Articles
LITERASI MULTIMEDIA TEKNIK GRAFIS SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR KONSEP DAN KEBIJAKAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (STUDI KASUS PADA SISWA KELAS XII MIPA 2 SMA NEGERI 1 WELERI SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN 2017/2018)
Sri Wahyuningsih
Jurnal Egaliter Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Egaliter, Volume 2 No. 2 Maret 2018
Publisher : Universitas Pandanaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (360.557 KB)
bagaimana proses pembelajaran, peningkatan hasil pembelajaran dan perubahan perilaku siswa setelah menerapkan pembelajaran melalui model problem based learning dengan bantuan media grafis. Masing-masing siklus 3 kali pertemuan. Subyek penelitian konsep dan kebijakan perdagangan internasional siswa kelas XII MIPA 2 SMAN 1 Weleri Semester 1 Tahun Pelajaran 2017/2018. Terjadi peningkatan rata-rata nilai dari 76,94 menjadi 85,27 pada kondisi akhir, diiringi perubahan perilaku yang lebih bersemangat, kerjasama tim, disiplin, dan berani bertanya.Kata kunci : problem based learning, media grafis, hasil belajar.
UJI LAPANG PAKAN BERVAKSIN Aeromonas hydrophila PADA LELE DUMBO DI DAERAH CILACAP
Dini Siswani Mulia;
Sri Wahyuningsih;
Heri Maryanto;
Cahyono Purbomartono
Techno (Jurnal Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Purwokerto) Vol 16, No 2 (2015): Techno Volume 16 No 2 Oktober 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30595/techno.v16i2.55
Masalah utama dalam budidaya lele dumbo adalah penyakit, terutama yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Penyakit tersebut dikenal dengan penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemia). Salah satu penanggulangan penyakit MAS adalah dengan vaksinasi. Masalah lain yang sering muncul adalah tingginya biaya pakan sedangkan harga jual ikan cenderung stabil, sehingga pembudidaya ikan cenderung merugi. Perlu strategi untuk membuat pakan sendiri dari bahan-bahan yang masih memiliki kualitas gizi yang baik tetapi harganya murah bahkan memanfaatkan limbah, bahan tersebut mudah diperoleh dan tersedia setiap saat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara lapang penggunaan pakan bervaksin pada lele dumbo di daerah Cilacap. Uji lapang dilakukan di Desa Purwodadi, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan terdiri dari P1 : pemberian pakan bervaksin selama 10 hari; P2 : pemberian pakan bervaksin selama 15 hari; dan P3 : kontrol (non vaksin). Pakan diberikan sebanyak 5% /bb/ekor/hari. Penelitian menggunakan kolam terpal plastik dengan ukuran panjang x lebar x tinggi : 60 x 60 x 80 cm. Lele dumbo yang digunakan berumur 2 bulan, berukuran panjang 12-15 cm dengan berat 16-25 g. Ikan dipelihara selama 8 minggu. Parameter yang diamati adalah respons imun berupa titer antibodi, pertambahan berat dan panjang, serta sintasan ikan. Parameter pendukung yang diamati adalah parameter kualitas air meliputi suhu air, pH, dan oksigen terlarut. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (Anova) dan Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf uji 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan bervaksin dapat meningkatkan produksi titer antibodi (P
Implementasi Walking Exercise dalam Menurunkan Tekanan Sistole dan Diastole Penderita Hipertensi
Nur Isriani Najamuddin;
M. Syikir;
Hadryani Amin;
Lisda Alvita;
Masyitah Wahab;
Andan Firmansyah
KOLABORASI JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 2 No 4 (2022): Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1133.738 KB)
|
DOI: 10.56359/kolaborasi.v2i4.122
Introduction: Hypertension is a state of increased blood pressure above normal. Hypertension in Indonesia is still a health problem with a high prevalence of 25.8% and there are still 19,559 cases of hypertension in Mamasa Regency. Walking exercise is a form of moderate physical exercise, with the technique of walking regularly for at least 3 times a week with a minimum duration of 20-30 minutes for each exercise. Objective: Treatment of hypertension in clients has been carried out both pharmacologically and non-pharmacologically. We apply one of the non-pharmacological therapies for hypertension, namely walking exercise Method: This community service method is a follow-up activity from research (evidence based practice) and health promotion courses with an approach that uses interviews, blood pressure checks, health promotion and simulation of walking exercise methods for 2 weeks. This community service activity was carried out in April 2021. There were 40 elderly participants who took part in this activity. Results: The results of this community service activity show that the elderly perform the walking exercise method for 3 times per week, and the results of the examination show an average decrease in systolic and diastolic blood pressure in the elderly. Conclusion: The walking exercise method can be used as a non-pharmacological complementary therapy to help reduce blood pressure in the elderly.
