Articles
Penyakit Arteri Koroner: Pilih CABG atau PCI?
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 36, No. 1 Januari - Maret 2015
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v36i1.434
Strategi revaskularisasi pada penyakit arteri koroner (PAK) terus menjadi bahan debat di kalangan kardiologi. Berbagai uji klinis yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang bervariasi dan harus ditelaah secara detil karena persoalan strategi revaskularisasi menjadi masalah yang tidak sederhana tetapi harus memperhatikan subset pasien yang befvariasi untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Prinsip dasar yang harus tetap dijaga oleh para kardiolog adalah keputusan medis harus berorientasi pada pasien. Patient first!Perbandingan secara tidak langsung antara bedah pintas arteri koroner (BPAK/CABG) dengan intervensi koroner perkutan (IKP/PCI) menunjukkan dengan CABG keperluan pengulangan revaskularisasi lebih sedikit. Masalah yang selalu dipertanyakan dalam membandingkan kedua teknik revaskularisasi itu adalah pengaruh perkembangan teknologi stent terhadap luaran pasien. Berbeda dengan teknik CABG relatif tidak banyak berubah yaitu terdiri dari teknik on- atau off-pump, sedangkan teknologi stent berkembang cepat dan mungkin akan memberikan luaran yang berbeda karena stent generasi terakhir dipercaya memiliki patency rate yang lebih baik. Teknologi stent berkembang dari bare-metal stent ke drug-eluting stent, kemudian drug eluting stent juga berevolusi mulai dari generasi pertama yang memakai obat sirolimus atau paclitaxel ke generasi kedua yang memakai obat everolimus atau zotarolimus. Demikian juga farmako-teknologi polymer yang berkembang ke arah polymer-free stent. Dalam hal platform stent dimulai dari stainless steel, cobalt chromium, platinum dan terakhir memakai polylactyic acid yang dapat diserap.
Peranan Trimetazidine pada Reperfusion Injury
Taka Mehi;
Yoga Yuniadi;
Nur Haryono
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 36, No. 1 Januari - Maret 2015
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v36i1.441
The incidence rate of ST-Elevation acute Myocardial Infarct (STEMI) keeps increasing. Currently, myocardial reperfusion, either with thrombolytic or Primary Percutaneous Coronary Intervention (PPCI), is the main treatment. However, mortality rate of STEMI patients undergoing PPCI is still high which is 6% to 14%. The main purpose of PPCI is to restore the patency of infarcted epicardial artery and to establish microvascular reperfusion as soon as possible so that it can reduce enlargement of irreversible necrotic myocardial tissue. In the other hand, restored patency of infarcted epicardial artery does not indicate sufficient reperfusion to microvascular. Such phenomenon is called no-reflow or microvascular obstruction (MVO). Specific pathogenic component of MVO is reperfusion injury. Reperfusion injury involves some mediator and mechanisms, one of which is the process of thrombolysis and angioplasty. Mediator that play a certain role is inflammatory neutrophil which is activated and accumulated. Trimetazidine is an anti-ischemic agent which selectively inhibits end stage activation of oxidation pathway of 3-ketoacyl coenzyme Athiolase. Trimetazidine has an ability to reduce the accumulation of neutrophil
Interferensi Listrik terhadap ECG
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 36, No. 1 Januari - Maret 2015
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v36i1.444
Seorang laki-laki, 71 tahun dengan riwayat PPOK, dirujuk ke poli Aritmia dengan dugaan fibrilasi atrial. Keluhan pasien lebih menggambarkan gejala PPOK tanpa keluhan tambahan. Gambar EKG yang menjadi alasan dirujuk disertakan di bawah ini:
Benarkah Obat Penghambat Pompa Proton Meningkatkan Risiko Infark Miokard?
