Di era digital, media massa bukan hanya sebagai alat penyampai informasi, tetapi juga menjadi arena pertarungan ideologis. Hegemoni, menurut Gramsci, mengacu pada dominasi nilai dan ide dari kelas penguasa yang diterima oleh masyarakat luas. Namun, dengan berkembangnya internet, terbuka ruang bagi kelompok minoritas dan gerakan sosial untuk menantang dominasi tersebut melalui apa yang disebut counter-hegemoni. Artikel ini mengeksplorasi bentuk-bentuk counter-hegemoni di media digital, termasuk penggunaan platform seperti media sosial dalam gerakan seperti Arab Spring dan Black Lives Matter, serta media alternatif di Indonesia seperti Tirto.id. Dengan pendekatan analisis wacana kritis, penelitian ini menunjukkan bagaimana gerakan digital dapat memengaruhi opini publik dan menghadapi tantangan hegemoni yang ada. Hasil penelitian ini menyoroti pentingnya strategi inklusif dan kekuatan media digital dalam mendukung perubahan sosial.