Articles
Konsep Negara Berbasis Hak sebagai Argumen Justifikasi Pengujian Konstitusionalitas Undang-undang
Titon Slamet Kurnia
Jurnal Konstitusi Vol 9, No 3 (2012)
Publisher : The Constitutional Court of the Republic of Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (516.032 KB)
|
DOI: 10.31078/jk937
This article argues that the concept of right-based State and right-based constitution are substantively the basis or justification for constitutional review of legislation or laws. The constitutionality of laws is determined by the idea that human rights are supreme or superior over the legislature and its legal product. Therefore, the legislature should respect human rights in law-making. This article also rejects the view that hierarchy of laws is the only basis for constitutional review of legislation or laws because this view only explains it formally. This argument cannot be applied to Britain or Israel which does not have a formal constitution.
Prediktabilitas Ajudikasi Konstitusional: Mahkamah Konstitusi dan Pengujian Undang-Undang
Titon Slamet Kurnia
Jurnal Konstitusi Vol 13, No 2 (2016)
Publisher : The Constitutional Court of the Republic of Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (391.056 KB)
|
DOI: 10.31078/jk1322
There is a strong commitment that constitutional adjudication should be more predictable. As a principle, what has been rightly decided in the past should be the law for the future cases or controvercies. This article makes a substantial critics directed to the constitutional court of decision Number 14/PUU-XI/2013 on the constitutionality of presidential election rules. This articles argues that the decision shows that predictability is still a serious matter in constitutional adjudication in Indonesia. The author then recommends that to be more predictable the constitutional of court should make a judicial tradition for respecting its past right decisions.
"Peradilan Konstitusional" oleh Mahkamah Agung melalui Mekanisme Pengujian Konkret
Titon Slamet Kurnia
Jurnal Konstitusi Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : The Constitutional Court of the Republic of Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (425.75 KB)
|
DOI: 10.31078/jk1614
Artikel ini membahas kemungkinan untuk Mahkamah Agung menjalankan fungsi sebagai peradilan konstitusional. Argumen yang diajukan adalah Mahkamah Agung harus memegang kewenangan yang sama dengan Mahkamah Konstitusi dalam menguji konstitusionalitas undang-undang. Perbedaannya adalah, Mahkamah Konstitusi memiliki kewenangan untuk membatalkan undang-undang yang bertentangan dengan konstitusi, sementara Mahkamah Agung tidak memiliki kewenangan itu. Dalam menguji konstitusionalitas undang-undang, Mahkamah Agung bertindak sebagai peradilan biasa yang memeriksa perkara atau kasus konkret, bukan perkara atau kasus abstrak. Dengan demikian, praktik ini memiliki kesamaan dengan praktik Mahkamah Agung Amerika Serikat, ketimbang praktik Mahkamah Konstitusi. Untuk mendukung argumen ini maka asas praduga konstitusional seharusnya tidak berlaku bagi Mahkamah Agung.This article argues for the possibility of the Indonesian Supreme Court to undertake the role as constitutional court. The argument suggests that the Indonesian Supreme Court should hold concurring authority with the Indonesian Constitutional Court in reviewing the constitutionality of laws. While the Indonesian Constitutional Court has the exclusive jurisdiction for invalidating the unconstitutional laws, the Indonesian Supreme Court does not have such jurisdiction. In reviewing the constitutionality of laws, the Indonesian Supreme Court exercises its jurisdiction as ordinary court. It reviews a concrete case, not the abstract one. Therefore, this practice is similar with the practice of the Supreme Court of the United States, instead of the practice of the Indonesian Constitutional Court. To support this argument, the principle of presumption of constitutionality should not be applicable to the Indonesian Supreme Court.
