Articles
Struktur Vertikal Distribusi Butiran Hujan di Kototabang Berdasarkan Pengamatan Micro Rain Radar (MRR)
Rahayu, Indah;
Marzuki, Marzuki;
Hashiguchi, Hiroyuki;
Shimomai, Toyoshi
Jurnal Fisika Unand Vol 5 No 4 (2016)
Publisher : Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jfu.5.4.287-296.2016
Distribusi ukuran butiran hujan atau raindrop size distribution (RDSD) arah vertikal dari ketinggian 0,15 km hingga 4,65 km di Kototabang, Sumatera Barat, telah diteliti melalui pengamatan Micro Rain Radar (MRR) selama Januari-Desember 2012. Intensitas curah hujan (rainfall rate) dari Optical Rain Gauge (ORG) dan RDSD dari Parsivel digunakan untuk menguji kinerja MRR. Pengujian memperlihatkan bahwa MRR berfungsi dengan baik dimana intensitas curah hujan dari ORG berkorelasi dengan baik dengan MRR (r = 0,98) dan RDSD dari MRR secara umum juga memperlihatkan pola dan nilai yang sama dengan yang didapatkan Parsivel.  Selanjutnya, RDSD dari MRR dimodelkan dengan distribusi gamma dan parameternya didapatkan menggunakan metode momen. Terlihat bahwa pertumbuhan RDSD di Kototabang dari ketinggian 4,65 km hingga 0,15 km sangat kuat yang kemungkinan disebabkan oleh proses tumbukan-penggabungan. Hal ini ditandai dengan peningkatan konsentrasi butiran berukuran besar dengan penurunan ketinggian. Peningkatan konsentrasi butiran hujan berukuran besar terhadap penurunan ketinggian berpengaruh kepada parameter-parameter hujan seperti radar reflectivity (Z) dan rainfall rate (R) yang menyebabkan peningkatan koefisien A (Z= ARb) terhadap penurunan ketinggian. Dengan demikian, penggunaan persamaan Z-R yang konstan untuk setiap ketinggian bagi radar meteorologi di kawasan tropis khususnya Sumatera Barat tidak tepat.Kata kunci: raindrop size distribution, MRR, Kototabang, distribusi gamma.
Distribusi Spasial dan Temporal Petir di Sumatera Barat
Saufina, Elfira;
Marzuki, Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 5 No 4 (2016)
Publisher : Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jfu.5.4.303-312.2016
Distribusi spasial dan temporal petir di Sumatera Barat telah diteliti dengan menggunakan data satelit Tropical Rainfall Measuring Mission-Lightning Imaging Sensor (TRMM-LIS) selama 16 tahun pengamatan (1998-2013). Hubungan antara petir dan curah hujan diteliti dengan memanfaatkan data TRMM 3B43. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petir di Sumatera Barat banyak terjadi di darat dengan densitas tertinggi terjadi pada bulan Desember, Januari dan Februari (DJF). Petir di darat banyak terjadi pada sore hari mulai jam 17.00 LST hingga tengah malam dan kabupaten Dharmasraya merupakan daerah yang memiliki densitas kilatan petir tertinggi terutama selama periode DJF. Siklus diurnal petir konsisten dengan siklus migrasi awan dari laut ke daratan Sumatera yang ditemukan oleh peneliti sebelumnya. Hubungan curah hujan dan petir di Sumatera Barat bervariasi antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya. Berdasarkan nilai regresi linier antara petir dan curah hujan terlihat bahwa daerah yang memiliki korelasi yang cukup kuat antara densitas petir dan curah hujannya adalah Kabupaten Solok, Solok Selatan, Padang Pariaman, dan 50 Kota sedangkan daerah yang memiliki korelasi yang rendah adalah Kepulauan Mentawai, Pesisir Selatan, dan Agam. Dengan demikian, di beberapa kabupaten petir dapat menjadi indikator untuk penentu curah hujan tetapi tidak untuk beberapa kabupaten yang lain.Kata kunci: distribusi petir, Sumatera Barat, TRMM
Distribusi Vertikal Karbon Monoksida di Sumatera Berdasarkan Pengamatan Measurement of Pollution in the Troposphere (MOPITT) Selama Kebakaran Hutan Tahun 2015
Azmi, Ulfa;
Marzuki, Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 5 No 3 (2016)
Publisher : Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jfu.5.3.252-260.2016
