Articles
Dampak Penggunaan Gadget terhadap Tumbuh Kembang Anak Usia Balita: Literatur Review
Nursing Information Journal Vol. 4 No. 1 (2024): Nursing Information Journal
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIKES Banyuwangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54832/nij.v4i1.837
Pendahuluah: Era globalisasi menbuat gadget menjadi salah satu jenis teknologi yang cukup familiar penggunaannya tidak hanya pada orang dewasa namun juga pada anak usia balita. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 95,8 persen anak di bawah usia dua tahun mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang melambat akibat menghabiskan waktu berlebihan bermain gadget. Tujuan dari literature review ini adalah untuk mengetahui dampak penggunaan gadget terhadap tumbuh kembang anak usia balita. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah studi literature review. Kriteria artikel yang digunakan dalam studi literature review ini diantaranya artikel dengan tema pengaruh penggunaan gadget terhadap tumbuh kembang anak usia balita, rentang waktu terbit 5 tahun terakhir, original research, dan full text. Strategi pencarian artikel dilakukan melalui database Proquest, research gate, dan willey online library dengan menggunakan kata kunci effect and gadget and toddler and growing development atau dampak dan gadget dan balita and tumbuh kembang. Hasil: Hasil review melibatkan 9 artikel yang melewati proses seleksi ketat. Hasil review menunjukkan bahwa penggunaan gadget pada anak usia balita memiliki dampak positif dan negatif terhadap tumbuh kembang anak usia balita, dibuktikan dengan adanya 1 artikel yang menyatakan bahwa gadget juga memiliki dampak positif terhadap tumbuh kembang yaitu memudahkan dalam mengumpulkan kosa kata baru baik dalam bahasa indonesia maupun dalam bahasa asing, sedangkan 8 artikel menyatakan bahwa gadget ketika sudah menyebabkan kecanduan pada balita akan berdampak negatif terhadap tumbuh kembang berupa gangguan pada perkembangan bahasa, perkembangan sosial emosional, perkembangan motorik, dan perkembangan kognitif. Kesimpulan: Orang tua diharapkan dapat mengambil sikap bijak dalam memanfaatkan perkembangan teknologi terutama keputusan mengenalkan gadget pada anak. Jika memang terpaksa Orang tua atau pengasuh memberikan gadget pada anak usia balita maka harus memperhatikan durasi penggunaan serta konten yang diberikan sesuai dengan usia anak dan bersifat edukatif.
MEMPERKUAT MUTU PROFESI GURU MELALUI ORGANISASI PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA (PGRI)
;
Christin Nur Aini;
Lailatul Mukarromah
SIRAJUDDIN : Jurnal Penelitian dan Kajian Pendidikan Islam Vol 2 No 1 (2022): Sirajuddin Desember 2022
Publisher : P3M STAI MIFTAHUL ULUM LUMAJANG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55120/sirajuddin.v2i1.945
Tantangan guru pada saat ini adalah perkembangan zaman. Sehingga guru perlumengembangkan mutu sesuai dengan perkembangan zaman. Mutu profesi seorang gurusangatlah penting dalam dunia Pendidikan. Karena dengan adanya guru yang mumpuni danberkualitas siswa bisa mengembangkan diri secara optimal. Sehingga peningkatan mutu profesiguru dianggap sangat penting. Apalagi dengan adanya tugas utama seorang guru adalahmendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih dan mengevaluasi peserta didik.Mutuseorang guru sangat berkaitan dengan profesionalisme guru. Guru harus bisa menjadi fasilitatoragar peserta didik mampu berpikir kreatif dan kritis. Selain itu, guru juga harus bisa menjadikatalisator untuk mendorong peserta didik mencapai minat dan kemampuan yang dimiliki.Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka (LibraryResearch), yaitu mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan penelitian yang berasal daribuku, jurnal, dan literatul lain yang layak untuk dijadikan sumber penelitian. Sehingga dengan adanya artikel ini bertujuan untuk menjadikan organisasi PGRI sebagai cara untuk memperkuatmutu profesi guru di Indonesia.
