Articles
PANDANGAN GENERASI TUA DAN GENERASI MUDA TIONGHOA SURABAYA TERHADAP PENERAPAN FENG SHUI TANGGA
Wenny Yulia Dewi;
Elisa Christiana;
Lukito Suwito Kartono
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (270.451 KB)
|
DOI: 10.9744/century.4.1.20-32
Penelitian ini berisi tentang bagaimana peranan, eksistensi, dan kelanjutan Fēng Shuǐ di tengah masyarakat Indonesia-Tionghoa saat ini, terutama mengenai Fēng Shuǐ tangga yang seringkali dilupakan. Penelitian ini juga meneliti faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sikap masyarakat Indonesia-Tionghoa terhadap Fēng Shuǐ dan upaya yang dapat dilakukan sehingga Fēng Shuǐ sebagai salah satu kebudayaan Tionghoa dapat terus bertahan di tengah masyarakat Indonesia-Tionghoa, dengan memfokuskan penelitian pada pandangan penerapan Fēng Shuǐ tangga yang seringkali dilupakan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan wawancara mendalam dengan delapan orang generasi tua berusia minimal 60 tahun dan enam orang generasi muda berusia 19-27 tahun sebagai obyek penelitian. Hasil penemuan dalam penelitian ini adalah adanya faktor-faktor penyebab yang mempengaruhi eksistensi Fēng Shuǐ; perbedaan sudut pandang di antara generasi tua dan generasi muda mengenai bagaimana cara mereka memahami, menerima dan mempertahankan eksistensi Fēng Shuǐ; pandangan mengenai penting atau tidaknya Fēng Shuǐ tangga dari segi Fēng Shuǐ sebagai ilmu alam yang didominasi oleh generasi muda dan dari segi Fēng Shuǐ sebagai ilmu mistis yang didominasi oleh generasi tua; latar belakang pembelajaran Fēng Shuǐ berdasarkan prinsip keselarasan alam yang menentukan pandangan mengenai pentingnya Fēng Shuǐ tangga; adanya kesalahan pemahaman nilai filosofis dalam penghitungan Fēng Shuǐ anak tangga; pengaruh leluhur dan lingkungan yang menentukan sudut pandang orang Tionghoa dalam menilai Fēng Shuǐ tangga; serta penghitungan jumlah anak tangga dan posisi tangga yang tidak boleh berhadapan langsung dengan pintu sebagai pengetahuan yang paling banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia-Tionghoa. Berdasarkan hasil penelitian, solusi untuk dapat terus mempertahankan Fēng Shuǐ adalah menyediakan sumber-sumber yang dapat menjelaskan konsep aturan dalam Fēng Shuǐ secara logis.
Dominasi Anak Laki-Laki Sulung Dalam Keluarga Tionghoa Suku Hokkien di Kecamatan Tambaksari Surabaya Timur 泗水东区Tambaksari福建家庭中长子的地位和优势研究
Setefani Veronica Jap;
Elisa Christiana
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (312.111 KB)
|
DOI: 10.9744/century.1.2.37-46
Zaman dahulu budaya Tionghoa dalam sebuah keluarga memiliki anak laki-laki sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sampai saat ini anak laki-laki sangat diinginkan dan juga untuk membuat kita mengerti tentang keistimewaan dan keuntungan dalam posisi menjadi anak laki sulung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu mewawancarai informan guna mendapatkan data yang akurat. Terdapat empat sudut pandang informan terhadap anak laki sulung, yaitu laki sulung, orangtua anak laki sulung dan saudara kandung anak laki sulung. Meskipun zaman sudah semakin maju, namun tetap saja semua informan menilai anak laki lebih penting. Alasannya anak lelaki sulung dapat membantu menjaga adiknya yang masih kecil, meneruskan marga dan pekerjaan orang tua. Disaat anak sulung sebelum menikah pula ada beberapa hal material dan nonmaterial yang orangtua anak sulung berikan. Bagi saudara kandung laki sulung, mereka menilai kakak sulung mereka melakukan tanggung jawabnya dengan baik.
