Articles
Bahasa Agama dalam Wacana Sosiologi Agama
Audah, Ali
Jurnal Studi Agama dan Masyarakat Vol 11 No 1 (2015): Jurnal Studi Agama dan Masyarakat
Publisher : IAIN Palangka Raya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23971/jsam.v11i1.445
A short study of the history of the sociology of religion is enough to show the importance of religion as a factor relevant to the study of variations, maintenance , language policy and planning are already equipped to work at least some of them are generally regarded as the founder of a branch of linguistics . However , these effects do not stop merely linguistic region but also on the dimensions of the broader culture . Claiming Arabic is the only language of Islam becomes simpler if it is associated with the contestation countries that historically have been quite dominant in the development of Islam . As a sociological study of religion , it has become wide open land research to continue to be observed in the level of practice speaking societies where Islam is the majority religion
Hubungan Halo Effect dengan Psychological Well-Being Mahasiswa Magang Studi Independen Bersertifikat
Azkiya, Nurul;
Makaria, Eklys Cheseda;
Arsyad, Muhammad
Journal of Education Research Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal PAUD Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37985/jer.v6i1.2257
Halo Effect adalah kesan pertama atau penilaian ketika pertama kali bertemu orang lain dan Psychological Well-Being adalah gambaran kesehatan psikologis seseorang untuk mencapai optimalisasi perkembangan dirinya. Mahasiswa yang telah memasuki masa dewasa awal akan banyak mengalami ketegangan emosional dan periode penemuan diri. Yayasan Hasnur Centre menjadi penjembatan para mahasiswa tersebut dalam program Magang Studi Independen Bersertifikat dalam menyiapkan calon tenaga profesional agar mahasiswa siap berkecimpung dalam dunia kerja. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan antara variabel Halo Effect dengan Psychological Well-Being. Penelitian ini menggunakan Teknik Probability Random Sampling dengan tingkat kesalahan 10% berjumlah 60 orang mahasiswa MSIB Batch 6 Yayasan Hasnur Centre. Teknik analisis data pada penelitian ini adalah statistika deskriptif dan korelasi product moment menggunakan IBM SPSS Statistic 26. Hasil penelitian menunjukkan 0,310 > 0,05 yang mengindikasikan tidak adanya hubungan Halo Effect dengan Psychological Well-Being. Hasil kategorisasi pada penelitian ini menunjukkan mahasiswa magang berada pada tingkat sedang pada variabel Halo effect pada variabel Psychological Well-Being. Disimpulkan pada penelitian ini tidak terdapat hubungan karena psychological well-Being lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan, budaya kerja dan kegiatan pengembangan saat magang. Penelitian ini dapat menjadi gambaran dukungan pengembangan kompetensi pada saat magang dapat membantu mahasiswa dalam mencapai kesejahteraan psikologis mahasiswa.
Family versus Nonfamily CEOs in Family Firms: A Multidisciplinary Review of Strategic Choices and Organizational Outcomes
Farah Qalbia;
Seger Santoso
Studia Ekonomika Vol. 23 No. 1 (2025): Januari: Studia Ekonomika
Publisher : STIE KASIH BANGSA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70142/studiaekonomika.v23i1.272
This qualitative literature review explores the strategic choices and organizational outcomes associated with family and nonfamily CEOs in family firms. Drawing from multidisciplinary studies, it highlights the contrasting leadership approaches of family CEOs, who emphasize long-term stability and socioemotional wealth (SEW), and nonfamily CEOs, who prioritize professionalization, transformative innovation, and market responsiveness. The analysis reveals that family firms benefit from the complementary strengths of both leadership types, with family CEOs fostering cohesion and legacy, and nonfamily CEOs driving performance and external orientation. Contextual factors such as firm lifecycle, industry dynamics, and governance structures are critical in determining the effectiveness of leadership models. The study underscores the need for adaptive leadership strategies in balancing cultural continuity and professional advancement, offering a nuanced understanding of family firm dynamics.
Family versus Nonfamily CEOs in Family Firms: A Multidisciplinary Review of Strategic Choices and Organizational Outcomes
Farah Qalbia;
Seger Santoso
Studia Ekonomika Vol. 23 No. 1 (2025): Januari: Studia Ekonomika
Publisher : STIE KASIH BANGSA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70142/studiaekonomika.v23i1.272
This qualitative literature review explores the strategic choices and organizational outcomes associated with family and nonfamily CEOs in family firms. Drawing from multidisciplinary studies, it highlights the contrasting leadership approaches of family CEOs, who emphasize long-term stability and socioemotional wealth (SEW), and nonfamily CEOs, who prioritize professionalization, transformative innovation, and market responsiveness. The analysis reveals that family firms benefit from the complementary strengths of both leadership types, with family CEOs fostering cohesion and legacy, and nonfamily CEOs driving performance and external orientation. Contextual factors such as firm lifecycle, industry dynamics, and governance structures are critical in determining the effectiveness of leadership models. The study underscores the need for adaptive leadership strategies in balancing cultural continuity and professional advancement, offering a nuanced understanding of family firm dynamics.
