Articles
PENDUGAAN BOBOT HIDUP KERBAU MENGGUNAKAN UKURAN DIMENSI TUBUH SEBAGAI DASAR PENENTUAN HARGA DI PULAU KABAENA
Hairil A Hadini;
Rusli Badaruddin
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 3, No 2 (2016): JITRO, Mei
Publisher : Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (51.496 KB)
|
DOI: 10.33772/jitro.v3i2.1680
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan dalam memprediksi bobot badan kerbau menggunakan tinggi pundak, dalam dada, lingkar dada dan panjang badan. Data ukuran kerbau berasal dari 89 ekor kerbau yang terdiri dari 42 ekor kerbau dengan umur kurang dari 3 tahun dan 47 ekor kerbau dengan umur lebih dari 3 tahun yang dipelihara secara tradisional di Pulau Kabaena kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara. Data dianalisis menggunakan Program Eviews 5,1 untuk mendapatkan persamaan regresi linier berganda. Hasil analisis regresi pendugaan bobot badan kerbau adalah Y = 3,89(TP) + 6,22(LD) – 317,57 (R2) = 0,67 untuk kerbau dengan umur kurang dari 3 tahun dan Y = 5,45(TP) + 1,40(LD) – 240,67 (R2) = 0,63 untuk kerbau dengan umur lebih dari 3 tahun. Lingkar dada memberikan kontribusi yang besar dalam menduga bobot hidup kerbau pada umur kurang dari 3 tahun, sedangkan tinggi pundak memberikan kontribusi yang besar dalam menduga bobot hidup kerbau pada umur lebih dari 3 tahun Kata kunci: Dimensi tubuh, bobot tubuh, Bkerbau
PENGARUH FAKTOR SOSIAL EKONOMI TERHADAP KONSUMSI PANGAN ASAL TERNAK DI KOTA KENDARI
Hairil A Hadini;
La Ode Ba'a;
Rahim Aka;
. Syamsuddin
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 4, No 2 (2017): JITRO, Mei
Publisher : Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (156.688 KB)
|
DOI: 10.33772/jitro.v4i2.3443
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar konsumsi pangan asal ternak dan pengaruh faktor sosial ekonomi terhadap konsumsi pangan asal ternak di Kota Kendari. Populasi penelitian meliputi masyarakat Kota Kendari yang mengkonsumsi pangan asal ternak. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis Regresi Linier Berganda yang dilanjutkan dengan uji F dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pangan asal ternak adalah 63,46 gram/kapita/hari yang terdiri dari daging sapi sebesar 1,10 gram/kapita/hari, ayam sebesar 33,59 gram/kapita/hari, telur sebesar 22,09 gram/kapita/hari, dan susu 6,68 gram/kapita/hari.Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa secara bersama-sama variabel independen memberikan pengaruh yang signifikan (P<0,01) terhadap variabel dependen dengan nilai R2 sebesar 0,79. Secara parsial, pendidikan dan tanggungan keluarga memberikan pengaruh yang signifikan (P<0,01) terhadap konsumsi pangan asal ternak. Konsumsi pangan asal ternak di Kota Kendari dipengaruhi oleh variabel pendidikan dan tanggungan keluarga sedangkan variabel umur dan pendapatan tidak menunjukkan adanya pengaruh terhadap konsumsi pangan asal ternak di Kota Kendari. Kata Kunci : Sosial ekonomi, Konsumsi, Pangan asal ternak
Evaluasi Kecernaan In Vitro Bahan Kering dan Bahan Organik Kulit Singkong Fermentasi Sebagai Bahan Pakan Ternak
Firman Nasiu;
Wa Laili Salido;
Andi Murlina Tasse;
Syamsuddin Syamsuddin;
Hairil A. Hadini;
Amiluddin Indi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 7, No 2 (2020): JITRO, Mei
Publisher : Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (90.629 KB)
|
DOI: 10.33772/jitro.v7i2.11482
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi kecernaan in vitro bahan kering dan bahan organik kulit singkong yang difermentasi menggunakan jamur Aspergillus niger dan EM-4 sehingga dapat memberikan informasi tambahan mengenai kualitas kulit siongkong yang difermentasi maupun tanpa fermentasi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan terhadap kulit singkong adalah P1 (tanpa fermentasi), P2 (fermentasi dengan Aspergillus niger), P3 (fermentasi dengan EM-4), P4 (fermentasi dengan kombinasi A. niger dan EM-4). Evaluasi kecernaan in vitro ini dilakukan dengan menggunakan metode Tilley and Terry. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan jamur A. niger dan EM-4 dalam proses fermentasi kulit singkong dapat meningkatkan kecernaan bahan kering dan bahan kering kulit singkong secara signifikan dimana hasil terbaik diperoleh pada penambahan kombinas A. niger dan EM-4.Kata kunci: Aspergillus niger, bahan kering, bahan organik, EM-4, kecernaan in vitroABSTRACTThe aim of this study was to evaluate the in vitro digestibility of dry matter and organic matter of fermented cassava peel using Aspergillus niger and EM-4 inoculant to provide additional information about the quality of fermented and unfermented cassava peel. The study design used was a completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments and 4 replications. The treatments were P1 (without fermentation), P2 (fermented with Aspergillus niger), P3 (fermented with EM-4), P4 (fermented with a combination of A. niger and EM-4). This in vitro digestibility evaluation was conducted by using the Tilley and Terry method. The results showed that the addition of A. niger fungi and EM-4 in the fermentation process of cassava peel could significantly improve the digestibility of dry matter and dry matter of cassava peel where the best results were obtained on the addition of A. niger and EM-4 combinations.Keywords: Aspergillus niger, dry matter, EM-4, in vitro digestibility, organic matter
