Articles
Pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Iklim Kerja Organisasi pada PT. PLN Cabang Solok
Emilia, Suci;
Syamsir, Syamsir
Jurnal Demokrasi Vol 10, No 2 (2011): Jurnal Ilmiah Politik Kenegaraan
Publisher : Pusat Kajian Civics Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (112.263 KB)
This study aimed at identifying the effect of leadership style toward working climate in PT. PLN (Public Corporate of Electricity) at Solok District. Quantitative approach has been used in this study. Data was collected from 40 respondents of PT. PLN staffs and managers through questionnaires. The data was analyzed through quantitative analysis by using SPSS version 12. The finding of this research indicated that there was a positive effect of leadership style toward working climate at the level of 51%. It means that 49% of the working climate was affected by variables other than leadership style, such as work motivation, work environment, work ethics, and so on.Kata Kunci: Gaya kepemimpinan, iklim kerja, manajer, karyawan,
Studi Kualitas Air Sungai Karang Mumus Ditinjau dari Parameter Escherichia coli Untuk Keperluan Higiene Sanitasi
Daramusseng, Andi;
Syamsir, Syamsir
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 20, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/jkli.20.1.1-6
Latar belakang : Degradasi kualitas perairan dapat terjadi akibat adanya zat pencemar yang mempengaruhi dan mengubah kondisi lingkungan perairan seperti Escherichia coli (E. coli). Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis kualitas air sungai Karang Mumus ditinjau dari parameter E. coli untuk Keperluan higiene sanitasi.Metode: Metode dalam penelitian ini adalah observasi dan pemeriksaan laboratorium. Pengambilan sampel air dilakukan di sungai utama sebanyak tujuh titik. Penentuan titik pengambilan sampel air ini berdasarkan potensi sumber pencemar mulai dari hulu sampai ke hilir dengan kriteria terdapat daerah padat penduduk, peternakan, mall, hotel dan pasar. Teknik analisis yang digunakan yaitu dengan membandingkan hasil uji laboratorium dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum. Hasil: Hasil pengukuran Bakteri E. coli Sungai Karang Mumus, Kota Samarinda menunjukan bahwa kandungan bakteri E. coli terendah <30 CFU/100 mL dan yang tertinggi 2100 CFU/100 mLSimpulan:  Semua hasil pengukuran bakteri E. coli di Sungai Karang Mumus sudah melebihi baku mutu yang ditetapkan yaitu  0 CFU/100 mL sampel. Langkah untuk meminimalkan kontaminan bakteri ke sungai perlu diambil sehingga penggunaan air Sungai Karang Mumus tidak membahayakan kesehatan masyarakat setempat. ABSTRACTTitle: Study on the Quality of the Karang Mumus River Water in terms of Escherichia coli Parameters For the Purpose of Hygiene SanitationBackground: Water quality degradation can occur due to the presence of pollutants that affect and change the condition of the aquatic environment such as Escherechia coli (E. coli). The purpose of this study was to analysis of Karang Mumus River Water quality in terms of Escherichia coli parameters for the purpose of hygiene sanitation. Method: The method in this research is observation and laboratory examination. Water sampling was taken in the main river for seven points. The determination of this water sampling point is based on potential sources of pollutants from upstream to downstream where there are densely populated areas, farms, malls, hotels, and markets. The analysis technique used is by comparing the results of laboratory tests with the Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 32 the year 2017 concerning the Standards of Environmental Health Quality Standards and Water Health Requirements for Sanitary Hygiene, Swimming Pools, Solus Per Aqua, and Public Baths. Result: The measurement results of E. coli Bacteria in Karang Mumus River, Samarinda City showed that the lowest E.Coli bacteria content was <30 CFU / 100 mL and the highest was 2100 CFU / 100 mL. Conclusion: All measurement results of E. coli bacteria in the Karang Mumus River have exceeded the established quality standard of 0 CFU / 100 mL sample. Steps to minimize bacterial contaminants to the river need to be taken so that the use of Karang Mumus river water does not endanger the health of the local community.
