Articles
Anestesi pada Ovum Pick Up (OPU)
Astuti, Widuri;
Mahmud;
S, Bambang
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 1 No 3 (2014): Volume 1 Number 3 (2014)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jka.v1i3.7195
Seorang perempuan 37 tahun terdiagnosa infertil primer. Prosedur yang akan dilakukan adalah Ovum Pick Up (OPU). Status fi sik ASA II karena asma. Dilakukan anestesi dengan GA TIVA. Tindakan berlangsung selama 30 menit. Hemodinamik selama tindakan stabil. Post operasi pasien di ruang pemulihan selama 2 jam dan diperbolehkan pulang setelah skoring postanesthesia discharge scoring system (PADS) lebih dari 9.
Patient Controlled Analgesia (PCA) Post Operation
Purnomo, Dedi Pujo;
Mahmud;
Uyun, Yusmein
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 2 (2015): Volume 2 Number 2 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jka.v2i2.7201
Pengendalian nyeri pasca bedah merupakan komponen yang penting dalam perawatan pasien setelah pembedahan. Manajemen nyeri yang tidak adekuat berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Pengalaman nyeri pasca bedah, bagi beberapa orang mungkin merupakan pengalaman nyeri yang paling menyakitkan selama hidupnya apalagi jika tidak ditangani secara profesional dan intensif.Penilaian dan pengobatan nyeri telah menjadi prioritas dalam beberapa tahun terakhir, khususnya setelah diperkenalkannya regulasi standard dan survey kepuasan pasien terhadap penanganan nyeri dengan metode penilaian kepuasan pasien. Penggunaan PCA secara tepat dan akurat adalah suatu metode yang efektif dan efi sien untuk mengontrol nyeri akut yang berat, dengan penurunan resiko sedasi yang bermakna dan sangat potensial untuk meningkatkan manajeman nyeri pada pasien. PCA adalah suatu metode pemberian obat-obat analgesik dengan menggunakan pompa intravena sesuai dengan kebutuhan pasien dan diatur sendiri oleh pasien, yang bertujuan untuk memberikan analgesi yang adekuat dan dapat mengoptimalkan pemberian analgesi opioid dan meminimalkan efek variabilitas farmakokinetik dan farmakodinamik, tanpa menimbulkan efek samping obat yang membahayakan. PCA adalah proses dimana pasien dapat menentukan kapan dan berapa banyak obat yang mereka terima, atau istilah ini lebih umum digunakan untuk menggambarkan metode untuk menghilangkan nyeri dengan menggunakan peralatan infus elektronik yang memungkinkan pasien untuk memberikan sendiri obat analgesi, biasanya opioid intravena sesuai keperluan.
Penanganan Perioperatif Diabetes Mellitus
Restu S, Meta;
Rahardjo, Sri;
Mahmud
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 2 (2015): Volume 2 Number 2 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jka.v2i2.7211
Diabetes Melitus merupakan penyebab tersering dalam golongan penyakit metabolik. Diagnosis klinis DM umumnya akan dipertimbangkan bila terdapat keluhan khas DM berupa poliuria, polidipsi, polifagi, lemah dan penurunan BB yang tidak jelas penyebabnya. Pasien diabetes yang akan menjalani pembedahanmemiliki peningkatan angka mortalitas, dan pasien diabetes type 1 sangat beresiko untuk terjadinya komplikasi pasca operasi. Peningkatan prevalensi pasien diabetes yang akan dioperasi dan meningkatnya resiko komplikasi sehubungan dengan penyakit DM membutuhkan pemeriksaan dan pengelolaan perioperatif yang optimal. Data dari berbagai penelitian menunjukkan peningkatan angka kesakitan dankematian penderita DM yang signifikan. Kontrol gula darah yang tepat terbukti menurunkan kejadiankomplikaksi.Perioperatif DM diantaranya dengan melakukan evaluasi klinis pasien, menilai komplikasi serta kegagalanorgan melalui anamnesis dan pemeriksaan penunjang, selanjutnya dinilai status pembedahan pasien apakah emergensi atau elektif. Status pengontrolan gula pasien berdasarkan terapi yang telah diterimapasien harus dinilai. Pasien yang akan menjalani operasi emergensi dilakukan kontrol gula darah secara cepat, diberikan insulin kerja cepat untuk mengontrol keadaan hiperglikemi, dilakukan penilaian dan tatalaksana keadaan hiperglikemi emergensi seperti HHS atau KAD. Pada operasi elektif maka tatalaksana pasien dibagi berdasarkan lama durasi operasi; yaitu kecil, sedang, dan besar, kemudian ditentukan teknik anestesi terbaik untuk prosedur operasi yang akan dijalani.