MOTIVASI PETERNAK DALAM PENGEMBANGAN USAHA SAPI BALI DI KABUPATEN MUNA BARAT
Jainal Abidin;
La Malesi;
Hairil A Hadini
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 5, No 2 (2018): JITRO, Mei
Publisher : Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (121.526 KB)
|
DOI: 10.33772/jitro.v5i2.4660
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pemeliharaan ternak sapi bali, motivasi peternak dalam memelihara sapi bali dan tingkat motivasi peternak dalam memelihara sapi bali di Kabupaten Muna Barat. Penelitian dilaksanakan pada bulan November-Desember 2017,dengan jumlahresponden 60 peternak. Data dikumpulkan dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan sapi bali sebagian besar dilakukan secara ekstensif dengan persentase sebesar 70%, semi intensif 18% dan intensif 12%. Motivasi beternak sapi bali di Kabupaten Muna Barat adalah motivasi ekonomi dengan persentase 76,28%, motivasi hiburan 73,73%, motivasi lingkungan 67,03% dan motivasi status sosial 51,73%. Tingkat kategori motivasi beternak sapi bali di Kabupaten Muna Barat yang mendorong peternak untuk beternak sapi bali adalah motivasi ekonomi dan hiburan.Kata Kunci : Motivasi, Sapi Bali.
Designed of Automatic Egg Incubator Based on Atmega328p Microcontroller
Fauzi Fauzi
Journal of Aceh Physics Society Volume 8, Number 1, January 2019
Publisher : PSI-Aceh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (207.98 KB)
|
DOI: 10.24815/jacps.v8i1.12213
Telah berhasil dilakukan sebuah perancangan ruangan penetas telur otomatis dengan memanfaatkan sensor DHT-11 yang berbasis mikrokontroler ATMega328p. Sistem ini dirancang sehingga suhu dan kelembaban ruangan pentetas tersebut dapat diatur secara otomatis. Otomatisasi pengontrolan sistem ini cukup kompleks dan membutuhkan berbagai komponen terintegrasi dengan kemampuan pembacaan masukan, pemrosesan data dan pengontrolan keluaran secara bersamaan dan terprogram. Sistem ini nantinya akan diaplikasikan untuk keperluan industri peternakan unggas. Penelitian ini berguna bagi peternak untuk melakukan proses pengontrolan penetasan dimana suhu dan kelembaban ruangan penetas secara otomatis akan diatur suhu dan kelembaban dengan sendirinya sehingga memudahkan peternak sebab tidak memerlukan pengamatan khusus terhadap suhu ruang dan kelembabannya. Sistem utama pada mesin penetas telur otomatis ini adalah sensor DHT-11 untuk mendapatkan nilai suhu dan kelembabannya dan data dari sensor tersebut akan diproses oleh sebuah mikrokontroler lalu ditampilkan nilainya pada LCD. Ketika suhu terlalu tinggi, maka kipas akan menyala dan lampu akan mati, sedangkan jika suhu lebih rendah dari set point maka lampu menyala kembali dan kipas akan mati. An automatic egg hatching room has been successfully designed by using the DHT-11 sensor based on the ATMega328p microcontroller. The system is designed so that the temperature and humidity of the plant room can be adjusted automatically. Automation of controlling this system is quite complex and requires various integrated components with the ability to read input, data processing and controlling output simultaneously and programmed. The system will later be applied to the needs of the poultry farming industry. This research is useful for farmers to carry out the hatching control process where the temperature and humidity of the incubator will automatically be regulated by temperature and humidity by itself so as to make it easier for farmers because it does not require special observations on the room temperature and humidity. The main system in this automatic egg incubator is the DHT-11 sensor to get the value of temperature and humidity and the data from the sensor will be processed by a microcontroller and displayed on the LCD. When the temperature is too high, the fan will turn on and the light will turn off, whereas if the temperature is lower than the set point, the light will turn on again and the fan will turn off. Keywords: ATMega328p, Sensor suhu, Adruino Uno, PentetasTelur.