The Effect Of Play Therapy on Drug-taking Behavior In Toddlers In Pediatric Care Room
Masyitah Wahab;
Nur Isriani Najamuddin;
Niar
Jurnal Vocational Nursing Sciences (VNUS) Vol 1 No 2 (2019): JURNAL VNUS (Vocational Nursing Science)
Publisher : LPPM STIKes Muhammadiyah Ciamis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (332.104 KB)
|
DOI: 10.52221/jvnus.v1i2.149
Background: A hospitalization is an event that often causes traumatic experiences, especially in pediatric patients, namely anxiety, fear and tension or hospitalization stress. Objective: This study aims to study the effect of play therapy on drug-taking behavior in “toddler” children in the pediatric care room. Method:This study used a pre-experimental pre-test-post test one group design approach. The population of this study were toddlers (2-3 years old) taken by accidental sampling and 30 samples were obtained. Data collection uses secondary and primary data. Data analysis used univariate and bivariate analysis. Result: The results of the study were: (1) The average behavior of taking medication before playing therapy was done was 16.77; (2) The average cooperative level after playing snake and ladder therapy is 22.67 and (3) the results of the Wilcoxon Sign Rank test obtained a value of Z = -3.827 with p-value = 0.000 <0.5 meaning that there is an effect of play therapy on behavior of taking medicine while carrying out treatment for toddlers in the Asoka Room at Polewali Mandar Hospital. It Conclusion: There is an effect of playing on the acceptance of toddler age children in the act of giving oral drugs. Hospitals, as health service institutions that provide services to all levels of society, especially pediatric health services, should design and facilitate rooms that are familiar to children and prepare play facilities according to the growth and development and health conditions of children. Nurses who focus on pediatric care should pay attention to aspects of child growth and development, where toddler-aged children should apply aspects of play to achieve therapeutic goals.
Correlation Of Birth Weight With Stunting In Babies Aged 6-24 Months
Nur Isriani Najamuddin;
Masyitah Wahab
Jurnal Vocational Nursing Sciences (VNUS) Vol 2 No 1 (2020): JURNAL VNUS (Vocational Nursing Science)
Publisher : LPPM STIKes Muhammadiyah Ciamis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (326.605 KB)
|
DOI: 10.52221/jvnus.v2i1.153
Background: Stunting is one indicator of chronic nutritional status that describes stunted growth due to long-term malnutrition. One of the causes of stunting in children is family and household factors, namely maternal factors and the home environment. Objective: The purpose of this study was to determine the relationship between birth weight and the incidence of stunting in infants aged 6-24 months Method: This research was conducted in an analytical descriptive manner, namely research that tried to explore how the health phenomenon occurred. The population in this study was a number of infants aged 6-24 months, namely 48 infants. Considering that at the time of the study, there were 15 infants who were unreachable and, not in place at the time of the study, while the researcher's time was very limited, so in this study the researcher used a sample of 33 6-24 month old baby. Result: from the analysis test results with Fisher's exact test, a significance value of 0.023 and an odds ratio of 18.75 was obtained. Conclusion: The conclusion of this study is that from 33 infants aged 6-24 months, there are 7 babies who are LBW and 4 babies who are stunted. There is no relationship between birth weight and the incidence of stunting in infants aged 6-24 months where LBW babies are 18 times more likely to experience stunting than babies born with normal birth weight.
