pidana yang dikategorikan sebagai cybercrime; bentuk-bentuk cybercrime yang sering terjadi diwilayah polda sumatera utara; dan penegakan hukum cybercrime oleh pihak kepolisian diwilayah polda sumatera utara. Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif dan didukung dengan penambahan data atau unsur empiris. Hasil penelitian ini dapat diketahui yaitu undang-undang No.19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik tentang perubahan atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang cukup relatif akomodatif secara normatif dalam menjawab kebutuhan masyarakat dalam melakukan kegiatan di dunia cyber. Bentuk-Bentuk tindak cybercrime yang sering terjadi diwilayah Polda Sumatera utara ialah pencemaran nama baik, judi online serta konten asusila. Penegakan hukum oleh pihak kepolisian awalnya menerima laporan atau aduan terkait masalah tindak cyber selanjutnya melakukan penyidikan dalam menetapan status terlapor sebagai tersangka dalam penegakan hukum tindak cybercrime yang dilakukan setelah adanya bukti-bukti yang jelas serta dapat dihubungkan secara langsung dengan terlapor atau penindakan langsung.
Penerapan Ketentuan Pasal 108 Juncto Pasal 69 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Studi Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Balige Nomor 194/Pid.B/LH/2021/PN Blg Lingkungan Hidup)
Gilbeth Abiet Nego Sitindaon;
Alvi Syahrin;
Edi Yunara;
Mahmud Mulyadi
Jurnal Pencerah Bangsa Vol 3, No 1 (2023): Juli - Desember
Publisher : Jurnal Pencerah Bangsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tindak pidana pembakaran lahan diakomodir dalam beberapa peraturan perundang-undangan. Penjatuhan sanksi pidana terhadap pelaku pembakaran lahan dalam Putusan Hakim Pengadilan Negeri Balige Nomor 194/Pid.B/LH/2021/PN Blg tidak optimal karena menjatuhkan sanksi di bawah pidana yang minimal. Majelis Hakim dalam mengadili perkara tindak pidana pembakaran lahan dinilai telah merusak nilai-nilai yang terkandung dalam kepastian hukum. Adanya landasan dan pedoman bagi hakim dalam mengambil putusan dengan pidana minimum. Penelitian ini merupakan jenis penelitian hukum normatif dan didukung oleh data primer berupa wawancara dengan Hakim Pengadilan Negeri Balige. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis yang menganalisis. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Penerapan hukum pidana terhadap pelaku tindak pidana pembakaran lahan dapat dikatakan Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Balige Nomor 194/Pid.B/LH/2021/PN.Blg tidak memenuhi rasa keadilan . Putusan majelis hakim dalam perkara ini dan tuntutan yang diajukan jaksa bahkan kurang dari 1/3 sanksi pidana yang diatur dalam UU Kehutanan, UU Lingkungan Hidup dan UU Perkebunan
PERBEDAAN PUTUSAN PRAPID P.N. TARUTUNG NO. 6/PID.PRA/2020 DAN PUTUSAN PRAPID P.N. MEDAN NO. 5/PID.PRA/2021
Jenda Riahta Silaban;
Madiasa Ablisar;
Sunarmi Sunarmi;
Mahmud Mulyadi
Law Jurnal Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Dharmawangsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46576/lj.v3i2.3103
ABSTRACTDecision of the Constitutional Court of the Republic of Indonesia No. 21/PUU-XII/2014,date. 28/04/2015, expanded the prepid object regarding "the validity of the determinationof the suspect". One of the cases regarding testing the validity of the suspectdetermination in this study was between the Pre-Trial Decision at the Tarutung DistrictCourt No. 6/Pid.Pre/2020, date. 31/08/2020 which is different from the Medan DistrictCourt No. 5/Pid.Pre/2021, date. 16/02/2021 An. Petitioner "P.S.H". The problems are:Factors that influence the disparity in the pretrial decision on the determination of differentcorruption suspects in the Prapid P.N.Trt Decision. No. 6/Pid.Pra/2020 with the Decisionof Prapid P.N.Mdn. No. 5/Pid.Pre/2021; and Analysis of legal considerations for thedisparity of the pretrial decision. This research is normative legal research, which isdescriptive analysis in nature. The Investigating Prosecutor at the North SumatraProsecutor's Office has done this and corrected the entire series of investigations andinvestigations, so the determination of the suspect he has determined is appropriate anddeclared valid by the pretrial judge at the Medan District Court. In the context of theinvestigation conducted by the Attorney General's Office Investigator HumbangHasundutan, it was actually only an error in the administration of investigations andinvestigations. The administrative error, by setting the suspect first, instead of findingsufficient evidence as ordered by law. Determination of suspects should be carried outbased on Article 183 jo. Article 184 paragraph (1) of the Criminal Procedure Code jo.Article 422 Regulation of the Attorney General of the Republic of Indonesia No. PERJA-039/A/JA/10/2010 concerning Administrative and Technical Management of Cases ofSpecial Crimes.Keywords: Pretrial; The validity of the determination of the suspect; District Court.
PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP JUDI ONLINE DI POLDA SUMATERA UTARA KAITANNYA DENGAN KEABSAHAN PEMBUKTIAN BUKTI ELEKTRONIK
Taryono Raharja;
Madiasa Ablisar;
Mahmud Mulyadi;
Sunarmi Sunarmi
Law Jurnal Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Dharmawangsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46576/lj.v3i2.3100
ABSTRACTSoccer betting and poker are electronic crimes, but in the process of snaring offenses they often stilluse the provisions of Article 303 paragraph (1) of the Criminal Code, instead of referring to theprovisions of Law No. 11 of 2008 concerning Information and Electronic Transactions. The policyposition of Law no. 11 of 2008 is a special position according to the principle of "lex specialis derogatlex generalis". The gap in Article 63 paragraph (1) of the Criminal Code which still regulates theprovisions of special criminal rules is seen to overlap with the position of Article 27 of the ITE Lawwhich carries a penalty of six years in prison. So it is considered important to discuss the rules ofposition in the online gambling investigation procedure at the North Sumatra Regional Police. Thisresearch will examine and analyze 1) How is criminal law enforcement against online gamblingcrimes at the North Sumatra Regional Police; and 2) The validity of electronic evidence in provingonline gambling crime cases. The results of the research formulate where law enforcement againstonline gambling crimes prioritizes due process of law indicators; and regarding the validity ofelectronic evidence as digital evidence in uncovering criminal cases of online gambling, it must fullymeet the evidentiary requirements, so that it can be used at the investigative level.Keywords: Law enforcement; online gambling; North Sumatra Police
PERSIDANGAN PERKARA PIDANA ONLINE DALAM KAITANNYA DENGAN HUKUM PEMBUKTIAN DI PENGADILAN NEGERI POSO
Jimmy Donovan;
Madiasa Ablisar;
Sunarmi Sunarmi;
Mahmud Mulyadi
Law Jurnal Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Dharmawangsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46576/lj.v3i2.3102
ABSTRACTThe concept of proof in online criminal trials in early research is often echoed thatevidence tends to be a formality, even though detention is carried out. So that tends to bein online crime, the defendant/legal adviser cannot verify and identify the evidencesubmitted by the public prosecutor. While the evidence determines the truth whether thedefendant committed a crime or not. To find out the concept of implementing onlinecriminal justice during the Covid-19 period, as well as how to get around the obstacles andsolutions carried out by the Poso District Court regarding the concept of proof during theCovid 19 pandemic, it is necessary to conduct research. The results of the study foundthat in the context of proof it is necessary to maintain the system evidence in the contextof fulfillment of the nature of material truth. In order to get around the obstacles within thescope of the Poso District Court where the obstacles to fulfilling the principle of trials thatare open to the public as well as technical obstacles within the scope of HumanResources in the legal structure system, it is necessary to complete the fulfillment ofelements in Technology and Information Personnel. To maximize the costs incurred thefulfillment strategy will be borne by the defendant.Keywords: Trial; Criminal Cases; Online; Poso District Court.
Prosecutor's Intelligence Functions in Preventing Corruption: Strategic Development Security Technical Guideline Perspective
Andri Dharma;
Madiasa Ablisar;
Mahmud Mulyadi;
Mirza Nasution
Dialogia Iuridica Vol. 14 No. 2 (2023): Vol. 14 No. 2 (2023): Dialogia Iuridica Journal Vol. 14 No. 2 Year 2023
Publisher : Faculty of Law, Maranatha Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.28932/di.v14i2.5557
Corruption crimes are cracked down not only by repressive efforts but also by preventive efforts. The Indonesian Public Prosecutor's Office has several stages of preventive efforts to carry out its intelligence functions. Indonesia's Attorney General's Office has introduced a new program called Security for Strategic Development - Regional Investment in implementing intelligence functions. The issue is what the legal status of the Technical Guidelines on Security for Strategic Development and Regional Investments of the Indonesian Public Prosecutor's Office in Anti-Corruption will be in terms of legal certainty. This study is a prescriptive legal study, descriptive analysis. A legal approach is used as the data is subject to various laws and regulations. Data collection through library and field research surveys accompanied by documentary study and interviews. Based on the qualitative analysis, the results show that the Strategic Development of the Indonesian Public Prosecutor's Office for Prevention of Corruption Crimes and Technical Guidelines for Security of Local Investments regulation was made by Law No.16 of 2004 concerning the Attorney General's Office of the Republic of Indonesia, Law No.17 of 2011 concerning State Intelligence, as well as the Regulation of the Attorney General No.PER-006/A/JA/07/2017 concerning the Organization and Work Procedure of the Indonesian Prosecutor's Office does not include the authority to prevent corruption based on the 2004 Attorney General's Law. B-484/D/Dpp/03/2020, dated March 12, 2020, by adapting it to Law No.11 of 2021 concerning the Indonesian Attorney General's Office, to provide legal certainty to prevent corruption.