Articles
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP KREATIVITAS SISWA PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA
Susanti S;
Putri Ayu mutmainnah;
Sry Agustina;
Ruslan R
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 3 No 2 (2020): Jurnal Redoks : Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (510.019 KB)
|
DOI: 10.33627/re.v3i2.424
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap kreativitas siswa pada materi larutan penyangga. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi experimental design dan menggunakan desain posttest-only control design. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri 2 Kota Bima. Populasi penelitian terdiri dari enam kelas dengan jumlah 142 siswa dan sampel diambil dari dua kelas yang utuh yaitu 23 siswa dari kelas XI MIA 5 sebagai kelas eksperimen dengan model inkuiri terbimbing dan 23 siswa dari kelas XI MIA 6 sebagai kelas kontrol dengan model penusan langsung, Pengambilan data menggunakan instrumen tes kreativitas siswa pada materi larutan penyangga. Data dianalisis menggunakan aplikasi SPSS versi 21 dengan hasil analisis yaitu persentase nilai rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol sebesar 7,3% dan hipotesis Sig. 0,001 < 0,05. Model inkuiri terbimbing tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kreativitas siswa pada materi larutan penyangga.
Ekstrak Zat Warna Dari Kulit Bawang Merah Dan Aplikasinya Sebagai Indikator Asam Basa
Kasnati K;
agrippina wiraningtyas;
Magfirah Perkasa;
Ruslan R
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 3 No 2 (2020): Jurnal Redoks : Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (525.668 KB)
|
DOI: 10.33627/re.v3i2.425
Kulit bawang merah (Allium cepa) merupakan salah satu limbah rumah tangga maupun limbah perindustrian yang jarang dimanfaatkan. kulit bawang merah memiliki pigmen warna merah yang berasal dari antosianin. Pigmen tersebut dapat mengalami perubahan warna pada perubahan keasamannya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ekstrak kulit bawang merah dapat digunakan sebagai indikator asam basa. Ekstraksi kulit bawang merah dilakukan dengan metode maserasi. hasil penelitian ini menunjukan bahwa kulit bawang merah yang di ekstrak menggunakan pelarut etanol dengan kosentrasi 10% menghasilkan warna merah gelap, warna merah terang pada kosentrasi 30%, warna merah bata pada kosentrasi 50%, dan pada kosentrasi 70% menghasilkan warna merah maron yang lebih pekat, dan berwarna merah tua pada kosentrasi 90%. Kosentrasi optimum pelarut etanol yang didapat adalah kosentrasi 70% dengan nilai absorbansi 3.430 dan warna yang dihasilkan adalah warna merah maron yang lebih pekat.
PENGARUH WAKTU MASERASI TERHADAP EKSTRAK ZAT WARNA DARI KULIT BAWANG MERAH DAN APLIKASINYA PADA BENANG TENUN KAIN BIMA
Irfan I;
agrippina wiraningtyas;
Ruslan R
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 3 No 2 (2020): Jurnal Redoks : Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (824.566 KB)
|
DOI: 10.33627/re.v3i2.433
Tenun bima adalah kain tradisional yang potensial dalam perkembangan jaman pewarna alami. Keberadaan pewarna alami dinilai penting karena sifatnya yang ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan berbagai warna pada tenunan yang dimana jenis-jenis tumbuhan yang digunakan sebagai pewarna alami pada tenun bima ini adalah kulit bawang merah. Metode penelitian ini menggunakan eksperimen kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Waktu Maserasi Terhadap Ekstrak Zat Warna Dari Kulit Bawang Merah Dan Aplikasinya Pada Benang Tenun Kain Bima. Pelarut yang dugunakan dalam penelitian ini adalah etanol 96%. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengaruh waktu maserasi terhadap ekstrak dari kulit bawang merah terdapat pada variasi waktu 1 jam dengan nilai absorbansinya 2.842 nm.