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 36, No. 2 April - Juni 2015
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v36i2.459
Isu tentang pengaruh obat Penghambat Pompa Proton (P3) terhadap kejadian kardiovaskular mayor sudah cukup lama menjadi debat di kalangan kardiologi. Berbagai studi terkait masalah ini telah dilakukan tetapi memberikan hasil yang kontradiktif. Ching dkk1 meneliti hampir 3300 pasien pasca intervensi koroner perkutan yang dibagi jadi dua kelompok yaitu dengan dan tanpa P3. P3 yang dikonsumsi meliputi lansoprazole, pantoprazole, omeprazole dan esomeprazole. Pada pengamatan selama 9 bulan didapatkan insiden mortalitas, revaskularisasi dan kejadian kardiovaskular mayor yang lebih tinggi pada kelompok P3 dengan rasio hazard 1.7. Sebaliknya metanalisis dari 23 studi oleh Kwok dkk memperlihatkan tidak terdapat perbedaan kejadian kardiovaskular mayor pada pasien yang mengkonsumsi klopidogrel dan P3.2Sebuah studi yang dimuat di jurnal terbuka Plos One pertengahan tahun ini cukup mengejutkan kalangan kardiologi. Shah dkk3 melakukan studi observasional dari sekitar 16 juta data rekam medis dan menyimpulkan bahwa obat P3 berhubungan dengan peningkatan risiko infark miokard pada populasi umum. Enam belas persen penderita penyakit refluks gastroesofageal (GERD) yang diberi P3 menunjukkan peningkatan risiko infark miokard (95%IK 1.09 hingga 1.24) dan peningkatan risiko mortalitas kardiovaskular (HR 2.0, 95%IK 1.07 hingga 3.78, p = 0.031).Jadi ada dua isu besar terkait P3, yaitu diduga meningkatkan kejadian kardiovaskular mayor pada pasien penyakit jantung koroner (PJK) dan peningkatan kejadian infark miokard pada populasi umum. Bagaimanakah sikap yang harus diambil oleh para klinisi terkait hal di atas? Tulisan ini merupakan suatu stimulus agar para klinisi melihat lebih seksama pengaruh interaksi P3 pada pasien maupun populasi umum.
Hubungan Kadar Soluble Intercellular Adhesion Molecule-1 dan Soluble Vascular Cell Adhesion Molecule-1 dengan Gradasi Trombosis Atrium Kiri pada Stenosis Mitral
Elen Elen;
Pramono Sigit;
Yoga Yuniadi;
Ismoyo Sunu
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 36, No. 2 April - Juni 2015
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v36i2.461
Background. The relationship between inflammation and coagulation has been widely described, which adhesion molecules play important role in inflammation. Soluble intercellular adhesion molecule-1 (sICAM-1) and soluble vascular cell adhesion molecule-1 (sVCAM-1) seem to be related to thrombosis in few previous studies. The level of those molecules were increased in mitral stenosis (MS), however their relationship with left atrial thrombosis gradation is still unknown.Methods. Patients with moderate-severe MS (without any significant mitral regurgitation) who underwent transesophageal echocardiography were recruited consecutively in September-October 2013. They were divided into 3 categories of left atrial thrombosis gradation: non-thrombus without dense left atrial spontaneous echo contrast (LASEC) group, and non-thrombus with dense LASEC group, and thrombus group.Results. A total of 39 subjects were enrolled in the study with a mean age of 40.97±9.61 year. Moreover, 71.8% of them were female and 67.7% of them had atrial fibrillation (AF). Evaluation on left atrial thrombosis gradation as mentioned above showed that sICAM-1 levels were 284.74 (218.79-321.00) ng/mL, 346.86 (125.68-698.12) ng/mL, and 395.93 (171.44-1021.53) ng/mL, consecutively (p=0.280). While sVCAM-1 levels gradually increased based on those groups consecutively: 729.01 (543.93-967.80) ng/mL, 1066.00 (581.36-2470.60) ng/mL, and 1158.00 (668.66-2498.30) ng/mL (p=0.016). Multivariate analysis showed that AF and mitral valve area (MVA) influence thrombosis gradation.Conclusion. Difference in sVCAM-1 levels were found among left atrial thrombosis gradation groups in mitral stenosis, but its effect on thrombosis gradation was influenced by AF and MVA.
