Articles
Relasi Ibu Mertua dan Menantu Perempuan Dalam Keluarga Tionghoa di Surabaya 泗水华人家庭里的婆媳关系
Ivana Huang;
Elisa Christiana
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.9744/century.1.2.44-58
Relasi ibu mertua dan menantu perempuan seringkali digambarkan buruk, seperti dalam puisi klasik Tiongkok Kongque Dongnan Fei. Maka dalam skripsi ini, penulis meneliti relasi ibu mertua dan menantu perempuan dalam tiga keluarga Tionghoa di Surabaya yang telah tinggal bersama lebih dari 15 tahun. Dari hasil analisis, penulis menemukan bahwa relasi ibu mertua dan menantu perempuan sudah lebih modern, tidak ada lagi feodalisme keluarga. Ibu mertua tidak lagi menuntut menantu yang sempurna dan dapat menerima segala kelebihan dan kekurangan menantu perempuan sebagai anak sendiri. Konflik rumah tangga tentunya pernah terjadi di antara mereka, namun dengan cara manajemen konflik avoidance, accomodation dan collaboration, masalah dapat diatasi dengan baik, dan keharmonisan relasi di antara ibu mertua dan menantu tetap terjaga. 婆婆与媳妇之间很多时候很难建立良好关系,就像中国古代叙事诗《孔雀东南飞》里所描述的那样。在此笔者研究在泗水三个华人家庭里同住了15年的婆婆和媳妇的关系。由分析结果可见,婆媳关系已现代化了,不再遵行家庭封建制度。婆婆不再要求完美的媳妇,而愿意接受媳妇为亲女儿,接受她的优缺点。家庭里的矛盾、冲突当然发生过,但她们都能以冲突管理方式如躲避式、圆通式、协同式来解决问题,因此能保持婆媳之间良好的关系。
SIKAP UMAT TERHADAP PERUBAHAN BENTUK KELENTENG MENJADI TITD DAN PERKEMBANGANNYA DI SURABAYA
Wahyu Widyasari Sandhy;
Elisa Christiana
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (202.315 KB)
|
DOI: 10.9744/century.4.2.34-39
Kelenteng identik dengan tempat ibadah masyarakat Tionghoa. Pada masa pemerintahan Orde Baru kebudayaan dalam bentuk apapun yang berhubungan dengan masyarakat Tionghoa dibatasi. Adanya kebijakan ini oleh masyarakat Tionghoa dirasakan berpengaruh juga terhadap kelenteng. Memasuki era reformasi, umat Tionghoa dapat bernafas lega dan atas bantuan pemerintah mereka yang beribadah di kelenteng dapat melakukan ritual keagamaan mereka tanpa rasa khawatir. Di Surabaya terdapat beberapa kelenteng yang dapat beradaptasi dalam menghadapi perubahan kebijakan pemerintah masa Orde Lama hingga sekarang. Skripsi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan cara mewawancarai tujuh orang narasumber yang dapat memberikan keterangan mengenai kelenteng TITD selama tiga masa pemerintahan di Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua kelenteng TITD mengalami pergolakan karena kebijakan pemerintahan Orde Baru. Selain itu TITD sebagai wadah yang menaugi kelenteng memiliki peran penting untuk mengembangkan kelenteng hingga pada era Reformasi ini.
Pemikiran Konfusius yang Terefleksi dalam Pengajaran Para Guru CHHS 中中华语补习学校汉语老师教学实践中反映的孔子思想
Steffi Thanissa Halim;
Elisa Christiana;
Liejanto Wijaya
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (537.64 KB)
|
DOI: 10.9744/century.2.1.44-58
Pembelajaran sebuah bahasa tidak lepas dari budaya yang melatarbelakanginya, termasuk pengajaran bahasa Tionghoa yang juga tidak terpisahkan dari budaya Tionghoa, yang sangat terpengaruh oleh nilai-nilai Konfusius, seorang pemikir dan pendidik teragung pada masa Tiongkok kuno. Saat ini, di Surabaya sudah ada berbagai macam lembaga kursus bahasa Tionghoa, baik yang besar maupun kecil. Skripsi ini menggunakan metode kualitatif, mewawancarai enam orang guru pengajar bahasa Tionghoa di Lembaga Kursus Bahasa Tionghoa CHHS yang merupakan salah satu lembaga kursus bahasa Tionghoa terbesar di Surabaya, dan menganalisis nilai-nilai pendidikan Konfusius yang terefleksi dalam proses belajar mengajar mereka. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa keenam narasumber telah secara tanpa sadar menerapkan nilai-nilai ini, antara lain: pendidikan untuk semua kalangan (Yǒu jiào wú lèi有教无类), mengajar sesuai latar belakang dan kemampuan murid (Yīn cái shī jiào因材施教), menghormati guru dan mencintai murid (Zūn shī ài shēng 尊师爱生) dan menjadikannya sebagai prinsip yang terutama dan mendasar dalam pengajaran mereka.