EKSTRAKSI ZAT WARNA DARI DAUN JATI MUDA (Tectona grandis Linn. F.) DAN APLIKASINYA PADA BENANG TENUNAN BIMA
ruslan R;
agrippina wiraningtyas;
Silaturahmi S
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 4 No 1 (2021): Jurnal Redoks : Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (691.268 KB)
|
DOI: 10.33627/re.v4i1.512
Indonesia adalah negara yang sangat kuat dalam penyediaan bahan baku bersumber dari alam, namun masyarakat belum mampu memanfaatkannya dengan baik. Salah satu tumbuhan yang dapat berpotensi sebagai pewarna alami adalah daun jati muda (Tectona grandis Linn. F.). Dimana daun jati muda mengandung zat pewarna antosianin yang dapat memberikan warna merah, ungu bahkan merah gelap dan tanin yang dapat memberikan warna cokelat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsentrasi pelarut terhadap ekstrak zat warna pada daun jati muda, mengetahui konsentrasi optimum pada ekstraksi zat warna dari daun jati muda dengan menggunakan metode maserasi dan mengetahui pengaruh variasi konsentrasi pelarut terhadap zat warna daun jati muda pada pewarnaan benang bahan baku kain tenunan Bima. Ekstrak daun jati muda didapat dengan cara diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol konsentrasi 50%, 60%, 70%, 80% dan 90%. Ekstrak yang diperoleh kemudian diukur nilai absorbansinya menggunakan alat spektrofotometer Uv-Vis pada rentang panjang gelombang 190-700 nm, serta digunakan untuk mewarnai benang tenunan. Hasil penelitian ini adalah variasi konsentrasi pelarut etanol berpengaruh terhadap ekstrak zat warna dari daun jati muda dengan metode maserasi. Konsentrasi optimum pelarut etanol untuk ekstraksi zat warna dari daun jati muda dengan metode maserasi adalah konsentrasi pelarut etanol 80% yang menghasilkan nilai absorbansi 1,425. Dan variasi konsentrasi pelarut etanol berpengaruh terhadap hasil warna pada bahan baku benang tenunan Bima.
EKSTRAKSI ZAT WARNA DARI KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia Mangostana L) DAN APLIKASINYA PADA BENANG TENUN BIMA
Sri Rahma Wati;
Ruslan R;
agrippina wiraningtyas;
Sry Agustina
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 4 No 1 (2021): Jurnal Redoks : Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (615.809 KB)
|
DOI: 10.33627/re.v4i1.513
Kulit buah manggis sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal dan masih dianggap sebagai limbah oleh masyarakat maupun penjual masih kurang dan bahkan dibuang begitu saja. Salah satu bahan yang dapat di gunakan untuk pembuatan zat warna alami yaitu dari kulit buah manggis (Garcinia mangostana L). Kandungan yang terdapat pada buah manggis antasionin yang menghasilkan warna merah, ungu, dan biru (Indra 2009). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh waktu pelarut terhadap ekstrak zat warna dari kulit buah manggis, mengetahui waktu optimum pada ekstrak zat warna kulit buah manggis dengan menggunakan metode maserasi, dan mengetahui pengaruh variasi waktu pelarut terhadap zat warna dari kulit buah manggis pada pewarnaan benabg bahan baku kain tenunan Bima. Ekstrak kulit buah manggis didapat dengan cara diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol waktu 1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam, dan 5 jam. Ekstrak yang diperoleh kemudian diukur nilai absorbansinya menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis pada rentang panjang gelombang 190-600 nm, serta digunakan untuk mewarnai benang tenunan. Hasil penelitian ini adalah variasi waktu pelarut etanol berperngaruh terhadap ekstrak zat warna dari kulit buah manggis dengan metode maserasi. Waktu optimum pelarut etanol untuk ekstrak zat warna dari kulit buah manggis dengan metode maserasi adalah waktu 4 jam yang menghasilkan nialai absorbansi 4.459. Dan variasi waktu pelarut etanol berpengaruh terhadap hasil warna pada bahan baku benang tenunan Bima.
PEMANFAATAN EKSTRAK ZAT WARNA DAUN SIRIH HIJAU PIPER BETLE L. SEBAGAI INDIKATOR ASAM BASA
Ruslan R;
Purwati p
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 4 No 2 (2021): Jurnal Redoks : Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (540.789 KB)
|
DOI: 10.33627/re.v4i2.611
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pelarut terhadap ekstrak daun sirih hijau, untuk mengetahui konsentrasi optimal pada ekstrak daun sirih hjau dengan metode maserasi, dan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi terhadap daun sirih hijau pada indikator asam basa. Jenis penelitian ini adalah penelitian Eksperimen Kualitatif dengan metode maserasi, dengan 2 faktor, yaitu konsentrasi pelarut dan aplikasi pada indikator asam basa. Ada beberapa tahapan, diantaranya tahap preparasi sampel (daun sirih hijau Piper Betle L.) tahap pembuatan pelarut etanol berbagai konsentrasi; tahap ekstraksi zat warna dari daun sirih hijau Piper Betle L.dengan variasi konsentrasi pelarut etanol, tahap pembuatan kertas indikator asam basa; dan tahap pengujian kertas indikator asam basa. Hasil ekstraksi diukur absorbansinya dengan spektrofotometer UV-Vis pada rentang panjang gelombang 190-500 nm, serta dilakukan analisis data dengan membuat tabel dan diagram batang menggunakan aplikasi Microsoft excel. Hasil dari penelitian ini adalah konsentrasi pelarut etanol berpengaruh terhadap hasil ekstrak zat warna daun sirih hijau Piper Betle L., konsentrasi optimal pelarut etanol yang digunakan untuk mengekstraksi zat warna dari daun sirih hijau Piper Betle L. dengan metode maserasi adalah pada konsentrasi 90% dengan nilai absorbansi sebesar 4.126, dan konsentrasi pelarut etanol berpengaruh terhadap hasil ekstrak zat warna daun sirih hijau Piper Betle L. pada kertas indikator asam basa.
