Introduction: Cervical Root Syndrome merupakan skondisi abnormal yang diakibatkan oleh peradangan atau kompensasi akar saraf cervical, yang dapat terjadi karena trauma. Arthritis, atau penekanan discus intervertebralis di daerah leher. Indikasi penderita mengalami CRS mengakibatkan keluhan dari CRS yaitu terdapat otot spasme, nyeri menjalar hingga lengan serta kesemutan, rasa kebas ditangan dan keterbatasan lingkup gerak sendi yang mengakibatkan penurunan aktivitas fungsional pasien.Case Presentation: Penelitian ini menggunakan metode case report (studi kasus) yang dilaksanakan di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang pada bulan September 2024. Responden penelitian ini pada pasien Ny. U usai 46 tahun dengan diagnosa Cervical Root Syndrome. Pasien merupakan pegawai kasir. Pasien datang dengan keluhan nyeri belakang leher hingga ke jari-jari tangan kanan, rasa seperti tertusuk-tusuk dan jari tangan terasa lemah saat menggenggam atau mengambil barang. Nyeri dirasakan sejak 3 bulan yang lalu. Pasien telah periksa ke RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang pada bulan Agustus 2024 dan dilakukan rontgen didapatkan adanya penjepitan syaraf pada cervical C5-C7.Management and Outcome: Manajemen fisioterapi yang diberikan dalam penangan CRS yang bertujuan untuk meredakan nyeri, ketegangan otot, meningkatkan range of motion serta aktivitas fungsional, berupa modalitas intervensi yang bertujuan untuk meredakan beberapa keluhan yang dirasakan pasien CRS seperti Ultrasound, stretching, mobilisasi saraf, latihan isometrik. Alat ukur yang digunakan berupa NRS untuk mengevaluasi derajat nyeri, MMT untuk evaluasi kekuatan otot, serta NDI untuk evaluasi kemampuan fungsional.Discussion: Program fisioterapi yang dberikan pada kasus Cervical Root Syndrome (CRS) bertujuan untuk meredakani nyeri, meningkatkan range of motion, mengurangi ketegangan otot, dan meningkatkan aktivitas fungsional sehari-hari. Intervensi yang diberikan berupa US, mobilisasi saraf, latihan isometrik, dan stretching. Conclusion: Penatalaksanaan program fisioterapi yang diberikan sebanyak 3 kali yang mendapat pengobatan berupa ultra sound, stretching, mobilisasi saraf, latihan isometrik dapat mengurangi nyeri serta meningkatkan kemampuan fungsional.