SEMANGAT HAKKA YANG DICERMINKAN OLEH ORANG HAKKA MELALUI KEGIATAN MERAYAKAN IMLEK
Siska Indahwati;
Elisa Christiana
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (233.819 KB)
|
DOI: 10.9744/century.5.1.1-9
Semangat Hakka yang diwujudkan pada diri orang Hakka Surabaya terlihat pada saat melakukan kegiatan perayaan Imlek yang dilakukan dari generasi ke generasi. Dari sepuluh semangat Hakka menurut “Buku Panduan Pemilihan Hakka Ako Amoi 2016” penelitian ini menemukan beberapa semangat yang paling menonjol. Skripsi ini menggunakan pendekatan kualitatif dan mewawancarai enam orang yang berusia di atas 60 tahun, senior yang pada saat Imlek masih melakukan tradisi Imlek, enam orang paruh baya berusia 41 hingga 60 tahun dan enam orang muda mudi yang berusia 20 hingga 40 tahun. Hasil dari penelitian ini adalah semangat Hakka yang tercermin pada kegiatan Imlek orang Hakka, yaitu “menghormati leluhur”, “berbakti” dan “kebersamaan”. Semangat Hakka yang tercermin pada kegiatan Imlek orang Hakka di perkumpulan, yaitu “berbakti”, “menjunjung tinggi kesetiakawanan” dan “kebersamaan”. Golongan senior, paruh baya dan muda mudi memiliki pemahaman yang berbeda mengenai semangat Hakka karena pengaruh pola pikir dan lingkungan sekitar mereka.
Pendapat Mahasiswa Hebei Normal University dan Universitas Kristen Petra Mengenai Budaya Nama Generasi 河北师范大学与彼得拉基督教大学学生对辈分名字文化的看法
Dinalia Widjaja;
Elisa Christiana;
Liejanto Wijaya
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (356.266 KB)
|
DOI: 10.9744/century.2.1.59-73
Nama generasi adalah nama yang digunakan untuk menyusun generasi keluarga dan untuk mengetahui tingkatan generasi, diletakkan setelah nama marga. Susunan nama generasi ditentukan oleh leluhur keluarga. Penulis ingin meneliti tentang penggunaan dan pandangan mahasiswa mengenai nama generasi di Hebei Normal University Shijiazhuang, Tiongkok dan di Universitas Krsiten Petra Surabaya, Indonesia. Penulis menggunakan metode kuantitatif dan mengumpulkan data melalui kuesioner. Objek penelitian adalah lima puluh mahasiswa berkewarga-negaraan Tiongkok dan lima puluh mahasiswa etnis Tionghoa berkewarga-negaraan Indonesia. Dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Universitas Kristen Petra lebih banyak menggunakan nama generasi dibandingkan mahasiswa Hebei Normal University, serta lebih mementingkan dan ingin menurunkan kebudayaan nama generasi ke generasi selanjutnya. Penggunaan nama generasi oleh responden laki-laki lebih banyak dibandingkan responden perempuan, hal ini dipengaruhi oleh ada konsep patriarkal. Penggunaan nama generasi oleh mahasiswa Universitas Kristen Petra dan Hebei Normal University dipengaruhi oleh peristiwa sejarah di masing-masing negara, kondisi keluarga, pandangan pribadi, tempat tinggal, pendidikan dan pola nama Tionghoa.
Persepsi Pasien Non Tionghoa di Klinik Karang Asem Surabaya Terhadap Pengobatan Tradisional Tiongkok 泗水KarangAsem路中医非华裔病人接受中医治疗的原因和看法
Fanny Desilia Tansy;
Elisa Christiana;
Yifeng Wang
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.9744/century.1.2.85-93
Dahulu orang non Tionghoa hanya minum jamu, ke dukun dan ke dokter umum bila sakit. Namun, 15 tahun terakhir, orang non Tionghoa yang menerima pengobatan tradisional Tiongkok di Surabaya semakin banyak. Penulis menggunakan metode kualitatif untuk menjelaskan pendapat dan alasan Pasien non Tionghoa di Klinik Surabaya terhadap pengobatan tradisional Tiongkok. Dari hasil wawancara disimpulkan: narasumber menerima pengobatan tradisional Tiongkok karena direkomendasikan orang lain. Para perekomendasi menyatakan bahwa teknik pengobatan tradisional Tiongkok sangat bagus. Ketika perekomendasi menjelaskan bahwa sinse seorang Tionghoa, pewawancara merasa khawatir pada awalnya. Tetapi, perekomendasi menjelaskan bahwa sinse ini tidak memandang ras dan agama. Orang non Tionghoa yang disembuhkan olehnya juga tidak sedikit. Para pewawancara setelah menerima mengobatan tradisional Tiongkok, menurut mereka ramuan obat tidak berbahan kimia, namun sulit diramu dan rasanya pahit. Pasien yang menerima akupuntur beranggapan bahwa dengan menggunakan jarum saja sudah bisa menyembuhkan penyakit, dan harganya tidak mahal.
