Articles
Kesesuaian Pengukuran Hemodinamik Secara Non-Invasif Dan Invasif: Apakah Aplikatif?
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 30, No. 2 Mei - Agustus 2009
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v30i2.163
Upaya penyederhanaan pengukuran –pengukuran invasif dengan pengukuran non-invasif selalu menarik untuk diteliti. Jika pengukuran yang lebih sederhana dan non-invasif dapat memiliki akurasi mendekati baku emas pengukuran invasif tentu akan sangat bermanfaat bagi pasien. Pada jurnal ini Priyana dkk mencoba meneliti kesesuaian pengukuran tahanan vaskular sistemik (TVS) antara Swan-Ganz dengan ekokardiografi transtorakal .TVS adalah tahanan terhadap aliran darah oleh seluruh vaskularisasi sistemik di luar vaskularisasi paru. TVS kadang disebut juga sebagai total peripheral resistance(TPR). TVS ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi tahanan vaskular pada setiap vascular beds. Mekanisme yang menimbulkan vasokonstriksi akan meningkatkan TVS, sementara mekanisme yang menyebabkan vasodilatasi akan menurunkan TVS. Sekalipun TVS secara primer ditentukan oleh perubahan diameter pembuluh darah, tetapi perubahan dalam viskositas darah juga berpengaruh terhadap TVS.
Kejadian Kardiovaskular Selamat Perawatan Pasca IMAInferior Dapat Diprediksi Dengan Rasio Tinggi Titik J/Gelombang R
Sonny H Wicaksono;
Yoga Yuniadi;
Nani Hersunarti
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 30, No. 2 Mei - Agustus 2009
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v30i2.164
Introduction: Some patients with acute inferior ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) experienced in-hospital events such as Brady-arrhythmias and hypotension after primary angioplasty. Those events have been associated with proximal lesion and larger final infarct size. Some variables associated with such conditions are ischemic preconditioning, hyperglycemia and patterns of initial ECG of J point/R wave ratio > 0,5. We sought to determine variables that can predict in-hospital cardiovascular events in patients with acute inferior STEMI after primary angioplasty.Methods: The present study is a case-control study involving patients with acute inferior STEMI underwent primary angioplasty, grouped based on presence of in-hospital cardiovascular event. Univariate and multivariate analyses were conducted to variables related with in-hospital cardiovascular events after primary angioplasty.Results: There were total 96 subjects (48 cases and 48 controls) with acute inferior STEMI underwent primary angioplasty recruited for this study. Multivariate analysis revealed ratio of J point/R wave >0,5 is significant predictor for in-hospital cardiovascular events after primary angioplasty (OR 9,532; 95% CI: 3,406-26,678; p<0,001). Conclusion: In-hospital cardiovascular events in patients with inferior STEMI after primary angioplasty can be predicted with initial ECG patterns ratio of J point/R wave > 0,5.
Contrast Induced Nephropathy
Nurul R Ningrum;
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 30, No. 2 Mei - Agustus 2009
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v30i2.166
Incidens of contrast induced nephropathy (CIN) ranging from 0 to 100% in retrospective cohort studies depend on its definition, method of investigation and subject characterization. In National Cardiovasculars Center Harapan Kita, CIN incidence after percutaneous coronary intervention was 25% using definition of 0.5 mg/dl increase of serum creatinine. Clinical spectrum of CIN is widely variably from only creatinine serum increment to acute renal failure.Pathogenesis of CIN is related to hemodynamic compromize of renal blood flow and direct toxic effect of contrast media. Some factors were identified as CIN risk factors such as previous renal status, diabetes mellitus, hidration status, contrast volume and osmality. Score system has been developed to predict CIN risk after percutaneous coronary intervention. The Society of Cardiovascular Angiography and Intervention (SCAI) proposed guideline to prevent CIN after percutaneous coronary interventions.
Prasinkop pada RBBB: Apa yang harus dilakukan?
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 30, No. 2 Mei - Agustus 2009
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v30i2.169
Seorang pria, 65 tahun datang ke poli aritmia dengan keluhan sering melayang serasa mau jatuh. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah yang tinggi, sedang-kan pemeriksaan lain dalam batas normal. Rekaman EKG memperlihatkan gambaran di bawah ini:Apa kemungkinan penyebab presinkop pada pasien ini? Dapatkah gambaran EKG di atas memberikan dugaan kausa presinkop?
Aplikasi Klinis Beberapa Trial Amiodaron
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 30, No. 1 Januari - April 2009
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v30i1.175
Amiodarone is a class-3 antiarrhythmia drug having a unique pharmaco-kinetic and pharmacodynamic properties. Some trials on amiodarone, from ARREST to ALIVE, showed its efficacy in acute phase or as chronic therapy of tachyarrhytmias. This article reviews clinical application of those trials.
