Articles
Fibrilasi Atrial pada sindrom WPW
Dony Yugo;
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 35, No. 2 April - Juni 2014
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v35i2.396
Background : In large-scale general population studies involving children and adults, the prevalence of WPW is estimated to be 1–3 in 1000 individuals. At present, it is estimated that approximately 65% of adolescents and 40% of individuals over 30 years with WPW pattern on a resting ECG are asymptomatic. An incidence of 4.5 episodes of sudden death, including resuscitated sudden cardiac death (SCD), per 1000 patient-years was recently reported. The mechanism of sudden cardiac death in patients with WPW is thought to be associated with atrial fibrillationCase Illustration : We reported a case of 45 year old female came with unstable irregular wide complex tachycardia in the form of pre-excited AF. Cardioversion successfully terminate the tachyaarhythmias. ECG in sinus rhythm revealed WPW pattern ECG. Patient then referred for catheter ablation. Successful ablation was done resulting a normal pattern ECGConclusion : AF in WPW syndrome could lead to devastating events such as cardiac arrest. ECG recognition at the first place is very important for early management. Early stratification and management in patients with WPW is important to diminished the risk of AF occurence and SCD.
Pedoman Tata Laksana Fibrilasi Atrium Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia 2014
Yoga Yuniadi;
Dicky A Hanafy;
Sunu B Rahardjo;
Alexander E Tondas;
Erika Maharani;
Dony Y Hermanto;
Muhammad Munawar
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 35, No. 2 April - Juni 2014
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v35i2.398
Atrial fibrillation is the most frequent arrhythmia in clinical practice and causing huge health problem. Therefore, a national guidelines in management of AF that comprise of pathomechanism, clasifications, anticoagulants management for stroke prevention, rate and rhythm control is developed to ensure patients get best therapeutic option. The guidelines is developed in line with variable health care level in Indonesia from primary up to tertiary care.
Fibrilasi Atrial dengan Takikardia QRS Lebar
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 35, No. 2 April - Juni 2014
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v35i2.399
Seorang pria Bngladesh, 65 tahun datng ke UGD dengan keluhan mau pingsan. Pasien adalah pasien lama dengan 3VD yang sudah dilakukan revaskularisasi lengkap dengan pemasangan stent. Riwayat medis sebelumnya adalah rawat inap berulang karena ADHF. Hasil ekokardiografi menunjukkan suatu disfungsi ventrikel kiri berat, fraksi ejeksi (EF) 35%, dimensi end diastolik ventrikel kiri (EDD) 66 mm dan dimensi atrium kiri (LAD) 52 mm. Pemeriksaan fisik dalam batas normal.
Hubungan Kadar P-selectin dengan Fungsi Atrium Kiri pada Stenosis Mitral Rematik
Prafithrie Avialita Shanti;
Yoga Yuniadi;
Nur Haryono
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 35, No. 3 Juli - September 2014
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v35i3.426
Background. Mitral stenosis (MS) prevalence remains significant in developing countries because of the prevalence of Rheumatic Heart Disease (RHD). In moderate-severe MS patients, enormous increase in turbulent region and shear stress cause vascular endothelial dysfunction, and as the consequence, it increases the risk of thromboembolic complications. P-selectin is an adhesion molecule that play a role in the inflammation process, where it is expressed rapidly in mere minutes. Left Atrial Volume Index (LAVI) is a superior parameter compared with other two-dimensional echocardiography method to assess left atrial function.Methods. This was a cross-sectional study involving 20 MS moderate-severe patients with mitral valve area (MVA) < 1.5 cm2, to whom successful Percutaneous transvenous Balloon Mitral Valvulotomy (PBMV) was performed. Samples were taken consecutively from May-October 2013 at the National Cardiovascular Center Harapan Kita, Jakarta. Blood samples of P-selectin were collected pre and post-PBMV. The result was statistically analyzed with echocardiography data of LAVI prior PBMV to describe any association between expression of P-selectin and atrial function.Result.We found no association between LAVI and P-selectin level pre and post-PBMV in MS patients. That is described in the value of pre PBMV ?=-0.103 (95% CI -0.251-0.045) with p=0.16 and post-PBMV ?= 0.009 (95% CI -0.155-0.172) with p=0.91 We then performed linear regression test with adjusted confounding variable including sex, age, and atrial fibrillation, still we found no association between LAVI and P-selectin level, with the value of pre PBMV ?= -0.154 (95% CI -0.340-0.032) p=0.09 and post PBMV ?= -0.049 (95% CI -0.250-0.152) p=0.61.Conclusion. There is no difference in P-selectin level pre and post PBMV. There is no association between poor LAVI value and expression of P-selectin pre and post PBMV in MS.