Distribusi vertikal karbon monoksida (CO) di Sumatera selama kebakaran hutan tahun 2015 telah diteliti menggunakan data satelit MOPITT (Measurements of Pollution in the Troposphere). Pengaruh proses konveksi terhadap pergerakan CO ke lapisan atmosfer diamati dengan data OLR (Outgoing Longwave Radiation) dan pergerakan udara dari data NCEP/NCAR (National Centers for Environmental Prediction/National Center for Atmospheric Research). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kebakaran hutan tahun 2015 telah meningkatkan konsentrasi CO di Indonesia. Namun, jumlah gas CO yang terekam oleh MOPITT tidak terlalu tinggi (~40-120 ppbv). Hal ini disebabkan oleh tingginya konsentrasi uap air di ekuator sehingga konsentrasi CO rendah dan waktu tinggal CO di atmosfer juga berkurang. Selain di permukaan, peningkatan konsentrasi CO juga teramati pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Namun, hubungan antara pergerakan CO ke lapisan atmosfer atas dengan aktivitas konveksi sulit untuk diamati dengan data satelit MOPITT. Perulangan waktu pengamatan MOPITT untuk titik pengamatan yang sama cukup lama yaitu 4Â hari menjadi salah satu kendala. Walaupun demikian, dari tiga studi kasus yang diteliti, teramati pengaruh konveksi terhadap pergerakan CO ke atas pada dua kasus yaitu tanggal 11 dan 15 Oktober 2015. Pada 11 Oktober, jumlah CO bertambah dari 60 ppbv menuju 80-100 ppbv dan pada tanggal 15 Oktober, juga mengalami peningkatan dari 60 ppbv menjadi 80-90 ppbv pada 100 hPa.Kata kunci:CO, MOPITT, konveksi, Sumatera, kebakaran hutan 2015
Perbandingan Karakteristik Distribusi Butiran Hujan yang Berasal dari Awan Laut dan Awan Darat di Kototabang
Fadillah, Nur;
Marzuki, Marzuki;
Harjupa, Wendi;
Shimomai, Toyoshi;
Hashiguchi, Hiroyuki
Jurnal Fisika Unand Vol 5 No 3 (2016)
Publisher : Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jfu.5.3.273-282.2016
Karakteristik distribusi ukuran butiran hujan atau raindrop size distribution (RDSD) dari hujan yang berasal dari awan laut dan awan darat di Kototabang, Sumatera Barat, telah dibandingkan. Asal hujan diamati menggunakan X-band Doppler radar (XDR) selama proyek Coupling Processes in the Equatorial Atmosphere (CPEA)-I (10 April 2004 - 9 Mei 2004). Data RDSD berasal dari pengamatan two-dimensional video disdrometer (2DVD). RDSD dimodelkan dengan distribusi gamma dan parameternya didapatkan menggunakan metode momen. Dari penelitian ini terlihat bahwa intensitas curah hujan yang tinggi lebih banyak pada hujan dari awan darat dibandingkan dengan yang dari awan laut. Selain itu, butiran hujan yang berukuran besar pada awan darat lebih banyak daripada awan laut. Banyaknya butiran hujan dengan ukuran yang besar ini berdampak kepada nilai radar reflectivity (Z) pada awan darat yang lebih besar dibandingkan dengan awan laut untuk intensitas curah hujan yang sama. Hal ini mengakibatkan persamaan Z-R antara awan darat dan awan laut berbeda dimana nilai koefisien A dari persamaan Z-R untuk awan darat lebih besar daripada awan laut. Dengan demikian, perbedaan karaktersitik RDSD antara awan darat dan laut sebaiknya dipertimbangkan dalam pengembangan radar meteorologi di kawasan tropis. Penggunaan Z-R tunggal (Z = 200R1,6) untuk mengkoversi data radar cuaca di Sumatera terutama Sumatera Barat tidak akan akurat terutama untuk hujan dari awan laut.Kata kunci: distribusi butiran hujan (RDSD), awan darat, awan laut, Kototabang
Perbandingan Parameter Distribusi Butiran Hujan Arah Vertikal antara Fase Aktif dan Tidak Aktif Osilasi Madden Julian Menggunakan Metode Dual-Frequency Radar
Yoseva, Meri;
Vonnisa, Mutya;
Marzuki, Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jfu.6.1.81-88.2017