Pandangan Empat Orang Alumni Sastra Tionghoa Universitas Kristen Petra Terhadap Kebaya dan Qípáo Sebagai Identitas Diri 四位彼得拉基督教大学中文系毕业生对芭雅服与旗袍成为身份标志的看法
Rosalina Chandra;
Elisa Christiana
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (322.085 KB)
|
DOI: 10.9744/century.1.2.74-87
Skripsi ini membahas tentang pandangan empat orang alumni Sastra Tionghoa Universitas Kristen Petra terhadap kebaya dan qípáo sebagai identitas diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana keinginan alumni Sastra Tionghoa Universitas Kristen Petra menunjukkan identitas mereka sebagai warga negara Indonesia keturunan Tionghoa jika dilihat dari pakaian nasional kebaya atau qípáo yang mereka pakai. Dari hasil penelitian, penulis menemukan bahwa keempat alumni Sastra Tionghoa tersebut saat mengenakan kebaya maupun qípáo sama-sama merasa bangga karena menunjukkan identitas mereka sebagai orang Indonesia keturunan Tionghoa. Selain itu mereka juga bisa lebih peka dan luwes dalam menentukan pakaian apa yang akan dipakai untuk menghadiri suatu acara, agar tidak terjadi kesenjangan yang selama ini memisahkan orang Indonesia dengan keturunan Tionghoa. 论文调查了四位彼得拉基督教大学中文系毕业生对芭雅服与旗袍成为身份标志的看法。研究目的是为了了解彼得拉基督教大学中文系毕业生如何通过芭雅服或旗袍来显示她们身份的意愿。从这个调查中发现了中文系的毕业生穿芭雅服和旗袍的时候都觉得自豪,因为均能显示她们的身份 – 印度尼西亚华裔。此外,她们更加敏感和灵活确定去参加什么场合要穿什么衣服,芭雅服或旗袍,以拉近印尼人和华人的距离。
Akulturasi Budaya Tionghoa dan Jawa dalam Pertunjukan Liong Batik dan Wacinwa di Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta tahun 2015
Erna Tanomi;
Elisa Christiana
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (58.212 KB)
|
DOI: 10.9744/century.2.1.108-122
Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta diselenggarakan untuk perayaan Cap Go Meh yang menampilkan berbagai kesenian baik Tionghoa maupun daerah. Untuk memperingati sepuluh tahun berlangsungnya acara tersebut, pada tahun 2015 ada penampilan dua buah kesenian hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa. Yang menjadi faktor terjadinya akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa di Yogyakarta adalah orang Tionghoa yang menyesuaikan diri dengan budaya Jawa akibat adanya berbagai penolakan terhadap mereka sejak kedatangan mereka di kota tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui makna unsur budaya Tionghoa dan Jawa yang ada dalam kesenian hasil akulturasi tersebut, yaitu pertunjukan liong batik dan Wacinwa (Wayang Cina-Jawa). Skripsi ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan pengamatan lapangan dan mewawancarai lima informan yang terlibat dalam acara tersebut. Hasil penelitian menunjukan dalam pertunjukan liong batik dan Wacinwa terdapat unsur budaya Tionghoa dan unsur budaya Jawa yang dapat dipadukan dengan apik dan sesuai dengan tema Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta tahun 2015, yaitu melalui pentas kesenian hasil akulturasi dua budaya tersebut dapat mempererat hubungan masyarakat Yogyakarta yang multi etnis. 摘要日惹中华文化周是在日惹呈现中华和印尼各地方艺术表演的元宵节庆典。为了庆祝第十届的活动,2015年有两个中国与爪哇文化融合的艺术表演。造成中国与爪哇文化融合的因素是因为华人来到日惹之后要面对一些排斥,因此他们想尽办法融入当地的主流文化。这研究是为了了解两种文化融合艺术表演—巴迪舞龙和Wacinwa(中国爪哇皮影)戏—里的中国与爪哇文化元素的含义。此论文采用定性研究法,田野观察和采访了五位负责管理活动的人士。分析结果表示在巴迪舞龙和Wacinwa戏里美好地结合了中国与爪哇文化元素而表达了2015年日惹中华文化周的主题,就是通过文化融合的艺术表演能拉近多元的日惹人的关系。
Pendapat Mahasiswa Hebei Normal University dan Universitas Kristen Petra Mengenai Budaya Nama Generasi 河北师范大学与彼得拉基督教大学学生对辈分名字文化的看法
Dinalia Widjaja;
Elisa Christiana;
Liejanto Wijaya
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (356.266 KB)
|
DOI: 10.9744/century.2.1.59-73