Pengaruh Bahasa Pertama Terhadap Pembelajaran Kata Bantu Bilangan Bahasa Tionghoa Sebagai Bahasa Kedua 第一语言对学习汉语量词的负迁移
Ferdinan Dyan Warudu;
Elisa Christiana
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (510.648 KB)
|
DOI: 10.9744/century.1.2.94-103
Adanya fenomena yang terjadi pada pebelajar bahasa Tionghoa bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama mempengaruhi pembelajaran kata bantu bilangan bahasa Tionghoa. Artikel ini meneliti tentang pengaruh apa saja yang timbul dari bahasa pertama terhadap proses pembelajaran kata bantu bilangan dalam bahasa Tionghoa dan bagaimana menyelesaikan masalah yang timbul dari pengaruh bahasa pertama ini dari sudut pandang pebelajar. Menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan wawancara semi terstruktur. Hasil penelitian menemukan bahwa pengaruh yang timbul dari bahasa pertama adalah ketika pebelajar lupa satu kata bantu bilangan dalam bahasa Tionghoa, maka cara yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan menggunakan kata bantu bilangan “Buah” dalam bahasa Indonesia yang langsung diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa, sehingga menjadi “个gè”. Cara menyelesaikan fenomena ini adalah pebelajar harus dengan kesadaran diri sendiri melakukan proses metakognitif, dimana pebelajar melakukan proses perencanaan, pengamatan, mengevaluasi dan penyesuaian terhadap proses pembelajaran yang sedang berjalan.
Relasi Ibu Mertua dan Menantu Perempuan Dalam Keluarga Tionghoa di Surabaya 泗水华人家庭里的婆媳关系
Ivana Huang;
Elisa Christiana
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.9744/century.1.2.44-58
Relasi ibu mertua dan menantu perempuan seringkali digambarkan buruk, seperti dalam puisi klasik Tiongkok Kongque Dongnan Fei. Maka dalam skripsi ini, penulis meneliti relasi ibu mertua dan menantu perempuan dalam tiga keluarga Tionghoa di Surabaya yang telah tinggal bersama lebih dari 15 tahun. Dari hasil analisis, penulis menemukan bahwa relasi ibu mertua dan menantu perempuan sudah lebih modern, tidak ada lagi feodalisme keluarga. Ibu mertua tidak lagi menuntut menantu yang sempurna dan dapat menerima segala kelebihan dan kekurangan menantu perempuan sebagai anak sendiri. Konflik rumah tangga tentunya pernah terjadi di antara mereka, namun dengan cara manajemen konflik avoidance, accomodation dan collaboration, masalah dapat diatasi dengan baik, dan keharmonisan relasi di antara ibu mertua dan menantu tetap terjaga.婆婆与媳妇之间很多时候很难建立良好关系,就像中国古代叙事诗《孔雀东南飞》里所描述的那样。在此笔者研究在泗水三个华人家庭里同住了15年的婆婆和媳妇的关系。由分析结果可见,婆媳关系已现代化了,不再遵行家庭封建制度。婆婆不再要求完美的媳妇,而愿意接受媳妇为亲女儿,接受她的优缺点。家庭里的矛盾、冲突当然发生过,但她们都能以冲突管理方式如躲避式、圆通式、协同式来解决问题,因此能保持婆媳之间良好的关系。
Perbandingan Lingkungan Bahasa Informal Hebei Normal University dan Universitas Kristen Petra Dalam Pembelajaran Bahasa Tionghoa 河北师范大学与彼得拉基督教大学的课外语境作为汉语学习的对比研究
Margaretha Monika Utama;
Elisa Christiana;
Herman Yongdra
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (285.855 KB)
|
DOI: 10.9744/century.2.1.74-85
