Articles
Analisia Persediaan Bahan Baku Chiki Balls dengan Metode Economic Order Quantity (EOQ) pada PT. Indofood Fritolay Makmur
Edy Supriadi;
Arif Sapriyadi
JITMI (Jurnal Ilmiah Teknik dan Manajemen Industri) Vol 2, No 2 (2019): JITMI
Publisher : Universitas Pamulang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32493/jitmi.v2i2.y2019.p137-146
PT. Indofood Fritolay Makmur bergerak di Industri makanan ringan, dengan misi membuat produk berkualitas tinggi, inovatif, dan harga terjangkau sehingga menjadi pilihan pelanggan, serta memastikan ketersediaan produk untuk pelanggan domestik dan luar negeri. Dalam memenuhi permintaan kesediaan bahan baku dengan proses produksi haruslah seimbang dalam efisiensi penghematan biaya. Hal ini berakibat pada kelebihan persediaan bahan baku akibat kurang tepat dalam pengambilan keputusan persediaan. Hal ini di sebabkan oleh permintaan dari konsumen sehingga bahan baku pembelian berdasar pada konsumen saja.Terkadang0perusahaan0membeli persediaan0bahan0baku0dalam0jumlah0yang0relatif besar, sehingga menyebabkan pemborosan biaya penyimpanan bahan baku. Untuk itu penggunaan metode ABC (Activity Based Costing) dan Metode Economic Order Quantity (EOQ) dianggap cukup tepat dalam penanganan masalah persediaan. Rata-rata pembelian bahan baku Chiki Balls dengan metode Economical Order Quantity (EOQ) cukup efisien dalam pembelian bahan baku Chiki Balls dalam jumlah 32.317 Bacth dengan 28 kali pesan dalam satu tahun dengan menghabiskan biaya persediaan sebesar Rp. 3.696.433,-/tahun. Jika dibandingkan dengan kebijakan PT. Indofood Fritolay Makmur yang melakukan pembelian sebanyak 48 kali dalam setahun dengan jumlah 19.125 Batch menghabiskan biaya sebesar Rp.4.216.846,-/tahun. Maka dengan menghemat biaya persediaan sebesar Rp.520.413,-/tahun. Dengan metode Economical Order Quantity (EOQ),0perusahaan0harus0menyediakan0persediaan pengaman untuk memperlancar proses penjualan bahan baku Chiki Balls sebanyak 47.379 karton dan titik pemesanan kembali untuk mengantisipasi ketidak tersediaannya bahan baku pada supplier pada saat bahan baku Chiki Balls dalam jumlah 50.359 karton.
Discovery Learning based on Natural Phenomena to Improve Students' Science Process Skills
Rudi Haryadi;
Heni Pujiastuti
Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika Vol 5 No 2 (2019): JPPPF (Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Fisika), Volume 5 Issue 2, D
Publisher : Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Negeri Jakarta, LPPM Universitas Negeri Jakarta, HFI Jakarta, HFI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (282.621 KB)
|
DOI: 10.21009/1.05214
The purpose of this research is to find out the science process skills of students through discovery learning. The process of science is essential for students to have because it is the process of forming science. Science process skills can accustom students to learning through scientific work processes and systematic work. The research method uses a quasi-experiment with one group pretest-posttest design. This study does not use a comparison class, because it already uses a preliminary test so that the magnitude of the effect or effect of using discovery learning can be known with certainty. In this study, research subjects were first given a pre-test (pretest) to find out the extent of the students' initial abilities before being given physics learning by using discovery learning. After the initial test is given, then the student is given treatment, namely learning physics by using discovery learning. After completing physics learning with discovery learning, then all students are given a final test (posttest) to determine the extent of the effect of physics learning by using discovery learning on students' science process skills. The instrument used in this study was a science process skills test on the material elasticity and Hooke law, in the form of 20 multiple-choice tests and tested on 30 students in Prisma City High School. Each question evaluates aspects of conclusions, observations, identification, predictions, and interpretation of data. The results of the analysis show an increase in observational indicators from 39.95 to 66.62, concluding from 53.86 to 69.4, identifying from 36.6 to 73.3, predicting from 39.43 to 68.31 and interpreting from 73.3 to 98.3. Based on the results of the analysis, the learning of physics-based on natural phenomena through discovery learning models can improve students' science process skills.
