Articles
Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini Usia 4-5 Tahun Melalui Permainan Klasik Bakiak Perspektif Epistemologi
Saputri, Indri Dwi;
Maemonah, Maemonah
WISDOM: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21154/wisdom.v4i2.6686
Pada anak usia dini, kegiatan sosial biasanya dikembangkan melalui bermain atau menggunakan media untuk menunjukan kegiatan sosial bersama teman-temannya. Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui permainan klasik. Banyak permainan klasik yang dapat merangsang aktivitas sosial anak. Banyak permainan klasik yang dapat merangsang aktivitas sosial anak. Tujuan pelaksanaan permainan ini adalah untuk melatih kemampuan sosial dan emosional anak. Metode yang dipilih adalah kualitatif. Informasi diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Menganalisis data digunakan analisis deskriptif berdasarkan data lapangan yang hasilnya pada saat ini sebagian besar anak mengalami perkembangan sosial emosional dalam kriteria perkembangan sangat baik. Sehingga indikator keberhasilan telah tercapai. Kegiatan peningkatan perkembangan sosial emosional anak melalui permainan klasik bakiak kelompok A termasuk dalam kategori berkembang sangat baik artinya sudah banyak peningkatan yang sangat penting yaitu perkembangan yang sangat penting yaitu perkembangan sosial emosional anak.
Strategi Mnemonic Sebagai Solusi Untuk Pengayaan Kosa Kata Pada Anak Tunarungu Di Sekolah Dasar
Zaenuri, Zaenuri;
Maemonah, Maemonah
Jurnal Basicedu Vol. 5 No. 4 (2021)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/basicedu.v5i4.1038
Anak tunarungu adalah anak yang mengalami gangguan pendengaran baik pada taraf ringan hingga berat atau dapat disebut tuli atau deaf. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menawarkan strategi mnemonic keyword sebagai strategi yang tepat untuk meningkatkan pengayaan kosakata pada anak tunarungu yang tentu saja mengalami hambatan terhadap kosakata karena mengalami gangguan pendengaran. Metode yang digunakan adalah metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriftif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti berdasarkan buku-buku pustaka serta hasil penelitian terdahulu yang telah dilakukan. Hasil penelitian yang di dapat peneliti dengan menggunakan metode studi pustaka, strategi mnemonic keyword sangat baik dan efektif digunakan oleh guru sebagai solusi untuk meningkatkan kosakata pada anak tunarungu. Dengan strategi mnemonic keywords, peneliti berharap guru-guru yang menjadi pengajar tunarungu tidak kesulitan mencari strategi yang tepat untuk meningkatkan pengayaan kosakata pada anak tunarungu. Sehingga kosakata yang dimiliki anak-anak tunarungu dapat setara dengan anak-anak normal lainnya
Perkembangan Psikososial Peserta Didik Sekolah Dasar Islam di Masa Pandemi
Khotimah, Khusnul;
Maemonah, Maemonah;
Rahmi, Yesika Novita
Jurnal Basicedu Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/basicedu.v6i1.1881
Pandemi membuat pemerintah memberikan kebijakan baru dalam pelaksanaan pembelajaran, dimana anak harus belajar secara daring dengan peran guru yang digantikan orang tua, hal tersebut memberikan dampak terhadap perkembangan psikososialnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan psikososial anak selama pembelajaran berbasis online di masa pandemi. Penelitian ini dilakukan di SD Islam Daarul Huda Kota Tangerang dengan populasi siswa kelas V, 2 orang guru kelas V dan satu perwakilan dari orang tua. Pendekatan penelitian ini yaitu kuantitatif deskriptif dengan metode survei dan menggunakan teknik observasi, wawancara serta tambahan berupa angket dalam pengumpulan data nya. Hasil penelitian ditunjukan dengan perkembangan psikososial peserta didik kelas V memiliki perkembangan harga diri rendah, ditunjukan dengan hasil data yang diperoleh peneliti sebanyak 41 peserta didik 68,3% nya memiliki perkembangan psikososial harga diri rendah dengan kriteria cukup sebanyak 32 peserta didik 53,1% nya, kemudian perkembangan psikososial kategori kurang sebanyak 9 peserta didik 15% nya, maka dapat disimpulkan perkembangan psikososial peserta didik kelas V di SD Islam Daarul Huda pada masa pandemi memiliki hasil perkembangan harga diri rendah dengan kriteria cukup. Faktor menurunnya perkembangan psikososial peserta didik adalah kurangnya interaksi anak selama masa pandemi sehingga menyebabkan kurangnya rasa percaya diri.