Menguji Ketangguhan Realisme: Kritik terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 14/PUU-XI/2013 Pasca Pemilu Serentak 2019
Titon Slamet Kurnia
Jurnal Konstitusi Vol. 19 No. 1 (2022)
Publisher : Constitutional Court of the Republic of Indonesia, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31078/jk1915
This article examines Constitutional Court Decision Number 14/PUU-XI/2013 following the simultaneous elections of 2019. The object is the correctness of the utilisation of realism as a theory of adjudication by the Court in deciding the constitutionality of Law Number 42 of 2008. It can be concluded that, the Court’s decision is false, i.e. it fails to strengthen presidential in Indonesia, as expected by the Court, according to coattail effect theory. Hence, responding to this failure, this article suggests a caveat that the utilisation of realism should anticipate its fallibility. Therefore, responding to the issue to be more general, this article also suggests a proposal for a constitutional amendment to restructure the judicial review mechanism in accordance with the Canadian model known as, conceptually, judicial review with legislative finality. The recommendation aims to anticipate judicial error in constitutional interpretation as shown by the Constitutional Court Decision Number 14/PUU-XI/2013.
Cadar dan Tantangan Sosial: Studi Fenomenologi atas Kewajiban Penggunaan Cadar bagi Santriwati Ma`hadal Ulum Diniyah Islamiyah Bireuen Aceh
Muhammad Abrar Azizi;
Mulyadi Mulyadi;
Amiruddin Amiruddin;
Putri Andriani;
Athoillah Islamy
Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah Vol 21, No 1 (2022)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18592/alhadharah.v21i1.6253
This study aims to identify the internalization process and social challenges regarding the mandatory use of the veil for the Dayah (Pesantren) Ma'hadal 'Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) students of the Samalanga Grand Mosque, Bireuen Regency, Aceh Province. This study uses a symbolic interactionism theory approach from George Herbert Mead. The results showed that the use of the veil for Dayah MUDI students contained the meaning of the identity symbol of Islamic teachings in totality (kāffah), preventive actions from negative actions, and at the same time Islamic da'wah bi al-ḥāl. The objectification of the meaning of the veil for the students of MUDI developed through a process of social interaction constructed by the rules in the MUDI environment. Meanwhile, female students' obstacles to using the veil outside the MUDI environment, namely the individual mental factors of students, family environmental factors, and negative social stigma factors in society. The limitations of this research can also be the object of further research. It has not yet identified the form or pattern of the environmental response of the santriwati family and the broader social community to the implementation of the mandatory use of the veil for MUDI students.
Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa Kelas 4 SD melalui Model Pembelajaran Discovery Learning
Ratih Dwi Yulianti Rahayu;
Mawardi Mawardi;
Suhandi Astuti
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia) Vol 4, No 1 (2019): Volume 4 Number 1 March 2019
Publisher : STKIP Singkawang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26737/jpdi.v4i1.927
Penelitian ini berangkat dari kondisi keterampilan berpikir kritis siswa kelas 4 SD N Karangduren 02 masih rendah dan berdampak pada hasil belajar yang rendah pula. Berdasarkan latar belakang tersebut tujuan dilakukannya penelitian ini ialah meningkatkan keterampilan bepikir kritis dan hasil belajar melalui Model Pembelajaran Discovery Learning. Jenis penelitian yang digunakan adalah PTK yang dilakukan dalam 2 siklus. Instrumen pengumpulan data diantaranya tes yang berupa soal tes untuk mengukur tingkat ketercapaian hasil belajar dan nontes berupa rubrik penilaian tugas untuk mengukur tingkat berpikir kritis peserta didik. Analisis data pada penelitian ini ialah analisis deskriptif komparatif. Tingkat bepikir kritis dan hasil belajar pada pra-siklus diantaranya berpikir kritis pada kategori sangat tinggi sebesar 7%, kategori tinggi sebesar 41%, dan kategori rendah sebesar 52% sehingga berdampak pada hasil belajar dengan presentase 46% mencapai ketuntasan dan 64% belum mencapai ketuntasan. Setelah dilakukannya penelitian tahap siklus I keterampilan berpikir kritis peserta didik meningkat menjadi 22% berada pada kategori sangat tinggi, 63% pada kategori tinggi, 15% pada kategori rendah. Hasil belajar peserta didik 63% sudah mencapai ketuntasan dan 37% belum mencapai ketuntasan. Pada siklus II meningkat lebih signifikan yaitu 63% dari keseluruhan peserta didik tingkat berpikir kritis berada pada kategori sangat tinggi dan 37% berada pada kategori tinggi, hasil belajar peserta didik juga terlihat 85% peserta didik mencapai ketuntasan dan 15% peserta didik belum mencapai ketuntasan.