Distribusi ukuran butiran hujan atau raindrop size distribution (DSD) arah vertikal antara fase aktif dan tidak aktif Madden Julian oscillation (MJO) di Kototabang, Sumatera Barat, telah dibandingkan. Perbandingan dilakukan melalui parameter DSD yang dihitung menggunakan data Equatorial Atmosphere Radar (EAR) yang dikopling dengan data Boundary Layer Radar (BLR) selama proyek Coupling Processes In The Equatorial Atmosphere (CPEA)-I (10 April - 9 Mei 2004). Estimasi parameter DSD menggunakan metode dual-frequency. DSD dimodelkan dengan distribusi gamma dan parameternya didapatkan menggunakan metode momen. Dari penelitian ini terlihat bahwa intensitas curah hujan yang tinggi lebih banyak terjadi pada fase MJO tidak aktif dibandingkan dengan fase aktif. Perbedaan parameter DSD antara fase MJO aktif dan tidak aktif lebih jelas terlihat pada hujan dengan intensitas tinggi (R ≥ 20 mm/h). DSD selama fase tidak aktif mengandung lebih banyak butiran hujan berukuran besar daripada fase aktif. Hal ini ditandai dengan nilai Λ yang lebih kecil dan µ yang lebih besar selama fase tidak aktif. Banyaknya butiran hujan yang berukuran besar ini berdampak kepada nilai radar reflectivity (Z) dimana pada fase tidak aktif nilainya lebih besar dibandingkan pada fase aktif MJO. Dengan demikian, proses fisika yang menghasilkan butiran hujan yang berukuran besar dominan terjadi pada fase tidak aktif MJO. Kata kunci: raindrop size distribution (DSD), Madden Julian oscillation (MJO), dual frekuensi,Kototabang, Equatorial Atmosphere Radar (EAR)
Analisis Intensitas Citra Tetesan Air dengan Metode Laser Speckle Imaging
Basri, Feri Helmi;
Harmadi, Harmadi;
Marzuki, Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 6 No 4 (2017)
Publisher : Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jfu.6.4.311-317.2017
Analisis nilai intensitas citra tetesan air dengan metode Laser Speckle Imaging telah dilakukan. Penelitian ini menggunakan sistem perancangan forward-scattering. Sistem terdiri dari tiga unit yaitu transmitter sebagai sumber cahaya menggunakan laser He–Ne, receiver sebagai detektor menggunakan CCD (Charge Couple Device), dan penampil menggunakan PC. Transmitter dan receiver diposisikan sejajar dengan jarak yang telah diatur agar berkas cahaya laser menyinari detektor CCD pada sudut 00 untuk mendapatkan citra spekel. Intensitas citra spekel dikarakterisasi menggunakan 6 manik-manik dengan diameter berbeda (2,15 - 11,91 mm). Nilai intensitas citra spekel tertinggi didapatkan pada diameter manik-manik 2,15 mm yaitu 254,62 a.u dan terendah pada manik-manik 11,91 mm yaitu 224,5 a.u. Hasil karakteriasi menunjukkan bahwa intensitas citra spekel menurun ketika objek yang terdeteksi berukuran lebih besar. Hasil yang sama juga didapatkan menggunakan tetesan air dari tabung yang berlubang dengan diameter 1-7 mm. Citra spekel tetesan air dianalisis menggunakan fungsi autokorelasi untuk mendapatkan ukuran bulir spekel. Ukuran bulir spekel terbesar didapatkan pada diameter lubang tetesan 6 mm yaitu 856,87 µm dan terkecil didapatkan pada diameter lubang tetesan 1 mm yaitu 198,15 µm. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin besar tetesan air, maka nilai intensitas citra spekel menurun dan ukuran bulir spekel membesar.Kata kunci : citra, forward-scattering, gray scale, laser He-Ne, ukuran bulir spekel
Analisis Kecepatan Aliran Air Berbasis Metode Laser Speckle Imaging
Havizzullah, Havizzullah;
Harmadi, Harmadi;
Marzuki, Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 8 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jfu.8.2.178-183.2019