Persepsi Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Mahasiswa Fakultas Agama Islam UMI Makassar Tentang Hadits Gadai (Rahn)
Ruslan, Ruslan;
Iskandar, Abd. Malik;
Harifuddin, Harifuddin
Jurnal Ilmiah Ecosystem Vol. 23 No. 1 (2023): ECOSYSTEM Vol. 23 No 1, Januari - April Tahun 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35965/eco.v23i1.2507
Penelitian ini bertujuan untuk: (i) mengetahui persepsi mahasiswa program studi ekonomi dengan program studi agama Islam tentang gadai (Rahn). (ii) mengetahui dasar hukum rahn (gadai). Penelitian ini menggunakan metode penelitian campuran (mix methode) dengan desain kuantitatif-kualitatif (Explanatory sequential). Sampel penelitian adalah quota sampling dengan jumlah sebanyak 100 responden dari dua program studi. Pengumpulan data menggunakan keusioner, wawancara, observasi dan studi literature. Analisis data menggunakan statistic deskriptif (kuantitatif) dan teknik tiga Langkah (kualitatif). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa tentang gadai pada lima variabel yaitu (i) Menghindari kecurangan kedua pihak, (ii) Menghindari kesewenang-wenangan, (iii) Memenuhi rasa keadilan, (iv) Memanusiakan manusia, (v) Pemenuhan hak dan kewajiban terkategori baik. Dasar hukum gadai adalah hadits-hadits nabi yang diriwayatkan oeh para sahabat. Kesimpulan penelitian adalah gadai pada dasarnya baik untuk meringankan beban individu hanya pelaksanaannya sering tidak sesuai aturan sehingga menimbulkan kerugian pada satu pihak. This study aims to: (1) knowing the perceptions of students of the economics study program with the Islamic religion study program about pawning (Rahn). (2) to know the legal basis of rahn (pawn). This research uses a mixed research method (mix methode) with a quantitative-qualitative design (Explanatory sequential). The research sample was quota sampling with a total of 100 respondents from two study programs. Data collection using questionnaires, interviews, observations and literature studies. Data analysis using descriptive statistics (quantitative) and three-step technique (qualitative). The results showed that (1) Students' perceptions of pawn on five variables, namely (i) Avoiding cheating both parties, (ii) Avoiding arbitrariness, (iii) Fulfilling a sense of justice, (iv) Humanizing humans, (v) Fulfillment of rights and obligations are categorized as good. The legal basis for pawning is the hadiths of the prophet narrated by the companions. The conclusion of the research is that pawning is basically good to ease the burden on individuals, but its implementation is often not in accordance with the rules, causing losses to one party.
Ekstraksi Zat Pewarna Dari Rumput Laut Sargassum sp. Dan Pemanfaatannya Pada Pewarnaan Kain Tenun
Muh. Nasir;
Ruslan Ruslan
ORYZA ( JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI ) Vol 12 No 2 (2023): ORYZA: Jurnal Pendidikan Biologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi STKIP Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33627/oz.v12i2.1644
Tujuan dari penelitian ini adalah mengekstraksi zat pewarna alam dari rumput laut Sargassum sp. untuk diaplikasikan pada kain tenun. Metode yang digunakan dalam ekstraksi ini adalah metode pemanasan. Rumput laut Sargassum sp. yang masih segar dicuci dengan air selanjutnya direndam dalam larutan HCl. Rumput laut Sargassum sp. kemudian dikeringkan, digiling dan dipanaskan. Zat pewarna dari rumput laut Sargassum sp. diekstraksi menggunakan larutan NaOH 0,1 M selama 2 jam. Hasil ekstraksi diperoleh berupa zat pewarna berwarna coklat keemasan. Zat pewarna selanjutnya digunakan sebagai pewarna kain tenun. Kain tenun yang sudah dimordanting selanjutnya diberi motif menggunakan cap menghasilkan beragam motif diantaranya motif bawang, sirsak dan bunga nenas. Kemudian dilakukan pencelupan kain pada zat pewarna dan direndam selama 30 menit dan dilajutkan dengan pengeringan. Setelah kain dikeringkan tahap selanjutnya adalah fiksasi menggunakan tunjung dan pelodoran lilin melalui pemanasan dan akhirnya dikeringkan. Prototipe kain tenun pewarna alam dari rumput Sargassum sp. dihasilkan kain tenun berwarna coklat dan motif yang beragam.
