Articles
GAMBARAN PERSIAPAN PERSALINAN PADA IBU HAMIL DI DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2020GAMBARAN PERSIAPAN PERSALINAN PADA IBU HAMIL DI DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2020
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 12 No. 1 (2021): Februari 2021
Publisher : STIKes Respati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.48186/bidkes.v12i1.374
Angka Kematian Ibu (AKI) saat ini masih jauh dari target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs) yakni 70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030. Meskipun telah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah, AKI belum turun secara signifikan. Pelayanan antenatal merupakan pilar kedua di dalam Safe Motherhood yang merupakan sarana agar ibu lebih siap menghadapi persalinan. Persiapan persalinan hendaknya disiapkan sedini mungkin terutama di fokuskan pada trimester III karena pada minggu-minggu terakhir kehamilan, waktu akan terasa begitu sedikit bahkan kadang-kadang tidak dapat dipastikan kapan persalinan akan terjadi. Persiapan persalinan bermanfaat agar ibu dan keluarga menjadi lebih siap dalam menghadapi proses persalinan, mencegah masalah potensial sedini mungkin, proses persalinan berjalan lancar, ibu mendapat asuhan yang sesuai dan tepat waktu serta yang terpenting adalah menurunkan angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui gambaran persiapan persalinan pada ibu hamil di Desa Cikunir Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2020. Metode penelitian ini adalah deskriptif yaitu menggambarkan persiapan persalinan ibu hamil di Desa Cikuni. Jumlah populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah 32 ibu hamil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dari 32 responden sebagian besar menyiapkan persiapan dana sebanyak 19 orang atau 59,4%, persiapan peralatan bayi sebanyak 11 orang atau 34,4%, persiapan kendaraan dan persiapan pendonor sebanyak 1 orang atau 3,1%. Sebagian besar sudah melakukan pemeriksaan golongan darah yaitu sebanyak 29 orang atau 90,6% akan tetapi belum melakukan pemeriksaan sebanyak 3 orang atau 9,4%. Sebagian besar berencana melakukan persalinan di bidan yaitu sebanyak 30 orang atau 93,82%. Kesimpulan : Sebagian besar ibu hami hanya melakulan persiapan dana akan tetapi tidak menyiapkan persiapan lainnya, bahkan terdapat 3 orang ibu hamil yang belum mengetahui golongan darah serta sebagian besar berencana melakukan persalinan di bidan. Saran: diharapkan ibu hamil dapat meningkakan pengetahuan tentang persiapan persalinan sehingga dapat membantu ibu hamil dan keluarga dalam meningkatkan persalinan yang aman.
HUBUNGAN PENERAPAN PIJAT PERINEUM UNTUK MENGURANGI RUPTUR PERINEUM SAAT PERSALINAN DI KLINIK PRATAMA RATNA KOMALA TAHUN 2018
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 11 No. 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : STIKes Respati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.48186/bidkes.v11i2.375
Pendahuluan: ketegangan pada otot otot dasar panggul yang berperan dalam proses persalinan sering mengakibatkan terjadinya robekan perineum, terutama pada persalinan primigravida . ini dikarenakan pada primigravida jalan lahir belum dilalui oleh kepala janin. Untuk mengurangi robekan perineum terutama derajat 2 dan derajat 3 terdapat suatu metode yang sangat sederhana dan singkat yaitu metode pijat perineum. Ketegangan otot perineum dan mental ibu hamil dapat dikurangisaat perawatan prenatal yaitu dengan kegiatan pijat perineum yang teratur selama kehamilan sampai saat melahirkan. Tujuan : Untuk mengetahui hubungan penerapan pijat perineum untuk mengurangi ruptur perineum saat persalinan dengan ibu bersalin yang ikut kelas penerapan pijat perineum. Metode : Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni – Juli 2018. Dimana dilakukan pengambilan data ibu bersalin dan melakukan observasi juga penyebaran kuesioner. Dengan menggunakan tehnik Purpose Sampling. Dimana responden berjumlah 33 responden. Hasil : ini menunjukan terdapat hubungan yang bermakna antara penerapan pijat perineum untuk mengurangi ruptur perineum saat persalinan di klinik pratama ratna komala ( p Value sama dengan 0,002). Kesimpulan: Pijat perineum efektif untuk mengurangi ruptur perineum
GAMBARAN FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT RUMAH TANGGA DI DESA SUKAMENAK KECAMATAN SUKARAME KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2019
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 12 No. 1 (2021): Februari 2021
Publisher : STIKes Respati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.48186/bidkes.v12i1.394
