Articles
KERAGAAN BENIH HORTIKULTURA DI TINGKAT PRODUSEN DAN KONSUMEN (Studi kasus : Bawang merah, Cabai merah, Kubis dan Kentang)
VALERIANA DARWIS;
BAMBANG IRAWAN;
CHAERUL MUSLIM
SOCA: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Vol. 4, No. 2 Juli 2004
Publisher : Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana Jalan PB.Sudirman Denpasar, Bali, Indonesia. Telp: (0361) 223544 Email: soca@unud.ac.id
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (84.275 KB)
Seed and seedling is one of main factors in determining the product of horticultural crops. Theuse seed production on horticultural crops, could be produced by government institution orprivate sector. In the last 21 years (1980 – 2001) the government has released 183 improvedvariety of vegetables, including 26 red onion, red chili, cabbage and potato. These number ismuch Owen compared to number of improved variety of crops. For instance 105 newimproved varieties for rice, 50 varieties for corn and 33 varieties for soybean. The role ofprivate sectors on the horticultural seed is much more dominant to the high demandcommodities and cannot be produced by the farmers it can be seen on the production of redchili seed compared to three other commodities. The performance of seed on the levelconsumer, represented by the farmers in the area production central, namely red onion, redchili in the central Java Province, and potato and cabbage in North Sumatera Province. Thefindings of the study are : the farmers are influencing by the group on the selection of seed tobe use, the role of field extension worker is very limited, the seed has been use by the farmersbefore introducing by government, at any planting time the farmers not always use a newseed, even there are some farmers never used improved variety of potato.
EKSISTENSI TARI MANIMBONG DALAM UPACARA RAMBU TUKA’ MASYARAKAT TORAJA
Indry Ayu Novita;
Wahyu Lestari
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30870/jpks.v6i1.11268
Abstrak: Melihat dari keberagaman kebudayaan yang ada Indonesia, menjadikan Toraja menjadi salah satu wilayah atau suku yang memiliki keunikan tersediri bagi Indonesia. Dalam kebudayaan Toraja khususnya upacara adat Rambu Tuka’ atau syukuran, banyak kesenian yang ditampilkan saat upacara ini berlangsung, salah satunya ialah Tari Manimbong. Tari Manimbong merupakan tarian yang diperankan oleh kaum laki-laki yang dipentaskan bersamaan dengan Tari Ma’dandan (diperankan oleh kaum wanita). Tari Manimbong sudah mulai termasuk dalam kategori kesenian yang cukup eksis dikalangan masyarakat Toraja. Namun, melihat banyak hal yang terjadi yang kemudian mempengaruhi hal perlahan-lahan kurangnya pegelaran kesenian ini, mulai dari keadaan pandemi Covid-19 saat ini yang cukup mempengaruhi keberadaan semua kesenian yang ada serta sulitnya mementaskan tarian ini yang hanya boleh dilaksanakan pada upacara adat rambu tuka’ saja. Melihat kondisi tersebut, tentu harus ada upaya yang harus dilakukan pemerintah daerah dalam melestarikan tarian ini. Salah satu yang bisa dilakukan ialah dengan menggelar konser kesenian yang mungkin bisa dirangkaikan dengan kegiatan dalam Kabupaten contohnya seperti HUT. Maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan Tari Manimbong jangan sampai mulai memudar, untuk itu mesti ada usaha untuk melestarikan Tari Manimbong ini, agar nantinya tarian ini tetap mengambil peran penting di masyarakat. Â
Paket Pendidikan Kesehatan dan Teknik Relaksasi Menurunkan Postpartum Blues Ibu Pasca Bedah Sesar
Aida Kusnaningsih;
Setyowati Setyowati;
Tri Budiati
Jurnal Forum Kesehatan Vol 7 No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALANGKA RAYA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (488.839 KB)
Ibu pasca bedah sesar dapat mengalami postpartum blues karena tidak mampu mengontrol terhadap perubahan fisik maupun psikologis selama masa nifas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas paket pendidikan kesehatan dan teknik relaksasi terhadap kejadian postpartum blues pada ibu pasca bedah sesar. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen. Teknik pengambilan sampel menggunakan konsekutif pada 60 responden yang terbagi dalam kelompok kontrol dan intervensi. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner postpartum blues. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang signifikan postpartum blues kejadian sebelum dan setelah intervensi pada kelompok intervensi (p=0,000). Pemberian pendidikan kesehatan dan teknik relaksasi efektif 16 kali menurunkan kejadian postpartum blues (OR=16,2, CI 95%, 3,212-81,698) setelah dikontrol oleh faktor pendidikan. Paket pendidikan kesehatan dan teknik relaksasi efektif menurunkan kejadian postpartum blues dan direkomendasikan di pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kesehatan ibu pasca bedah sesar.