Efektivitas Ekstrak Daun Thai Basil (Ocimum Basilicum Var. Thyrsiflora) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella Typhi dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam
Khansa, Hana;
Keumala Dewi, Intan;
Arsyad, Muhammad
Junior Medical Journal Vol. 2 No. 11 (2024): July 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33476/jmj.v2i11.4255
Pendahuluan :Demam tifoid merupakan penyakit endemik di Indonesia yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Faktor yang mempengaruhi penularan demam tifoid adalah sanitasi yang buruk. Timbulnya resistensi antibiotik terhadap Salmonella typhi membuat berbagai upaya dilakukan untuk mencari alternatif antimikroba, salah satunya berasal dari tanaman atau bahan alam. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional adalah daun Thai basil. Pada tanaman ini terdapat flavonoid yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara merusak dinding sel dan menonaktifkan kerja enzim. Metodologi :Daun Thai basil diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak yang diperoleh dengan berbagai konsentrasi dilakukan uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi. Kontrol positif yang digunakan adalah Ciprofloxacin dan kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO 10%. Hasil : Hasil uji Anova satu arah didapatkan nilai P <0.00 hal ini menunjukan bahwa pemberian daun Thai basil memberikan efek hambatan terhadap pertumbuhan bakteri yang bermakna. Pada penelitian ini konsentrasi ekstrak 35.000 ppm memiliki zona hambat dengan diameter (mm) terbesar dibandingkan dengan kelompok konsentrasi ekstrak lainnya. Akan tetapi, efek antibakteri dari ekstrak daun Thai basil masih belum bisa menggantikan antibiotik Ciprofloxacin yang memiliki diameter (mm) zona hambat yang lebih besar dari ekstrak daun Thai basil. Kesimpulan :Penelitian ini dapat diketahui bahwa didapatkan zona hambat sedang pada berbagai konsentrasi ekstrak daun Thai basil namun masih belum bisa menggantikan antibiotic Ciprofloxacin. Allah SWT telah memberi kita akal untuk berpikir bagaimana cara memanfaatkan segala jenis tumbuhan yang didalamnya mempunyai banyak manfaat. Salah satunya adalah Thai basil, dengan manfaat sebagai pengobatan antibakteri.
Gambaran Infeksi Parasit Usus Pada Anak di Pemukiman Pemulung Perkotaan Jakarta Timur dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam
Fauzia, Rita;
Damayanti, Ndaru Andri;
Arsyad, Muhammad
Junior Medical Journal Vol. 2 No. 11 (2024): July 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33476/jmj.v2i11.4257
Latar Belakang: Data WHO melaporkan lebih dari 24% penduduk dunia terinfeksi parasit usus dan 800 juta anak usia sekolah memberikan risiko terinfeksi parasit usus. Kelompok usia anak belum memiliki kemampuan untuk menjaga kebersihan pribadi. Lingkungan tempat tinggal dengan sanitasi yang kurang memberikan risiko tercemar dengan mikroorganisme termasuk parasit usus. Metode: Jenis penelitian yang digunakan ialah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel yang digunakan adalah feses yang dikumpulkan dari 35 orang anak yang tinggal di pemukiman pemulung Jakarta Timur. Hasil: Sebesar 8,6% anak-anak di pemukiman pemulung positif terinfeksi parasit usus, Blastocystis hominis. Sebanyak 1 orang (2,9%) dengan kebersihan individu yang masih kurang, yaitu memiliki kuku panjang dan hitam dan sebagian besar sudah memiliki kebersihan individu cukup baik. Sebanyak 3 orang (8,6%) berkulit hitam kusam karena sering terpapar sinar matahari siang. Sebanyak 3 orang anak tinggal di rumah yang tidak memiliki ventilasi, sehingga sinar matahari tidak pernah masuk (8,6%) dan sisanya anak-anak tinggal dengan lingkungan rumah yang cukup bersih. Data penelitian menunjukkan anak-anak yang tinggal di pemukiman pemulung dengan kebersihan individu yang kurang baik memiliki kecenderungan terinfeksi parasit usus, walaupun secara uji statistic Chi Square tidak memberikan hasil yang bermakna (p>0,01). Kesimpulan: Anak-anak yang tinggal di pemukiman pemulung dengan kebersihan individu dan sanitasi lingkungan tinggal yang cukup baik belum dapat mencegah terjadinya infeksi parasit usus oleh Blastocystis hominis.
Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Angkatan 2018 tentang Keakuratan Rapid Test Mendeteksi COVID-19 dan Tinjauan Menurut Pandangan Islam
Putri Reza Permana;
Poerwantoro, Bambang;
Arsyad, Muhammad
Junior Medical Journal Vol. 2 No. 11 (2024): July 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33476/jmj.v2i11.4263
Pendahuluan: Coronavirus adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. World Health Organization (WHO) menyatakan COVID-19 ini sebagai kondisi pandemi, fokusnya pada deteksi yang lebih dini untuk menghentikan jumlah infeksi dan membatasi penularan virus. Beberapa metode untuk mendeteksi COVID-19, salah satunya adalah Rapid Test. Mengidentifikasi COVID-19 secara akurat penting untuk mengukur penyebaran penyakit dan menilai keberhasilan intervensi. Studi meta-analisis terhadap 10 studi Rapid Test antibodi melaporkan sensitivitas 18,4% - 93,3% dan spesifisitas 80%-100%. Dalam pandangan Islam, adanya COVID-19 merupakan cobaan yang dimana Rasulullah memerintahkan untuk menjauhi seseorang yang sedang terjangkit penyakit sebagai bentuk pencegahan penularan. Sejalan dengan penggunaan alat Rapid Test pada pandemi COVID-19 saat ini sebagai alat deteksi dini yang praktis guna mengurangi penyebaran penularan COVID-19. Untuk itu diperlukannya pengetahuan, dalam hal ini khususnya pengetahuan keakuratan Rapid Test mendeteksi COVID-19. Metode: Penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan metodenya adalah survei menggunakan kuisioner. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa aktif Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Angkatan 2018 yang berjumlah 143 mahasiswa. Hasil: Dari tingkat pengetahuan keakuratan Rapid Test responden yang baik sebanyak 104 orang (72.7%) tingkat pengetahuan cukup sebanyak 28 orang (19.5%) dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 11 orang (7.6%). Selain itu, responden memiliki tingkat pengetahuan tentang wabah dalam pandangan Islam yang baik sebanyak 108 orang (75.5%) tingkat pengetahuan cukup sebanyak 26 orang (18.2%) dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 9 orang (6.3%). Simpulan: Tingkat pengetahuan responden tentang keakuratan Rapid Test mendeteksi COVID-19 dan tentang pengetahuan wabah dalam pandangan Islam, jenis kelamin perempuan memiliki tingkat pengetahuan lebih baik.
Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Tuberkulosis Paru Pada Masa Pandemi Covid-19 Periode April-September 2019 Dan 2020 Di Puskesmas Pondok Gede Dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam
Melania, Dinda;
Basbeth, Ferryal;
Arsyad, Muhammad
Junior Medical Journal Vol. 2 No. 11 (2024): July 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33476/jmj.v2i11.4268
Latar Belakang : Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis merupakan 10 penyebab kematian tertinggi di dunia yang menyebabkan kematian sekitar 1,3 juta jiwa. Keberhasilan pengobatan tuberkulosis di Indonesia termasuk tinggi yang mana ini dipengaruhi oleh faktor pasien, PMO dan faktor obat. Tingkat kepatuhan minum obat pada pasien tuberkulosis sangatlah penting karena dapat menentukan keberhasilan pengobatan ataupun prognosis pasien itu sendiri kedepannya. Saat ini, keadaan pandemi Covid-19 menjadi faktor kepatuhan minum obat pasien tuberkulosis. Islam pun menganjurkan umatnya untuk melakukan pengobatan hingga tuntas. Metode : Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah penderita tuberkulosis paru di Puskesmas Pondok Gede periode April-September 2019 dan 2020. Pengumpulan data ini dilakukan dengan pencatatan data dari rekam medis pasien tuberkulosis yang terdaftar di Puskesmas Pondok Gede pada periode tersebut. Analisis dilakukan secara univariat pada setiap variabel dan bivariat untuk melihat hubungan antar variabel. Hasil : Pada penelitian ini didapati frekuensi pasien tuberkulosis paru yang berobat menurun dari 44 orang sebelum pandemi ke 28 orang setelah pandemi. Sebelum pandemi didapati sebanyak 39 orang (88,6%) patuh dan setelah pandemi didapati sebanyak 18 orang (64,3%) patuh pengobatan tuberkulosis paru. Sehingga didapati p-value 0.014 yang berarti ada hubungan. Kesimpulan : Terdapat perbedaan kepatuhan minum obat pada pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Pondok Gede sebelum dan setelah pandemi dimana setelah pandemi kepatuhan minum obat menurun dibandingan sebelum pandemi Covid-19. Disarankan sebagai umat Muslim untuk berobat hingga tuntas.