Rumah tangga yang PHBS adalah rumah tangga yang melakukan 10 indikator. Indikator tersebut adalah persalinan di tolong oleh tenaga kesehatan, member ASI ekslusif, menimbang balita setiap bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik di rumah seminggu sekali, makan buah dan sayur setiap hari, melakukan aktifitas fisik atau olahraga, dan tidak merokok di dalam rumah. Tujuan penelitian ini Gambaran faktor yang berhubungan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat rumah tangga di Desa Sukamenak Kecamatan Sukarame Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2019. Manfaat penelitiaan ini dapat memberikan kontribursi dalam pengembangan ke ilmuan khususnya mata kuliah promosi kesehatan yaitu tentang penerapan PHBS dalam rumah tangga Penelitian ini menggunakan metode deskriptif untuk memberikan Gambaran faktor yang berhubungan dengan perilaku hidup bersih dan sehat rumah tangga di Desa Sukamenak Kecamatan Sukarame Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2019. Populasi dalam penelitian ini adalah Kepala Keluarga yang memiliki balita usia 12-24 bulan di Desa Sukamenak Periode bulan Maret tahun 2019 yaitu sebanyak 172 orang. Teknik pengambilan sampel di penelitian ini menggunakan total sampling . Hasil penelitian didapatkan bahwa gambaran faktor yang berhubungan dengan PHBS rumah tangga mayoritas responden masuk dalam kategori tidak ber PHBS RT. Sedangkan faktor yang berhubungan dengan PHBS RT adalah mayoritas pengetahuan kategori baik, akses ke pelayanan kesehatan mayoritas terjangkau, dukungan petugas kesehatan mayoritas mendukung serta hanya sebagian responden yang mendapatan dukungan dari tokoh masyarakat. Saran untuk meningkatkan PHBS rumah tangga, masyarakat perlu meningkatkan pengetahuan serta memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada agar terbentuk perilaku PHBS RT.
GAMBARAN PENATALAKSANAAN IMD DI TEMPAT PRAKTIK BIDAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS SINGAPARNA TAHUN 2018
;
Eka Purwaningsih
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 12 No. 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : STIKes Respati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.48186/bidkes.v12i2.399
Inisiasi menyusu Dini (IMD) merupakan intervensi sederhana yang mampu meningkatkan neonatal outcome secara signifikan yaitu mengurangi risiko kematian neonatal, sangat membantu dalam keberlangsungan pemberian ASI eksklusif dan periode lama menyusui. IMD dipengaruhi oleh sikap, pengetahuan dan motivasi bidan/dokter penolong persalinan, didukung oleh suami, keluarga, dan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan pelaksanaan IMD pada ibu bersalin di bidan praktik Wilayah Kerja Puskesmas Singaparna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin pada bulan Februari sampai Maret 2017 di Praktik Bidan Wilayah Kerja Puskesmas Singaparna. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling sehingga didapatkan sejumlah 28 sampel. Hasil penelitian menunjukkan 46,4% berhasil dilaksanakan IMD dan sebanyak 53,6% tidak berhasil dilaksanakan IMD dengan alasan ibu bersalin mengalami kelelahan. Diharapkan tenaga kesehatan dan keluarga dapat mendukung terlaksananya kegiatan IMD untuk meminimalisir terjadinya risiko kematian pada neonatal.
GAMBARAN PARTISIPASI KB PADA IBU YANG MEMILIKI BALITA STUNTING DI DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA TAHUN 2019
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 12 No. 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : STIKes Respati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.48186/bidkes.v12i2.400
Data prevalensi stunting yang dikumpulkan World Health Organization (dalam Kemenkes, 2018), memperlihatkan Indonesia ke dalam negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di wilayah Asia Tenggara dengan rata-rata prevalensi stunting (2005-2017) sebesar 36,4%. Salah satu program yang dilaksanakan dalam upaya pencegahan balita stunting dengan mengikuti program KB, dimana ibu dapat membuat perencanaan pengaturan jarak kehamilan melalui penggunaan alat kontrasespsi. Peran BKKBN dalam penurunan stunting adalah dengan Program Pengendalian jarak dan jumlah kelahiran dengan KB Pasca Persalinan/Post Partum. Sehinga kotrasepsi menjadi pilihan, dengan kontrasepsi kemudian jaraknya bisa lebih dari 36 bulan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran partisipasi KB ibu yang memiliki balita stunting Di Desa Cikunir Kecamatan Singaparna tahun 2019. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode deskristif. Populasi dalam penelitian ini adalah Ibu yang memiliki balita stunting di Desa Cikunir yaitu 49 orang. Tehnik pengambilan sampling dalam penelitian ini adalah total sampling. Variabel dalam penelitian ini adalah partisipasi KB dan jenis KB yang digunakan. Instrumen yang digunakan adalah format isian yang tehnik pengambilan data penelitiannya dilakukan secara langsung terhadap responden. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat yang dihitung persentasenya kemudian disajikan dalam bentuk persentase dan naratif. Hasil penelitian ini adalah penelitian ini adalah jumlah ibu yang memiliki balita stunting di Desa Cikunir Kecamatan Singaparna tidak mengikuti program KB yaitu 13 orang (26,5%). Peneliti menyarankan kepada ibu untuk meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya mengatur jarak kelahiran dengan mengikuti program KB sesuai dengan tujuan dan jenis alat kontrasepsi yang digunakan.