Pedoman Terapi Memakai Alat Elektronik Kardiovaskular Implan (Aleka) Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia 2014
Dicky A Hanafy;
Yoga Yuniadi;
Sunu B Raharjo;
Alexander E Tondas;
Adhantoro Rahadian;
Muhammad Yamin;
Daniel Tanubudi;
Beny Hartono;
Muhammad Munawar
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 35, No. 3 Juli - September 2014
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v35i3.431
PEDOMAN TERAPI MEMAKAI ALAT ELEKTRONIK KARDIOVASKULAR IMPLAN (ALEKA)Perkembangan dan kemajuan pada diagnostik dan terapi dalam tata laksana pasien dengan kelainan irama jantung merupakan dasar disusunnya pedoman terapi memakai alat elektronik kardiovaskular implan (Aleka) ini. Pedoman ini disusun oleh Perhimpunan Aritmia Indonesia - Indonesian Heart Rhythm Society (lnaHRS), sebuah kelompok kerja dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), berdasarkan pedoman terbaru yang dipublikasi oleh perhimpunan Eropa maupun Amerika Utara dan disesuaikan dengan keadaan lokal di Indonesia.Pedoman Aleka ini terdiri dari alat pacu jantung permanen (APJP), defibrilator kardiak implan (DKI) dan terapi resinkronisasi jantung (TRJ). Kumpulan rekomendasi ini memberi pedoman untuk penggunaan Aleka dengan tepat tetapi bukan sebagai pedoman untuk tata laksana aritmia secara umum.Bradikardia simtomatik menjadi indikasi implantasi APJP. Sebelum keputusan diambil untuk implantasi APJP, pertanyaan utama yang muncul adalah apakah simtom yang dialami pasien berhubungan dengan bradikardia, baik yang dicurigai maupun terdokumentasi. Ada kemungkinan bahwa kondisi yang terjadi bersifat sementara (akibat iskemia, efek samping obat, gangguan elektrolit, inflamasi, sepsis) dan dapat ditangani dengan pemacuan temporer serta dapat disembuhkan dengan mengobati penyebab yang mendasari. lndikasi implantasi APJP haruslah dievaluasi secara teliti dan dicari penyebab yang mendasari. lndikasi kelas I untuk implantasi APJP tidak dapat menyingkirkan pilihan tata laksana alternatif yang mungkin ada. Diagnosis banding termasuk penyebab kardiak maupun non-kardiak harus disingkirkan terlebih dahulu.Untuk terapi memakai Aleka, tidak hanya dibutuhkan pengetahuan gangguan irama jantung yang dalam namun juga pengetahuan teknik dasar. Pendekatan transvena telah mempermudah teknik bedah dan memudahkan tindakan implantasi sehingga dapat dilakukan oleh kardiolog. Hanya dengan memiliki pengertian yang mendalam mengenai keterkaitan antara fungsi dari pemacuan yang
Intermittent Wide Qrs Complex During Sinus Rhythm
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 35, No. 3 Juli - September 2014
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v35i3.433
Seorang pria 40 tahun datang ke poli Aritmia dengan keluhan palpitasi berulang. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Ekokardiografi didapatkan EF 56% dan angiografi menunjukkan arteri koroner normal. Rekaman EKG terlihat seperti gambar di bawah ini,Rekaman EKG menunjukkan gambaran bigemini yaitu selang-seling antara kompleks QRS sempit dan lebar. Perhatikan bahwa baik kompleks QRS sempit maupun lebar keduanya didahului oleh gelombang P. Yang menarik adalah (1) interval PR sangat pendek pada saat kompleks QRS lebar dan (2) interval PP kompleks QRS sempit ke QRS sempit(A) tidak merupakan dua
Penyakit Arteri Koroner: Pilih CABG atau PCI?
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 36, No. 1 Januari - Maret 2015
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v36i1.434
Strategi revaskularisasi pada penyakit arteri koroner (PAK) terus menjadi bahan debat di kalangan kardiologi. Berbagai uji klinis yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang bervariasi dan harus ditelaah secara detil karena persoalan strategi revaskularisasi menjadi masalah yang tidak sederhana tetapi harus memperhatikan subset pasien yang befvariasi untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Prinsip dasar yang harus tetap dijaga oleh para kardiolog adalah keputusan medis harus berorientasi pada pasien. Patient first!Perbandingan secara tidak langsung antara bedah pintas arteri koroner (BPAK/CABG) dengan intervensi koroner perkutan (IKP/PCI) menunjukkan dengan CABG keperluan pengulangan revaskularisasi lebih sedikit. Masalah yang selalu dipertanyakan dalam membandingkan kedua teknik revaskularisasi itu adalah pengaruh perkembangan teknologi stent terhadap luaran pasien. Berbeda dengan teknik CABG relatif tidak banyak berubah yaitu terdiri dari teknik on- atau off-pump, sedangkan teknologi stent berkembang cepat dan mungkin akan memberikan luaran yang berbeda karena stent generasi terakhir dipercaya memiliki patency rate yang lebih baik. Teknologi stent berkembang dari bare-metal stent ke drug-eluting stent, kemudian drug eluting stent juga berevolusi mulai dari generasi pertama yang memakai obat sirolimus atau paclitaxel ke generasi kedua yang memakai obat everolimus atau zotarolimus. Demikian juga farmako-teknologi polymer yang berkembang ke arah polymer-free stent. Dalam hal platform stent dimulai dari stainless steel, cobalt chromium, platinum dan terakhir memakai polylactyic acid yang dapat diserap.