Fibrilasi Atrium pada Penyakit Paru Obtruktif Kronik
Silmi Kaffah;
Yoga Yuniadi;
Erlang Samoedro
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 36, No. 2 April - Juni 2015
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v36i2.464
Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) often coexists with cardiovasculae disease (comorbidities) that may have a significant impact in prognosis. Atrial fibrillation (AF) is the most common comorbid, which is supraventricular tachyarrhythmias uncoordinated and ineffective atrial activation. Emergence of atrial fibrillation if not handled properly associated with morbidity and mortality are high . Exact pathogenesis of AF in COPD but may associated with atrial factors , inflammation ,activation of the renin - angiotensin - aldosterone system (RAAS), coronary heart disease , disorders of the autonomic tone and pharmacological. Complications of AF consisted of thromboembolic events including stroke. The management of AF with COPD should be adjusted to optimize therapeutic result
Evaluasi Alat Pacu Jantung Permanen Dari Elektrokardiogram
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 36, No. 2 April - Juni 2015
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v36i2.467
KasusSeorang pria, 67 tahun datang ke poli jantung di RSU Jambi dengan riwayat pemasangan alat pacu jantung di RSU Bengkulu 6 bulan yang lalu. Tidak terdapat keluhan dan pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari sebagai seorang pensiunan pegawai negri sipil.Rekaman EKG diperlihatkan pada gambar di bawah ini,
Ekstraksi lead crt ventrikel kiri yang patah
Isyana Miranti;
Made Satria Yudha Dewangga;
Widyo Mahargo;
Sulistiyati Bayu Utami;
yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 36, No. 3 Juli - September 2015
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v36i3.478
In recent years, implantation of cardiac resynchronization therapy (CRT) devices has significantly increased. Left ventricular (LV) pacing through the Coronary Sinus (CS) is the standard approach for CRT. Many LV lead placement techniques to get lead stability and optimal threshold, one with wire PCI. We presented a case with LV lead CRT extraction were broken after being fitted with wire PCI with stabilization purpose and to obtain an appropriate threshold, the extraction was done by snaring techniques.
LONG RP TACHYCARDIA: What is the mechanism?
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 36, No. 3 Juli - September 2015
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v36i3.484
Seorang anak perempuan, 11 tahun dikonsulkan ke poli Aritmia dengan keluhan sesak dan berdebar. Rasa berdebar sudah dirasakan sejak lebih dari satu tahun yang lalu. Akhir-akhir ini pasien juga mengeluh sesak dan mudah capek. Pada pemeriksaan fisik didapatkan batas jantung kiri yang membesar dengan fixed wide split bunyi jantung kedua. Tidak terlihat sianosis. Ekokardiografi menunjukkan sebuah atrial septal defek sekundum yang besar dengan diameter 2.5 cm. Pasien mengalami takikardia incessant yang tidak respon dengan beberapa anti-aritmia dengan rekaman EKG 12 sadapan diperlihatkan di bawah ini.Tampak suatu takikardia regular dengan laju 115 kpm. Durasi QRS sempit (110 mdet) dengan morfologi gelombang P di belakang setiap kompleks QRS. Jarak awitan kompleks QRS ke awitan gelombang P
Kontroversi peran studi elektrofisiologi pada sindrom brugada
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 36, No. 4 Oktober - Desember 2015
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v36i4.500
Sindrom Brugada adalah suatu abnormalitas sistem listrik jantung yang merupakan predisposisi terjadinya takikardia ventrikel dan hilang kesadaran. Takikardia ventrikel dapat berhenti spontan dan pasien pulih dari sinkop lalu berobat dengan keluhan sinkop, atau takikardia berdegenerasi menjadi fibrilasi ventrikel (FV)dan menyebabkan kematian jantung mendadak. Oleh karena itu sangat penting mengenal gambaran EKG sindrom Brugada lalu melakukan stratifikasi risiko yang cermat.Salah satu yang menjadi perdebatan hangat adalah stratifikasi risiko sindrom Brugada melalui tindakan studi elektrofisiologi (SEF). Nilai prediktif induksi aritmia ventrikel saat SEF masih kontroversial. Studi yang melibatkan 408 pasien sindrom Brugada tanpa riwayat henti jantung menunjukkan bahwa pasien dengan indusibilitas FV memiliki risiko kematian jantung mendadak karena FV enam kali lipat dalam pengamatan 2 tahun.1 Akan tetapi studi multisenter dari Eropa,2, 3 Jepang4, 5 dan beberapa metaanalisis6, 7 tidak menunjukkan hasil yang positif sehingga indikasi SEF untuk stratifikasi risiko sindrom Brugada hanya IIb pada tahun 2013 (Gambar 1). Metaanalisis8 yang lain memperlihatkan hasil yang positif yaitu ketika presentasi klinis pasien sindrome Brugada dipisahkan antara sinkop dan asimtomatik dalam analisanya.