Hubungan Islam Dan Kristen Di Abad Modern (1800 M – sekarang)
Ruslan R;
Hasaruddin H
Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi Vol 6 No 2 (2023): Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi
Publisher : Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33627/es.v6i2.1459
Hubungan diantara agama samawi satu sama lainnya sangat berkaitan, dan saling menyempurnakan. Perkembangan Islam dan Kristen di dunia tidak terlepas dari berbagai faktor baik internal maupun eksternal. Hubungan Islam dan Kristen pada era modern tidak terlepas dari sejarah masa pertengahan yang diliputi dengan konflik yang disebut perang salib. Gerakan renaisans melahirkan perubahan-perubahan besar dalam sejarah dunia. Abad ke-16 merupakan abad kejayaan bagi Kristen, sementara pada akhir abad ke-17 itu pula dunia Islam mengalami kemunduran. Pada abad modern ini orientalis Kristen mempunyai kepentingan besar yaitu, menjaga status quo budaya Barat. Pertengahan abad ke 21, hubungan Kristen dan Islam nampaknya memburuk. Hal ini ditandai dengan geliatnya pihak Barat mendukung agresi militer Israil ke Palestina. Meletusnya serangan terhadap gedung World Trade Centre (WTC) dan Pentagon, hal ini memperkeruh hubungan Barat dan Islam. Tragedi konflik antara Kristen dan Islam bukan berarti bahwa kedua agama ini tidak bisa hidup rukun. Justru dengan tragedi tersebut memperlihatkan jati dirinya kepada dunia Kristen bahwa Islam adalah agama rahmatan li al-alamin dan dapat hidup secara harmonis.
Pendidikan Islam Di Indonesia Pada Masa Penjajahan
Ruslan R;
Hifza H
Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi Vol 6 No 2 (2023): Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi
Publisher : Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33627/es.v6i2.1466
Sejarah pendidikan Islam telah menunjukkan bahwa sejak perkembangan Islam, pendidikan mendapat prioritas utama masyarakat muslim Indonesia. Sebelum Belanda datang ke Indonesia, Agama Islam sudah masuk di Indonesia melalui jalur perdagangan. Pedagang muslim dari Arab, Persia, dan India sampai ke kepulauan Indonesia sejak abad ke-7. Para pedagang dalam menjalankan misi dakwahnya melalui pengajaran, aktualisasi ajaran Islam, sikap yang simpati diperlihatkan kepada masyarakat termasuk kelompok bangsawan. Sementara berjalan proses pertumbuhan pendidikan Islam, Pemerintah Belanda mulai datang menjajah Indonesia pada tahun 1619 bermotif ekonomi, politik dan agama yang lebih dikenal dengan istilah 3G (God, Gospel and Glory). Kondisi Pendidikan Islam pada masa penjajahan cukup banyak mendapat tekanan dari pihak penjajah namun dengan semangat jiwa patriotisme dan semangat jihad di jalan Allah yang dimiliki oleh para pejuang Islam mampu melawan penjajah dengan berbagai cara termasuk penyelenggaraan pendidikan Islam. Kebijakan pendidikan Islam zaman penjajahan Jepang esensinya sama dengan penjajah Belanda, hanya saja penjajah Jepang tampak sedikit lebih lunak dibanding pemerintah penjajah Belanda. Perkembangan Pendidikan Islam memiliki faktor pendukung di samping faktor penghambat. Keteguhan hati yang tertanam dalam dada umat Islam akan kebenaran yang dijalankan sebagai pendukung perkembangan pendidikan Islam. Sedangkan kebijakan yang diterapkan penjajah merupakan faktor penghambat. Dampak sistem pendidikan Belanda dan Jepang menyebabkan munculnya gerakan pembaharuan pemikiran keagamaan dari tokoh Islam akhirnya Pendidikan Islam mengalami kemajuan yang pesat sekalipun menghadapi tantangan dan rintangan yang berat dari penjajah Belanda dan jepang.