Articles
Tinjauan Penerapan Fatwa DSN MUI No.101 Tahun 2016 Tentang Al-Ijarah Al-Maushufah Fi Al-Dzimmah Terhadap Fitur Go-Pay
Eka Sri Apriliana;
Desi Erawati;
Hariyanto Hariyanto
At-Taradhi Jurnal Studi Ekonomi Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Islamic Economics and Business Faculty of UIN Antasari
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18592/at-taradhi.v10i2.3290
The purpose of this study is to find out and study how the Fatwa DSN MUI NO.101 of 2016 applied al-Ijarah al-Maushufah fi al-Dzimmah to the Go-Pay feature. Approach to this study using qualitative and type of research is document study by reviewing Go-Pay practices and Fatwa DSN MUI NO.101 of 2016 on al-Ijarah al-Maushufah fi al-Dzimmah. From the analysis it was found that the Go-Pay system falls under the Fatwa DSN MUI No.101 Year 2016 of IMFZ Agreement, where the sale of the service benefits after being paid in advance with the specifications and nature mentioned in advance of booking. This is in line with the IMFZ's own provisions, especially in terms of finances (wages), there are 4 Go-Pay requirements in this ruling: non-cash based wages, wages earned based on consumer and Go-Jek pricing, payments are made in cash through Go-Pay balances, and the tenants who pay the rent when the agreement is rented.Tujuan penelitian ini guna mengetahui dan mengkaji bagaimana penerapan Fatwa DSN MUI NO.101 Tahun 2016 tentang al-Ijarah al-Maushufah fi al-Dzimmah terhadap fitur Go-Pay. Pendekatan pada penelitian ini menggunakan kualitatif dan jenis penelitian ini yaitu studi dokumen dengan menelaah praktik Go-Pay dan Fatwa DSN MUI NO.101 Tahun 2016 tentang al-Ijarah al-Maushufah fi al-Dzimmah. Dari hasil analisis diperoleh bahwa sistem Go-Pay masuk dalam kategori Fatwa DSN MUI No.101 Tahun 2016 tentang Akad IMFZ, yang dimana jual beli jasa tersebut manfaatnya diserahkan setelah dilakukan pembayaran terlebih dahulu dengan spesifikasi dan sifat disebutkan diawal pemesanan. Hal ini memiliki kesesuaian dengan ketentuan-ketentuan IMFZ itu sendiri terutama dalam segi ketentuan ujrah (upah), terdapat 4 kesesuaian Go-Pay pada ketentuan fatwa ini yaitu upah berupan non-tunai, upah yang diperoleh sesuai harga kesepakatan konsumen dan Go-Jek, pembayaran dilakukan secara tunai melalui saldo Go-Pay, dan penyewa yang memberikan upah ketika akad sudah menjadi pemberi sewa.
ANALISIS PENETAPAN MARGIN PEMBIAYAAN TAQSITH PADA KOPERASI SYARIAH ARRAHMAH BANJARMASIN
Hariyanto Hariyanto;
Nuriadi Nuriadi
At-Taradhi Jurnal Studi Ekonomi Vol 9, No 2 (2018)
Publisher : Islamic Economics and Business Faculty of UIN Antasari
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18592/at-taradhi.v9i2.2515
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipenetapan margin pembiayaan taqsith pada Koperasi Syariah Arrahmah Banjarmasindan alasan penetapan margin pembiayaan taqsith pada Koperasi Syariah Arrahmah Banjarmasin.Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research), dengan lokasi penelitiandi Koperasi Syariah Arrahmah Banjarmasin. Datadalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara dan dokumenter, selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif.Penelitian ini menghasilkan temuan-temuan, pertama:Penetapan margin pembiayaan taqsith pada Koperasi Syariah Arrahmah Banjarmasin ditetapkan berdasarkan dari keputusan rapat pengurus, pengawas dan pembina koperasi. Metode yang digunakan oleh koperasi dalam menetapkan margin dengan metode flat, untuk pembayaran angsuran setiap bulannya tetap, tidak ada perubahan. Kedua: AlasanKoperasi Syariah Arrahmah Banjarmasin menetapkan margin pembiayaan taqsith dengan mempertimbangkan dari keuntungan rata-rata pada lembaga pembiayaansejenis dan biaya-biaya yangdikeluarkan dalam setiap transaksi untuk dana pihak ketiga.