LITERATURE REVIEW FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI HORMONAL
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 12 No. 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : STIKes Respati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.48186/bidkes.v12i2.401
Program KB adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak yang diinginkan, untuk mencapai hal tersebut dibuatlah beberapa cara untuk mencegah ataupun menunda kehamilan, walaupun dalam pelaksanaannya pelayanan KB yang berkualitas belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah nusantara.Karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi pasangan usia subur dalam memilih alat kontrasepsi seperti kurangnya sarana yang dibutuhkan, pendidikan, sosial ekonomi, budaya, agama, status wanita dan dukungan suami. Hal ini dikarenakan setiap metode atau alat kontrasepsi yang dipilih memilikiefektifitas yang berbeda-beda (Sulistyawati, 2012). Penelitian ini merupakan literature review dari hasil penelitian di beberapa daerah di Indonesia terkait dengan faktor faktor yang berhubungan dengan pemilihan alat kontrasepsi hormonal. Sumber pencarian jurnal melalui google scholar dalam kurun waktu 2017 - 2019, dan hasil penelitian yang terpilih meliputi 3 penelitian dari 3 jurnal yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa faktor yang berhubungan dengan pemilihan alat kontrasepsi hormonal adalah umur, paritas, pendidikan, pengetahuan, dukungan suami dan peran petugas Saran bagi pasangan usia subur adalah diharapkan kepada pasangan usia subur untuk mencari informasi tentang alat kontrasepsi yang akan digunakan sehingga sesuai dengan kondisi kesehatannya. Sedangkan saran bagi petugas kesehatan adalah dalam upaya peningkatan pengetahuan PUS, petugas perlu membuat perencanaan kegiatan edukasi kesehatan secara berkesinambungan
HUBUNGAN USIA, PARITAS, DAN PENDIDIKAN DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TRIMESTER III TENTANG ALAT KONTRASEPSI IUD DAN IMPLAN PASCA PERSALINAN DI PUSKESMAS CILACAP SELATAN 1 TAHUN 2019
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 12 No. 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : STIKes Respati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.48186/bidkes.v12i2.403
Metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) merupakan suatu metode kontrasepsi efektif karena dapat memberikan perlindungan dari risiko kehamilan untuk jangka waktu hingga 10 (sepuluh) tahun. Metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP), dinilai paling cost effective dengan tingkat keberhasilan mencapai 99%. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan salah satu alat kontrasepsi MKJP yang sangat diprioritaskan pemakainnya oleh BKKBN. Pelayanan KB pasca persalinan merupakan strategi yang penting dari kesehatan masyarakat dengan keuntungan yang signifikan terhadap ibu dan bayinya. Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling yaitu sebanyak 53 responden ibu Hamil Trimester III yang datangke Puskesmas Cilacap Selatan 1 tahun 2019. Hasil analisis bivariat menunjukkan hubungan umur dengan tingkat pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi IUD dan Implan pasca persalinan dengan nilai p=0,694, hubungan antara paritas dengan tingkat pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi IUD dan Implan pasca persalinan dengan nilai p= 0,842, dan hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi IUD dan Implan pasca persalinan. Kesimpulan : Tidak ada hubungan umur, paritas, dan tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi IUD dan Implan pasca persalinan. Disarankan kepada bidan di Puskesmas agar meningkatkan kualitas pelayanan melalui kegiatan penyuluhan tentang prencanaan Keluarga Berencana dan konseling tentang kontrasepsi pasca persalinan
PERBEDAAN PENGETAHUAN IBU HAMILSEBELUM DAN SESUDAH KONSELING TENTANG PENTINGNYA NUTRISI IBU HAMIL DI KECAMATAN CISAYONG TAHUN 2017
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 12 No. 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : STIKes Respati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.48186/bidkes.v12i2.404
Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal Mortality Rate (MMR) menggambarkan besarnya resiko kematian ibu pada fase kehamilan, persalinan dan masa nifas atau pengelolaannya tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan atau terjatuh di setiap 100.000 kelahiran hidup dalam satu wilayah pada kurun waktu tertentu. Angka Kematian Ibu (AKI) nasional Indonesia tahun 2015 mencapai angka 305/100.000 kelahiran hidup (Dinkes RI, 2017). Gizi merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap kualitas seseorang termasuk ibu hamil. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen sebelum dan sesudah satu kelompok. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil di Kecamatan Cisayong Tahun 2017 .Sampel penelitian ini adalah sebagaian ibu hamil di Kecamatan Cisayong dengan teknik pengambilan sampling secara simple random sampling berjumlah 20 ibu hamil. Karakteristik responden pada 20 ibu hamil yaitu berdasarkan pekerjaan IRT memiliki proporsi paling banyak (75,0%) dibandingkan responden pedagang (25,0%).sedangkan berdasarkan umur menunjukkan bahwa responden yang berumur 16-20 tahun memiliki proporsi tertinggi (50,0), sedangkan responden yang berumur 21-25 tahun dan 26-20 tahun memiliki proporsi terendah (25,0). Hasil analisis bivariate menunjukkan ada perbedaan pengetahuan ibu hamil tentang nutrisi ibu hamil sebelum dan sesudah konseling.