Development of Children's Moral Intelligence According to al-Ghozali
Izza, Yogi Prana;
Azmi, Ahmad Rifqi;
Fauzi, Mohammed Suhaimi Mohamed
Al-Hayat: Journal of Islamic Education Vol 8 No 2 (2024): Al-Hayat: Journal of Islamic Education
Publisher : Al-Hayat Al-Istiqomah Foundation collab with Letiges
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35723/ajie.v8i2.555
This research aims to explain the moral development of children according to al-Ghozali. Al-Ghozali as a Muslim philosopher has his views. This research is vital because child delinquency that is currently occurring, such as committing abuse and murder, can be categorized as a criminal act. One of the causes of delinquency is the weak distinction between goodness (al-khair) and evil (al-syar) as a fundamental moral principle. This research uses a qualitative approach with the type of library research. The data consists of the writings of al-Ghozali as the figure studied, books that study al-Ghozali's moral thinking, and scientific journals that discuss moral intelligence. The collected data was then analyzed using the content analysis method. The research results explain that motivation for intelligent morals is based on the spirit of religion, namely happiness in this world and the hereafter, and the measure of good and evil is not only the mind and heart but also the Shari'a. All children have the potential to be morally intelligent with the determining factors being education and family, not genetics. There are four virtues (fadhilah) which are the main aspects in developing children's intelligence through the concept of a "middle way" between excessive badness (al-ifrath) and negligence (tafrith), namely: al-hikmah (hikmah), as-syaja'ah (courage), al-iffah (self-preservation), and al-adl (justice). This research is limited to the moral aspects of child development. This research strengthens the concept of moral intelligence in children, which al-Ghazali has discussed, and provides differences in the idea put forward by al-Ghozali and Western thinkers.
Ibnu Khaldun's Constructivism in Islamic Religious Education: Case Study at the FAI Masters at Singaperbangsa University Karawang
Ferianto, Ferianto;
Makbul, M;
Firmansyah, Firmansyah
Al-Hayat: Journal of Islamic Education Vol 8 No 2 (2024): Al-Hayat: Journal of Islamic Education
Publisher : Letiges
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35723/ajie.v8i2.557
Ibn Khaldun's works, such as al-Muqaddimah, contain elements that can be linked to the principles of constructivism. In Islamic education, constructivism can be interpreted as an approach that values students' active role in constructing their knowledge. This research aims to analyze Ibn Khaldun's constructivist thinking in the context of Islamic religious education. This research uses a qualitative approach with a case study type, focusing on a particular case to be observed and analyzed carefully until complete. The data source this time was carried out at Singaperbangsa University Karawang in the Islamic Education Masters study program. Data collection using interviews, observation and documentation techniques. The data analysis technique follows the Miles and Huberman analysis flow, including data reduction, data presentation, and drawing conclusions or verification. The research results show that according to Ibnu Khaldun, constructivism in education can be carried out through social relationships in building (constructing) students' understanding. By providing freedom in determining lecture contracts, determining groups in building an understanding of the material to be presented, and determining references or referents based on case studies for problem-solving, educators provide space and time for discussion. So that students can reflect on their experiences and build an understanding of the world in which they live. This research is limited to the thoughts of figures from an Islamic education perspective. The findings of this research are relevant to Ibn Khaldun's constructivist thinking, which states that building a person's understanding can be done through social interaction with the environment and people around him.
Pengembangan Buku Pedoman Praktek Kerja Lapangan (PKL) Untuk Mahasiswa
Jurnal Pembelajaran Inovatif Vol. 2 No. 1 (2019): Jurnal Pembelajaran Inovatif
Publisher : Universitas Negeri Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21009/JPI.021.01
The development research is aimed to result a print media of guidebook practice of fieldwork for student in Majoring of Educational Technology. This guidebook can be used to facilitate the student who will implement fieldwork. In developing the guidebook, developers use the model product development presented by Rowntree through three rounds of the main planning; preparation of writing; writing and editing. Evaluation on research development it uses approach formative evaluation modified, consisting of experts review (expert matter and media experts) and field test. The evaluation involving one matter, one media experts and 22 users. Based on process and procedures in developing guidebooks, as well as the trial that has been carried out can be expressed that the guidebook has good quality and can be used to facilitate student Majoring of Educational Technology State University of Jakarta in terms of the fulfillment of information on fieldwork practice.
KEPEMIMPINAN KIAI PESANTREN DALAM MENYIKAPI PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT DALAM PERSPEKTIF PARA TOKOH
Al'Adalah Vol. 14 No. 1 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kiai dalam ranah kepemimpinan khususnya di kalangan pesantren merupakan aktor utama. Dengan posisinya itu, kiai memungkinkan tampil dalam beraneka peran: perintis pesantren, pengasuh, dan yang menentukan mekanisme belajar dan kurikulum serta mewarnai pesantren dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan keahlian dan kecenderungan yang dimilikinya. Karena itu, karakteristik pesantren dalam banyak hal dapat deperhatikan melalui profil kiainya. Kiai ahli Fikih akan mempengaruhi pesantrennya dengan kajian Fikih, kiai ahli ilmu ”alat” juga mengupayakan santri dipesantrennya untuk mendalami ilmu ”alat”, begitu pula dengan keahlian lainnya juga mempengaruhi idealisme fokus kajian di pesantren yang diasuhnya. Tulisan ini berusaha mengeksplorasi peran-peran kiai khususnya dalam menyikapi perubahan sosial masyarakat.