Kritik Terhadap Teori Perkembangan Kognitif Piaget pada Tahap Anak Usia Sekolah Dasar
Rahmaniar, Erita;
Maemonah, Maemonah;
Mahmudah, Indri
Jurnal Basicedu Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/basicedu.v6i1.1952
Teori perkembangan kognitif Piaget merupakan teori yang telah banyak digunakan oleh para ahli, namun teori pada tahapan perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Piaget tidak semuanya sesuai dengan apa yang disampaikan dan banyak menuai kritikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkritik teori perkembangan kognitif menurut Piaget pada tahapan tingkat usia dasar.  Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan observasi, serta melakukan teknik analisis data melalui cara mereduksi, menyajikan data dan menarik kesimpulan serta pengujian triangulasi. Penelitian dilakukan di SD Negeri 1 Nirwana dan yang menjadi subjek adalah peserta didik dengan rentang usia 6-12 tahun atau anak yang sedang dibangku usia dasar. Hasil dari penelitian pada siswa SD N 1 Nirwana menunjukkan bahwa perkembangan intelektual pada peserta didik tidak bisa disama ratakan sebab masing-masing anak mempunyai tingkat kognitif yang berbeda. Pada anak yang berusia sekolah dasar, yaitu usia 6-12 tahun berada pada tahapan operasional konkret dan abstrak. Sehingga hasil penelitian ini dapat dijadikan kritikan terhadap teori perkembangan kognitif Piaget bahwa setiap anak memiliki proses perkembangan yang tidak sama dan pada anak usia sekolah dasar tidak hanya pada tahap konkret tetapi juga mampu untuk berpikir pada tahap operasional formal.
Implementasi Pendidikan Karakter di Madrasah/Sekolah
Maemonah, Maemonah
Al-Bidayah : Jurnal Pendidikan Dasar Islam Vol. 7 No. 1 (2015): Al-Bidayah : jurnal pendidikan dasar Islam
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/al-bidayah.v7i1.9055
Implementasi pendidikan karakter di madrasah atau sekolah "include" denganmata pelajaran lain perlu diimplementasikan dengan materi-materi pembelajaranyang relevan, baik evaluasi atupun metode pendekatan pembelajarannya. Selainpendidikan formal, pendidikan karakter dibangun secara terus menerus sepanjanghayat masih ada (long live education). Sebab, karakter sesungguhnya menjadibagian dari ruh kehidupan itu sendiri. Jadi, hidup tanpa karakter bagaikan hiduptanpa ruh. Implementasi pendidikan karakter di sekolah selama ini baru terbataspada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, belum sampai pada tingkataninternalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakterdibangun oleh tiga pihak secara sinergis, yaitu pertama, orang tua, kedua satuanlembaga pendidikan dan ketiga, masyarakat. Pendekatan yang digunakan hendaknya komprehenshif.
THE ROLE OF INFAQ IN BASIC EDUCATION DEVELOPMENT IN THE ACEH COMMUNITY
Maemonah, Maemonah;
Yuliawati, Fitri;
Hasanah, Azizah Uswatun
Al-Bidayah : Jurnal Pendidikan Dasar Islam Vol. 13 No. 1 (2021): Al-Bidayah : jurnal pendidikan dasar Islam
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/al-bidayah.v13i1.633
After the tsunami disaster and Aceh political reconciliation, awareness of education’s importance began spreading to the villages. The awareness creation process is preferable because the prominent supporters of this effort are the people only. At the same time, the Indonesian government’s role is also active in gaining a positive image in the province. Therefore, this paper investigated the level of community awareness in setting aside a portion of the members’ income to build elementary schools, pay teacher salaries, and meet other educational needs. The result showed that the community movements were not positively correlated with management and awareness-raising and the general donation movement in Aceh. Besides, community education empowerment has been fast considering various possible future challenges to be encountered. Nevertheless, the targeted awareness has not been accompanied by public attention towards building higher-quality educational facilities and infrastructure.