Pembelajaran bahasa tidak pernah terlepas dari lingkungan. Dalam proses pembelajaran bahasa kedua, lingkungan bahasa informal merupakan salah satu unsur yang berpengaruh. Maka dalam skripsi ini, penulis meneliti pandangan mahasiswa asing tingkat dasar Hebei Normal University dan Universitas Kristen Petra serta membandingkan lingkungan bahasa informal di Hebei Normal University dan Universitas Kristen Petra. Dari hasil penelitian, penulis menemukan mahasiswa asing yang terbiasa menggunakan bahasa Tionghoa dalam berkomunikasi lebih banyak dibandingkan mahasiswa Program Studi Sastra Tionghoa Universitas Kristen Petra. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan kebiasaan penggunaan bahasa kedua negara, yang kemudian mempengaruhi proses pembelajaran bahasa. Namun lingkungan bahasa informal di dalam kampus tetap membawa lebih banyak pengaruh positif dibandingkan lingkungan bahasa di masyarakat, sebab di dalam lingkungan kampus, ada para dosen dan teman-teman yang membantu mereka dalam proses pembelajaran bahasa Tionghoa.
Pengaruh Bahasa Pertama Terhadap Pembelajaran Kata Bantu Bilangan Bahasa Tionghoa Sebagai Bahasa Kedua 第一语言对学习汉语量词的负迁移
Ferdinan Dyan Warudu;
Elisa Christiana
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.9744/century.1.2.94-103
Adanya fenomena yang terjadi pada pebelajar bahasa Tionghoa bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama mempengaruhi pembelajaran kata bantu bilangan bahasa Tionghoa. Artikel ini meneliti tentang pengaruh apa saja yang timbul dari bahasa pertama terhadap proses pembelajaran kata bantu bilangan dalam bahasa Tionghoa dan bagaimana menyelesaikan masalah yang timbul dari pengaruh bahasa pertama ini dari sudut pandang pebelajar. Menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan wawancara semi terstruktur. Hasil penelitian menemukan bahwa pengaruh yang timbul dari bahasa pertama adalah ketika pebelajar lupa satu kata bantu bilangan dalam bahasa Tionghoa, maka cara yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan menggunakan kata bantu bilangan “Buah” dalam bahasa Indonesia yang langsung diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa, sehingga menjadi “个gè”. Cara menyelesaikan fenomena ini adalah pebelajar harus dengan kesadaran diri sendiri melakukan proses metakognitif, dimana pebelajar melakukan proses perencanaan, pengamatan, mengevaluasi dan penyesuaian terhadap proses pembelajaran yang sedang berjalan.
Pandangan Tiga Orang Tionghoa Generasi Tua Samarinda Terhadap Makna Bunga Mei dan Tanaman Jeruk Pada Perayaan Imlek
Fransisca Haryanto;
Elisa Christiana
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (215.539 KB)
|
DOI: 10.9744/century.4.1.33-40
Di kota Samarinda, hampir seluruh keluarga keturunan Tionghoa melaksanakan tradisi memasang bunga mei dan tanaman jeruk pada perayaan Imlek. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pemaknaan bunga mei dan tanaman jeruk bagi generasi tua masyarakat Tionghoa Samarinda dan alasan mereka masih melakukan tradisi ini setiap tahunnya. Skripsi ini menggunakan pendekatan kualitatif dan mewawancarai tiga orang narasumber yang berusia 65 tahun atau lebih yang paham akan makna bunga mei dan tanaman jeruk pada saat perayaan Imlek. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga narasumber memiliki pemahaman yang umum terhadap makna bunga mei dan tanaman jeruk. Generasi tua masih melaksanakan tradisi ini dan sangat berharap pada generasi muda untuk terus melestarikan tradisi yang ada, karena tradisi merupakan salah satu tolok ukur identitas bagi etnis Tionghoa sendiri.