Nama generasi adalah nama yang digunakan untuk menyusun generasi keluarga dan untuk mengetahui tingkatan generasi, diletakkan setelah nama marga. Susunan nama generasi ditentukan oleh leluhur keluarga. Penulis ingin meneliti tentang penggunaan dan pandangan mahasiswa mengenai nama generasi di Hebei Normal University Shijiazhuang, Tiongkok dan di Universitas Krsiten Petra Surabaya, Indonesia. Penulis menggunakan metode kuantitatif dan mengumpulkan data melalui kuesioner. Objek penelitian adalah lima puluh mahasiswa berkewarga-negaraan Tiongkok dan lima puluh mahasiswa etnis Tionghoa berkewarga-negaraan Indonesia. Dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Universitas Kristen Petra lebih banyak menggunakan nama generasi dibandingkan mahasiswa Hebei Normal University, serta lebih mementingkan dan ingin menurunkan kebudayaan nama generasi ke generasi selanjutnya. Penggunaan nama generasi oleh responden laki-laki lebih banyak dibandingkan responden perempuan, hal ini dipengaruhi oleh ada konsep patriarkal. Penggunaan nama generasi oleh mahasiswa Universitas Kristen Petra dan Hebei Normal University dipengaruhi oleh peristiwa sejarah di masing-masing negara, kondisi keluarga, pandangan pribadi, tempat tinggal, pendidikan dan pola nama Tionghoa.
PANDANGAN GENERASI TUA DAN GENERASI MUDA TIONGHOA SURABAYA TERHADAP PENERAPAN FENG SHUI TANGGA
Wenny Yulia Dewi;
Elisa Christiana;
Lukito Suwito Kartono
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (270.451 KB)
|
DOI: 10.9744/century.4.1.20-32
Penelitian ini berisi tentang bagaimana peranan, eksistensi, dan kelanjutan Fēng Shuǐ di tengah masyarakat Indonesia-Tionghoa saat ini, terutama mengenai Fēng Shuǐ tangga yang seringkali dilupakan. Penelitian ini juga meneliti faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sikap masyarakat Indonesia-Tionghoa terhadap Fēng Shuǐ dan upaya yang dapat dilakukan sehingga Fēng Shuǐ sebagai salah satu kebudayaan Tionghoa dapat terus bertahan di tengah masyarakat Indonesia-Tionghoa, dengan memfokuskan penelitian pada pandangan penerapan Fēng Shuǐ tangga yang seringkali dilupakan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan wawancara mendalam dengan delapan orang generasi tua berusia minimal 60 tahun dan enam orang generasi muda berusia 19-27 tahun sebagai obyek penelitian. Hasil penemuan dalam penelitian ini adalah adanya faktor-faktor penyebab yang mempengaruhi eksistensi Fēng Shuǐ; perbedaan sudut pandang di antara generasi tua dan generasi muda mengenai bagaimana cara mereka memahami, menerima dan mempertahankan eksistensi Fēng Shuǐ; pandangan mengenai penting atau tidaknya Fēng Shuǐ tangga dari segi Fēng Shuǐ sebagai ilmu alam yang didominasi oleh generasi muda dan dari segi Fēng Shuǐ sebagai ilmu mistis yang didominasi oleh generasi tua; latar belakang pembelajaran Fēng Shuǐ berdasarkan prinsip keselarasan alam yang menentukan pandangan mengenai pentingnya Fēng Shuǐ tangga; adanya kesalahan pemahaman nilai filosofis dalam penghitungan Fēng Shuǐ anak tangga; pengaruh leluhur dan lingkungan yang menentukan sudut pandang orang Tionghoa dalam menilai Fēng Shuǐ tangga; serta penghitungan jumlah anak tangga dan posisi tangga yang tidak boleh berhadapan langsung dengan pintu sebagai pengetahuan yang paling banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia-Tionghoa. Berdasarkan hasil penelitian, solusi untuk dapat terus mempertahankan Fēng Shuǐ adalah menyediakan sumber-sumber yang dapat menjelaskan konsep aturan dalam Fēng Shuǐ secara logis.
