Kota Makassar urutan pertama tertinggi angka kasus tuberculosis (TB) yaitu 7.608 kasus TB paru di Sulaweisi Selatan. Penanganan kasus TB pada setiap satu wilayah Puskesmas sejak pengabdi bekerja di salah satu Puskesmas kota Makassar (1992-1998) sampai saat ini hanya satu perawat sebagai petugas TB, yang diberi tanggung jawab sebagai penanganan kasus TB dan sebagai admin oprasional dalam penggunaan beberapa aplikasi tentang TB, sehingga untuk focus terhadap penurunan angka TB tidak dapat di jangkau oleh seorang petugas TB dalam satu wilayah Puskesmas, sehingga sangat perlu melibatkan seluruh perawat Puskesmas, kader Posyandu dan anggota keluarga penderita. Puskesmas Kassi-kassi salah satu wilayah kerja Puskesmas tertinggi kasus Tb paru membawahi Kelurahan Karunrung (lokasi Pengabdian) dengan angka Tb paru sangat tinggi dibanding kelurahan lainnya. Adapun jumlah kasus Tb Paru di Kelurahan Karunrung dengan angka Tb paru 11 orang di tahun 2021, tahun 22 orang di tahun 2022 (satu orang positif HIV) dan 27 orang ditahun 2023, semua penderita baru dan tidak ada pemeriksaan kontak, (Sumber Data PKM Kassi-kassi, April 2024). Kami memiliki data penderita Tb Paru secara rinci mulai dari NIK penderita sampai Alamat rumah lengkap dalam bentuk exel, yang ada di Kelurahan Karunrung sebagai lokasi pengabdian kami. Metode Pelaksanaan: 1) Melakukan FGD dengan Mitra pelaksana, 2) Melakukan Pelatihan 2 hari terhadap mitra sasaran yaitu anggota keluarga penderita 30 orang, 3) Membagikan formular batuk TBC kepada anggota keluarga yang mengikuti pelatihan, kemudian mengisi formular tersebut sesuai kejadian yang sebenarnya terhadap dirinya dan 2 anggota keluarga yang serumah dengan penderita TBC (Formulir Batuk TBC tentang isian gejala dan tanda TBCParu, terlampir). Tujuan dari pengisian formular batuk TBC ini untuk mendapatkan data tentang berapa oeang dalamsatu rumah yang telah ada tanda dan gejala TBC dan yang belum terpapar. Data tersebut sangat bermanfaat untuk melakuan TCM dalam penelitian atau pengabdian berikutnya. Hasil: Ditemukan bahwa keluarga penderita memiliki pengetahuan tinggi 21 orang (50%), pengetahuan sedang yaitu 19 orang (45%), dan pengetahuan rendah yaitu 2 orang(4,7%) tentang pemutusan rantai penularan setelah diberikan materi, dan keluarga penderita memiliki perubahan sikap yang positip yaitu 71,4% dan sikap sedang yaitu 28,6%, tentang pencegahan stunting setelah diberikan materi pada keluarga penderita. Kesimpulan: 1)Dari 25 keluarga penderita yang diberikan edukasi, Sebagian besar memiliki pengetahuan tinggi tentang pemutusan rantai penularan kuman TBC., 2)Sebagian besar keluarga penderita TBC telah bersikap positip setelah menerima materi dari tim pengabdi dan pakar TBC di Keluarahan Karunrug Kota Makassar, dan Ada 25 keluarga telah menerima buku petunjuk tentang pemutusan rantai penularan TBC di rumah maupun diluar rumah.