Penelitian ini merupakan studi kepustakaan sistematis mengenai difusi Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan dengan menggunakan kerangka Diffusion of Innovation Theory (DoI). Hasil kajian menunjukkan bahwa AI memiliki Keunggulan Relatif yang tinggi, terutama dalam meningkatkan efisiensi kerja guru dan menyediakan pembelajaran yang dipersonalisasi bagi siswa. Namun, proses adopsi AI terhambat oleh tingginya tingkat Kompleksitas dan rendahnya Kompatibilitas dalam sistem pendidikan. Hambatan utama muncul dari kurangnya kesiapan sumber daya manusia (SDM), terutama literasi digital dan kepercayaan diri guru dalam memanfaatkan teknologi AI. Kondisi ini diperburuk oleh minimnya dukungan institusi seperti fasilitas pelatihan berkelanjutan, kesiapan infrastruktur digital, serta resistensi antar rekan kerja. Adopsi yang lambat mencerminkan kegagalan sistem dalam menyediakan saluran komunikasi yang efektif untuk mengurangi persepsi kesulitan penggunaan AI meskipun manfaatnya mudah diamati. Penelitian ini merekomendasikan tiga arah kebijakan utama: (1) mitigasi kompleksitas melalui pelatihan hibrida yang terstruktur dan berkelanjutan, (2) peningkatan kompatibilitas institusional melalui pembangunan ekosistem kolaboratif seperti forum berbagi praktik baik, serta (3) penguatan regulasi etika dan inklusivitas untuk pemerataan akses teknologi, menjamin integritas akademik, dan mengatasi kesenjangan digital.