Telah dilakukan analisis kecepatan aliran air dengan metode Laser Speckle Imaging (LSI). Sistem LSI menggunakan pendekatan forward scattering. Sistem terdiri dari tiga unit yaitu transmitter menggunakan laser He-Ne, receiver menggunakan CCD (Charge Couple Device), dan penampil menggunakan PC. Objek penelitian menggunakan air yang dijatuhkan dari wadah dengan diameter lubang yang divariasikan pada ketinggian yang berbeda. Hasil pengukuran kecepatan aliran air dari wadah berdiameter 1 mm pada ketinggian 50 cm memiliki nilai kecepatan terendah yaitu sebesar 0,73 ml/detik. Nilai tertinggi dihasilkan dari wadah berdiameter 5 mm pada ketinggian 150 cm yaitu sebesar 15,49 ml/detik. Ukuran diameter lubang dan ketinggian jatuh air semakin besar, maka nilai kecepatan aliran air semakin besar. Pengukuran intensitas citra juga dilakukan untuk melihat korelasi dengan kecepatan air. Nilai intensitas terendah yaitu 238,45 a.u diperoleh dari tetesan air dengan diameter 5 mm dan nilai tertinggi yaitu 253,12 a.u diperoleh pada diameter 1 mm. Ukuran diameter wadah semakin besar maka nilai intensitas citra semakin kecil. Intensitas citra berbanding terbalik dengan nilai kecepatan aliran air.Kata kunci : kecepatan alir, butiran hujan, intensitas citra, laser
Distribusi Arah Vertikal Butiran Hujan dari Hujan Stratiform di Kototabang dari Pengamatan Micro Rain Radar (MRR)
Ramadhan, Ravidho;
Marzuki, Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jfu.8.3.252-259.2019
Distribusi ukuran butiran hujan atau raindrop size distribution (RSD) arah vertikal hujan stratiform dari ketinggian 0,45 km hingga 4,65 km di atas permukaan tanah di Kototabang, Sumatera Barat (0,20o LS; 100,32o BT; 865 m di atas permukaan laut ), telah diteliti melalui pengamatan Micro Rain Radar (MRR) selama Januari 2012 sampai Agustus 2016. RSD dari MRR dimodelkan dengan distribusi gamma dan parameternya didapatkan menggunakan metode momen. Pertumbuhan RSD dari hujan stratiform pada ketinggian 3,9 – 3,4 km sangat kuat untuk semua ukuran butiran, yang menandakan  daerah melting layer di Kototabang. Di bawah daerah melting layer terjadi penurunan konsentrasi butiran berukuran kecil dan peningkatan konsentrasi butiran besar. Hal ini diperkirakan disebabkan oleh proses evaporasi dan updraft pada butiran kecil dan coalescence yang teramati pada hujan stratiform dengan intensitas tinggi. Hal ini juga ditandai dengan perubahan parameter gamma dan koefisien persamaan Z-R (Z=ARb) terhadap penurunan ketinggian. Dengan demikian, asumsi persamaan Z-R yang konstan untuk setiap ketinggian bagi hujan stratiform pada radar meteorologi khususnya di Kototabang kurang akurat.Kata kunci: Hujan stratiform, Kototabang, Micro Rain Radar (MRR), raindrop size distribution (RSD)
Analisis Sistem Informasi Banjir Berbasis Media Twitter
Utami, Irza;
Marzuki, Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 9 No 1 (2020)
Publisher : Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jfu.9.1.67-72.2020
Uji keakurataan data media sosial Twitter sebagai sumber informasi banjir telah diteliti melalui penyaringan twit yang memuat informasi banjir di wilayah DKI Jakarta pada tahun 2015-2017. Twit yang memuat kata kunci banjir dikumpulkan untuk mendapatkan lokasi-lokasi banjir yang pernah dilaporkan oleh pengguna Twitter. Lokasi banjir ini selanjutnya dipetakan dan divalidasi menggunakan data curah hujan dari satelit GPM (Global Precipitation Measurement) yang disediakan oleh NASA (National Aeronautics and Space Administratration). Distribusi lokasi banjir dalam 3 tahun dianalisa berdasarkan intensitas rata-rata curah hujan tahunan. Kemudian, dilakukan uji regresi linear antara jumlah twit dengan intensitas curah hujan harian di setiap lokasi banjir. Hasil penelitian memperlihatkan sebaran lokasi banjir berada pada wilayah yang memiliki intensitas curah hujan yang tinggi. Nilai uji regresi linear antara jumlah twit dengan intensitas curah hujan pada lokasi banjir sebesar 0.431. Nilai regresi 0,431 diperoleh setelah twit banjir kiriman dikeluarkan. Dengan demikian selain intensitas curah hujan, banjir kiriman juga memberikan dampak yang sangat besar sebagai penyebab banjir di Jakarta. The utilization Twitter social media data as a source of flood information has been investigated through filtering tweets containing flood information in the DKI Jakarta area during 2015-2017. Tweets containing the keyword flood are collected