PENGARUH PENERAPAN GOOD GOVERNANCE TERHADAP KINERJA UNIT PELAYANAN PUBLIK, DAN BUDAYA ORGANISASI DAN LINGKUNGAN EKSTERNAL SEBAGAI MODERATING VARIABLE.
Muhammad Dahlan
Sosiohumaniora Vol 19, No 1 (2017): SOSIOHUMANIORA MARET 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (339.054 KB)
|
DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v19i1.10515
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh budaya organisasi dan lingkungan eksternal sebagai variabel pemoderasi terhadap hubungan antara penerapan prinsip-prinsip Good Governance dan kinerja unit pelayanan publik. Faktor budaya dan lingkungan eksternal menjadi penting di Kantor Kecamatan Kota Bandung, karena siapapun aparatur pemerintah jika golongan dan jabatannya sama akan menerima penghasilan yang sama meskipun diantara mereka beban kerjanya berbeda.Penelitian menggunakan metode eksplanatori yang artinya menjelaskan sebab dan akibat dari teori yang digunakan dalam menguji permasalahannya. Metode ini digunakan dengan pertimbangan yaitu selama proses pengumpulan data, analisis dan penarikan kesimpulan, peneliti melakukan konfirmasi kembali antara teori dengan hasil penelitian yang dihasilkan. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dilaksanakan di 30 Kantor Kecamatan Kota Badung.Hasil penelitian menunjukan budaya organisasi dan lingkungan eksternal bukan sebagai variabel pemoderasi terhadap hubungan antara penerapan good governance dan kinerja unit pelayanan publik. Hal ini terlihat dari hasil tes tahap satu menunjukan variabel penerapan good governance berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pelayanan publik. Kemudian pada tes tahap kedua menunjukan variabel budaya organisasi dan lingkungan eksternal tidak berpengaruh terhadap kinerja pelayanan publik. Artinya budaya organisasi dan kondisi lingkungan eksternal belum menjadi faktor pendorong layanan publik karena mereka bekerja mengikuti aturan dan kebijakan formal yang berlaku.
USEFULNESS OF MANAGEMENT ACCOUNTING SYSTEMS: PERAN PERUBAHAN LINGKUNGAN EKSTERNAL TERHADAP UPAYA PENINGKATAN KINERJA PERUSAHAAN BUMD PEMERINTAH KOTA BANDUNG
Muhammad Dahlan
Sosiohumaniora Vol 20, No 2 (2018): SOSIOHUMANIORA, JULI 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (301.106 KB)
|
DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v20i2.13215
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Usefulness of Management Accounting Systems, perubahan lingkungan eksternal, dan kinerja perusahaan Badan Usaha Milik Daerah (BMUD) Pemerintah Kota Bandung, serta menguji pengaruh moderasi perubahan lingkungan eksternal terhadap hubungan antara Usefulness of Management Accounting Systems dan upaya peningkatan kinerja perusahaan. Penelitian ini menggunakan kuesioner lima (5) skala Likert dalam pengumpulan data sehingga terkumpul data selama bulan Juni 2017 sebanyak 64 pengguna jasa dari 7 BUMD sebagai sampel penelitian. Metode yang digunakan adalah Time Order Decision Johnson and Onwugbuzie’s (2004). Mengacu kepada Contingency Theory dan Moderate Regression Analysis (MRA), maka hasilnya adalah mengindikasikan: (1) terdapat hubungan positif dan signifikan antara variabel sistem akuntansi manajemen, perubahan lingkungan eksternal, dan kinerja perusahaan; (2) terdapat pengaruh positif dan signifikan variabel sistem akuntansi manajemen dan perubahan lingkungan terhadap kinerja perusahaan; dan (3) tidak ditemukan peran perubahan lingkungan eksternal terhadap hubungan antara sistem akuntansi manajemen dan kinerja perusahaan, atau berbeda dengan hasil penelitian terdahulu.