ANALISIS KINERJA HEAT EXCHANGER SHELL & TUBE PADA SISTEM COG BOOSTER DI INTEGRATED STEEL MILL KRAKATAU
Jajat Sudrajat
Jurnal Teknik Mesin Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22441/jtm.v6i3.1967
Penggunaan heat exchanger pada sistem COG booster bertujuan untuk mendinginkan temperatur oli yang akan digunakan sebagai pelumasan dan pendinginan bearing. Semakin lama heat exchanger digunakan akan menyebabkan terjadinya fouling (pengotoran) di bagian dalam heat exchanger. Semakin besar fouling yang terjadi akan menyebabkan terjadi penurunan kinerja heat exchanger seperti besarnya laju perpindahan panas aktual dan efektivitas. Oleh karena itu dilakukan analisis heat exchanger untuk mengetahui pengaruh fouling terhadap laju perpindahan panas aktual dan efektivitas heat exchanger dengan rentang waktu 1 tahun setelah booster beroperasi yang dibagi menjadi 2 periode. Analisis dilakukan dengan membuat perhitungan parameter-parameter yang dibutuhkan. Dari hasil perhitungan dan analisis, ditunjukan bahwa terjadi penurunan pada laju perpindahan panasnya hingga sebesar 0,411 kW atau 19,45%, setara dengan energi yang dihasilkan dari penggunaan solar sejumlah 0,036 liter selama satu jam. Fouling yang terjadi mengalami kenaikan hingga sebesar 0,561 m2.K/kW. Sedangkan efektivitasnya mengalami penurunan sebesar 3,7%.
Disturbance Characteristics of Induction Cooker on a Grid-Connected Photovoltaic System in Frequency Range of 9-150 kHz
Faiz Husnayain;
Faizal Tamim;
Budi Sudiarto
JURNAL NASIONAL TEKNIK ELEKTRO Vol 9, No 2: July 2020
Publisher : Jurusan Teknik Elektro Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (511.671 KB)
|
DOI: 10.25077/jnte.v9n2.762.2020
This study aims to investigate the disturbance's characteristics induced by the induction cooker of the On-Grid PV System that is installed in the MRPQ at the Faculty of Engineering Universitas Indonesia (FTUI). In addition, this research is also to find out the behavior of the induction cooker on a frequency range of 9-15kHz. The load was connected to Switching Mode Power Supply (SMPS) that connected to the utility grid. Furthermore, the utilization of inverter that used SMPS technology may generate disturbance mostly at high frequency from 9 kHz to 150 kHz. Disturbance generated by each tool from the equipment in the PV system and household appliances may also affect each other in its operation. However, research and standardization regarding the effect of induction cooker disturbances on the PV system for frequency ranges of 9-150 kHz are still limited. Therefore, this research focuses on observing behavior and the characteristics of a disturbance generated by the induction cooker. There are two induction cookers investigated, brand A and B. The results show that the induction cooker generates disturbance at a frequency of 9-150 kHz, and the increased power used at the load will also increase the disturbance value. Furthermore, brand A has a more significant average incremental gradient compared to brand B induction cookers of 260% or 17.05mV / W for brand A and 6.58mV / W for brand B.Keywords: power quality, disturbance characteristics, induction cooker, on-grid photovoltaic, 9-150 kHz
THE APPLICATION OF CLASS CGM MODEL ON THE PEANUT PLANTS (Arachis Hypogaea L.)