UJI KETAHANAN ANGGREK Cattleya labiata L. TERHADAP PENYAKIT LAYU FUASRIUM HASIL INDUKSI ASAM SALISILAT SECARA IN VITRO
Zelfi Julita Dwi Putri;
Endang Nurcahyani;
Mahfut Mahfut;
Sri Wahyuningsih
Agros Journal of Agriculture Science Vol 24, No 2 (2022): edisi Juli
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37159/jpa.v24i2.2078
Anggrek Cattleya sp. dijuluki The Queen of Orchid karena ukuran bunga anggrek ini lebih besar dari pada anggrek lainnya. Anggrek Cattleya labiata Lindl. budidayanya sulit, oleh sebab itu dilakukan penanaman secara kultur in vitro untuk perbanyakan anggrek ini. Pada pertumbuhannya Cattleya labiata Lindl. memiliki beberapa penyakit seperti kelayuan yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum. Jamur ini menginfeksi tanaman yang terluka terutama pada akar. Salah satu upaya dalam mengatasi infeksi patogen ini dengan meningkatkan ketahanan tanaman menggunakan pengimbasan asam salisilat (AS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi pengimbasan asam salisilat yang toleran terhadap penyakit layu Fusarium dan menganalisis karakter ekspresi spesifik pada planlet anggrek Cattleya labiata Lindl. yang resisten terhadap penyakit layu Fusarium serta mengetahui kriteria ketahanan planlet anggrek Cattleya labiata Lindl. hasil pengimbasan asam salisilat terhadap inokulasi Jamur Fusarium. Rancangan penelitian ini disusun dengan pola dasar Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor. Perlakuan adalah penambahan asam salisilat ke dalam medium VW (Vacin and Went) dengan konsentrasi 0 ppm (kontrol), 85 ppm, 95 ppm, 105 ppm dan 115 ppm. Pengujian homogenitas dilakukan menggunakan uji Levene dan kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis ragam pada taraf nyata 5%. Jika data yang dihasilkan menunjukkan taraf beda nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur pada taraf nyata 5%. Hasil yang didapatkan yaitu Konsentrasi AS yang toleran terhadap seleksi planlet anggrek Cattleya labiata Lindl. adalah konsentrasi 115 ppm. Konsentrasi AS sangat berpengaruh nyata terhadap jumlah stomata sehingga mempengaruhi indeks stomata. Kriteria Ketahanan planlet anggrek Cattleya labiata Lindl. yaitu rentan pada konsentrasi 0 ppm, moderat pada konsentrasi 85 dan 95 ppm, dan tahan pada konsentrasi 105 dan 115 ppm.
Frequency Mapping of Square Head Expander for Vibration Testing
Mikhael Gilang Pribadi Putra Pratama;
Muksin Muksin;
Yusuf Giri Wijaya;
Nur M. Ula;
Agus Harno Nurdin Syah
Jurnal Teknologi Dirgantara Vol 20, No 1 (2022)
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space - LAPAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30536/j.jtd.2022.v20.a3709
Head expander is a component of an electro-dynamic shaker used for vibration tests in the vertical direction for large-size specimens. This study aims to determine the natural frequency distribution of the head expander across a certain number of predetermined points. This distribution map needs to be known to determine the better placement of future specimens on the head expander. In this study, the determination of natural frequency distribution is done through harmonic analysis (simulation) and experiment to form a contrast between the head expander's ideal condition and the actual condition. The frequency range in the middle of the Head Expander has almost the same value for both data types at 1550-1650 Hz. These results recommend that the best sample placement is in the middle of the Head Expander. The difference between the experimental and simulation low points has a not too far difference, which is 62.5 Hz. In contrast, at the highest value, the two have a quite far difference, which is 180.27 Hz. this difference can be caused by the improper installation of sensors on the Head Expander at certain points.