GAMBARAN FAKTOR PERILAKU PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN DI DESA CIWARAK KECAMATAN JATIWARAS TAHUN 2018
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 12 No. 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : STIKes Respati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.48186/bidkes.v12i2.406
Salah satu upaya pemerintah dalam rangka mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu adalah dengan mendekatkan pelayanan kebidanan kepada setiap Ibu yang membutuhkan. Untuk itu sejak tahun 1990 telah ditempatkan bidan di desa dengan polindesnya. Dengan penempatan bidan di desa ini diharapkan peranan dukun makin berkurang sejalan dengan makin tingginya pendidikan dan pengetahuan masyarakat dan tersedianya fasilitas kesehatan, namun pada kenyataannya masih banyak persalinan yang tidak ditolong oleh bidan melainkan oleh dukun. Jenis penelitian yang digunakan adalah penilitian deskriptif , populasi dalam penelitian ini adalah wanita usia subur yang berada di Desa Ciwarak 91 orang . Tehnik pengambilan sampel penelitian adalah total sampling. Tehnik analisis data menggunakan analisis univariat yang hasilnya disajikan dalam bentuk distribusi frekwensi serta dinaratifkan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah faktor karakteristik yang mempengaruhi pemilihan penolong persalinan adalah tingkat pendidikan SMP, sosial ekonomi dibawah UMR. Faktor lain yang berpengaruh adalah kepercayaan terhadap dukun paraji, jarak yang jauh ke pelayanan kesehatan, dukungan keluarga serta informasi yang didapatkan responden serta masih terdapat responden yang memilih dukun paraji sebagai penolong persalinan Saran bagi petugas kesehatan untuk merancang kegiatan edukasi kesehatan tentang pentingnya bersalin di failitas kesehatan dan ditolong oleh tenaga kesehatan yang difokuskan bukan hanya pada sasaran tetapi pada keluarga dan tokoh agama serta tokoh masyarakat setempat
GAMBARAN PARITAS PADA IBU YANG MEMILIKI BALITA STUNTING DI DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2019
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 12 No. 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : STIKes Respati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.48186/bidkes.v12i2.407
Kejadian balita pendek atau biasa disebut dengan stunting merupakan masalah gizi utama yang dihadapi Indonesia saat ini, data RISKESDAS menunjukkan bahwa prevalensi balita stunting pada 2018 mencapai 30,8 persen. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami masalah kesehatan masyarakat yang berat dalam kasus balita stunting, wilayah kerja Puskesmas Singaparna termasuk kedalam zona merah stunting. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran paritas dari ibu yang memiliki balita stunting di Desa Cikunir Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2019. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif untuk menggambarkan paritas pada ibu yang memiliki balita dengan stunting. Populasi adalah semua semua ibu yang memiliki balita dengan stunting sebanyak 139 orang, dengan total sampling. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Maret s.d April 2019, bertempat di Desa Cikunir Kecamatan Singaparna Kab Tasikmalaya Tahun 2019. Prosedur pengambilan data dilakukan dengan data primer yaitu diperoleh dengan survey langsung kepada responden ibu yang memiliki balita stunting dan dianalisis dengan distribusi frekuensi dalam bentuk table. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 139 orang ibu yang memiliki balita dengan stunting adalah dengan paritas primipara (jumlah anak 1) sebanyak 35 orang (25%) , paritas multipara (jumlah anak 1-4) sebanyak 86 orang (62%) dan paritas grande mulitapara (lebih dari 4) sebanyak 18 orang (13%). Simpulan dari penelitian ini adalah kejadian balita stunting tidak terlepas dari status paritas ibu dimana semakin banyak ibu memiliki anak semakin besar peluang terjadinya kejadian stunting pada anak yang dapat diakibatkan oleh faktor pola pemberian makan, ataupun pola asuh dikeluarga, sehingga diharapkan para bidan dapat membantu ibu dalam upaya membatasi jumlah anak yaitu dengan penggunaan alat kontrasepsi.