Kecenderungan Filariasis di Wilayah Kota Jakarta Timur dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam
Najib, Luzein;
Hardjanti, Ambar;
Arsyad, Muhammad
Junior Medical Journal Vol. 2 No. 11 (2024): July 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33476/jmj.v2i11.4274
Penyakit filariasis, yang sering dikenal sebagai penyakit kaki gajah, disebabkan oleh cacing filaria yang hidup di dalam kelenjar dan saluran getah bening. Di Indonesia, terdapat 10.681 kasus filariasis pada tahun 2018 dan pada tahun 2022 terdapat 8.635 kasus filariasis. Sekitar 70% kasus filariasis di Indonesia disebabkan oleh Brugia malayi. Salah satu provinsi yang mengalami peningkatan kasus filariasis adalah DKI Jakarta. Penelitian ini bersifat observasional. Penelitian ini merupakan penelitian survei cross-sectional. Data menggunakan data dari Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur. Seluruh data penderita Filariasis di wilayah Kota Jakarta Timur selama lima tahun antara tahun 2018 dan 2022 merupakan populasi penelitian. Analisis regresi adalah metode analisis data. Hasil menunjukkan bahwa jumlah kasus filariasis menurun pada tahun 2020 dan 2021 dan terjadi peningkatan pada tahun 2022. Peningkatan kasus disebabkan dua faktor utama, yaitu faktor perpindahan penduduk (60%) dan faktor lingkungan (40%). Pola kasus filariasis lebih tinggi pada perempuan daripada laki-laki. Filariasis dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan produktivitas termasuk saat beribadah dan berwudhu. Namun dalam pandangan islam, Allah swt memberikan kemudahan sholat kepada seorang hamba yang sedang melalui udzur. Selain itu, Tuhan memberikan fasilitas wudhu seperti bertayamum jika sangat sakit atau khawatir saat menggunakan air.
Gambaran Perubahan Kebiasaan Konsumsi Buah Sebelum dan Selama Pandemi Covid-19 pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Angkatan 2018 dan Tinjauannya dalam Pandangan Islam
Thalib, Faris;
Ferlianti, Rika;
Arsyad, Muhammad
Junior Medical Journal Vol. 2 No. 12 (2024): August 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33476/jmj.v2i12.4306
Fenomena kesehatan yang saat ini terjadi di seluruh dunia adalah pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Mengkonsumsi buah merupakan salah satu cara untuk meningkatkan imunitas tubuh agar terhindar dari penyakit ini. Pakar ilmu psikologi menjelaskan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki dan ancaman yang dihadapi. Pandemi Covid-19 bisa menjadi momentum yang dapat meningkatkan pengetahuan tentang manfaat buah. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian observasi analitik. Penelitian ini dilakukan kepada Mahasiswa Universitas YARSI angkatan 2018. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 133 orang yang diambil dari semua populasi yang memenuhi syarat kriteria insklusi. Data yang dipakai yaitu data primer menggunakan kuisioner daring dan dianalisa dengan analisis univariat. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan terdapat 133 responden dengan responden paling banyak berasal dari kelompok usia 21 tahun (62.4%) dan berjenis kelamin perempuan (54.2%). Untuk hasil pengukuran pengetahuan, mayoritas responden memiliki pengetahuan sedang (65.4%). Untuk hasil pengukuran tingkat konsumsi buah sebelum masa pandemi Covid-19, mayoritas responden tidak rutin mengkonsumsi buah setiap hari (79.0%) dan mengkonsumsi 1-2 porsi buah per minggu (55.6%). Untuk hasil pengukuran tingkat konsumsi buah selama masa pandemi Covid-19, mayoritas responden tidak rutin mengkonsumsi buah setiap hari (48.9%) dan mengkonsumsi lebih dari 5 porsi buah per minggu (36.1%). Mayoritas responden memiliki tingkat konsumsi buah yang meningkat di masa pandemi, dibandingkan dengan sebelum masa pandemi Covid-19.