Autokorelasi Spasial Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda
Syamsir, Syamsir;
Daramusseng, Andi;
Rudiman, Rudiman
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 19, No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/jkli.19.2.119-126
Latar belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Indonesia menjadi salah satu negara yang setiap tahunnya ditemukan kasus DBD. Program pengendalian DBD masih kurang maksimal karena puskesmas belum mampu memetakan wilayah rentan DBD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sebaran DBD di Kecamatan Samarinda Utara dengan menggunakan autokorelasi spasial.Metode: Penelitian ini dilaksanakan di kelurahan yang berada pada wilayah kerja Puskesmas Lempake, Kecamatan Samarinda Utara. Sampel penelitian dipilih berdasarkan metode cluster sampling. Berdasarkan kriteria jumlah kasus tertinggi maka kelurahan di Kecamatan Samarinda Utara yang representatif untuk dijadikan cluster pada penelitian ini yaitu kelurahan yang berada pada wilayah kerja Puskesmas Lempake. Analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu Spatial Autocorrelation Analysis dengan menggunakan metode Moran’s I. Spatial Autocorrelation Analysis digunakan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antar titik dan arah hubungannya (postif atau negatif).Hasil: Nilai Z-score atau Z hitung = 3,651181 dengan nilai kritis (Z α/2) sebesar 2,58. Ini menunjukkan bahwa Z-score > Z α/2 (3,6511 > 2,58) sehingga Ho ditolak. Terdapat autokorelasi spasial pada sebaran kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Lempake. Sebaran kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Lempake termasuk kategori clustered atau berkelompok pada lokasi tertentu. Moran’s Index (I) = 0,124420 artinya I > 0. Ini menunjukkan bahwa pola sebaran DBD di wilayah kerja Puskesmaas Lempake merupakan autokorelasi positif.    Simpulan: Pola sebaran kasus DBD di Kecamatan Samarinda Utara yaitu clustered. Autokorelasi spasial yang dihasilkan yaitu autokorelasi positif.  ABSTRACTTitle: Spatial Autocorrelation of Dengue Hemorrhagic Fever  in North Samarinda district, Samarinda CityBackground: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is still a public health problem. Indonesia is one of the countries where DHF cases are found every year. The DHF control program is still less than optimal because the public health center has not been able to map the DHF vulnerable areas. This study aims to determine the pattern of DHF distribution in the District of North Samarinda by using spatial autocorrelation.Method: This research was conducted in a village located in the working area of the Lempake Health Center, Samarinda Utara district. The research sample was chosen based on the cluster sampling method. Based on the criteria for the highest number of cases, the representative village to be clustered in this study are the village within the working area of the Lempake Health Center. The analysis used in this study is spatial autocorrelation nalysis using the Moran’s I. Spatial autocorrelation Analysis method is used to determine whether there is a relationship between the point and direction of the relationship (positive or negative).Result: Z-score or Z count = 3.651181 with a critical value (Z α / 2) of 2.58. This shows that Z-score> Z α / 2 (3.6511> 2.58) so that Ho is rejected. There is a spatial autocorrelation in the distribution of dengue cases in the working area of the Lempake Health Center. The distribution of dengue cases in the working area of Lempake Health Center is classified as clustered or grouped in certain locations. Moran’s Index (I) = 0.124420 means I> 0. This shows that the pattern of DHF distribution in the work area of Lempake Health Center is a positive autocorrelation.Conclusion: The pattern of distribution of dengue cases in the District of North Samarinda is clustered. The resulting spatial autocorrelation is positive autocorrelation.Â
Public Service Motivation and Socio Demographic Antecedents among Civil Service in Indonesia
Syamsir, Syamsir
BISNIS & BIROKRASI: Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi Vol. 21, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Public Service Motivation (PSM) is still a nascent theory that need to be proved with any contexts of many countries around the world, especially developing countries that might have different contexts related to cultures, beliefs, views on the importance of financial rewards, etc. This study aims to identify the PSM level and socio-demographic antecedents, especially age, gender, marital status, education, income, and political ideology, among civil servants in Indonesia. Using mean and chi- square tests on responses by 398 respondents of civil servants in Padang, West Sumatra, this study tested the PSM levels and socio-demographic antecedents affecting the PSM level among the civil servants. The findings of this study indicated that the PSM level of the civil servants tends to be at a low level compared to that of civil servants in developed countries. In addition, there is significant correlation between some of socio demographic antecedents and the level of PSM. The results of this study imply that PSM theory is not cross-culturally viable.
PENERAPAN GREEN CITY BERBASIS GANG HIDROPONIK DI KELURAHAN SELILI, KOTA SAMARINDA
Syamsir, Syamsir
Jurnal Abdimas Vol 24, No 2 (2020): September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Salah satu permasalahan yang dihadapi kota berkembang seperti Kota Samarinda yaitu bertambah padatnya penduduk dan perumahan setiap tahunnya. Permasalahan tersebut menimbulkan dampak berupa berkurangnya ruang terbuka hijau di sekitar pemukiman. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah solusi kreatif dan inovatif untuk menangani permasalahan tersebut. Hidroponik bisa menjadi solusi, sebuah teknologi bercocok tanam praktis yang dapat dilakukan di pekarangan rumah yang terbatas. Teknik bercocok tanam dengan hidroponik menjadi sangat cocok untuk dikembangkan di Gang Ketapang, Kelurahan Selili, Kota Samarinda. Salah satu alasannya adalah teknik hidroponik tidak membutuhkan lahan yang luas dan dapat digunakan untuk menanam sayur. Tujuan program pengabdian masyarakat ini yaitu memberikan pemahaman dan motivasi kepada warga Gang Ketapang untuk mewujudkan green city melalui pelatihan Hidroponik. Strategi kegiatan pengabdian ini yaitu pelatihan teknik bercocok tanam dengan sistem hidroponik dan pendampingan dalam mewujudkan gang hijau bernuansa hidroponik. Hasil dari kegiatan pengabdian ini yaitu meningkatnya pengetahuan dan motivasi warga Gang Ketapang, Kelurahan Selili terkait penerapan gang hidroponik untuk mewujudkan green city.