Dominasi Anak Laki-Laki Sulung Dalam Keluarga Tionghoa Suku Hokkien di Kecamatan Tambaksari Surabaya Timur 泗水东区Tambaksari福建家庭中长子的地位和优势研究
Setefani Veronica Jap;
Elisa Christiana
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (312.111 KB)
|
DOI: 10.9744/century.1.2.37-46
Zaman dahulu budaya Tionghoa dalam sebuah keluarga memiliki anak laki-laki sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sampai saat ini anak laki-laki sangat diinginkan dan juga untuk membuat kita mengerti tentang keistimewaan dan keuntungan dalam posisi menjadi anak laki sulung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu mewawancarai informan guna mendapatkan data yang akurat. Terdapat empat sudut pandang informan terhadap anak laki sulung, yaitu laki sulung, orangtua anak laki sulung dan saudara kandung anak laki sulung. Meskipun zaman sudah semakin maju, namun tetap saja semua informan menilai anak laki lebih penting. Alasannya anak lelaki sulung dapat membantu menjaga adiknya yang masih kecil, meneruskan marga dan pekerjaan orang tua. Disaat anak sulung sebelum menikah pula ada beberapa hal material dan nonmaterial yang orangtua anak sulung berikan. Bagi saudara kandung laki sulung, mereka menilai kakak sulung mereka melakukan tanggung jawabnya dengan baik.
SEMANGAT HAKKA YANG DICERMINKAN OLEH ORANG HAKKA MELALUI KEGIATAN MERAYAKAN IMLEK
Siska Indahwati;
Elisa Christiana
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (233.819 KB)
|
DOI: 10.9744/century.5.1.1-9
Semangat Hakka yang diwujudkan pada diri orang Hakka Surabaya terlihat pada saat melakukan kegiatan perayaan Imlek yang dilakukan dari generasi ke generasi. Dari sepuluh semangat Hakka menurut “Buku Panduan Pemilihan Hakka Ako Amoi 2016” penelitian ini menemukan beberapa semangat yang paling menonjol. Skripsi ini menggunakan pendekatan kualitatif dan mewawancarai enam orang yang berusia di atas 60 tahun, senior yang pada saat Imlek masih melakukan tradisi Imlek, enam orang paruh baya berusia 41 hingga 60 tahun dan enam orang muda mudi yang berusia 20 hingga 40 tahun. Hasil dari penelitian ini adalah semangat Hakka yang tercermin pada kegiatan Imlek orang Hakka, yaitu “menghormati leluhur”, “berbakti” dan “kebersamaan”. Semangat Hakka yang tercermin pada kegiatan Imlek orang Hakka di perkumpulan, yaitu “berbakti”, “menjunjung tinggi kesetiakawanan” dan “kebersamaan”. Golongan senior, paruh baya dan muda mudi memiliki pemahaman yang berbeda mengenai semangat Hakka karena pengaruh pola pikir dan lingkungan sekitar mereka.
Pendapat Mahasiswa Hebei Normal University dan Universitas Kristen Petra Mengenai Budaya Nama Generasi 河北师范大学与彼得拉基督教大学学生对辈分名字文化的看法
Dinalia Widjaja;
Elisa Christiana;
Liejanto Wijaya
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (356.266 KB)
|
DOI: 10.9744/century.2.1.59-73
Nama generasi adalah nama yang digunakan untuk menyusun generasi keluarga dan untuk mengetahui tingkatan generasi, diletakkan setelah nama marga. Susunan nama generasi ditentukan oleh leluhur keluarga. Penulis ingin meneliti tentang penggunaan dan pandangan mahasiswa mengenai nama generasi di Hebei Normal University Shijiazhuang, Tiongkok dan di Universitas Krsiten Petra Surabaya, Indonesia. Penulis menggunakan metode kuantitatif dan mengumpulkan data melalui kuesioner. Objek penelitian adalah lima puluh mahasiswa berkewarga-negaraan Tiongkok dan lima puluh mahasiswa etnis Tionghoa berkewarga-negaraan Indonesia. Dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Universitas Kristen Petra lebih banyak menggunakan nama generasi dibandingkan mahasiswa Hebei Normal University, serta lebih mementingkan dan ingin menurunkan kebudayaan nama generasi ke generasi selanjutnya. Penggunaan nama generasi oleh responden laki-laki lebih banyak dibandingkan responden perempuan, hal ini dipengaruhi oleh ada konsep patriarkal. Penggunaan nama generasi oleh mahasiswa Universitas Kristen Petra dan Hebei Normal University dipengaruhi oleh peristiwa sejarah di masing-masing negara, kondisi keluarga, pandangan pribadi, tempat tinggal, pendidikan dan pola nama Tionghoa.