TEACHING WRITING DESCRIPTIVE TEXT BY USING CROSSWORD PUZZLE FOR SECOND GRADE OF JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTS
Muetiah Annisa;
Leni Marlina
Journal of English Language Teaching Vol 2, No 2 (2014): Serie C
Publisher : Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (600.338 KB)
|
DOI: 10.24036/jelt.v2i2.3720
Abstrak Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk membahas bagaimana pengajaran menulis teks deskriptif dengan menggunakan media teka-teki silang. Teka-teki silang ini dapat digunakan sebagai media alternatif dalam mengajar menulis teks deskriptif untuk siswa di kelas II SMP. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan teka-teki silang dalam menulis teks deskriptif melalui dua tahapan utama. Pertama adalah tahap persiapan. Dalam tahap ini, guru mempersiapkan teka-teki tertentu yang akan digunakan dalam mengajar menulis teks deskriptif. Tahap kedua adalah tahapan pengajaran. Tahap ini terdiri dari pre-teaching, whilst-teaching dan post-teaching. Dalam pre-teaching, guru melakukan kegiatan Brainstorming yang dapat mengaktifkan latar belakang pengetahuan siswa tentang teks deskriptif. Whilst teaching dibagi menjadi tiga bagian: (1) eksplorasi, (2) elaborasi dan (3) konfirmasi. Guru menggunakan teka-teki silang dan siswa akan memecahkan teka-teki silang pada bagian elaborasi. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tersedia pada teka-teki silang, para siswa secara otomatis akan mendapatkan kosa kata yang diperlukan dalam menulis teks deskriptif. Selain itu, siswa akan menulis teks deskriptif berdasarkan kosa kata pada teka-teki silang. Manfaat utama dari penggunaan teka-teki silang dalam mengajar menulis teks deskriptif adalah untuk memperkaya kosakata serta untuk meningkatkan minat siswa dalam menulis. Oleh karena itu, teka-teki silang adalah media yang tepat dalam mengajar menulis teks deskriptif. Key Words: teaching writing, descriptive text, crossword puzzle, Junior High School students
CREATING DIGITAL STORYTELLING TO IMPROVE EFL STUDENTS’ NARRATIVE WRITING AT SENIOR HIGH SCHOOL
Putri Nanda Laina;
Leni Marlina
Journal of English Language Teaching Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (849.741 KB)
|
DOI: 10.24036/jelt.v7i1.9761
Digital Storytelling is a media to telling story by using technology. The purpose of digital storytelling is to improve EFL students’ narrative writing at Senior High School. The main thing that is discussed in this paper is how teachers and students implement digital storytelling in improving EFL students’ narrative writing and what are the advantages of creating digital storytelling in improving EFL students’ narrative writing at Senior High School. The teacher builds the background of the student's knowledge first by showing the video in relation to the material to be given. Then, the teacher gives the narrative text related to the material which students are asked to understand the elements contained in the text. Furthermore, teachers provide exercise to students who are asked them to create digital storytelling itself in groups such as creating story map, mapping the plot structure, character profile, background information, completing the story, peer response t- chart, and storyboard. By creating digital storytelling, students can master English well.
THE IMPLEMENTATION OF RTDA (READ TO DEBATE ACTIVITY) IN MOTIVATING SENIOR HIGH SCHOOL STUDENTS TO SPEAK ENGLISH
Trissulfi Anggraini;
Leni Marlina
Journal of English Language Teaching Vol 2, No 2 (2014): Serie B
Publisher : Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (520.692 KB)
|
DOI: 10.24036/jelt.v2i2.3717
AbstrakKeterampilan berbicara adalah salah satu keterampilan bahasa Inggris yang harus dikuasai oleh siswa. Ada beberapa persoalan yang sering dihadapi oleh siswa dalam berbicara bahasa Inggris. Persoalan-persoalannya adalah siswa kurang kosakata, kurang kepercayaan diri, kurang latihan bahasa Inggris, dan kurang motivasi. Paper ini mendiskusikan cara memotivasi siswa kelas dua Sekolah Menengah Atas dalam berbicara dengan menggunakan Read to Debate Activity (RTDA). Aktivitas ini berdasarkan penggabungan keterampilan membaca dan berbicara seperti yang disarankan oleh Zhang (2009) dalam artikelnya yang berjudul Reading to Speak: Integrating Oral Communication Skills. Dalam artikel tersebut, Zhang memperkenalkan hasil RTDA dalam memotivasi siswa untuk berbicara dalam bahasa inggris. Penerapan RTDA harus mempertimbangkan dua hal utama. Hal yang pertama adalah bagian persiapan. Pada bagian ini, guru memberikan tiga teks yang mirip yang mempunyai isu yang kotroversi; membagi siswa dalam dua tim (afirmatif dan negatif) dan setiap tim juga dibagi mnjadi beberapa grup. Hal yang kedua adalah bagian prosedur pengajaran dan pembelajaran. Ada empat