Globalisasi dan perkembangan teknologi informasi telah membawa dampak terhadap menurunnya minat generasi muda dalam memahami dan melestarikan budaya lokal. Salah satu budaya lokal yang memiliki nilai historis, filosofis, dan spiritual tinggi adalah tradisi Bissu dalam masyarakat Bugis, yang saat ini menghadapi tantangan berupa stigma sosial dan minimnya pemahaman generasi muda. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi budaya mahasiswa melalui pendampingan berbasis Participatory Action Research (PAR) pada komunitas Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Tomanurung. Metode PAR dilaksanakan melalui tahapan identifikasi masalah, perencanaan aksi, pelaksanaan, observasi, refleksi, dan tindak lanjut. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam literasi budaya mahasiswa, baik dari aspek pengetahuan, sikap, maupun kesadaran. Mahasiswa mampu memahami tradisi Bissu secara lebih komprehensif serta menunjukkan perubahan perspektif menjadi lebih terbuka, toleran, dan apresiatif terhadap keberagaman budaya. Selain itu, muncul kesadaran kolektif yang mendorong mahasiswa untuk melakukan aksi nyata dalam pelestarian budaya, seperti diskusi lanjutan, pembuatan konten edukatif, dan keterlibatan dalam kegiatan budaya. Dengan demikian, pendekatan PAR terbukti efektif dalam meningkatkan literasi budaya sekaligus membentuk sikap dan komitmen mahasiswa sebagai agen pelestarian budaya lokal.