PENERAPAN GREEN CITY BERBASIS GANG HIDROPONIK DI KELURAHAN SELILI, KOTA SAMARINDA
Syamsir, Syamsir
Jurnal Abdimas Vol 24, No 2 (2020): September 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/abdimas.v24i2.17747
Salah satu permasalahan yang dihadapi kota berkembang seperti Kota Samarinda yaitu bertambah padatnya penduduk dan perumahan setiap tahunnya. Permasalahan tersebut menimbulkan dampak berupa berkurangnya ruang terbuka hijau di sekitar pemukiman. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah solusi kreatif dan inovatif untuk menangani permasalahan tersebut. Hidroponik bisa menjadi solusi, sebuah teknologi bercocok tanam praktis yang dapat dilakukan di pekarangan rumah yang terbatas. Teknik bercocok tanam dengan hidroponik menjadi sangat cocok untuk dikembangkan di Gang Ketapang, Kelurahan Selili, Kota Samarinda. Salah satu alasannya adalah teknik hidroponik tidak membutuhkan lahan yang luas dan dapat digunakan untuk menanam sayur. Tujuan program pengabdian masyarakat ini yaitu memberikan pemahaman dan motivasi kepada warga Gang Ketapang untuk mewujudkan green city melalui pelatihan Hidroponik. Strategi kegiatan pengabdian ini yaitu pelatihan teknik bercocok tanam dengan sistem hidroponik dan pendampingan dalam mewujudkan gang hijau bernuansa hidroponik. Hasil dari kegiatan pengabdian ini yaitu meningkatnya pengetahuan dan motivasi warga Gang Ketapang, Kelurahan Selili terkait penerapan gang hidroponik untuk mewujudkan green city.
ANALISIS YURIDIS BENTUK PENGATURAN PARA PIHAK DALAM SENGKETA LEMBAGA NEGARA
Yarni, Meri;
Kosariza, Kosariza;
Netty,, Netty,;
Priskap, Ridham;
Syamsir, Syamsir
Jurnal Komunikasi Hukum Vol 8, No 1 (2022): Februari
Publisher : Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jkh.v8i1.43880
Lahirnya Mahkamah Konstitusi didasarkan pada kewenangan konstitusional amandemen I, III dan IV UUD 1945 yang sekaligus menunjukkan bahwa kekuasaan kehakiman tidak lagi semata-mata dipegang oleh Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya. Kedua kekuasaan kehakiman ini memiliki kedudukan yang sama dengan fungsi dan peran yang berbeda sebagaimana tercantum dalam Pasal 24 ayat (2) UUD 1945. Selanjutnya Pasal 24 C ayat (1) menyatakan “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final. memeriksa undang-undang terhadap UUD, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan hasil pemilihan umum. Rumusan masalah dalam penelitian ini dilihat ntuk pengaturan para pihak yang bersengketa di lembaga negara dan mencari solusi atas permasalahan yang melekat pada kewenangan tersebut.  Dengan pendekatan konsep, perundang-undangan dengan metode yuridis normatif. Jenis penelitian adalah deskriptif. Sumber datanya adalah data sekunder dengan penggunaan bahan hukum primer, sekunder dan terseier. .Berdasarkan hasil kajian dapat disimpulkan bahwa UUD 1945, serta Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Mahkamah Konstitusi tidak menjelaskan secara rinci pelaksanaan kewenangan tersebut. menyelesaikan sengketa antar lembaga negara, sehingga Mahkamah Konstitusi diberi wewenang untuk mengatur hal-hal yang diperlukan demi kelancaran pelaksanaan tugas dan wewenangnya. Sejak hadirnya MK hingga saat ini sudah ada 19 permohonan sengketa kewenangan lembaga negara yang diajukan ke MK dengan persoalan yang sangat beragam. Ke depan, penting untuk menata kembali penyelesaian sengketa kewenangan lembaga negara di MK, menata kembali potensi permasalahan sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara, mengelola potensi sengketa kewenangan komisi negara. , memperluas makna penafsiran “lembaga negara yang dapat mengadili di MKâ€, dan meningkatkan pemberian legal standing pemohon di MK.