The Science Literacy Capabilities Profile Using Guided Inquiry Learning Models
Rudi Haryadi;
Heni Pujiastuti
Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika Vol 6 No 1 (2020): JPPPF (Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Fisika), Volume 6 Issue 1, J
Publisher : Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Negeri Jakarta, LPPM Universitas Negeri Jakarta, HFI Jakarta, HFI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (256.727 KB)
|
DOI: 10.21009/1.06109
This research aims to find out the influence of guided inquiry learning models on the ability of scientific literacy in high school students in the city of Tangerang. This research is a pre-experimental design study that aims to determine the ability of scientific literacy by using a guided inquiry learning model for high school students in the city of Tangerang in Newton’s law material. The research design used was One-Group Pretest-Posttest Design with a sample of 32 students of class X MIA 3 of SMAN 11 in Tangerang City. The average N-gain results for students of SMAN 11 Kota Tangerang amounting to 0.4060 are in the medium category. So it was concluded that the ability of scientific literacy by using the guided inquiry learning model of high school students in the Regency and City of Tangerang is in the medium category.
The Effectiveness of Using Serious Games to Improve Physics Learning Outcomes in Light Concept
Rudi Haryadi;
Heni Pujiastuti
Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika Vol 6 No 2 (2020): JPPPF (Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Fisika), Volume 6 Issue 2, D
Publisher : Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Negeri Jakarta, LPPM Universitas Negeri Jakarta, HFI Jakarta, HFI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21009/1.06202
The purpose of this study was to determine the results of the use of serious games in physics learning in light material at Serang 6 Public High School. The research design used was the Pre-Test Randomized Control Group Post-Test Design. The population of the study was all of the eleventh grade students’ of Serang SMA 6 which numbered six classes. The study sample consisted of one experimental class (XI MIPA 1) and one control class (XI MIPA 2). The results showed that the application of physics learning used a serious game on light material in class XI of Serang 6 High School which took place very well and had a positive effect on student learning outcomes. In addition, the students’ response to the application of physics learning using the serious game was very good. The N-gain result shows that the use of the serious game is 0.89.
ANALISIS KEMAMPUAN SISWA DALAM MEMAHAMI SOAL CERITA PADA MATERI FUNGSI KOMPOSISI DAN FUNGSI INVERS
Dhitamaulia Mahfuud;
Heni Pujiastuti
Journal of Mathematics Education and Science Vol. 3 No. 2 (2020): Journal of Mathematics Education and Science
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (202.607 KB)
|
DOI: 10.32665/james.v3i2.137
This study aims to determine class X students' difficulty in understanding story questions on the material composition function and inverse function. This research is a qualitative descriptive study with a sample of class X students in SMA Negeri 3 Cilegon. Data analysis of difficulty understanding story problems obtained through tests, observations, and documentation. For data validation, the data reduction, data review, and conclusion drawing stages are used. This study's results indicate that students' ability to understand story problems in the material composition function and inverse function is still low. It can be seen that only 6.25% of students can complete the test correctly so that it is categorized high, 31.25% is classified as moderate, and 62.5% is classified as low. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami soal cerita pada materi fungsi komposisi dan fungsi invers. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan sampel siswa kelas XI di SMA Negeri 3 Cilegon. Data analisis kesulitan pemahan soal cerita diperoleh melalui tes dan dokumentasi. Untuk validias data digunakan tahap reduksi data, pengajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memahami soal cerita pada materi fungsi komposisi dan fungsi invers masih rendah. hal tersebut dapat dilihat bahwa hanya 6,25% siswa yang mampu menyelesaikan tes dengan sempurna sehingga dikategorikan tinggi, 31,25% tergolong sedang, dan 62,5% lainnya tergolong rendah.