Islamic Religious Education Teacher’s Understanding of Minimum Competency Assessments and Their Implication for Learning
Khotimah, Husnul;
Maemonah, Maemonah
QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Vol 14 No 2 (2022): Qalamuna - Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Program Pascasarjana IAI Sunan Giri Ponorogo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37680/qalamuna.v14i2.1539
The Minimum Competency Assessment is a breakthrough in the new assessment system as a substitute for the National Examination. However, in reality, not a few teachers are stated to have not mastered the concept of this assessment model, so learning and assessment are not in line. So the purpose of this study is to identify teachers' understanding of Minimum Competency Assessment at the Elementary School level at the KKG PAI, Sukorejo District, and to find out the implications for PAI learning. The research used descriptive qualitative method. At the same time, the analysis technique applies Creswell's theory. The results of this study were teachers' understanding of the minimum competency assessment had understood the concept but had never applied the creation and processing of AKM-based questions. So it is necessary to have special training to provide teacher direction towards the progressiveness of educators in order to achieve educational goals. Meanwhile, the implications of a minimum competency assessment are the management of learning models, namely the application of contextual learning models integrated with technology and the readiness of learning materials and resources to improve literacy and numeracy abilities.
Integrating Javanese in Social Studies at Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Bulak
Rochmawan, Alfian Eko;
Maemonah, Maemonah;
Abbas, Ngatmin
Journal of Integrated Elementary Education Vol. 4 No. 2 (2024): September 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang in collaboration with PD PGMI Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/jieed.v4i2.21934
The fundamental reason for this research is the need to enhance students’ understanding of the subject matter while preserving and strengthening local cultural identity amidst globalization. This study aims to analyze the implementation and impact of using the Javanese language in Social Studies (IPS) instruction at Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Bulak, Gondangrejo District, Karanganyar Regency. The research method used is qualitative, with a case study approach involving classroom observations, in-depth interviews with teachers and the headmaster, and document analysis. The research results show that the use of the Javanese language in social studies instruction varies at each grade level and is adapted to the student’s cognitive levels. This approach has proven effective in enhancing students’ understanding of Social Studies material, especially concepts related to the local socio-cultural context. The use of the Javanese language also plays a crucial role in language preservation and strengthening students’ cultural identity. Despite challenges in its implementation, such as balancing with the Indonesian language, this strategy overall creates holistic learning, improves academic understanding, and strengthens students’ social skills. These findings have significant implications for the development of curricula and learning strategies that are responsive to the local cultural context.
Upaya Peningkatan Manajemen Pembalajaraan Kelas di Madasah Ibtidaiyah Ma’arif Sembego Maguwoharjo: Prospek dan Tantangan
Maemonah, Maemonah
Al-Athfal: Jurnal Pendidikan Anak Vol. 2 No. 1 (2016)
Publisher : Islamic Early Childhood Education Study Program, Faculty of Tarbiyah and Education, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (494.608 KB)
One of the development efforts the capabilities of educators with intensive assistance capability studies educators to learners, known as Action Research (PTK) in Government Elementary School (MI). From the guidance to teachers MI Diponegoro in the form of participatory research (PAR), there is an increasing understanding of the capabilities of teachers to various conditions learners well as the ability to innovate and improve the quality of learning undertaken by teachers towards their students on one side. On the other hand students also increased understanding in learning. The challenge, these efforts need to be done continuously so that it becomes a tradition in the process of structuring or management teacher learning in the classroom.
Early Childhood Education according to Abdurrahman An-Nahlawi and Maria Montessori
Aghnaita, Aghnaita;
Maemonah, Maemonah
Al-Athfal: Jurnal Pendidikan Anak Vol. 6 No. 2 (2020)
Publisher : Islamic Early Childhood Education Study Program, Faculty of Tarbiyah and Education, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/al-athfal.2020.62-03
This research is motivated by the concept of Early Childhood Education offered by various educational figures to impact the emergence of increasingly dynamic educational theories. Issues on this concept did not escape the attention of Abdurrahman An-Nahlawi and Maria Montessori. The two figures have similarities and differences in their underlying points of view and approaches, and these cannot be separated from the philosophical study behind them. Based on the above, this study explores the two figures’ thoughts to give birth to a new paradigm of education for early childhood. The research method used was a literature study by collecting various references that can support research. From the research results, it can be found that, philosophically, the concept of Early Childhood Education, according to Abdurrahman An-Nahlawi, is attached to the perennial normative approach, while Maria Montessori’s notion is more towards a constructivism approach. The two approaches have different points of view in highlighting the educational side. The similarity in the points of view of these two figures is an understanding of the concept of education, which should be integrated and contextual, and position the child as the main subject in education.