Kualitas udara tidak hanya dinilai dari parameter gas dan partikulat, tetapi juga dari indikator mikrobiologi, karena bioaerosol yang mengandung bakteri dan jamur dapat terhirup langsung serta menyebabkan dampak kesehatan yang serius seperti infeksi saluran pernapas atas (ISPA), alergi, hingga pneumonia. Udara merupakan elemen penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lain, namun kualitasnya semakin terancam akibat aktivitas manusia, industrialisasi, dan dinamika lingkungan. Penelitian ini bertujuan menilai kualitas bakteriologi udara di permukiman Dusun Lendang Batu yang berdekatan dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jugil, Kabupaten Lombok Utara, serta membandingkan kualitas udara dalam ruangan dan luar ruangan dengan standar kesehatan yang berlaku. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, dengan pengambilan sampel di tiga titik berbeda. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa kualitas udara luar ruangan memiliki angka maksimum 6.710 CFU/m³ pada titik kedua dan minimum 2.931 CFU/m³ pada titik pertama. Sementara itu, udara dalam ruangan menunjukkan angka maksimum 3.567 CFU/m³ pada titik pertama dan minimum 2.366 CFU/m³ pada titik ketiga. Kedua hasil tersebut melebihi standar baku mutu yang ditetapkan dalam Kepmenkes No. 1405/MENKES/SK/XI/2004 dan Permenkes No. 1077/Menkes/Per/VIII/2011, yaitu 200–500 CFU/m³. Hasil uji korelasi Rank Spearman menunjukkan koefisien -0,500 dengan nilai Sig. 0,667 > 0,05. Hal ini menandakan tidak terdapat hubungan signifikan antara kualitas bakteriologis udara dalam dan luar ruangan.