PENGARUH KREATIVITAS DAN GAYA BELAJAR PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA
Mila Padliah;
Heni Pujiastuti
Delta: Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Vol 8, No 2 (2020): Delta Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika
Publisher : Universitas Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31941/delta.v8i2.1003
Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya permasalahan-permasalahan yang terdapat pada proses pembelajaran matematika di sekolah, yaitu di antaranya kesulitan yang dihadapi siswa dalam menyelesaikan permasalahan matematika dengan cara penyelesaian baru, yang mana hal ini membutuhkan adanya kreativitas dan penggunaan gaya belajar dalam menyerap suatu pembelajaran. Adapun penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh dari kreativitas dan gaya belajar pada mata pelajaran matematika terhadap hasil belajar matematika. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi yang digunakan pada penelitian adalah siswa kelas 12 MA Swasta Plus Darul Huda Cikoneng, sementara itu sampel yang digunakan untuk melakukan penelitian adalah siswa kelas 12 IPA 1. Data pada penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan instrumen angket dan teknik dokumentasi hasil belajar. Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji korelasi analisis regresi ganda, untuk mengetahui pengaruh kreativitas dan gaya belajar pada mata pelajaran matematika terhadap hasil belajar matematika. Hasil analisis data dengan menggunakan uji korelasi analisis regresi ganda menunjukan bahwa kreativitas dan gaya belajar pada mata pelajaran matematika memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar matematika.
ADVERSITY QUOTIENT DENGAN MINAT ENTREPRENEURSHIP
Muhammad Shohib
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 1 No. 1 (2013): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (530.57 KB)
|
DOI: 10.22219/jipt.v1i1.1355
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan adversity quotient dengan minat enterpreneurship. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif non eksperimen dengan mengambil responden 100 siswa-siswa SMA melalui metode accidental sampling. Instrument pengambilan data menggunakan kuesioner dalam bentuk skala likert. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan positif yang signifikan antara adversity quotient dengan minat entrepreneurship dengan nilai koefisien korelasi(R) sebesar 0,225 dan nilai signifikansi (p) 0,024. Hal ini berarti semakin tinggi adversity quotient maka semakin tinggi pula minat entrepreneurship, begitu pula sebaliknya, dengan sumbangan efektif sebesar 5%.Kata kunci: Adversity Quotient, Minat EntrepreneurshipThis research aimed to know correlation between adversity quotient and enterpreneurship interest. This study is non-experimental quantitative research with 100 students from high school participated as respondents.The study used accidental sampling method. The data collection instrument were 2 Likert scale. Result showed positive correlation between adversity quotient and interest in entrepreneurship with a correlation coefficient (r) of 0.225 and p= 0.024. It means that the higher adversity quotient,the higher interest to enterpreneurship, and vice versa, with the effective contribution by 5%.Keyword: Adversity Quotient, Entrepreneurship Interest
SIKAP TERHADAP UANG DAN PERILAKU BERHUTANG
Muhammad Shohib
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 3 No. 1 (2015): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (514.266 KB)
|
DOI: 10.22219/jipt.v3i1.2133
Perilaku berutang telah banyak menjadi pilihan individu dalam menyelesaikan masalah pemenuhan kebutuhan. Perilaku berutang tidak hanya dimiliki oleh kalangan menengah ke bawah untuk memenuhi kebutuhan pokok, tetapi juga dimiliki oleh kalangan menengah ke atas. Hal ini tentunya tidak bisa lepas dari sikap seseorang terhadap uang, dimana perbedaan sikap tersebut akan diikuti dengan perbedaan perilaku seseorang yang berhubungan dengan uang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sikap terhadap uang dengan perilaku berutang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional dengan sampel penelitian sebanyak 227 orang. Metode pengambilan data menggunakan skala sikap terhadap uang (money attitude scale) dan skala perilaku berutang yang dianalisis melalui korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara sikap terhadap uang dengan perilaku berutang (p = 0.023, r = 0.150). Sumbangan efektif variabel sikap terhadap uang kepada perilaku berutang sebesar 2.2%. Dalam analisis korelasi parsial ditemukan bahwa dimensi distrus, quality dan anxiety berhubungan dengan perilaku berutang, sedangkan dimensi power-prestige dan retention time tidak berhubungan secara signifikan dengan perilaku berutang. Kata kunci: Sikap terhadap uang, perilaku berutang Debt behavior has an option individuals in resolving issues