Blok Femoral pada Operasi Orif Tibia Fibula Proksimal pada Pasien dengan Subdural Hematoma
Fakhrudin N, Rifdhani;
Sudadi;
Mahmud
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 3 (2015): Volume 2 Number 3 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jka.v2i3.7221
Telah dilakukan penatalaksanaan anestesi regional berupa blok femoral pada seorang wanita usia 60 tahun yang didiagnosis fraktur terbuka sepertiga proksimal tibia fi bula sinistra dengan subdural hematoma dan edema serebri, status fi sik ASA II yang akan menjalani operasi ORIF.Pasien dipremedikasi dengan diazepam 5 mg peroral, midazolam 2 mg dan fentanyl 50 mcg intravena. Blok femoral dilakukan dengan teknik nerve stimulator menggunakan pendekatan dari ligametum inguinalisdan lipatan paha. Agen yang digunakan adalah lidokain 1% sebanyak 10 ml dan bupivakain 0,5% isobarik sebanyak 10 ml. Selama operasi pasien disedasi dengan midazolam 2 mg intravena bolus intermitten.Operasi berlangsung selama dua jam dengan hemodinamik pasien stabil.Pasca operasi pasien diobservasi di ruang pulih sadar selama 2 jam. Status kesadaran dan hemodinamik selama observasi baik. Skala nyeri menggunakan VAS menunjukkan angka 1-2. Pasien kemudian diperbolehkan kembali ke bangsal.
Hipertensi Berat Disertai Edema Pulmo pada Pasien Trauma Mata Anak-Anak yang Diberikan Fenlyefrine Tetes Mata
Mahmud;
Uyun, Yusmein;
Gutama, Bayu Satria
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 3 No 3 (2016): Volume 3 Number 3 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jka.v3i3.7261
Telah dilakukan tindakan anestesi pada seorang anak laki-laki 13 tahun dengan diagnosa ruptur bulbi dilakukan repair bulbi. Pasien dengan status fisik asa 2 asma. Dilakukan anestesi dengan teknik anestesiumum intubasi semi clossed ET no 6,5 level di bibir 20 nafas kendali. Monitoring dilakukan dengan NIBP, EKG, SpO2. Operasi berlangsung 2 jam durante operasi hemodinamik TDS 90-220mmHg, TDD 50-130mmHg, HR 50-160x/menit, saturasi 70-99%, Beberapa menit setelah pemberian dua tetes phenylephrine 10% didapatkan rhonki di seluruh paru dan didapatkan cairan berbusa kemerahan yang kami suction dari trakea dengan kemungkinan adanya edema paru akut berlangsung selama 15 menit. Pasca operasi dilakukan ekstubasi sadar. Pasien dipulangkan dari unit perawatan pasca anestesi 4 jam setelah operasi dengan pernapasan spontan, SpO2 99% pada ruang udara, tekanan darah normal dan auskultasi paru yang bersih.
Penatalaksanaan Paliatif Pasien dengan Nyeri Kanker
Nugraha, Achmad Fauzani;
Mahmud;
Wisudarti, Calcarina Fitriani Retno
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 1 (2016): Volume 4 Number 1 (2016)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jka.v4i1.7268
Kanker masih merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan di seluruh dunia. Penatalaksanaan paliatif berperan secara efektif dalam mengontrol gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit progresif serta keluarganya. Penatalaksanaan paliatif merupakan multidisiplin spesialisasi yang diantaranyaberperan dalam penanganan nyeri kanker Beberapa studi menunjukkan peningkatan survival pasien kanker dengan kontrol nyeri yang agresif. Nyeri pada kanker bisa karena nyeri visceral, nyeri somaatik, dan nyeri neuropatik. Berbagai modalitas digunakan untuk intervensi nyeri pada pasien kanker, misal farmakologi, epidural maupun tindakan intervensi yang lain.