SELAYANG PANDANGK FIQIH SIYASAH: PERGESERAN KONSEP KHILAFAH DINASTI UMAYYAH DAN 'ABBASIYAH
Al'Adalah Vol. 7 No. 1 (2004)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Dalam diskursus fiqih siyasah (fikih politik), sistem pemerintahan Islam itu berbeda dengan sistem perpolitikan yang lain. Sistem pemerintahan islam itu tidak berbentuk monarchi, republik, federasi, ataupun kekaisaran. Sistem pemerintahan Islam adalah suatu sistem pemerintahan khas islam yang disebut dengan khilafah, yaitu suatu kepemimpinan umum dalam masalah-masalah agama dan dunia yang merupakan manifes dari al-Daulah al-Islamiyah. Sistem ini berhasil dieksperimentasikan dan diaktualisasikan dengan cukup baik pada masa khulafaur rasyidin. Pasca khulafaur rasyidin, sistem kekahlifahan masih dipakai oleh penerusnya yakni Bani Umayyah dan bani Abbasiyah. Namun, sistem yang dipakai sudah banyak mengalami perubahan. Karena pada kedua dinasti terakhir tersebut, sistem kekhalifahan hanya berfungsi sebagai alat legitimasi kekuasaan yang sesungguhnya bukan bersifat kekhalifahan lagi, melainkan sudah berubah menjadi sistem monarchi, karena sistem pemerintahan tidak dikelola secara demokratis melainkan diwariskan secara turun temurun.
IJTIHAD DAN FUNGSINYA DALAM SISTEM HUKUM ISLAM
Al'Adalah Vol. 7 No. 1 (2004)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Berbicara mengenai hukum Islam tidak dapat lepas dari perubahan, walaupun singkat mengenai ijtihad. Ijtihad berasal dari kata jaha, yajhdu, jahd yang berarti upaya, usaha. Dalam ilmu ushul fiqh, ijtihad didefinisikan sebagai mencurahkan segala daya upaya untuk sampai pada (merumuskan) hukum syari'i dari dalil yang spesifik yang diambil dari dalil-dalil syari'i. Perlu disadari bahwa nash dari wahyu sangat terbatas sementara itu persoalan dan permasalahan yang timbul akan selalu berkembang. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah harus membiarkan hukum Islam secara ketat, sehingga membiarkan perkembangan dan perubahan sosial tanpa perlu ada upaya hukumnya? Disinilah kemudian memunculkan perlunya reinterpretasi terhadap nash wahyu, ijtihad kembali dan semacamnya. Dengan demikian Islam menghendaki adanya hukum Islam yang mampu memberi solusi dan jawaban terhadap perubahan sosial yang pada gilirannya mengharuskan adanya sebuah ijtihad di masa modern ini. Dengan kata lain bahwa hukum Islam pada hakekatnya untuk menciptakan kemaslahatan umat manusia, yang harus selalu sesuai dengan tuntutan perubahan sehingga selalu diperlukan ijtihad dan ijtihad baru.
PENDEKATAN FEMINIS: SEBUAH PARADIGMA BAKU DALAM KAJIAN FIQH BERKEADILAN GENDER
Al'Adalah Vol. 5 No. 2 (2002)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Dengan pengamatan sepiptas saja, tanpa harus melalui penelitian yang seksama, setiap pengamat masalah- masalah perempuan dan keperempuanan dapat melihat, bahwa perempuan sepanjang sejarah peradaban manusia hanya memainkan peran sosial ekonomi, apalagi politik riil sekali posisinya kalau dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini dimungkinkan karena adanya tatanan bangunan yang timpang, yaitu tatanan bangunan yang timpang, yaitu tatanan nilai dimana pria ditempatkan sebagai pihak superior (kuat) diharapkan perempuan yang inperior (lemah). Berabad-ahad tatanan ini cukup mapan dan dianggap sebagai suatu yang alamiah bahkan oleh kaum perempuan sendiri.
KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN: REFLEKSI SEBUAH KETIMPANGAN KEKUASAAN
Al'Adalah Vol. 5 No. 2 (2002)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kekerasan terhadap perempuan tidak hanya terjadi dalam suatu masyarakat saja, di berbagai negara di dunia persoalan ini menjadi problema yang sangat serius. Kekerasan terhadap perempuan merupakan indikasi rendahnya status perempuan dalam masyarakat. Menurut Nursyahbani Katjasungkana (1995) masalah kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dipandang lagi sebagai masalah antar individu, tetapi merupakan problema sosial yang berkaitan dengan segala bentuk penyiksaan, kekerasan, kekejaman dan pengabaian terhadap martabat manusia. Kekerasan terhadap perempuan merupakan refleksi dari kekuasaan laki-laki, atau perwujudan kerentanan perempuan dihadapan laki-laki, bahkan gambaran dari ketidakadilan terhadap perempuan. Dalam pandangan para feminis, kekerasan terhadap perempuan membuktikan adanya struktur kekuasaan yang terlalu menguntungkan laki-laki.