Utilization of GSM Module (Sim 900) Based Arduino-Uno for Alarm System and Remote Automatic Door Locking
Fauzi Fauzi;
Mahyuddin Mahyuddin;
Kurnia Lahna
Journal of Aceh Physics Society Volume 7 Number 1, January 2018
Publisher : PSI-Aceh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (252.458 KB)
Sebuah sistem alarm dan pengunci pintu otomatis jarak jauh untuk keamanan rumah telah dibuat. Otomatisasi kunci pintu rumah ini beroperasi dengan menggunakan perintah yang dikirimkan oleh pemilik rumah melalui pesan singkat melalui handphone sehingga keamanan rumah akan tetap dapat dikendalikan meski dari jarak yang jauh. Penelitian ini bertujuan untuk membangun otomatisasi rumah pintar yang mampu melakukan dua hal yakni mengunci pintu dan menyalakan alarm dengan menggunakan mikrokontroler Arduino-uno dan modul GSM. Pengontrolan secara otomatis tersebut cukup kompleks dan memerlukan berbagai komponen yang terintegrasi dengan kemampuan pembacaan masukan, pemrosesan data dan pengontrolan keluaran secara bersamaan dan terprogram. A remote door automatic alarm and door lock system for home security has been designed. This home door lock automation operates using commands sent by homeowners via short messages from handphone so that home security will remain controllable even from a long distance. This study aims to build smart home automation that can do two things: lock the door and turn on the alarm by using Arduino-uno microcontroller and GSM module. The automatic control is quite complex and requires a variety of integrated components with the ability to read input, data processing and control the output simultaneously and programmed. Keywords: Arduino, GSM, Automatic Doors, SMSRerefencesDepari, G.S. (1985). Belajar Teori dan Keterampilan Elektronika. Bandung: Armico Daryanto, 2005. Pengetahuan Teknik Elektronika. Erlangga. Jakarta.Session, Kendall Webster, 2003. 1001 Rangkaian Elektronika. PT. Elek Media Komputindo Kelompok Gramedia, Jakarta.Sustrisno, 1986, Elektronika Teori dan penerapanya. Penerbit ITB, Bandung
Analisis Kestabilan Lokal Titik Ekuilibrium Model Dinamik Kebiasaan Merokok
Joko Harianto;
Mira Aprilia Marcus;
Jonner Nainggolan
KUBIK Vol 5, No 2 (2020): KUBIK: Jurnal Publikasi Ilmiah Matematika
Publisher : Jurusan Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/kubik.v5i2.9348
Dinamika kebiasaan merokok dalam artikel ini dianalisis dengan pendekatan model epidemiologi. Lingkungan perokok dibagi menjadi empat populasi, yaitu populasi (Potential) menyatakan populasi dari individu-individu yang tidak merokok, populasi (Light) menyatakan populasi dari perokok ringan, populasi (Smokers) menyatakan populasi dari perokok berat, populasi menyatakan populasi dari individu-individu yang berhenti merokok sementara dan populasi menyatakan populasi dari individu-individu yang berhenti merokok secara permanen. Model tersebut dimodifikasi kemudian dianalisis titik ekuilibriumnya. Langkah pertama, ditentukan titik ekuilibrium bebas rokok. Langkah kedua, ditentukan titik ekuilibrium kebiasaan merokok. Langkah ketiga, ditentukan the Smoking Generation Number (R0 ) dengan menggunakan next generation matrix yang melibatkan radius spektral. Langkah terakhir, kestabilan lokal setiap titik ekuilibrium pada modelnya dianalisis. Hasil analisis menunjukkan bahwa titik ekuilibrium bebas rokok stabil asimtotik lokal saat nilai the Smoking Generation Number kurang dari satu. Sebaliknya, jika nilai the Smoking Generation Number lebih dari satu dan b1(m+g) lebih dari b2(b1-m), maka titik ekuilibrium perokok ringan stabil asimtotik lokal. Sedangkan titik ekuilibrium perokok berat stabil asimtotik lokal jika nilai the Heavy Smoking Generation Number lebih dari satu. Kemudian dilakukan simulasi numerik menggunakan Software Maple untuk mengecek hasil analisis kestabilan lokal titik ekuilibrium tersebut.
Indonesian Interrogative Sentences: a Study of Forms and Functions
Lindawati Lindawati
Humaniora Vol 28, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (345.28 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.22289
This study examines Indonesian interrogative sentence problems by focusing on issues of forms and functions. The data used in this analysis are interrogative sentences in Indonesian language that are currently used in oral and in interethnic communication. This study used a pragmatic approach. Listening while observing (metode simak) is used at the stage of data collection. In the analysis phase, a structural analysis is used for the discussion of issues related to the form, and a contextual analysis method is used for the discussion of issues related to the function of interrogative sentence. The report was presented verbally. From the research, it can be formulated that interrogative sentences forming elements are either supra-segmental elements or segmental elements. Supra-segmental elements are intonation, and segmental elements are words, phrases, and particles. The elements were added to a clause to be the base of an interrogative sentence. Based on the response form provided by what the opponents said, interrogative sentences are grouped on the yes-no and information interrogative sentences. Yes-no interrogative sentences require an answer that contains a justification or denial of what is stated on the clause that is the basis for the formation of interrogative sentences. Information interrogative sentences require an answer in the form of explanation. In communications, interrogative sentences are uttered not only to ask something, but they are also used to express a variety of speech act. Speech act that can be expressed by the interrogative sentences of Indonesian language are representative, directive, commissive, and expressive. Interrogative sentences are sometimes used in order to speak indirectly (indirect speech) to maintain politeness or otherwise stated expressive rudely.