Background: Hypertension remains a leading cause of high mortality, both in Indonesia and globally. Although various efforts have been made to improve early detection and management of hypertension, some patients still fail to achieve blood pressure control targets despite receiving appropriate pharmacological therapy. Complementary therapies are expected to be an adjunct to blood pressure control. Therefore, providing education is one way to increase public awareness. Purpose: To increase knowledge about hypertension management and the application of complementary therapies in the community with hypertension. Method: Community service was conducted on February 5, 2026, in Wollangi Village, Barebbo District, Bone Regency, South Sulawesi. This activity was attended by 40 participants who had hypertension to become respondents. The counseling used a direct interactive communicative approach. Measurement of knowledge levels used an instrument in the form of a questionnaire given before (pre-test) and after (post-test) the health education intervention. The questionnaire consisted of 25 questions with a score range of 0-25 points, where for the accumulated score category 0-13 = less, if the score is 14-18 = sufficient, and if the score is 19-25 = good. Evaluation was carried out by analyzing questionnaire score data using the Wilcoxon Sign Rank Test. The test results were presented descriptively qualitatively in explaining the increase in knowledge and understanding of participants during the implementation of the activity. Results: Data obtained showed that respondents' knowledge levels regarding complementary therapies in hypertension management before the educational activity (pre-test) were 17.5% in the good category, 30.0% in the adequate category, and 52.5% in the poor category. After the educational activity (post-test), the levels increased to 42.5% in the good category, 40.0% in the adequate category, and 17.5% in the poor category. Descriptively, respondents gained knowledge about hypertension, complementary therapies, and gained the confidence to independently implement complementary therapies. Conclusion: This educational activity can improve public understanding of hypertension based on complementary therapies. Increased public knowledge and understanding of complementary therapies has a positive impact on behavioral and attitudinal changes in self-management of blood pressure, thereby influencing changes in the quality of health at the community level. Suggestion: The public is expected to routinely apply knowledge about complementary therapies as an adjunct to blood pressure management. Healthcare workers are also expected to provide regular guidance to encourage hypertension sufferers to undergo regular health check-ups at integrated health posts (Posyandu) to monitor their complementary therapies. Keywords: Elderly health management; Complementary therapy; Health education; Hypertension Pendahuluan: Hipertensi hingga saat ini masih menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka kematian, baik di Indonesia maupun secara global. Walaupun berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan deteksi dini dan penatalaksanaan hipertensi, masih terdapat sebagian pasien yang belum mencapai target pengendalian tekanan darah meskipun telah mendapatkan terapi farmakologis sesuai indikasi. Terapi komplementer diharapkan dapat menjadi terapi pendamping untuk pengendalian tekanan darah. Oleh karena itu pemberian edukasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang manajemen hipertensi dan penerapan terapi komplementer pada masyarakat dengan hipertensi. Metode: Pengabdian masyarakat dilaksanakan pada tanggal 05 Februari 2026 di Desa Wollangi, Kecamatan Barebbo Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Kegiatan ini dihadiri oleh 40 peserta yang memiliki hipertensi untuk menjadi responden. Penyuluhan menggunakan pendekatan komunikatif interaktif langsung. Pengukuran tingkat pengetahuan menggunakan instrumen berupa kuesioner yang diberikan sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) intervensi edukasi kesehatan. Kuesioner berupa 25 pertanyaan dengan rentang skor 0-25 poin, dimana untuk kategori akumulasi skor 0-13=kurang, apabila skor 14-18=cukup, dan apabila skor 19-25=baik. Evaluasi dilakukan dengan analisa data skor kuesioner menggunakan Wilcoxon Sign Rank Test. Hasil uji disajikan secara deskriptif kualitatif dalam menjelaskan peningkatan pengetahuan dan pemahaman peserta selama pelaksanaan kegiatan. Hasil: Mendapatkan data tingkat pengetahuan responden tentang terapi komplementer dalam manajemen hipertensi sebelum kegiatan edukasi (pre-test) sebesar 17.5% dalam kategori baik, sebesar 30.0% dalam kategori cukup, dan sebesar 52.5% dalam kategori kurang. Sedangkan setelah kegiatan edukasi (post-test) menjadi sebesar 42.5% dalam kategori baik, sebesar 40.0% dalam kategori cukup, dan sebesar 17.5% dalam kategori kurang. Secara deskriptif, pencapaian responden mendapatkan pengetahuan tentang pengertian hipertensi, terapi komplementer dan memiliki kepercayaan diri untuk melakukan penerapan terapi komplementer secara mandiri. Simpulan: Kegiatan edukasi ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang hipertensi yang berbasis terapi komplementer. Peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang terapi komplementer memberikan dampak positif terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menerapkan pengelolaan tekanan darah secara mandiri sehingga memberikan pengaruh perubahan kualitas kesehatan di tingkat komunitas. Saran: Masyarakat diharapkan dapat menerapkan pengetahuan tentang terapi komplementer secara rutin sebagai terapi pendamping untuk pengendalian tekanan darah. Diharapkan juga kepada tenaga kesehatan untuk selalu memberikan bimbingan secara berkala supaya penderita hipertensi untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin di Posyandu sebagai monitoring terapi komplementer yang sudah dilakukan