fulfillment. Debt behavior not only owned by the middle to bottom class to meet basic needs, but also owned by the upper middle class. This certainly can not be separated from money attitude, where the difference in money attitude will be followed by the person's behavioral differences that related to money. This study aimed to determine the relationship between money attitudes to debt behavior. This study is a quantitative correlation with a sample of 227 people. The data collection method using a money attitude scale and debt behavior scale then analyzed through product moment correlation. The results showed that there was a significant relationship between attitudes toward money to debt behavior (p = 0.023, r = 0.150). Effective contribution attitudes toward money to debt behavior by 2.2%. In partial correlation analysis found that distrust, quality and anxiety dimensions associated with the debt behavior, while the power-prestige and retention time dimensions was not significantly related to debt behavior. Keyword : Money attitude, debt behavior
Pengaruh model pembelajaran generatif terhadap peningkatan kemampuan komunikasi matematis ditinjau dari kemampuan awal matematis siswa
Aan Qonaah;
Heni Pujiastuti;
Abdul Fatah
JP3M (Jurnal Penelitian Pendidikan dan Pengajaran Matematika) Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, FKIP, Universitas Siliwangi, Tasikmalaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37058/jp3m.v5i1.656
Penelitian ini didasarkan pada permasalahan rendahnya kemampuan komunikasi matematis dalam pembelajaran matematika. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran generatif. Penelitian ini mengkaji masalah peningkatan kemampuan komunikasi matematis antara siswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan model generatif dan ekspositori ditinjau dari Kemampuan Awal Matematis (KAM) siswa (tinggi, sedang, dan rendah). Selain itu, diungkap pula hubungan interaksi antara model pembelajaran dengan KAM terhadap kemampuan komunikasi siswa. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperiment, disain penelitian yang digunakan adalah Nonequivalent Control Group Design dengan menggunakan Purposive Sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 6 Pandeglang kelas XI Tahun Pelajaran 2018/2019. Instrumen yang digunakan dalam penelitian berupa nilai KAM dan tes kemampuan komunikasi matematis. Analisis data dilakukan secara kuantitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan uji-t dan uji Anova dua jalur. Hasil penelitian menunjukan (1) Peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang diberi perlakuan pembelajaran generatif lebih baik daripada siswa yang mendapat pembelajaran ekspositori; (2) Terdapat interaksi antara metode pembelajaran dan KAM terhadap peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa; (3) Terdapat peningkatan kemampuan komunikasi matematis pada siswa dengan KAM tinggi; (4) Tidak terdapat peningkatan kemampuan komunikasi matematis pada siswa dengan KAM sedang dan rendah. Kata kunci: pembelajaran generatif, kemampuan komunikasi matematis, dan Kemampuan Awal Matematis (KAM)
Pendampingan Kelompok Konselor Sebaya di Kota Batu
Muhammad Shohib;
Ari Firmanto;
Wahyu Andhyka Kusuma;
Gita Indah Martasari
Jurnal Dedikasi Vol. 13 (2016): Mei
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/dedikasi.v13i0.3135
Pendampingan Kelompok Konselor Sebaya di Kota BatuMuhammad Shohib1, Ari Firmanto2, Wahyu Andhyka Kusuma3, Gita Indah Martasari41,2Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang3,4Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah MalangE-mail : 1) mshohib@umm.ac.id, 2)arifirmanto@yahoo.com, 3)kusuma.wahyu.a@gmail.com, 4) gita.voyager@gmail.comABSTRAKBimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari proses pendidikan di sekolah. Peran dan fungsi strategisnya adalah untuk pencegahan dan penanggulangan permasalahan remaja. Oleh karena itu, perlu strategi lain untuk mengoptimalkan peran dan fungsi bimbingan dan konseling yaitu dengan membentuk kelompok konselor sebaya, mengingat masa remaja sangat dekat dengan rekan atau peer group. Metode kegiatan ini menggunakan model pelatihan dan bimbingan untuk memantau kelompok konselor yang dibentuk di sekolah - sekolah. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pembentukan kelompok konselor oleh sekolah diharapkan membantu penanganan berbagai masalah remaja (siswa), baik berkaitan dengan studi dan pergaulan remaja. Pembentukan kelompok konselor sebaya juga dapat meminimalkan munculnya perilaku kenakalan remaja karena pelatihan kompetensi sebagai konselor membutuhkan karakter yang kuat (empati, menolong, proaktif, bersedia untuk mendengarkan dan berbagi serta kreatif mencari solusi). Implikasinya adalah kebutuhan untuk membentuk lebih banyak konselor di sekolah dan perguruan tinggi serta program mentoring lainnya.Kata Kunci: Bimbingan dan Konseling, Peer Group