WAKAF UANG DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF DI INDONESIA
Syarif Hidayatullah
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 1, No 2 (2016): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (783.482 KB)
|
DOI: 10.33511/misykat.v1n2.71
Wakaf uang sangat potensial untuk dikembangkan di lndonesia, karena dengan wakaf uang ini, daya jangkau mobilisasinya akan jauh lebih merata kepada masyarakat dibandingkan dengan model wakaf tradisional-konvensional dalam bentuk harta fisik. Dalam Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 4l Tahun 2004 tentang wakaf terdapat klausul mengenai objek wakaf berupa uang dan Surat Berharga. Wakaf uang diatur dalam bab khusus yang berjudul "Benda Bergerak berupa Uang", sementara wakaf Surat Berharga diatur dalam bab "Benda Bergerak Selain Uang". Meskipun wakaf uang itu sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia dan telah dijamin dalam hukum positif di Indonesia melalui Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tersebut, namun sebagian ulama dan masyarakat di Indonesia masih ada yang beranggapan bahwa wakaf uang tidak sah, karena syarat sah wakaf bendanya tetap, sedangkan uang bisa habis. Sehubungan dengan semua yang telah disebutkan di atas, penulis tertarik untuk mengkaji masalah wakaf uang dalam perspektif hukum Islam dan hukum positif di Indonesia, yang dapat dirumuskan sebagai berikut : “Bagaimanakah Kedudukan Hukum Wakaf Uang dan Penerapannya dalam Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia”.Kata Kunci : Wakaf, Uang, Hukum Islam dan Hukum Positif
E-MODUL PEMBELAJARAN BERBASIS ANDROID UNTUK SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
Alfrina Mewengkang;
Harol Reflie Lumapow;
Jeffry Lengkong;
Viktory Rotty;
Ignatius Javier Couturier Tuerah
Edutik : Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 1 No. 5 (2021): EduTIK : Oktober 2021
Publisher : Jurusan PTIK Universitas Negeri Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (337.826 KB)
|
DOI: 10.53682/edutik.v1i5.3142
Penelitian ini bertujuan untuk membuat aplikasi modul pembelajaran berbasis android pada mata pelajaran Dasar Desain Grafis pada kelas X Jurusan Multimedia di Sekolah Menengah Kejuruan sebagai suplemen tambahan guna memudahkan guru dan siswa belajar tentang materi Dasar Desain Grafis. Metode yang digunakan yaitu Multimedia Development Life Cyle yang memilliki enam tahap pengembangan, yaitu Concept. Design. Material Collecting. Assembly. Testing. dan yang terakhir Distribution. Pengujian aplikasi ini menggunakan metode Black Box Testing untuk Developer Test dan End User Test. Aplikasi ini menggunakan dasar pemrograman Action Script 3.0 pada Adobe Flash dengan sitem operasi Android.