langkah yang harus diikuti oleh siswa. Langkah-langkahnya adalah (1) membaca teks utama di dalam kelas; (2) mendiskusikan semua teks di dalam grup; dan (3) berpatisipasi dalam debat di kelas. Sebagai tambahan, penerapan RTDA memberikan tiga keuntungan utama untuk siswa. Keuntungannya adalah (1) memotivasi siswa untuk berbicara bahasa inggris dan mempunyai pikiran yang kritis; (2) untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa; dan (3) untuk memberikan siswa pengalaman awal tentang debat. Setiap langkah dalam RTDA memotivasi siswa untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, RTDA sangat sesuai diterapkan dalam pengajaran bahasa Inggris di Sekolah Menengah Atas.Keywords: Read to Debate Activity (RTDA), motivasi, keterampilan berbicara, siswa Sekolah Menengah Atas
POLITENESS STRATEGY USED IN REPUBLICAN DEBATE BY DONALD TRUMP
Jhon Ginever Sibarani;
Leni Marlina
English Language and Literature Vol 7, No 4 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/ell.v7i4.102007
Politeness strategy is a way that is done by someone to say his speech more politely. The politeness strategy can be found in daily conversations and in debating events. One of the debates of concern for this study is the debate of candidates in the Republican Party. The purpose of this paper is to describe the politeness strategies used in the Republican debate by Donald Trump. This research used the theory of politeness strategy proposed by theory is Brown and Levinson (1987) who classify politeness strategies into four types: Bald on Record, Positive Politeness, Negative Politeness, and Off Record. The finding of this study indicates that Donald Trump uses only three types of politeness strategies in Republican debate. The most prominent politeness strategy is Positive politeness (55.27%). Other politeness strategies are Negative politeness (22.98%), and Bald on Record (21.73%). It can be concluded that Donald Trump mostly uses Positive politeness strategy in delivering his speech for Republican Party debate.
Comparative Analysis of The Representation of Trump’s Jerusalem Move Issue in News Articles Of The New York Times And Al-Jazeera
Atika Yunia Rahayu;
Hamzah Hamzah;
Leni Marlina
English Language and Literature Vol 7, No 4 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/ell.v7i4.101913
Although there have been many studies show that different news media can represent the same issue with different representations, there are very few studies that examine representations of social issues related to institutions and conflicts between countries. This study aims to, 1) explain the representation of social issues, namely Trump's Jerusalem move in news articles from The New York Times and Al-Jazeera, 2) identify the similarities and differences in the content of the news coverage on both media, and 3) analyse the bias of the media in representing the issue. The analysis in this study is based on Faiclough's (1995) theory of critical discourse analysis. To answer all questions, this theory is also elaborated with News Schemata's theory of Van Dijk (1986) and the analytical tools of text analysis from Richardson (2007). The results showed that The New York Times and Al-Jazeera represented the issue in a different way. Al-Jazeera seeks to display negative representations of Trump's Jerusalem move, while The New York Times does not do so. The conclusion obtained is that The New York Times represents the issue in a neutral way, while Al-Jazeera is identified bias with those who oppose Trump's decision.
AN ANALYSIS OF MINOR FIGURATIVE LANGUAGE USED IN STAND-UP COMEDY PERFORMED BY HASAN MINHAJ ENTITLED HOMECOMING KING
Desfri Handika;
Hermawati Syarif;
Leni Marlina
English Language and Literature Vol 8, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (341.001 KB)
|
DOI: 10.24036/ell.v8i4.106779
Figurative language is a way of delivering a message which has an unreal meaning. The use of figurative language usually found in everyday conversation, in literary works, and in public speaking. Most of the speaker stand-up comedy use figurative language in their performance. The purpose of this study is to find the types of minority majors used in stand-up comedy by Hasan Minhaj. This research is descriptive research which consists of exploring the depth of meaning in each figurative language. The researcher uses scanning techniques on the transcription of the appearance video that the researcher got from a trusted site. The results showed that minority figurative language was divided into metaphors, similes, metonymy, irony, allegory, personification and hyperbole. This study also intends to help stand-up comedy audiences in understanding the intentions and objectives of the speaker or comics with the material presented.