to get flood locations that have been reported by Twitter users. Furthermore, the location of this flood is mapped and validated using rainfall data from the GPM (Global Precipitation Measurement) satellite provided by NASA (National Aeronautics and Space Administration). The distribution of flood locations is analyzed based on the average annual rainfall intensity. Then the relationship between the number of tweets and the intensity of daily rainfall at each flood location was examined using a linear regression. The distribution of flood locations is concentrated in the areas with high rainfall intensity. The value of linear regression coefficient between the number of tweets with the intensity of rainfall at flood locations is 0.431. However, a regression coefficient of 0.431 was obtained after the tweet containing flood of submissions was excluded. Thus, in addition to the intensity of rainfall, flood of submissions also has a very large impact as a cause of flooding in Jakarta
Analisis Anomali Temperatur Permukaan Tanah dan Awan Gempa Berkaitan dengan Gempa Palu 2018
Wahyuni, Silvia;
Marzuki, Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 9 No 3 (2020)
Publisher : Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jfu.9.3.352-359.2020
Anomali temperatur permukaan tanah dan awan gempa yang berkaitan gempa bumi yang terjadi di Palu 28 September 2018 telah diteliti menggunakan data temperatur permukaan tanah dan permukaan air laut dari Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) dan data awan dari satelit Multifunction Transport Satellite (MTSAT). Data temperatur udara dari European Centre for Medium Range Weather Forecasts (EMCWF) juga digunakan untuk memastikan bahwa anomali temperatur bukan disebabkan oleh aktivitas cuaca. Anomali temperature permukaan tanah diamati selama 5 tahun dari 2014-2018 dan awan gempa diamati 3 bulan sebelum terjadi gempa bumi. Penelitian ini menemukan adanya kenaikan temperatur permukaan tanah dan air laut sebagai prekursor gempa Palu 2018. Pada saat terjadi gempa kenaikan temperatur permukaan tanah pada siang hari sebesar 2,2 K melebihi batas nilai sebagai prekursor gempa bumi (>2 K) tetapi kenaikan temperatur teramati setiap tahun. Selain itu, anomali temperatur permukaan laut hanya 0,25 K masih lebih kecil dari anomali sebagai prekursor gempa bumi (>2 K). Selama itu tidak ditemukan juga adanya kemunculan awan gempa sebelum gempa terjadi. Dengan demikian gempa Palu 2018 tidak diiringi oleh kenaikan temperatur permukaan tanah dan air laut serta kemunculan awan gempa. Anomaly land surface temperature and earthquake cloud that related the 2018 Palu earthquake were examined using land and sea surface temperatures from Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) and cloud from the Multifunction Transport Satellite (MTSAT) satellite data. Air temperature data from the European Center for Medium-Range Weather Forecasts (EMCWF) were also used to ensure that temperature anomalies are not caused by weather activity. Land surface temperature anomalies were observed for five years from 2014-2018, and earthquake clouds were observed for three months before the earthquake. This study find an increase in the surface temperature of land and seawater as a precursor to the 2018 Palu earthquake. During the earthquake, there was an increase in land surface temperature by 2,2 K, which exceeds the limit value of anomaly land surface temperature as an earthquake precursor (> 2 K), but such an increase is observed every year. In addition, sea surface temperature anomaly is only 0,25 K, which is much smaller than the value as an earthquake precursor (> 2 K). It was also found that there is no earthquake cloud before the Palu earthquake. Thus, the 2018 Palu earthquake was not accompanied by an increase in land and sea surface temperatures and the appearance of earthquake clouds.