Optimalisasi Media Sosial Sebagai Penunjang Digital Marketing
Gellysa Urva;
Merina Pratiwi;
Amiroel Oemara Syarief
ABDINE: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2022): ABDINE : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Dumai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52072/abdine.v2i1.301
Kemajuan perkembangan dunia digital serta internet yang semakin pesat tentu memiliki pengaruh terhadap dunia marketing. Trend marketing di dunia beralih dari konvensional menjadi digitalisasi. Digital Marketing menjadi media komunikasi yang dianggap lebih efisien dan efektif dalam memasarkan produk. Digital marketing yang biasanya terdiri dari pemasaran interaktif dan terpadu memudahkan interaksi antara produsen, perantara pasar, dan calon konsumen. Salah satu platform digital marketing yang sering digunakan adalah media sosial. Media sosial memiliki karakteristik yang berbeda-beda tergantung kebutuhan dari para pengguna. Facebook merupakan salah satu media sosial yang sering dikunjungi dan umum digunakan serta menghubungkan kita dengan orang lain di seluruh penjuru dunia . Selain itu WhatsApp dinilai efektif dalam mendukung proses pemasaran karena dapat membantu mengirim pesan, gambar, video, suara, dokumen, dan melakukan panggilan serta video call. WhatsApp merupakan aplikasi yang memiliki popularitas unggul yang dimanfaatkan sebagai media komunikasi dalam menyampaikan pesan. Potensi pemanfaatan digital marketing ini mengharuskan masyarakat untuk melek teknologi, oleh karena itu diperlukan sosialisasi dan pelatihan penggunaan media social ini sebagai cara mengoptimalkan digital marketing. Pembekalan ilmu Digital Marketing melalui Facebook dan Whatsapp diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman serta dapat menginspirasi penjual dalam memanfaatkan media sosial sebagai mediasi untuk memasarkan produk secara optimal.
PENGARUH LATIHAN LINGKUP GERAK SENDI AKTIF RESISTIF TERHADAP FLEKSIBILITAS OTOT SERVIKAL
Mustika Anggiane Putri;
Safira Fatimah Anjani;
Syarief Hasan Lutfie
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 7 No. 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1521.39 KB)
|
DOI: 10.25105/pdk.v7i1.12927
Latar Belakang: Perkembangan teknologi yang pesat mengubah pola hidup manusia. Kini penggunaan gawai di seluruh dunia rata-rata 3-5 jam per hari. Hal tersebut dapat menimbulkan masalah pada tulang belakang berupa penurunan fleksibilitas leher akibat postur yang dipertahankan dalam waktu yang lama. Latihan lingkup gerak sendi aktif resistif diharapkan dapat memperbaiki dan menjaga fleksibilitas leher. Metode: Penilitian ini dilakukan dengan desain penelitian eksperimental menggunakan model one group pre test and post test without control. Jumlah subyek penelitian sebanyak 14 orang yang dipilih melalui random sampling dan sesuai dengan kriteria inkulsi. Informed consent telah diperoleh dari seluruh subyek penelitian. Durasi penelitian selama 4 minggu dan perlakuan yang diberikan berupa latihan lingkup gerak sendi aktif resistif leher yang dilakukan sebanyak 3 kali dalam seminggu. Data merupakan hasil dari pengukuran fleksibilitas leher menggunakan goniometer universal yang dilakukan sebelum dan sesudah latihan. Hasil: Uji statistik menggunakan uji t berpasangan dan uji wilcoxon. Nilai signifikansi pada lingkup gerak sendi leher fleksi 0.000, ekstensi 0.046, lateral fleksi kanan 0.020, lateral fleksi kiri 0.011, rotasi kanan 0.021, rotasi kiri 0.001. Kesimpulan: Terdapat peningkatan bermakna fleksibilitas otot leher pada lingkup gerak sendi leher (fleksi, lateral fleksi kanan dan kiri, rotasi kanan dan kiri) antara sebelum dan sesudah latihan LGS aktif resistif. ABSTRACTBackground: Rapid technological development changes the pattern of human life. Now the use of devices around the world is on average 3-5 hours per day. This can cause problems in the spine in the form of decreased neck flexibility due to posture that is maintained for a long time. Active resistive range of motion exercise is expected to improve and maintain neck flexibility. Method: This study was conducted with an experimental design using one group model pre-test and post-test without control. The number of subjects was 14 who were selected through random sampling and in accordance with the inclusion criteria. Informed consent was