Afina Afina;
Indarto Indarto;
Idah Andriyani
UNEJ e-Proceeding International Conference on Agribusiness Marketing (ICAM) 2012, Faculty of Agriculture, University o
Publisher : UPT Penerbitan Universitas Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The purpose of this research is to learn the working process of CGM model and to compare the water content value of model simulation with field observation. This researchwas done in the form of experiment. The parameters of the observation were the soilphysical observations, they are: the analysis of soil (soil texture), the analysis of bulkdensity (BV), the measurement of soil water content (KA) every 10 days, and themeasurement of the thickness of the soil layer. The calculation of the model then comparedwith the result of field measurements. The results showed that the texture of the soil layer 1and layer 2: sandy clay loam and layer 3: sandy loam. The grafic comparison of simulatedsoil water content (KA) and the observation indicates that the simulation model of watercontent value (KA) increases the decline in value. Meanwhile the value of water contentobservation of layer 1 is always over the water content of layer 2 and 3. This is influencedby soil texture factor in each layer of the peanut plants land, because the texture of the soilalso determines a water system in the soil like infiltration rate, rainfall, and water bindingability of the soil. Further research is necessary to observe the growth of plants as a resultof the water content of the soil and to compare with the results of a model simulations.
MODAL POLITIK H. SUKARMIS PADA PEMILIHAN UMUM LEGISLATIF TAHUN 2019 DAPIL VIII RIAU
Fitri Ramadhani;
Adlin "
Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol. 8: Edisi I Januari - Juni 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Political capital is a force that legislative candidates must have when they want to compete in a democratic party. Because political capital in the form of economic capital, social capital, cultural capital, and symbolic capital is very effective in winning political contestation. The method used in writing this research is a qualitative approach. Meanwhile, the keyinformants used were 7 people. Data collection methods are by using interviews and documentation. The findings prove that the synergy of various political capitals is very significant in determining one's victory in political contestation and at the same time giving high-cost political burdens to legislative candidates. The case of H. Sukarmis' victory in the political contestation of the legislative elections in the Electoral District VIII in 2019 has proven the importance of politics. H. Sukarmis had the advantage of social and cultural capital that his political opponents had never imagined, so he was able to displace other powerful figures who rely more on symbolic and economic capital alone. This proves that social capital economic capital, cultural capital, and symbolic capital, must be combined to win political contestation, especially general elections. Because if one capital is not used optimally, it will tend to have an impact on other capital. For example, a lack of social capital will increase campaign costs.  Keywords: Economic Capital, Social Capital, Cultural Capital, Symbolic Capital.
Kesadaran Hukum Konsumen atas Garam Beriodium Berstandar Nasional Indonesia
LUKMAN HAKIM
NOVUM : JURNAL HUKUM Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.2674/novum.v4i1.21431
Garam konsumsi menurut ketentuan pemerintah harus mengandung zat iodium dan mencantumkan label SNI, jika kebutuhan iodium tidak terpenuhi oleh tubuh maka akan menyebabkan penyakit gondok. Pola hidup yang sehat dapat mencegah penyakit bagi seluruh anggota keluarga, setiap keluarga harus menerapkan perilaku gizi seimbang sesuai dengan Pasal 16 ayat (1) dan (2) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2014 tentang Upaya perbaikan gizi. Demi terciptanya keamanan pada konsumen maka pemerintah menerbitkan peraturan Perundang-undangan Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan diperkuat dengan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 42/M-IND/PER/11/2005 tentang Pengolahan, Pengemasan, dan Pelabelan Garam Beriodium. Metode penelitian yang digunakan penulis yaitu penelitian hukum empiris. Kesadaran hukum konsumen atas garam beriodium ber-SNI berdasarkan hasil penelitian bahwa kesadaran hukum warga Desa Sumberejo Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang pada tingkat yang rendah. Saran yang diberikan ialah Badan Standarisasi Nasional dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan hendaknya memberi sosialisasi mengenai garam beriodium yang wajib ber-SNI pada konsumen garam beriodium khususnya warga Desa Sumberejo Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang yang menderita gondok, Pusat Kesehatan Masyarakat hendaknya memberi informasi berupa penyuluhan mengenai pentingnya mengkonsumsi garam beriodium yang berlabel SNI, dan pelaku usaha garam beriodium agar memproduksi garam beriodium dengan menerapkan Standar Nasional Indonesia sesuai dengan peraturan yang berlaku.
