ABSTRACTDysmenorrhea is a reproductive health problem that affects the learning activities and quality of life of adolescent girls. The World Health Organization (WHO) in 2022 showed that the prevalence of dysmenorrhea worldwide reached 90%, with 10–16% classified as severe. In Indonesia, the prevalence of dysmenorrhea is 64.25%. Non-pharmacological treatment is a safe and effective option. Cinnamon aromatherapy contains cinnamaldehyde and eugenol, which have antispasmodic and anti-inflammatory properties, thus reducing uterine muscle contractions and inhibiting prostaglandin biosynthesis. The purpose of this study was to analyze the effect of cinnamon aromatherapy inhalation on dysmenorrhea pain in adolescent girls at SDN Poris Gaga 2, Tangerang City. This research method was quantitative using a pre-experimental one-group pretest-posttest design to determine the influence between the independent and dependent variables. Data were collected through a questionnaire. The sample consisted of 30 adolescent female students at SDN Poris Gaga 2, Tangerang City. The results of the study, it was found that before the intervention, the majority of respondents experienced moderate pain (63.3%), while after the intervention, the majority experienced mild pain (73.3%). The results of the Wilcoxon test produced a value (p-value 0.000 0.05), so it can be concluded that there is a significant effect of cinnamon aromatherapy inhalation on dysmenorrhea pain in adolescent female students at SDN Poris Gaga 2, Tangerang City. Based on the results of this study, it is recommended that educational institutions consider cinnamon aromatherapy as a non-pharmacological alternative in school services to reduce dysmenorrhea in female students. ABSTRAK Dismenore adalah masalah kesehatan reproduksi yang mempengaruhi aktivitas belajar dan kualitas hidup di kalangan remaja putri. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2022, angka kejadian dismenore global mencapai 90%, dengan 10–16% mengalami kondisi yang parah. Di Indonesia, angka dismenore mencapai 64,25%, dengan dismenore primer berjumlah 54,89% dan dismenore sekunder 9,36%. Penggunaan obat seperti analgesik dapat menyebabkan efek samping, sehingga diperlukan pendekatan nonfarmakologis yang lebih aman dan efektif. Aromaterapi kayu manis mengandung zat aktif cinnamaldehyde dan eugenol yang memiliki sifat antispasmodik dan antiinflamasi, sehingga dapat mengurangi kontraksi otot rahim dan menghambat pembentukan prostaglandin. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak inhalasi aromaterapi kayu manis terhadap nyeri dismenore pada remaja putri di SDN Poris Gaga 2 Kota Tangerang. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain pre-eksperimental satu grup pretest-posttest, untuk memahami pengaruh antara variabel independen dan dependen, dimana data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Sampel terdiri dari 30 remaja putri yang bersekolah di SDN Poris Gaga 2 Kota Tangerang. Hasil menunjukkan bahwa sebelum intervensi, sebagian besar responden merasakan nyeri dengan intensitas sedang (63,3%), sedangkan setelah intervensi, mayoritas melaporkan nyeri ringan (73,3%). Hasil analisis dengan uji Wilcoxon menunjukkan nilai (p-value 0.000 0.05), yang disimpulkan adanya pengaruh signifikan dari inhalasi aromaterapi kayu manis terhadap nyeri dismenore pada remaja putri di SDN Poris Gaga 2 Kota Tangerang. Saran dari penelitian ini adalah agar institusi pendidikan dapat mempertimbangkan penggunaan aromaterapi kayu manis sebagai metode nonfarmakologis dalam program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) untuk meredakan dismenore pada siswi.