obtained from all the subjects. The duration of the study is 4 weeks and the intervention is carried out 3 times a week. Data is the result of measurement of neck flexibility using a universal goniometer which is done before and after the intervention. Results: Statistical test using paired t-test and Wilcoxon test. Significance value in 0.000 flexion range of motion, extension 0.046, right lateral flexion 0.020, left lateral flexion 0.011, right rotation 0.021, left rotation 0.001.Conclusion: There are significant differences in neck muscle flexibility in the entire range of motion (flexion, extension, right and left lateral flexion, right and left rotation) between before and after an active resistive range of motion exercise
ANALISIS YURIDIS TERHADAP PENGGUNAAN ALAT BUKTI KETERANGAN AHLI DALAM PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA KORUPSI (STUDI KASUS PUTUSAN PENGADILAN TIPIKOR PENGADILAN NEGERI BANDUNG)
Herni zubir;
Zainal Arifin Hoesein;
Slamet Riyanto
VERITAS Vol 8 No 2 (2022): VERITAS
Publisher : Jurnal Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Islam As-Syafi'iyah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34005/veritas.v8i2.2063
Penelitian Analisis Yuridis Terhadap Penggunaan Alat Bukti Keterangan Ahli Dalam Tindak Pidana Korupsi Studi Kasus Putusan Pengadilan Tipikor PN Bandung, ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan alat bukti keterangan ahli sebagai uoaya meyakinkan hakim dalam tindak pidana korupsi dengan studi kasus pada putusan Pengadilan Tipikor PN Bandung. Metode penelitiannya adalah deskriptif kualitatif dengan perumusan masalahnya bagaimana kedudukan dan nilai kekuatan pembuktian alat bukti keterangan ahli dalam perkara tindak pidana korupsi di Indonesia?, bagaimana konstruksi alat bukti keterangan ahli sebagai dasar dalam pertimbangan hakim untuk menentukan kerugian keuangan negara dalam perkara tindak pidana korupsi?, dan bagaimana kelemahan yang ada dalam alat bukti keterangan ahli sebagai dasar pertimbangan hakim untuk menentukan kerugian keuangan negara dalam perkara tindak pidana korupsi saat ini? Teknik pengumpulan data menggunakan teknik stusdi pustaka dan wawancara, serta studi dokumen berupa putusan pengadilan Tipikor yang terkait dengan penelitian. Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa kedudukan keterangan ahli dalam pembuktian perkara pidana, termasuk perkara korupsi adalan bagian dari alat bukti yang dalam hal ini tersurat dalam Pasal 184 Ayat (1) KUHAP. Keterangan ahli dibutuhkan guna membuat terang suatu perkara pidana korupsi, khususnya membantu dalam menentukan jumlah kerugian negara. Namun demikian adanya keterangan ahli bukan sebuah keharusan dan tidak harus ada dalam perkara tindak pidana korupsi. Jika alat bukti yang ada sudah dirasa cukup keterangan ahli tidak dihadirkan juga tidak ada konsekuensi yuridis. Kekuatan pembuktian keterangan ahli pada prinsipnya tidak mempunyai nilai kekuatan pembuktian yang mengikat dan menentukan. Dengan demikian nilai kekuatan pembuktian keterangan ahli sama halnya dengan nilai kekuatan pembuktian yang melekat pada alat bukti keterangan saksi. Oleh karena itu, nilai kekuatan pembuktian yang melekat pada pembuktian ahli adalah “bebas” atau “vrijbewijskracht”. Dalam diri seorang ahli tidak melekat nilai kekuatan yang sempurna karena ahli hanya terbatas pada kemampuan akan keilmuannya sehingga hal ini diserahkan sepenuhnya kepada hakim. Konstruksi alat bukti keterangan ahli sebagai dasar dalam pertimbangan hakim untuk menentukan kerugian keuangan negara tidak sekedar berbasis keadilan ahli semata, namun juga daya nalar ahli dan kemampuannya dalam dalam membuat terang perkara pidana. Sedangkan dalam hal penentuan kualifikasi dari seorang ahli pada perkembangannya digunakan bukti tertulis seperti sertifikasi maupun syarat pendidikan formal. Elemen pertama yang harus dipenuhi oleh keterangan ahli adalah kemampuan menyampaikan materi (dari suatu fakta atau bukti) secara pasti, keterangan ahli diperlukan jika dalam persidangan alat bukti yang lain tidak membantu dalam menemukan fakta. Elemen kedua, yang harus dipenuhi adalah seorang ahli haruslah memenuhi kelayakan. Dalam hal ini dapat dinilai dari keilmuan yang dimilikinya, pengalaman pribadi yang secara konsisten ditekuni serta hal lain yang membuat menjadi ahli.