Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas pelatihan Analisis Wacana Kritis (AWK) dalam menghadapi pro-kontra politik bagi mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Metode yang digunakan adalah mixed-methods dengan memadukan tes tertulis, observasi, kuesioner, dan refleksi mahasiswa sebagai sumber data. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan kemampuan analisis kritis mahasiswa setelah mengikuti pelatihan, yang ditunjukkan melalui perbedaan skor pre-test dan post-test. Observasi memperlihatkan bahwa 80,7% mahasiswa aktif terlibat dalam diskusi, sementara kuesioner menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi: 88,5% menilai materi relevan, 84,6% menilai metode interaktif, dan 92,3% mengakui kompetensi fasilitator. Selain data kuantitatif, refleksi mahasiswa memberikan gambaran perubahan sikap terhadap isu politik aktual, seperti pemberitaan anggota DPR dan kasus pembakaran gedung DPRD di Kota Makassar. Mahasiswa menyadari bahwa teks politik tidak netral karena sarat dengan ideologi, sehingga mereka lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi di media sosial. Lebih jauh, mahasiswa juga mengungkapkan pentingnya bersikap rasional dan objektif dalam menghadapi perbedaan pandangan politik. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan AWK tidak hanya meningkatkan aspek kognitif, tetapi juga membentuk sikap sosial yang lebih bijak, toleran, dan reflektif. Secara teoretis, penelitian ini menegaskan relevansi model analisis wacana kritis Fairclough dan van Dijk dalam pembelajaran bahasa dan politik. Secara praktis, pelatihan ini dapat menjadi strategi penguatan literasi kritis bagi mahasiswa untuk berkontribusi dalam membangun iklim demokrasi yang sehat di Indonesia.