The competency gap between vocational training graduates and industry needs remains a serious problem in Indonesia, indicating weak training program management in developing lifeskills relevant to labor market demands. This research aims to analyze the implementation of lifeskill development management through beauty skincare training at LKP SRIMAYA Bandung, focusing on planning, organizing, implementing, and controlling program functions. The study employs a qualitative approach with case study method, where data collection was conducted through in-depth interviews with managers, instructors, and trainees, direct observation of learning processes, and analysis of curriculum documents and standard operating procedures. The findings reveal that LKP SRIMAYA faces significant weaknesses in all four management functions, including curriculum planning that is unresponsive to industry developments, suboptimal resource organization with non-ideal supervision ratios and inadequate facilities, conventional learning implementation without structured industry partnerships, and absence of evaluation systems and tracer studies resulting in no continuous improvement mechanisms. These management weaknesses impact declining enrollment numbers and low graduate competitiveness. The research concludes that the effectiveness of vocational lifeskill development heavily depends on systematic and integrated management function implementation, and the necessity of strengthening managerial capacity of non-formal education institution managers to improve training program quality and relevance.ABSTRAKPendidikan anak berkebutuhan khusus (ABK) memerlukan layanan pembelajaran yang terencana, sistematis, dan berorientasi pada kebutuhan individual peserta didik. Dalam konteks homeschooling, peran dominan orang tua menjadikan kolaborasi antara sekolah dan orang tua sebagai aspek strategis dalam administrasi pendidikan guna meningkatkan mutu pembelajaran ABK. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kolaborasi sekolah dan orang tua dalam peningkatan mutu pembelajaran ABK di Homeschooling Focus Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, melalui penerapan fungsi manajerial Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling (POAC). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian terdiri atas orang tua ABK, guru, dan kepala sekolah. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Data dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi sekolah dan orang tua telah dilaksanakan secara terencana dan terstruktur melalui penyusunan perencanaan pembelajaran individual, pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas, pelaksanaan pembelajaran secara kolaboratif, serta evaluasi berkelanjutan terhadap perkembangan peserta didik. Kolaborasi tersebut memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan mutu pembelajaran ABK, yang tercermin pada aspek akademik, kemandirian, dan perkembangan sosial-emosional. Simpulan penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi sekolah dan orang tua yang dikelola melalui fungsi-fungsi POAC merupakan bagian integral dari administrasi pendidikan dan berperan penting dalam meningkatkan mutu pembelajaran ABK di Homeschooling Focus.