EVALUASI KINERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN JOMBANG
AHMAD FATHONI
Publika Vol 1 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/publika.v1n2.p%p
Kualitas sumber daya manusia pegawai negeri sipil di suatu instansi pemerintahan merupakan salah satu faktor untuk meningkatkan produktivitas kinerja instansi tersebut. Oleh karena itu, diperlukan sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi dan profesionalisme yang tinggi karena hal itu dapat mendukung peningkatan kinerja pegawai negeri sipil. Evaluasi kinerja adalah metode dan proses penilaian pelaksanaan tugas seseorang, sekelompok atau unit kerja dalam suatu perusahaan atau organisasi sesuai dengan standar kinerja atau tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Permasalahan yang diambil karena 1) Kurangnya kedisiplinan waktu kerja pegawai negeri sipil 2) Penempatan pegawai yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kinerja pegawai negeri sipil pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang. Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui tingkat kinerja pegawai negeri sipil pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Lokasi penelitian ini dilakukan di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang. Sedangkan populasi penelitian ini adalah seluruh pegawai negeri sipil Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang dengan teknik pengambilan sampelnya menggunakan sampel jenuh. Untuk menganalisa data yang diperolah menggunakan uji hipotesis t-test satu sample. Hasil penelitian menunjukkan kinerja pegawai negeri sipil pada Kantor Kementerian Agama Kabuten Jombang sangat baik karena sesuai dengan hasil hitung diperoleh angka thitung ≥ ttabel (22,2 ≥ 1,681) dan kinerja pegawai negeri sipil pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang mencapai 90% dari angka 65% dari skor yang diharapkan. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja pegawai negeri sipil pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang sangat baik. Adapun saran yang dapat dijadikan masukan adalah 1) perlu peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat, 2) sesuaikan penempatan kerja pegawai dengan latar belakang pendidikannya, 3) mengoptimalkan sarana dan prasarana kantor untuk kepentingan kantor, 4) meningkatkan disiplin jam kerja pegawai. Kata kunci : evaluasi kinerja pegawai negeri sipil.
Profil LKS IPA SMP Berorientasi Active Learning dengan Strategi Belajar Mengajukan Pertanyaan
IIN INDAWATI
Berkala Ilmiah Pendidikan Biologi (BioEdu) Vol 1 No 2 (2012)
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Siswa hanya mendengarkan penjelasan materi dari guru. Selain itu, LKS yang digunakan belum bisa mengaktifkan siswa dalam bertanya dan membuat pertanyaan. Atas dasar itu maka telah dilakukan penelitian pengembangan yang berorientasi pada model 4-D dan bertujuan untuk mendapatkan LKS berorientasi active learning dengan strategi belajar mengajukan pertanyaan dari aspek struktur penyajian, materi, dan bahasa pada materi Alat Indera Manusia. Sasaran penelitian ini adalah LKS berorientasi active learning dengan strategi belajar mengajukan pertanyaan. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif, dengan hasil telaah baik dan layak digunakan (98,5%) sedangkan hasil respon siswa positif (92,96%). Simpulan bahwa LKS yang dikembangkan layak digunakan.  Kata kunci: model pengembangan 4-D, active learning dengan strategi belajar mengajukan pertanyaan, Alat Indera Manusia