Hubungan antara pertambahan berat badan ibu selama hamil dengan kegemukan anak prasekolah di Kota Yogyakarta
Dian Kurniasari Yuwono;
Yayi Suryo Prabandari;
I Made Alit Gunawan
JURNAL NUTRISIA Vol 18 No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (86.358 KB)
|
DOI: 10.29238/jnutri.v18i1.72
Latar Belakang: Kegemukan merupakan masalah kesehatan yang saat ini menjadi pergulatan, baik bagi negara maju maupun negara berkembang. Penyakit-penyakit tidak menular yang timbul akibat kegemukan menyumbang angka kesakitan dan kematian yang besar.Faktor risiko yang diduga memberi kontribusi terhadap terjadinya kegemukan anak prasekolah adalah faktor-faktor prenatal yang terkait kondisi ibu seperti status gizi sebelum hamil, pertambahan berat badan selama kehamilan, dan pajanan asap rokok pada ibu saat hamil serta faktor lain seperti jumlah asupan kalori dan lemak yang dikonsumsi anak. Tujuan: Menganalisis pengaruh pertambahan berat badan ibu selama hamilterhadap kejadian kegemukan pada anak prasekolah di Kota Yogyakarta. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kasus kontrol berpasangan. Populasi penelitian adalah seluruh anak usia prasekolah yang ada di Kota Yogyakarta. Subjek penelitian adalah anak prasekolah berumur 3 – 5 tahun yang terdaftar dalam institusi PAUD di Kota Yogyakarta, dimana yang menjadi kriteria matching adalah jenis kelamin dan umur anak. Kelompok kasus adalah anak dengan status gizi gemuk dan kelompok kontrol adalah anak dengan status gizi normal.Jumlah sampel yang diperoleh adalah 101 pasang anak yang didapatkan melalui teknik multistage sampling.Analisis data menggunakan uji statistic McNemar dan conditional logistic regression. Hasil : Hasil uji McNemar menunjukkan bahwa pertambahan berat badan ibu selama hamil yang melebihi anjuran, meningkatkan risiko kegemukan anak prasekolah secara signifikan sebesar 2,08 kali (CI: 1,06 – 4,08), dan semakin tinggi risikonya jika asupan kalori anak melebihi jumlah yang dibutuhkan. Kesimpulan : Pertambahan berat badan ibu selama hamil yang melebihi anjuran serta asupan kalori anak yang berlebihan akan mengkibatkan kegemukan anak prasekolah di Kota Yogyakarta.
Asertivitas Remaja Terhadap Perilaku Seksual Pranikah (Studi Kualitatif pada Remaja di Surabaya)
Dini Indah;
Yayi Suryo Prabandari;
Budi Wahyuni
Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (228.873 KB)
|
DOI: 10.52643/jukmas.v2i2.589
Sebesar 28% remaja perempuan dan 15,1% remaja laki-laki melakukan hubungan seksual pertama kali pada rentang usia 15-17 tahun di Indonesia, selain itu jumlah kasus KTD di salah satu sekolah di Surabaya juga menunjukkan peningkatan 10 kali lipat pada tahun 2012. Hal ini menunjukkan bahwa remaja masih memiliki asertivitas yang rendah terhadap perilaku seksual pranikah. Kajian yang dalam perlu dilakukan untuk dapat mengetahui gambaran dan faktor yang mempengaruhi asertivitas remaja terhadap perilaku seksual pranikah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran asertivitas remaja terhadap perilaku seksual pranikah di Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan disain fenomenologi untuk menggambarkan fenomena asertivitas pada remaja terhadap perilaku seksual pranikah. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam dengan triangulasi subjek dan waktu. Hasil penelitin ini adalah rasa nyaman paling sering disebutkan oleh remaja putri sebagai hambatan asertif, meskipun ada yang beranggapan sebagai pemicu asertivitas. Selain itu faktor usia, ketakutan kehilangan, dan kurangnya mengenali kondisi yang mengarah pada aktivitas seksual menjadi hambatan asertif lainnya, karena ada anggapan aktivitas seksual wajar terjadi dalam pacaran. Penolakan dengan gerak tubuh oleh remaja perempuan dianggap remaja laki-laki bukan menjadi penolakan yang kuat. Rasa nyaman memberikan 2 efek yang berbeda terhadap asertivitas perlu diwaspadai agar remaja mampu mengenali rasa nyaman yang diperoleh dari pasangan. Perlu adanya pemberian pemahaman terkait perubahan yang terjadi selama remaja serta cara mengontrolnya. Selain itu konseling bagi remaja juga dibutuhkan untuk memberikan dorongan bagi remaja untuk mampu asertif.Kata kunci: asertivitas, remaja, perilaku seksual pranikah