Intervensi penyakit jantung koroner dengan Sindroma Gagal Jantung
I Made Putra Swi Antara;
Yoga Yuniadi;
Bambang Budi Siswanto
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 30, No. 1 Januari - April 2009
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v30i1.176
Revaskularisasi koroner pada pasien dengan gagal jantung seringkali menjadi keputusan yang sulit akibat diperlukannya pertimbangan antara keuntungan dan risiko perioperatif yang lebih besar pada kelompok pasien seperti ini. Sementara itu, angka mortalitas pasca tindakan CABG pada pasien dengan gagal jantung di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (PJNHK) cukup tinggi. Data yg tercatat pada tahun 2006-2008 menunjukkan bahwa 14 dari 85 orang (16,4%) pasien akhirnya meninggal di rumah sakit.Apakah revaskularisasi dengan PCI pada penyakit jantung koroner (PJK) dengan EF rendah namun miokardium yang viabel memiliki peranan di PJNHK? Melaui pemaparan kasus ini akan didiskusikan manajemen Sindroma Gagal Jantung yang disebabkan oleh PJK dengan EF buruk menggunakan revaskularisasi PCI pada pasien yang menolak CABG.
Sinkop pada pasien dengan PPM: Apa mekanismenya?
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 30, No. 1 Januari - April 2009
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v30i1.178
Seorang pria, 67 tahun datang ke poli aritmia dengan keluhan pingsan berulang. Kehilangan kesadaran berlangsung sekitar 1-2 menit dan kembali spontan. Pasien pernah dilakukan pemasangan PPM 2 tahun yang lalu atas indikasi disfungsi nodal sinus. Pada saat itu PPM yang dipasang adalah tipe VVI.Rekaman EKG strip sadapan II menunjukkan gambaran irama sinus dengan diselingi oleh pemacuan ventrikel kanan (Gambar 1).Dari gambaran EKG di atas tampak bahwa fungsi pemacuan baik dengan laju pacu 75 kpm. Akan tetapi terlihat bahwa fungsi sensing PPM tidak berjalan sehingga memberikan pemacuan dalam jarak yang terlalu dekat dari aktivitas intrinsik yang mendahuluinya. Dalam hal ini terjadi undersensing gelombang R intrinsik.Dengan demikian dapat diyakini bahwa episode sinkop yang dialami pasien bukan akibat kegagalan pemacuan. Jadi apa mekanisme sinkopnya?
POBA pada Stenosis Sinus Koronarius Saat Implantasi CRT
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 29, No. 3 September - Desember 2008
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v29i3.185
Seorang laki-laki 54 tahun dengan PJK dan gagal jantung refrakter sekalipun diberikan terapi yang optimal. EKG menunjukkan gambaran irama sinus dengan RBBB, interval PR 240 mdet dan durasi QRS 160 mdet. Pemeriksaan ekokardiografi menunjukkan fungsi sistolik yang rendah dengan EF 15%, dilatasi LV dan terdapat bukti disinkroni intraventrikular.Terapi rutin pasien meliputi dosis optimal ACE inhibitor, ARB, beta blocker, lasix, spironolacton, nitrat, dan aspirin. Akan tetapi pasien masih sangat simtomatik dengan kelas fungsional NYHA kelas IV. Diputuskan untuk dilakukan pemasangan CRT.
Gelombang P yang Berubah-ubah: Apa mekanismenya?
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 29, No. 3 September - Desember 2008
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v29i3.186
Seorang anak laki-laki, 13 tahun diketahui menderita ASD sekundum besar dengan pirau kiri ke kanan. Flow ratio 2,5.Terdapat hipertensi pulmonal ringan dengan MPAP 50 mmHg. Keluhan mudah cape. Pasien mendapat terapi amiodaron dan bisoprolol karena ada episode VPC bigemini, selain mendapat captopril. EKG strip menunjukkan perubahan dinamis yang tidak berkaitan dengan pola aktivitas pasien.
Ablasi Radiofrekuensi pada Kepak Atrium Tipikal Setelah Pemasangan Amplatzer Septal Occluder : Suatu Laporan Kasus
Siska Suridanda Danny;
Yoga Yuniadi;
Amir Aziz Alkatiri;
Faris Basalamah;
Muhammad Munawar
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 29, No. 2 Mei - Agustus 2008
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v29i2.192
We report a case of a 48-year old female with secundum atrial septal defect (ASD), already undergone device closure with an Amplatzar Septal Occluder (ASO). The patient subsequently underwent radiofrequency catheter ablation for typical atrial flutter, three months after ASD closure with good results. During follow up the patient remained in sinus rhythm and the complaints of dyspnoe and palpitation subsided.