Peranan Trimetazidine pada Reperfusion Injury
Taka Mehi;
Yoga Yuniadi;
Nur Haryono
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 36, No. 1 Januari - Maret 2015
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v36i1.441
The incidence rate of ST-Elevation acute Myocardial Infarct (STEMI) keeps increasing. Currently, myocardial reperfusion, either with thrombolytic or Primary Percutaneous Coronary Intervention (PPCI), is the main treatment. However, mortality rate of STEMI patients undergoing PPCI is still high which is 6% to 14%. The main purpose of PPCI is to restore the patency of infarcted epicardial artery and to establish microvascular reperfusion as soon as possible so that it can reduce enlargement of irreversible necrotic myocardial tissue. In the other hand, restored patency of infarcted epicardial artery does not indicate sufficient reperfusion to microvascular. Such phenomenon is called no-reflow or microvascular obstruction (MVO). Specific pathogenic component of MVO is reperfusion injury. Reperfusion injury involves some mediator and mechanisms, one of which is the process of thrombolysis and angioplasty. Mediator that play a certain role is inflammatory neutrophil which is activated and accumulated. Trimetazidine is an anti-ischemic agent which selectively inhibits end stage activation of oxidation pathway of 3-ketoacyl coenzyme Athiolase. Trimetazidine has an ability to reduce the accumulation of neutrophil
Interferensi Listrik terhadap ECG
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 36, No. 1 Januari - Maret 2015
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v36i1.444
Seorang laki-laki, 71 tahun dengan riwayat PPOK, dirujuk ke poli Aritmia dengan dugaan fibrilasi atrial. Keluhan pasien lebih menggambarkan gejala PPOK tanpa keluhan tambahan. Gambar EKG yang menjadi alasan dirujuk disertakan di bawah ini:
Benarkah Obat Penghambat Pompa Proton Meningkatkan Risiko Infark Miokard?
Yoga Yuniadi
Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 36, No. 2 April - Juni 2015
Publisher : The Indonesian Heart Association
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30701/ijc.v36i2.459
Isu tentang pengaruh obat Penghambat Pompa Proton (P3) terhadap kejadian kardiovaskular mayor sudah cukup lama menjadi debat di kalangan kardiologi. Berbagai studi terkait masalah ini telah dilakukan tetapi memberikan hasil yang kontradiktif. Ching dkk1 meneliti hampir 3300 pasien pasca intervensi koroner perkutan yang dibagi jadi dua kelompok yaitu dengan dan tanpa P3. P3 yang dikonsumsi meliputi lansoprazole, pantoprazole, omeprazole dan esomeprazole. Pada pengamatan selama 9 bulan didapatkan insiden mortalitas, revaskularisasi dan kejadian kardiovaskular mayor yang lebih tinggi pada kelompok P3 dengan rasio hazard 1.7. Sebaliknya metanalisis dari 23 studi oleh Kwok dkk memperlihatkan tidak terdapat perbedaan kejadian kardiovaskular mayor pada pasien yang mengkonsumsi klopidogrel dan P3.2Sebuah studi yang dimuat di jurnal terbuka Plos One pertengahan tahun ini cukup mengejutkan kalangan kardiologi. Shah dkk3 melakukan studi observasional dari sekitar 16 juta data rekam medis dan menyimpulkan bahwa obat P3 berhubungan dengan peningkatan risiko infark miokard pada populasi umum. Enam belas persen penderita penyakit refluks gastroesofageal (GERD) yang diberi P3 menunjukkan peningkatan risiko infark miokard (95%IK 1.09 hingga 1.24) dan peningkatan risiko mortalitas kardiovaskular (HR 2.0, 95%IK 1.07 hingga 3.78, p = 0.031).Jadi ada dua isu besar terkait P3, yaitu diduga meningkatkan kejadian kardiovaskular mayor pada pasien penyakit jantung koroner (PJK) dan peningkatan kejadian infark miokard pada populasi umum. Bagaimanakah sikap yang harus diambil oleh para klinisi terkait hal di atas? Tulisan ini merupakan suatu stimulus agar para klinisi melihat lebih seksama pengaruh interaksi P3 pada pasien maupun populasi umum.