Neuroleptik Analgesia pada Operasi Direct Laringoscopy
Purnomo, Dedi Pujo;
Mahmud;
Uyun, Yusmein
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 2 (2017): Volume 4 Number 2 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jka.v4i2.7297
Teknik anestesi neuroleptik merupakan modifikasi dari anestesi umum konvensional untuk mengeliminasi persepsi stimuli nosiseptif pada korteks serebral tanpa mempengaruhi fungsi kognitif. Karakteristik spesifik dari teknik ini termasuk modulasi respon endokrin, metabolik, dan otonom terhadap stimulasi nosiseptif. Beberapa prosedur yang minimal invasif juga membutuhkan neuroleptanalgesia, sehingga teknik ini ideal digunakan pada pasien beresiko tinggi apabila dilakukan anestesi umum. Pasien yang sadar dan mampu memberi respon merupakan monitor terbaik selama prosedur diagnostik berlangsung. Meskipun teknik ini tetap memiliki kekurangan yaitu bila terjadi unconsciousness sampai pada tingkat unrousable, gannguanventilasi akibat rigiditas otot dan eksitasi ekstrapiramidal paska operasi.
Pemberian Analgetik Epidural Lumbal Kontinu sebagai Tatalaksana Nyeri Kanker dengan Metastasis
Mahmud;
Kumala , Ratih;
Alamsyah, Erry
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 10 No 3 (2022)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jka.v10i3.7353
Pain is the most common symptom of cancer patients. Pain in cancer patients is mainly caused by cancerprogressivity and tissue necrosis. Management of chronic pain needs considerable high socioeconomic costs. As an alternative for chronic pain management, a continuous infusion of local anesthetics via epidural catheter is recommended to alleviate chronic pain which caused by cancer pain in certain concentration that can relieve pain. We report 3 cases of patients with cancer pain related to metastatic process. All three patients had previously prescribed with oral opioids and fentanyl patches, which were inadequate in eliminating pain. In all these three patients, lumbal epidural catheter was placed and continuous local anesthetic drugs were administered in 1-2 ml/hour rate. The local anesthetics solution contains levobupivacaine 0.1%, morphine 0.08 mg/ml and klonidin 1.2 mg/ml.
Angka Bakteri dalam Campuran Levobupivakain 0,125%, Fentanil 1mcg/ml dan NaCl 0,9% untuk Obat Epidural
Atmojo, Danang Dwi;
Widyastuti, Yunita;
Mahmud
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 6 No 3 (2019): Volume 6 Number 3 (2019)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jka.v6i3.7374
Latar Belakang: Angka kejadian infeksi pada teknik epidural anestesia memang sedikit, namun beratnya komplikasi yang dapat ditimbulkan menjadi permasalahan yang harus dieliminasi faktor pencetusnya. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah campuran obat yang aman secara mikrobiololgi. Pada sebagian praktek klinis di rumah sakit, pencampuran obat epidural dilakukan oleh petugas kesehatan melalui prinsip aseptik yang dilakukan pada ruangan tidak standar.Tujuan: Mengetahui keamanan mikrobiologi campuran obat epidural levobupivakain 0.125% dengan fentanil 1mcg/ml dalam NaCl 0.9%.Metode: Sebuah uji laboratoris deskriptif observasional pada 49 sampel berdasarkan convenient sampling. Sampel disimpan selama 3 hari pada suhu 40 celcius. Parameter mikrobiologi berupa pemeriksaan angka kuman dilakukan pada hari ke 0 dan ke 3.Hasil: Ditemukan kuman 2 CFU/mm pada 1 sampel di hari ke-3 penyimpanan. Pencampuran pada tempat yang tidak standar, dan efek antibakteri levobupivakain yang lebih rendah serta spektrum kuman yang lebih sedikit merupakan faktor risiko timbulnya kuman.Kesimpulan: Terjadi kontaminasi sebanyak 2,04% (1 sampel) pada pencampuran levobupivakain 0.125%, fentanil 1mcg/ml dan NaCl 0,9%, pada penyimpanan dalam lemari es sampai 3 hari.
Manajemen Hemodinamik Menggunakan Electrical Cardiometry (EC) dengan Mempertimbangkan Parameter Makrosirkulasi dan Mikrosirkulasi
Sudadi;
Mahmud;
Rani, Hajar Rafika
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 7 No 2 (2020): Volume 7 Number 2 (2020)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jka.v7i2.7462
A 62-year-old woman with peritonitis suspected of intestinal perforation who underwent exploratory laparotomy. Patients with ASA 2 physical status with geriatrics, leukocytosis, hypokalemia, hypoalbuminemia. The patient was under general anesthesia with epidural analgesia. The surgery rans for 5 hours. Postoperative patients were transferred to post-anesthesia care unit (PACU) and EC measurements were carried out before and after postoperative hemodynamic management. Changes in cardiac output seen by EC measurements by considering lactate values as microcirculation parameters can be used to predict hemodynamic responses to fluids.