PENGARUH SLOW DEEP BREATHING TERHADAP PENANGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN POST OF APENDEKTOMI DI RSUD SLEMAN
Tamrin, Ike Nurjana;
Syamsir, Syamsir
Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar Vol 18, No 1 (2023): Media Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32382/medkes.v18i1.3196
Slow Deep Breathing (SDB) merupakan suatu tehnik bernapas dengan frekuensi napas dalam pada fase ekhalasi yang panjang. Slow Deep Breathing dapat meningkatkan dan menurunkan suplai oksigen ke otak sehingga metabolisme oksigen di otak meningkat. Tujuan: Mengetahui pengaruh Slow Deep Breathing terhadap tingkat kecemasan di RSUD Sleman Yogyakarta. Penelitian ini menggunkan desain quasy- experiment dengan tipe pre –post test without control group design. Sampel penelitian 31 responden. Pengukuran sampel dilakukan dengan cara Acidental Sampling. uji paried t test untuk mengetahui dan mengukur tingkat kecemasan hasill Terdapat pengaruh yang signifikan pemberian Slow Deep Breathing terhadap penurunan tingkat kecemasan dengan nilai p-value sebesar 0,001. Oleh karena itu Slow Deep Breathing (SDB) dapat diterapkan dalam penanganan tingkat kecemasan di RSUD Sleman Yogyakarta terutama pada pasien post op Apendektomi
Analisa Kebijakan Publik Terhadap Pengelolaan Pasar Tradisional
Sofiani, Nancy;
Saputra*, Tio;
Syamsir, Syamsir;
Frinaldi, Aldri
JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Vol 8, No 2 (2023): April, Social and Religious Aspect in History, Economic Science and Law
Publisher : Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/jimps.v8i2.24683
This study aims to determine the analysis of public policy on the management of traditional markets. Traditional market management policy is a form of public policy that regulates and oversees the management of traditional markets. The type of method used in this article is a literature review. Writing this literature review adopts national articles published on various platforms providing journals on a national scale that discuss public policy analysis of traditional market management. The research results show that the implementation of traditional market management policies can help create a healthier and more productive market environment for traders and visitors. However, this policy must also pay attention to the social, economic and environmental impacts that may arise and must constitute a target or objective of a government program, so that it is made at a higher level up to the technical level. Aims to increase the economic growth of the community. The expected result of these activities is the availability of economic facilities as a forum to move and grow the regional economy so that the community's economic activities can develop properly and open up employment opportunities
Analisa Kebijakan Publik terhadap UMKM
Sari*, Indah Permata;
Bahari, Krisna Marta;
Syamsir, Syamsir;
Frinaldi, Aldri
JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Vol 8, No 2 (2023): April, Social and Religious Aspect in History, Economic Science and Law
Publisher : Universitas Syiah Kuala
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24815/jimps.v8i2.24717
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisa kebijakan publik terhadap UMKM. UMKM adalah usaha yang memiliki jumlah karyawan, jumlah aset, dan omzet yang terbatas. UMKM dapat dijalankan oleh individu atau kelompok kecil dengan modal yang relatif kecil. Pemerintah dan organisasi internasional memperhatikan UMKM karena kontribusi mereka terhadap perekonomian, termasuk penyerapan tenaga kerja, peningkatan pertumbuhan ekonomi, dan mengurangi kemiskinan. Jenis metode yang digunakan dalam artikel ini adalah literatur review. Penulisan literatur review ini mengadopsi artikel-artikel nasional yang dimuat pada berbagai platform penyedia jurnal dengan skala nasional yang membahas tentang analisa kebijakan publik terhadap UMKM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Untuk melihat tingkat akurasi implementasi kebijakan pelatihan UMKM, di telaah dengan menggunakan pendekatan teori 5 tepat, yaitu tepat kebijakan, tepat pelaksana, tepat target, tepat lingkungan dan proses yang tepat untuk menerima efektivitas kebijakan sebagai misi bersama terjadi di kedua lembaga terlepas dari faktor sejarah sebelumnya dan juga kerjasama antar lembaga. Inefisiensi muncul ketika masalah pelatihan dicurigai karena pihak selain Dinas Perindag dan Dinas Koperasi dan UMKM tidak berperan. Sementara jika memperhatikan dimensi-dimensi Implementasi Kebijakan menurut Edward III sebagai berikut : dimensi komunikasi, dimensi sumberdaya, dimensi disposisi, dan dimensi birokrasi.